NovelToon NovelToon
Dua Pergi Satu Bertahan

Dua Pergi Satu Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa / Idola sekolah
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Tatie Hartati

Ada tiga remaja putri bersahabat mereka adalah Tari, Tiara , dan Karin mereka mempunyai pasangan masing-masing. dan pasangan mereka adalah sahabatan juga termasuk geng brotherhood pasangan Tari adalah Ramdan, pasangan Tiara adalah Bara dan pasangan ketiga ada Karin sama Boby.. karena ada sesuatu hal ketiga cowok itu membuat pasangan mereka kecewa dengan kejadian yang berbeda - beda namun dia antara 3 pasangan itu hanya Tari dan Ramdan yang bertahan karena Tari memberikan kesempatan kembali kepada Ramdan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tatie Hartati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22 Nada- Nada Minor Untuk Sang Mawar

Aula SMA Kusuma Bangsa seolah sedang ditarik ulur emosinya. Setelah tadi diajak menyelami samudera ketenangan lewat tilawah, kini suasana berubah menjadi sedikit melankolis. Tari masih berdiri di podium, jemarinya yang dingin saling bertautan di bawah meja kayu yang menyembunyikan getarannya.

Ia menatap ke arah samping panggung, tempat sebuah kursi kayu tunggal dan sebuah stand gitar sudah disiapkan. Tari tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya bukan sekadar urutan acara di atas kertas, tapi sebuah persembahan rasa yang selama ini terkunci rapat di balik sikap dingin seorang Ramdan Alvaro.

Tari menarik napas, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang makin tak beraturan. Ia melirik Anisa yang tampak sedang memberikan kode pada tim perlengkapan. Di kepalanya, bayangan Ramdan memegang gitar adalah sesuatu yang mustahil, namun nyata di depan mata.

"Oke kak Anisa, sekarang ini kita mau ada baca puisi islami yang akan di iringi oleh instrumen gitar, ternyata dua pangeran OSIS ini multitalenta segala di hajar, sekarang Kak Anisa yang panggil ya," kata Tari dengan nada yang sebisa mungkin dibuat ceria, meski ada sedikit nada bergetar di ujung kalimatnya.

" Oke , ini dia persembahan dari duo pangeran OSIS SMA Kusuma Bangsa puisi islami yang akan di bacakan oleh saudara Raihan dan di iringi oleh instrumen gitar dari Waketos kita Ramdan" kak Anisa memanggil dua pangeran OSIS

Ramdan yang denger namanya disebut lagi buat main gitar cuma bisa buang muka, tapi langkah kakinya pas naik ke podium lagi kelihatan lebih mantap. Dia sempat ngelirik Tari sekilas dengan tatapan: 'Kenapa? Cemburu ya?' yang bikin Tari makin pengen lempar cue card-nya."

Jreng...

Satu petikan kunci minor dari jari-jari panjang Ramdan membelah kesunyian. Suara gitarnya begitu renyah, mengalun lembut dengan tempo lambat yang sangat melankolis. Tari sampai harus memegang pinggiran podium agar tidak jatuh dia benar-benar tidak menyangka tangan yang biasanya tegas menunjuk kesalahan anggota OSIS itu bisa begitu lentur menari di atas dawai gitar.

Raihan memejamkan mata, membiarkan melodi gitar Ramdan meresap ke jiwanya sebelum ia mulai bersuara dengan nada rendah yang sarat akan emosi.

Raihan: "Di antara debu-debu persiapan dan riuh rendah ambisi... Kami datang bersujud, membawa hati yang penuh dengan retakan. Tuhan... kaki ini akan melangkah jauh, menyeberangi samudera menuju tanah Borneo. Namun hati ini... ia tertinggal di sini, di bawah atap yang sama dengan mereka yang kami cintai."

(Ramdan memetik senar bass lebih dalam, memberikan efek dramatis)

"Ada janji yang belum sempat tertuntaskan, Ada kata-kata yang masih menggantung di antara tatap mata yang enggan beradu. Kami pergi bukan untuk melupakan, Tapi untuk membuktikan bahwa jarak hanyalah ujian bagi rindu yang benar-benar beriman."

(Nada gitar mulai naik, tempo sedikit lebih cepat namun tetap lembut)

Raihan: "Jangan biarkan jarak menjadi pemutus doa. Jangan biarkan rindu menjadi penghalang karya. Kami pergi untuk kembali, membawa bangga yang tak terkira. Titip rindu kami pada angin, titip jaga kami pada-Mu yang Maha Segalanya..."

" Jika nanti angin khatulistiwa menerpa wajah kami, Semoga ia membawa aroma doa-doa yang kalian terbangkan dari sini."

"Tuhan... Titip mawar-mawar kami yang tumbuh di pinggir jurang, Jangan biarkan ia layu karena sepi, jangan biarkan ia patah karena tak lagi kami jaga. Karena sejatinya, penjagaan terbaik adalah saat kedua telapak tangan kami saling menengadah di sepertiga malam yang sama."

(Gitar Ramdan melambat, hanya petikan tipis yang sangat melankolis)

"Kami pergi untuk kembali, membawa bangga yang tak terkira. Titip rindu kami pada angin, titip jaga kami pada-Mu yang Maha Segalanya... Karena di Borneo nanti, bukan piala yang kami cari, Tapi restu-Mu dan senyum mereka yang menanti kami di gerbang pulang ini."

Setelah Raihan membacakan bait terakhir, Ramdan tidak langsung berhenti memetik gitarnya. Ia membiarkan melodi outro mengalun selama hampir tiga puluh detik. Suasana aula benar-benar mencekam dalam kesedihan yang estetik.

Tari yang berdiri di podium merasa dadanya sesak. Ia tahu, bait tentang "mawar di pinggir jurang" itu adalah titipan pesan khusus dari Ramdan lewat mulut Raihan. Mata Tari berkaca-kaca, ia melihat ke arah teman-temannya di barisan depan; Zahra sudah menyeka air matanya dengan tisu, bahkan Alvin yang biasanya petakilan kini tertunduk dalam, meresapi setiap kata yang seolah menjadi salam perpisahan sementara bagi mereka semua.

Ramdan menutup melodi gitarnya dengan satu petikan kunci G-Major yang panjang dan memudar perlahan (fade out). Ia menghela napas panjang, menatap senar gitarnya sejenak sebelum akhirnya mendongak dan menatap Tari dengan tatapan yang seolah berkata: "Itu lagu buat kamu, Ri."

Saat melodi terakhir memudar dan hanya menyisakan getaran senar gitar yang halus, aula itu benar-benar sunyi senyap. Tidak ada tepuk tangan, karena semua orang terlalu terpesona atau mungkin terlalu sedih membayangkan perpisahan sore nanti.

Tari menatap Ramdan dari samping. Di bawah lampu aula, wajah Ramdan terlihat begitu tenang namun penuh beban. Melalui petikan gitar itu, Tari tahu Ramdan sedang menitipkan sejuta pesan yang tidak bisa ia ucapkan lewat kata-kata.

Petikan gitar terakhir benar-benar menghilang, menyisakan keheningan yang menyesakkan dada. Raihan melipat kertas puisinya, sementara Ramdan meletakkan kembali gitarnya dengan gerakan yang sangat pelan seolah ia enggan mengakhiri momen itu.

Saat mereka berdua mulai melangkah turun dari panggung, ratusan pasang mata masih mengikuti setiap gerak mereka. Tapi, langkah Ramdan mendadak melambat saat ia harus melewati podium tempat Tari berdiri.

Raihan sengaja berjalan lebih dulu, memberikan "ruang" yang hanya bisa dimengerti oleh sesama laki-laki. Saat posisi Ramdan sejajar dengan Tari, cowok itu berhenti tepat satu langkah di sampingnya.

Suasana aula masih hening, tapi di antara mereka berdua, ada badai yang sedang berkecamuk. Ramdan tidak menoleh sepenuhnya, ia hanya melirik Tari dari sudut matanya. Wangi parfum maskulin bercampur aroma kayu manis milik Ramdan menyerbu indra penciuman Tari aroma yang sebentar lagi akan sangat ia rindukan.

"Pesan kamu tadi..." suara Ramdan sangat rendah, hampir seperti bisikan yang hanya bisa didengar oleh Tari di tengah riuh rendah mulai munculnya suara tepuk tangan penonton. "...akan saya simpan di sini."

Ramdan menyentuh dadanya singkat, tepat di mana jantungnya berdetak.

Tari terpaku, lidahnya mendadak kelu. Dia ingin membalas, ingin bilang "Hati-hati", atau bahkan ingin menahan ujung jas cowok itu. Tapi dia hanya bisa meremas map birunya makin kencang.

"Jaga diri, Ri. Jangan biarkan mawar di pinggir jurang itu layu sebelum saya pulang," lanjut Ramdan dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.

Setelah itu, tanpa menunggu jawaban, Ramdan melanjutkan langkahnya turun dari panggung, menyusul Raihan yang sudah menunggunya di bawah. Tari hanya bisa menatap punggung tegap itu menjauh, menyadari bahwa mulai detik ini, satu-satunya cara dia bisa "menyentuh" Ramdan adalah lewat doa-doa yang tadi mereka langitkan bersama.

Tari masih mematung di atas panggung, menatap punggung Ramdan yang kian menjauh dan akhirnya menghilang di barisan kursi panitia. Wangi parfum kayu manis itu masih tertinggal di udara, seolah enggan ikut pergi bersama pemiliknya. Kata-kata Ramdan soal 'mawar di pinggir jurang' berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak, menciptakan rasa hangat sekaligus nyeri secara bersamaan.

"Ri? Tari?" bisik Anisa sambil menyenggol pelan lengan Tari.

Tari tersentak, tersadar bahwa mikrofon di depannya masih menyala dan ribuan pasang mata kini beralih menatapnya, menunggu kelanjutan acara. Ia berdehem pelan, mencoba menelan gumpalan sesak di tenggorokannya.

"Ehem... Terima kasih untuk persembahan yang sangat menyentuh hati dari Ramdan dan Raihan," ucap Tari, suaranya kini terdengar lebih dewasa, lebih tenang, namun ada sisa-sisa emosi yang tertinggal di sana. "Mungkin... rindu memang berat, tapi lewat melodi tadi, kita diingatkan bahwa jarak hanyalah angka, selama doa masih menjadi jembatannya."

"Hadirin sekalian, sebelum kita sampai pada puncak acara doa bersama yang akan dipimpin oleh tamu spesial kita..." Tari menjeda kalimatnya, mencoba mengumpulkan kekuatan untuk kejutan terakhir yang bahkan dirinya sendiri belum siap hadapi. "...mari kita simpan sejenak rasa haru ini, dan persiapkan diri untuk kejutan yang sudah kami janjikan sejak awal."

Tari berusaha tersenyum, meski dalam hati ia terus bertanya-tanya: Ndan, kalau kamu simpan pesan aku di detak jantungmu, boleh nggak aku titipin separuh napas aku buat nemenin kamu di Borneo nanti?

Ia memberikan kode pada tim transisi. Sesi puisi telah usai, tapi badai perasaan di dalam aula itu justru baru saja dimulai.

— BERSAMBUNG —

GIMANA GUYS PETIKAN GITARNYA RAMDAN?MANA SUARANYA DI SINI YANG NANGIS DI POJOKAN SAMBIL MEGANGIN HP ATAU GULING???? TULIS DI KOMENTAR YA.... KOMENTAR DAN JEMPOL DARI KALIAN SEMUA ITU SANGAT BERARTI

1
yanzzzdck
semangat yaa
Tati Hartati: makasih kak
total 1 replies
yanzzzdck
semangat
yanzzzdck: iya aman aja
total 2 replies
kalea rizuky
lanjut
Tati Hartati: siap kak...
total 1 replies
kalea rizuky
q ksih bunga deh biar makin bagus ceritanya
Tati Hartati: makasih banget ya kakak
total 2 replies
kalea rizuky
moga bagus ampe end dan gk bertele tele ya thor
Tati Hartati: makasih kak dukungannya
total 1 replies
yanzzzdck
semangat💪
Tati Hartati: Terimakasih banyak atas supportnya... semangat juga ya kakak..
total 1 replies
yanzzzdck
semangat aku bantu like semua, kalo bisa like balik ya, kalo gbisa gpp🙏
Tati Hartati: sama sama... insyaallah nanti aku kalau udah santai pasti mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!