Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Jejak yang Dipilih dengan Sadar
Pagi di desa Sukamaju kembali menyapa dengan cara yang sederhana namun menenangkan. Embun masih menempel di ujung daun singkong di halaman belakang rumah Sultan dan Alya. Udara terasa lebih sejuk dari biasanya, seolah alam ikut merayakan sesuatu yang baru saja lahir—bukan sekadar perdamaian, melainkan awal dari niat baik yang akhirnya bertemu jalan pulangnya.
Sultan menyerahkan perusahaannya untuk sementara waktu ke orang yang dia percaya namun bukan hanya itu, Sultan akan memantau dari jauh perkembangan perusahaannya di kota.
Sultan akan ikut Alya ke kampungnya desa Sukamaju, dia akan membantu Alya menyelesaikan urusannya disana.
Alya berdiri di teras, memandangi halaman dengan secangkir teh hangat di tangannya. Sejak malam sebelumnya, pikirannya terus berputar. Pertemuan dengan Ratna bukan hanya membuka luka lama, tetapi juga menghadirkan kesempatan untuk menyembuhkan sesuatu yang selama ini dibiarkan membusuk oleh jarak dan kesalahpahaman.
Langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Sultan mendekat, menyampirkan jaket tipis di bahu Alya.
“Kamu tidak banyak tidur,” katanya lembut.
Alya tersenyum kecil. “Aku hanya… berpikir. Tentang kakek. Tentang Ratna. Tentang semua pilihan yang membawa kita sampai di titik ini.”
Sultan berdiri di sampingnya, ikut memandang halaman. “Menurutku, justru di titik inilah terlihat siapa kita sebenarnya. Bukan saat semuanya mudah, tapi ketika kita memilih untuk tidak membalas luka dengan luka.”
Alya menoleh, menatap suaminya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Ia bersyukur—bukan hanya karena Sultan selalu ada, tetapi karena ia memahami tanpa perlu banyak penjelasan.
Di dalam rumah, suara Satria terdengar ceria. Anak itu sedang berbincang dengan Ratna di ruang tengah. Sejak pagi, Ratna tampak berbeda. Wajahnya masih menyimpan lelah dan bayangan masa lalu, tetapi ada sesuatu yang lebih ringan dalam sorot matanya—sebuah kelegaan yang lama terkunci.
Ratna duduk bersila di lantai, kertas gambar berserakan di sekelilingnya. Satria dengan penuh semangat menunjukkan hasil gambarnya—ladang luas dengan pohon-pohon tinggi dan bunga warna-warni.
“Ini tanah kakek ya, Bi?” tanya Satria polos.
Ratna terdiam sejenak sebelum tersenyum. “Iya. Tanah yang dulu Bibi anggap sebagai harta, tapi lupa dijaga dengan hati.”
Satria mengangguk seolah memahami, meski mungkin ia belum benar-benar mengerti maknanya. Ia hanya tahu bahwa orang-orang di sekelilingnya kini tersenyum lebih sering.
Menjelang siang, Haji Mansur datang kembali. Kali ini bukan membawa kabar mengejutkan, melainkan rencana. Ia mengajak Alya, Sultan, dan Ratna untuk duduk bersama di ruang tamu, membicarakan masa depan tanah keluarga secara lebih konkret.
“Aku sudah berbicara dengan beberapa tokoh desa,” ujar Haji Mansur sambil membuka catatan kecilnya. “Banyak yang mendukung jika tanah itu dikembangkan menjadi pusat pembelajaran. Bukan hanya pertanian, tapi juga pelatihan kerajinan dan pengelolaan usaha kecil.”
Ratna menunduk, lalu mengangkat wajahnya perlahan. “Aku ingin ikut terlibat. Bukan sebagai pemilik yang menuntut hak, tapi sebagai keluarga yang ingin menebus kesalahan.”
Alya mengangguk tanpa ragu. “Aku ingin itu sejak awal, Ratna. Tanah ini tidak pernah aku anggap milikku sendiri. Ini amanah.”
Sultan menambahkan, “Perusahaan ekspor yang bekerja sama dengan kelompok Bu Siti juga tertarik mendukung program pemberdayaan. Jika pusat ini berjalan, hasilnya bisa langsung terserap pasar.”
Percakapan itu berlangsung lama. Mereka membahas pembagian peran, transparansi pengelolaan, dan bagaimana memastikan manfaatnya benar-benar sampai ke masyarakat. Tidak ada suara tinggi, tidak ada saling menyela—hanya orang-orang dewasa yang belajar dari masa lalu dan memilih untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.
Sore hari, Alya dan Ratna berjalan menyusuri tanah keluarga di desa. Langit berwarna jingga, dan angin membawa aroma tanah basah yang khas. Ratna berhenti di satu titik, menatap hamparan lahan yang mulai ditumbuhi semak.
“Dulu aku hanya melihat angka,” katanya lirih. “Harga tanah. Potensi industri. Aku lupa melihat kehidupan di sekitarnya.”
Alya berdiri di sampingnya. “Aku pun hampir lupa, Ratna. Kadang, kita terlalu sibuk membuktikan bahwa kita benar, sampai lupa bertanya: apakah ini yang benar-benar dibutuhkan?”
Ratna mengusap matanya. “Andai kakek masih ada…”
“Dia ada,” jawab Alya pelan. “Dalam pilihan yang kita buat hari ini.”
Beberapa hari kemudian, desa Sukamaju mulai ramai. Warga berkumpul di balai desa untuk mendengarkan pemaparan rencana pengembangan tanah keluarga Kusuma. Alya berdiri di depan, sedikit gugup, tetapi mantap. Ratna duduk di barisan depan bersama Bu Siti dan para ibu pengrajin.
Alya berbicara bukan sebagai pemilik tanah, melainkan sebagai bagian dari desa. Ia menjelaskan visi, bukan keuntungan semata. Ia menyebutkan kegagalan, keraguan, dan harapan.
Ketika ia selesai, tidak ada tepuk tangan riuh—hanya keheningan singkat, lalu anggukan-anggukan kecil yang penuh makna. Haji Mansur berdiri, disusul tokoh desa lainnya, menyatakan dukungan mereka.
Ratna bangkit dari tempat duduknya.
“Aku ingin meminta maaf,” ucapnya lantang, suaranya sedikit bergetar. “Bukan hanya pada Alya, tapi pada desa ini. Aku pernah pergi dengan membawa amarah. Hari ini, aku ingin tinggal dengan membawa tanggung jawab.”
Kata-kata itu terasa jujur. Tidak sempurna, tetapi sungguh-sungguh.
Malam itu, Alya duduk di kamar, menuliskan sesuatu di buku catatan lamanya—buku yang dulu sering ia gunakan saat belajar bersama kakeknya.
Jika suatu hari aku dihadapkan pada pilihan antara menang dan benar.
maka aku ingin memilih yang membuatku bisa menatap wajah orang lain tanpa menunduk.*
Ia menutup buku itu perlahan. Dari luar, suara tawa Satria terdengar, bercampur dengan suara Ratna dan Sultan yang sedang berbincang.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya merasa masa lalu tidak lagi mengejarnya. Ia tidak menghilang—ia hanya akhirnya berdamai.