NovelToon NovelToon
Kontrak Dendam Ceo

Kontrak Dendam Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pohon Rindang

"aku tidak mencintai mu,aira.aku hanya ingin melihat mu menderita. "
Arlan Dirgantara, CEO angkuh yang dipenuhi dendam, mengikat Aira Senja dalam sebuah kontrak kejam. Bagi Arlan, Aira adalah pengkhianat yang harus membayar kesalahan masa lalu. Bagi Aira, Arlan adalah luka terdalam sekaligus satu-satunya harapan.
Di bawah atap yang sama, kebencian bercampur dengan rindu yang tak pernah benar-benar padam. Saat rahasia masa lalu terungkap, dendam itu berubah menjadi obsesi.
Akankah kontrak ini berakhir dengan kehancuran…
atau justru menyatukan dua hati yang terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pohon Rindang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: BATAS YANG MULAI RETAK

Ponsel Aira bergetar tepat ketika jarum jam menunjuk pukul sembilan malam.

Ia masih berada di lantai eksekutif. Lampu-lampu kantor sudah banyak yang dipadamkan, menyisakan cahaya putih kebiruan yang membuat ruangan terasa lebih sunyi dari seharusnya. Komputer di mejanya masih menyala, deretan angka dan jadwal rapat memenuhi layar, namun fokus Aira sudah lama buyar.

Nama rumah sakit terpampang di layar.

Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.

“Halo?” jawabnya pelan, bangkit berdiri tanpa sadar.

“Selamat malam, Mbak Aira. Kami dari rumah sakit. Kondisi ibu Anda sedikit menurun. Tekanan darahnya tidak stabil.”

Dunia Aira seolah menyempit.

“A-apa berbahaya?” tanyanya dengan suara tertahan.

“Belum kritis, tapi dokter menyarankan pendamping keluarga malam ini.”

Aira menutup mata. Tangannya mencengkeram tepi meja hingga ruas jarinya memutih.

“Iya… iya, saya akan ke sana sekarang.”

Panggilan berakhir, tapi detak di dadanya tak kunjung reda.

Ia menoleh ke arah pintu ruang CEO yang masih tertutup. Lampu di dalamnya menyala. Arlan belum pulang.

Kontrak itu berkelebat di benaknya.

Tidak ada jam kerja tertulis.

Tidak ada izin pribadi.

Seluruh waktu berada di bawah kendali pihak pertama.

Aira menarik napas panjang, lalu melangkah mendekati pintu itu. Jemarinya terangkat… ragu… lalu mengetuk.

“Masuk.”

Suara Arlan terdengar datar, seperti biasa.

Aira membuka pintu. Arlan masih duduk di balik meja, jasnya sudah dilepas, kemeja gelapnya sedikit terbuka di bagian leher. Wajahnya terlihat lelah—nyaris tak terlihat, tapi cukup bagi Aira yang mengenalnya terlalu baik.

“Pak,” ucap Aira pelan. “Saya… saya perlu izin untuk pergi lebih awal.”

Alis Arlan terangkat tipis. “Jam sepuluh belum lewat.”

“Ibu saya—”

“Masalah pribadimu bukan urusanku.”

Kalimat itu jatuh seperti palu.

Aira menelan ludah. “Kondisinya menurun. Rumah sakit meminta pendamping.”

Hening sejenak.

Arlan menatapnya lama. Terlalu lama. Tatapan itu tidak marah, tapi menelanjanginya, seolah mencari celah yang bisa ia tekan lebih dalam.

“Berapa lama?” tanyanya akhirnya.

“Saya… saya tidak tahu.”

Arlan berdiri. Langkahnya pelan saat mengitari meja, berhenti tepat di depan Aira. Jarak mereka terlalu dekat, seperti hari pertama kontrak itu ditandatangani.

“Kontrak menyebutkan kamu tidak boleh pergi tanpa persetujuanku,” ucapnya rendah.

“Iya, Pak.” Aira menunduk. “Karena itu saya meminta izin.”

Beberapa detik berlalu.

Lalu Arlan menghela napas pelan—nyaris tak terdengar.

“Pergi.”

Aira mendongak, tak yakin dengan apa yang ia dengar.

“Pergi sekarang,” ulang Arlan, suaranya kembali dingin. “Aku tidak suka karyawan yang pikirannya terbagi.”

“I-izin… Pak?” suaranya bergetar.

“Jangan buat aku mengulanginya.”

Aira menunduk dalam-dalam. “Terima kasih.”

Ia berbalik cepat, takut jika ragu sedikit saja, izin itu akan ditarik kembali.

Namun saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Arlan kembali terdengar.

“Aira.”

Langkahnya terhenti.

“Besok kamu datang satu jam lebih awal,” ucapnya datar. “Anggap ini hutang.”

“Iya, Pak.”

Pintu tertutup di belakangnya.

Arlan berdiri mematung beberapa saat setelah Aira pergi.

Tatapan matanya jatuh ke jam tangan di pergelangan kirinya. Jam lama itu masih setia melingkar, seperti pengingat yang tak pernah ia minta.

Dulu…

Aira juga berdiri seperti itu.

Meminta izin.

Dengan mata yang sama-sama lelah.

Arlan mengepalkan tangan.

“Bodoh,” gumamnya pelan—entah ditujukan pada Aira, atau dirinya sendiri.

Di rumah sakit, Aira duduk di samping ranjang ibunya. Mesin monitor berdetak pelan, mengisi keheningan yang terasa rapuh.

Ibunya terlelap, wajahnya pucat tapi lebih tenang.

Aira menggenggam tangan itu, menahan isak yang sejak tadi ia tahan.

“Bu… aku baik-baik saja,” bisiknya, meski ia sendiri tidak yakin.

Ponselnya bergetar sekali lagi.

Sebuah pesan masuk.

Nomor tak bernama, tapi ia tahu siapa pengirimnya.

Arlan:

Pastikan ibumu stabil.

Lapor besok pagi.

Aira menatap layar itu lama.

Tidak ada empati.

Tidak ada perhatian.

Namun… tidak ada hukuman.

Untuk pertama kalinya sejak kembali ke hidup Arlan, Aira merasakan sesuatu yang asing.

Bukan harapan.

Tapi… retakan kecil.

Dan retakan itu, sekecil apa pun, terasa berbahaya.

Karena jika batas itu benar-benar runtuh,

ia tidak tahu siapa yang akan lebih dulu hancur—

dirinya,

atau Arlan Dirgantara.

1
Arkana Luis
bagus.
sangat seru
Rumah Berpenghuni
ayo thor lanjut an nya mana
Rumah Berpenghuni
iss si arlan jahat, tapi aira nya kasian🥺
Pohon Rindang: makasih udah mampir ☺
total 1 replies
Rumah Berpenghuni
semangat author, seru nii
Pohon Rindang: makasih semangat nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!