NovelToon NovelToon
Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Dilarang Sentuh Mami: Si Kembar Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Lari Saat Hamil / Single Mom / Anak Genius / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Om Ganteng, kerjanya cuma duduk doang? Kok nggak lari-lari kayak Mami? Om pemalas ya?"


Cayvion Alger, seorang CEO dingin, terkejut saat bocah 4 tahun yang mengatainya "pemalas" ternyata adalah anak kembarnya sendiri—hasil "kesalahan satu malam" empat tahun lalu dengan asisten pribadinya, Hara.

Rahasia ini terbongkar saat Hara terpaksa membawa anak-anaknya ke kantor karena pengasuh sakit.

​Demi hak asuh dan citra perusahaan, Cayvion mengajukan pernikahan kontrak dengan syarat dilarang jatuh cinta. Hara menyetujuinya, namun menegaskan bahwa kekuasaan Cayvion sebagai bos tidak berlaku di rumah.

Kini, Cayvion harus menghadapi tantangan baru: mengurus kekacauan anak-anak dan menahan hatinya yang perlahan luluh pada istri kontraknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: Ranjau Darat Bernama LEGO

​"Arghhh!"

​Jeritan itu tertahan di tenggorokan, berubah menjadi desis panjang yang menyakitkan seperti ban kempes.

​Cayvion Alger, CEO yang ditakuti ribuan karyawan, kini melompat-lompat kecil dengan satu kaki di tengah ruang keluarga mansion mewahnya sendiri. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol, dan matanya berair menahan siksaan yang menusuk ulu hati.

​Jam dinding digital di dinding menunjukkan pukul 02.15 dini hari.

​Tadi, dia hanya berniat turun ke dapur untuk mengambil segelas air dingin. Tenggorokannya kering setelah lembur memeriksa laporan keuangan. Karena sudah hafal setiap inci rumahnya—dan karena kebiasaan hemat energi yang mendarah daging—Cayvion tidak menyalakan lampu koridor. Dia pikir lantai marmer Italia yang luas dan kosong itu aman.

​Dia salah besar.

​Lantai itu tidak lagi kosong. Lantai itu kini adalah medan perang.

​Dengan tangan gemetar menahan sakit, Cayvion meraba dinding dan menekan saklar lampu utama.

​KLIK.

​Cahaya lampu kristal gantung membanjiri ruangan, menyilaukan mata. Dan di sanalah tersangka utamanya terlihat jelas.

​Sebuah balok LEGO persegi empat. Kecil. Merah. Tajam. Dan sangat mematikan.

​Bukan cuma satu. Ruang tengah yang didesain minimalis dan estetik oleh arsitek ternama itu kini tampak seperti baru saja dijatuhi bom plastik warna-warni. Ada benteng pertahanan di dekat sofa kulit, menara miring di depan TV 80 inci, dan ratusan kepingan kecil lainnya menyebar acak di jalur menuju dapur.

​"HARA!"

​Teriakan Cayvion meledak, tidak peduli lagi soal menjaga ketenangan malam. Rasa sakit di telapak kakinya yang paling lunak membuat logikanya putus.

​Pintu kamar di lantai satu—kamar tamu yang kini diokupasi istri dan anak-anaknya—terbuka kasar.

​Hara muncul dengan wajah bantal. Rambutnya mencuat ke segala arah, matanya setengah terpejam, dan tangannya memegang guling erat-erat seolah itu tameng.

​"Ada apa?! Gempa?! Kebakaran?!" tanya Hara panik, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Dia celingukan mencari sumber bahaya.

​"Lebih parah dari kebakaran!" bentak Cayvion. Dia masih berdiri dengan pose bangau, memegangi kaki kanannya yang berdenyut. "Lihat ini! Siapa yang menabur ranjau di rumahku?!"

​Hara mengerjap, menurunkan gulingnya saat melihat tidak ada api atau perampok. Matanya turun ke lantai, lalu ke kaki Cayvion, lalu ke balok kecil berwarna merah yang tergeletak polos tak berdosa.

​"Ya ampun, Pak," Hara menghela napas panjang, bahunya turun lemas. "Saya kira ada rampok bawa golok. Ternyata Bapak cuma keinjak mainan Elio."

​"Cuma?!" Suara Cayvion naik dua oktaf. "Kamu bilang cuma?! Rasanya seperti kakiku ditusuk paku panas, Hara! Ini aset! Kakiku ini aset perusahaan! Kalau besok bengkak dan aku tidak bisa jalan saat rapat direksi, kamu mau tanggung jawab?!"

​Cayvion memungut balok LEGO merah itu dengan ujung jarinya, menatapnya dengan tatapan penuh kebencian seolah benda itu adalah virus mematikan.

​"Ambil keranjang sampah. Sekarang."

​Kantuk Hara langsung hilang. Matanya membelalak. "Bapak mau ngapain?"

​"Membuang sampah ini," desis Cayvion dingin. Dia menendang tumpukan balok lain di dekatnya dengan kaki kirinya yang sehat. "Rumahku bukan tempat pembuangan limbah plastik. Aku mau semua mainan ini lenyap dari pandanganku dalam lima menit. Kalau tidak, aku akan membakarnya di halaman belakang."

​"Jangan gila ya, Pak!" Hara maju selangkah, naluri pelit emak-emaknya keluar. Dia berkacak pinggang, menatap suaminya nyalang. "Itu LEGO seri Star Wars Limited Edition! Elio nabung uang jajannya enam bulan buat beli itu! Harganya jutaan! Bapak jangan main buang seenaknya!"

​"Aku tidak peduli mau Star Wars atau Star Trek! Peraturan rumah ini jelas: dilarang membuat kekacauan!" Cayvion sudah bersiap melempar balok di tangannya ke arah tempat sampah di sudut ruangan.

​"Oke, silakan," tantang Hara. Suaranya berubah tenang, tapi dingin menusuk. "Silakan Bapak buang mainan itu ke tong sampah. Tapi detik mainan itu mendarat di sana, koleksi jam tangan Rolex, Patek Philippe, dan Richard Mille Bapak yang ada di lemari kaca itu bakal berenang indah di kolam renang belakang."

​Gerakan tangan Cayvion terhenti di udara. Dia menoleh kaku ke arah Hara.

​"Kamu... mengancamku?"

​"Bukan ancaman, Pak. Itu janji suci," balas Hara santai sambil melipat tangan di dada. "Mata dibalas mata. Plastik dibalas logam mulia. Bapak pikir nginjek LEGO sakit? Coba bayangin jam tangan tiga miliar Bapak kemasukan air kaporit dan mesinnya karatan. Lebih sakit mana di hati?"

​Cayvion ternganga. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Dia membayangkan lemari kaca kesayangannya, lalu menatap mainan plastik di tangannya. Perbandingan resikonya terlalu jomplang. Wanita ini benar-benar tahu kelemahannya.

​"Lagian Bapak punya mata kan?" omel Hara lagi, tidak memberi kesempatan Cayvion membalas. "Kenapa jalan gelap-gelapan kayak maling? Ini rumah, Pak, bukan gua kelelawar! Saklar lampu ada di mana-mana. Listrik Bapak nggak bakal putus cuma gara-gara nyalain lampu koridor lima menit! Dasar pelit!"

​"Aku bukan pelit! Itu prinsip efisiensi energi!" bantah Cayvion tak terima harga dirinya diserang. "Dan aku hafal jalan di rumahku sendiri kalau saja tidak ada ranjau darat in—"

​"Papa cengeng."

​Perdebatan sengit suami-istri itu terpotong seketika oleh suara kecil yang datar dan tanpa emosi.

​Cayvion dan Hara menoleh serentak ke arah pintu kamar.

​Elio berdiri di sana. Bocah empat tahun itu memakai piyama motif robot, rambutnya berantakan, dan dia sedang memeluk boneka beruang yang salah satu matanya copot. Dia menatap Cayvion dengan tatapan yang sangat... merendahkan.

​"Elio..." Hara buru-buru menghampiri anaknya. "Sayang, masuk lagi yuk. Papa cuma lagi drama Korea sedikit."

​Tapi Elio tidak bergerak. Mata tajamnya—yang persis mata Cayvion—menatap lurus ke arah ayahnya yang masih memegang kaki kesakitan.

​"Injak LEGO aja teriaknya kayak kejepit pintu," komentar Elio pedas, lalu menguap lebar. "Berisik banget. Elio lagi mimpi ngerakit roket jadi bubar."

​Wajah Cayvion memanas. Dia menurunkan kakinya, berusaha berdiri tegak demi menjaga wibawa di depan anaknya, meski telapak kakinya masih nyut-nyutan.

​"Ini tajam, Elio! Kamu anak kecil mana tahu rasanya!" bela Cayvion.

​"Tahu kok. Sering," jawab Elio santai. Dia menunjuk lututnya sendiri yang ditempel plester gambar dinosaurus. "Kemarin Elio jatuh dari sepeda, lutut berdarah, kulitnya ngelupas. Elio nggak nangis tuh. Diem aja."

​Elio menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin, menatap Cayvion dari ujung kepala sampai ujung kaki seolah sedang menilai kualitas barang dagangan yang cacat.

​"Papa badannya aja gede. Ototnya kayak Rambo. Tapi mentalnya..." Elio mendecakkan lidah. "Mental kerupuk. Malu sama kucing."

​Jleb.

​Cayvion merasa ada panah tak kasat mata yang menembus dadanya. Harga dirinya sebagai CEO paling powerful hancur lebur menjadi debu di lantai marmer, diinjak-injak oleh komentar sadis bocah empat tahun.

​Elio berbalik badan dengan gaya bosan, menarik tangan ibunya. "Ayo tidur lagi, Mi. Biarin aja Papa nangis di situ. Nanti juga diem sendiri kalau capek." 

Bocaj itu meniru gaya Hana kalau Elia lagi tantrum.

​Hara menahan tawa mati-matian, memberikan tatapan 'rasain lo' pada Cayvion, lalu masuk ke kamar dan menutup pintu.

​Klik.

​Cayvion berdiri sendirian di tengah ruang tamu yang terang benderang, dikelilingi mainan LEGO, dengan kaki sakit dan ego yang babak belur. Dia menatap balok merah di tangannya, lalu meletakkannya pelan-pelan di atas meja.

​Dia tidak berani membuangnya.

​Bukan karena ancaman Hara soal jam tangan. Tapi karena dia tidak mau dibilang mental kerupuk lagi oleh anaknya sendiri.

1
Niken Dwi Handayani
Ngakak dong baca nya🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Niken Dwi Handayani
Dan dimulailah hilangnya wibawa, peraturan di rumah Big bos oleh krucilnya😀😀
Savana Liora: hahahaha
total 1 replies
tia
butuh kesabaran cayvion,,,🤭
Savana Liora: kesabarannya setipis tisu bagi 10
total 1 replies
olyv
mantep twins 🤣🤣👍
Indah Wahyuni
aku suka, konfliknya ringan. ayahnya butuh benturan untuk menyadari kasih sayang ke anaknya. mungkin rasa ke ibuknya belum tapi ke anak harus. harta tidak bisa membeli waktu.
aku juga suka wanita yg tegas dia tidak ningalin suaminya. tapi memberi pelajaran suaminya.
Savana Liora: iya. makasih y
total 1 replies
tia
kapok 😄
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Indah Wahyuni
hari ini apa up satu kali? di tunggu kelanjutannya
Indah Wahyuni: ok, ditunggu.
total 2 replies
kalea rizuky
pergi ja tinggalin egois bgt ini laki
kalea rizuky
gemes deh
olyv
bagus hara diamin aja suami kulkas mu itu... g peka atau gimn sih cayvion.. udah tau salah, setidak nya minta maaf gitu pd anak2 mu
Savana Liora: tau tuh cayvion yak
total 1 replies
olyv
/Sob//Sob/ aahh twins sini aunty bantu peluk juga..
sukurinn kau cayvion di benci anakan mu sendiri
Savana Liora: ngeselin yak
total 1 replies
olyv
😔😔🥺🥺🥺🥺
olyv
🤣🤣🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha
total 2 replies
BONBON
kk, ini kamu kejar deadline kah, aku sampe bingung mau baca yg mana... satu satu Napa??😭 kebut"👍
Savana Liora: emang agak ngebut sih tayangnya karna mau ngajuin kontrak setelah bab 20. tp dari bab 21 bakalan santai kok. pagi siang malam kek minum obat.
total 2 replies
Alfi Alfi
bikin senyam senyum 🤭🤭🤭
Savana Liora: iya haha
total 1 replies
Alfi Alfi
gemesin banget ceritanya
Savana Liora: makasih kak
total 1 replies
Alfi Alfi
di tunggu thor
tia
lanjut Thor ,, cerita ny bikin gemes
Savana Liora: besok pagi terbit lg ya kk. sudah terjadwal
total 1 replies
Siti Sa'diah
keluarga koplak, yg normal itu cuma hara and thekids🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Siti Sa'diah
gkgkgk rasakan itu tuan perfect/CoolGuy/
Savana Liora: kena mental dia
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!