Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Menukar Kebebasan Dengan Pernikahan
Di kota Zella selama ini tinggal.
Indri merasa kepergian Zella kali ini terlalu lama. Dia sudah mendengar kabar kebebasan Bagas. Tapi putrinya tak tahu kapan akan kembali. Sesekali pandangan Indri tertuju pada sekelompok orang yang mengenakan seragam yang sibuk melakukan bermacam pekerjaan di rumah Zella. Dirinya kepo, tapi tak enak bertanya lebih detail.
Indri meraih handphonenya dan langsung menghubungi Zella.
"Iya, mama." Suara Zella terdengar sumbang.
"Kamu nangis?" todong Indri.
"Ya bagaimana aku nggak nangis ma. Akhirnya Ayah bebas. Aku sangat bahagia, sampai air mataku juga tumpah."
"Mama senang dengarnya. Sekarang Ayahmu sudah bebas. Kapan kamu kembali? Mama kangen banget sama kamu."
"Aku segera kembali ma, tapi maafkan aku."
"Maaf kenapa?" Indri merasa bingung, kenapa minta maaf, bukankah ini momen bahagia Zella karena Ayahnya terbukti tak bersalah.
"Maaf, karena aku kembali dengan sebuah kabar yang pasti akan mengecewakan mama."
"Maksudmu apa Zella??"
"Aku menukar kebebasan Ayah dengan sebuah pernikahan." Zella terisak, dia tak bisa menyembunyikan rahasia ini pada ibunya. Mendengar helaan napas ibunya yang terdengar berat, Zella merasa kekecewaan ibunya saat mendengar hal ini.
"Kebebasan dengan pernikahan? Maksud kamu apa Zella??"
"Aku tak mampu membebaskan Ayah dengan usahaku sendiri. Aku menerima tawaran pernikahan dari Arumi, dia menjanjikan kebebasan Ayah jika aku bersedia menjadi madu Kakaknya."
"Ya Allah Zella ...." Indri meraung keras mendengar kabar itu. Bagi Indri Zella menikah lagi itu hal yang dia tunggu, tapi menikah jadi yang kedua ini yang sangat berat baginya.
"Maafkan aku." sesal Zella.
"Terlalu mahal pertukaran itu Zella! Ayahmu pasti tak memaafkan dirimu!!"
"Aku tahu, aku sudah membicarakannya dengan Ayah saat mengunjunginya di lapas. Dia marah, kecewa! Tapi rasa sakit dari menorehkan kekecewaan pada kalian tak seberapa jika dibandingkan rasa sakit melihat Ayah dipenjara padahal dia tak bersalah."
"Jangan bilang kebebasan Ayah Saman dan Taufik juga sebab bantuan Arumi karena kamu mau menerima tawarannya." todong Indri.
"Aku tak punya kekuatan untuk membebaskan Ayah Saman dan Taufik, karena tawaran mereka siap membebaskan Ayah, aku meminta pertolongan mereka lagi untuk hal itu.
Indri menjerit histeris mengetahui perjuangan dan pengorbanan Zella.
"Mama jangan sedih! Pernikahan ini bukan hal buruk. Aku mendapat calon suami yang baik, dua anak yang besar, aku juga menikah atas permintaan dan restu istri pertama."
"Mama masih tak terima, Zella!"
"Mama, andai mama melihat keadaan calon suami dan calon maduku, mama mungkin akan berpikir ulang."
"Mama tak terima kamu mau menikah jadi yang kedua!"
"Mama, calon suamiku lumpuh, istrinya juga lumpuh."
"Aaakk!" Indri semakin histeris membayangkan pernikahan Zella. Dalam imajinasinya Zella bukan jadi istri, tapi perawat gratis untuk merawat 2 orang itu selamanya.
"Mama, jaga kesehatan mama. Dalam waktu dekat aku akan membawa calon suamiku untuk bertemu mama." Zella tak kuasa mendengar tangis dan jeritan sedih ibunya. Terpaksa dia menyudahi panggilan telepon mereka.
"Tunggu Zella. Apa kegiatan rehab di rumahmu persiapanmu untuk menyambut calon suami mu?"
"Iya ma. Maafin aku."
Indri mematung memandang kearah rumah Zella. Rasa tak terima dengan pengorbanan putrinya, tapi dia juga tak bisa melakukan apa-apa.
Sedang di kediaman Abi. Zella masih bersembunyi di sudut rumah Abi. Dia tak mau orang lain mendengar pembicarannya dengan ibunya. Mengingat obrolannya dengan ibunya barusan. Zella merasakan kekecewaan ibunya padanya. "Maafin aku, karena aku menorehkan kekecewaan di hati mama." jeritnya.
"Tante Zella kenapa?" Rihana syok melihat calon ibu tirinya begitu terpukul.
Zella langsung menghapus air matanya. "Nggak apa-apa. Tante habis teleponan sama mama tante. Tante lama pisah sama mama, dan tante kangen banget. Makanya abis teleponan tante nangis."
"Kalau tante rindu banget sama mamanya tante. Nggak apa-apa tante pulang. Kan nanti akan tinggal selamanya di sini."
Zella berusaha tersenyum pada gadis itu. "Kamu kenapa cari tante?"
"Aku diminta Ayah buat panggil tante."
"Oh oke. Ayuk kita kesana."
Zella sampai di gazebo tempat Abi dan Ayahnya menunggunya.
"Ada apa minta aku datang?" tanya Zella.
"Rihana, maafin Ayah. Karena rencanya lusa Ayah akan bawa tante Zella pergi. Maksud Ayah, Ayah mau antar tante Zella pulang."
"Nggak apa-apa Ayah. Ayah antar tante Zella pulang juga buat persiapan Nikah. Aku nggak keberatan."
"Kamu benar. Ayah ke kota tante Zella mau menyelesaikan pendaftaran nikah dan urusan lain." terang Abi.
"Aku senang dengarnya. Semoga semua berjalan dengan mudah. Tante Zella secepatnya menjadi bagian keluarga kita secara resmi."
"Rihana mau ikut ke rumah tante Zella? Kita akan menginap beberapa hari di sana." ajak Abi.
"Sepertinya nggak bisa. Aku lusa jadwal masuk sekolah. Sedang adik besok harus kembali sekolah."
"Ya sudah, tapi Rihana mau tetap di sini atau kembali ke rumah Nenek itu terserah Rihana."
"Mungkin aku kembali ke rumah Nenek, kasian Rayhan sendirian di sini kalau tetap di sini."
"Lusa, bersiaplah Zella. Aku akan ikut mengantarmu dan Ayahmu pulang." ucap Abi pada Zella.
"Kalian saja. Om belum bisa ikut kalian. Ada hal yang ingin om selesaikan di sini."
"Ayah, jangan aneh-aneh ya." pinta Zella.
"Ayah nggak akan berbuat yang aneh-aneh. Kalian kembali saja lebih dulu. Ayah akan menyusul.
Setelah pembahasan rencana untuk ke kota Zella selesai di bahas. Keadaan kembali hening. Rihana dan Rayhan diminta Abi untuk istirahat di kamar mereka masing-masing. Bagas sudah pamit pergi. Abi dan Miko juga menghilang entah kemana. Zella merenung sendiri di gazebo yang menghadap ke kolam renang. Pikirannya tertuju pada Tifa, kerinduannya pada Tifa membuat jemarinya menekan panggilan pada istri ustadz pengasuh pondok pesantren tempat Tifa mengenyam pendidikan agama.
Suara salam ibu nyai menyapa indra pendengaran Zella. Zella menjawab salam itu dengan bahagia.
"Bu nyai. Maaf saya ganggu. Saya kangen Tifa. Boleh saya bicara sama Tifa?"
"Tentu boleh. Kamu ini masih sungkan saja Zella."
Suara ibu nyai terdengar memanggil Tifa, lalu meminta Tifa berbicara dengan Zella.
"Assalamu alaikum, mama."
Air mata Zella mengucur deras mendengar suara putri yang sangat dia rindukan. "Wa alaikum salam. Anak mama. Mama kangen ... sama kamu."
"Tifa juga kangen mama."
"Bagaimana keadaan kamu di sana sayang?"
"Tifa baik ma. Tapi Tifa sering dibully. Katanya Tifa anak miskin karena menjadi khodimat di sini."
"Tifa kuat menghadapinya?"
"Tifa nggak anggap apa kata mereka. Tifa selalu pegang nasihat mama. Ada ilmu yang tak diajarkan secara lisan, tapi dicontohkan dengan perbuatan, dengan sikap, dan mama benar. Banyak hal yang Tifa pelajari sejak ikut jadi khodimat di sini."
"Mama bangga sama Tifa. Nanti bagi ilmunya sama mama, terus kalau nanti mama berbuat salah. Tifa jangan sungkan buat nasihatin mama."
"Insya Allah, mama."
"Tifa patuh dan berbakti, mama sangat bangga sama Tifa. Tapi jika diminta patuh pada hal yang diluar nalar. Tifa jangan mau. Karena banyak orang yang mengatas namakan agama demi kepentingan pribadi, jadi sebelum itu Tifa harus jeli menilainya."
"Tifa akan selalu ingat. Tapi mama juga ingat Pondok tempat Tifa mondok adalah pondok pesantren yang amanah. Bukan seperti dalam film walid itu."
Zella terkekeh mendengar perkataan putrinya. "Hebat anak mama. Sudah pandai jaga diri."
"Berkat bimbingan para ustadz dan ustadzah, berkat nasihat pengasuh, dan tentu berkat do'a mama."
"Masya Allah." Zella sangat terharu mendengar jawaban Tifa.
"Tifa. Mama ada hal yang tidak mengenakan yang harus mama kasih tau sama Tifa."
"Apa itu ma?"
"Dalam waktu dekat, mama akan menikah." ucap Zella bercampur dengan isak tangisnya.
"Maafin mama. Mama tak bisa mempertahankan keinginan mama untuk fokus menjaga kamu. Mama harus nikah demi kebahagiaan mama." Zella meringis. Tak mungkin baginya menyebut alasan mengapa dia menikah dengan Abi.
"Laki-laki itu baik? Laki-laki itu bisa bahagia in mama?"
Zella menjawab pertanyaan Tifa dengan dehaman.
"Kalau dia baik, kalau dia bisa buat mama bahagia, dan mama bahagia nikah sama dia. Tifa dukung keputusan mama buat nikah lagi. Bagi Tifa bahagia mama bahagia aku juga."
"Maafin mama. Karena ngabarinnya lewat telepon."
"Nggak apa-apa. Mama jangan sedih dan jangan merasa bersalah. Mama mau nikah lagi ini juga salah satu do'a aku. Dulu aku selalu berdo'a Ya Allah, jika ada pria baik-baik yang menyukai mama ku. Buka kan pintu hatinya untuk menerima niat baik pria itu."
"Do'a nya Tifa dalam banget." Zella meringis pilu mendengar keteguhan putrinya. Samar-samar dari ujung telepon Zella mendengar samar suara ibu nyai.
"Bu Nyai. Mama aku dalam waktu dekat akan menikah!" ucap Tifa begitu semangat.
"Benarkah? Masya Allah. Sini bu Nyai mau bicara sama mama Tifa. Boleh?"
"Boleh!"
Zella tersenyum mendengar anaknya yang begitu antusias bercerita pada ibu Nyai.
"Mama, sudah dulu ya. Kelas aku sebentar lagi akan mulai. Jadi mama lanjut bicara sama Ibu Nyai." Tifa menyudahi bicaranya dengan menutup salam.
Zella merasa lega dengan respon Tifa, dia menjawab salam putrinya dengan perasaan yang begitu plong.
"Zella. Saya senang akhirnya kamu memutuskan untuk menikah lagi."
"Sulit bagi saya buat cerita sama bu Nyai. Saya akan jadi istri kedua atas permintaan istri pertama."
"Kamu diminta masuk, artinya kamu di undang masuk, jadi jangan merasa bersalah karena jadi yang kedua. Karena kamu nggak salah. Andai kamu nikah diam-diam tanpa sepengatahuan istri pertama, tidak ada izin istri pertama, dan kamu merasa bersalah itu wajar. Karena jika seperti itu sama saja mencuri dari wanita lain."
"Iya bu Nyai. Terima kasih. Mohon do'a nya, semoga pengurusan izin nikah dan proses nikah nanti berjalan lancar."
"Tentu kami do'a kan. Selamat berbahagia Zella."