Alya Maheswari, seorang gadis dewasa yang harus menelan pahitnya percintaan. bagaimana tidak, kedua orang yang ia percaya, Randa sang pacar dan Relia adik kesayangannya. Keduanya tega bermain api di belakang dirinya.
Hingga suatu malam datang, di saat kedua orang tua Randa datang ke rumahnya, gadis itu sudah merasa berbunga-bunga, karena pasti kedatangan mereka ingin memintanya baik-baik.
Tapi kenyataannya tidak seperti itu, kedua orang tua Randa membawa kabar tentang gadis yang di maksud yaitu Ralia, sang adik yang saat ini tengah mengandung benih kekasihnya itu.
Hati Alya hancur, lebih parahnya lagi keluarganya sendiri menyuruhnya untuk mengalah dan menerima takdir ini, tanpa memikirkan perasaannya.
Karena sakit hati yang mendalam Alya pun memutuskan untuk ikut program transmigrasi ke suatu desa terpencil tanpa memberi tahu ke siapapun.
Di desa yang sejuk dan asri itu, Alya belajar bercocok tanam, untuk mengubah takdirnya, dari wanita yang tersakiti menjadi wanita tangguh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Hari-hari berikutnya berjalan pelan, tapi nyata.
Di desa, pagi Alya selalu dimulai dengan langkah kaki di tanah lembap. Ia belajar mengenali waktunya sendiri kapan tanah cukup basah, kapan angin terlalu kencang untuk menyiram, kapan ia harus berhenti dan duduk sebentar di galengan, membiarkan napasnya menyatu dengan alam.
Bayu tidak selalu ada di sampingnya. Kadang ia datang pagi-pagi, kadang siang, kadang hanya singgah sebentar memastikan tanaman aman. Ia tidak mengatur. Tidak memerintah. Hanya memberi tahu jika diminta.
“Lemah iki wis siap ditanduri,” katanya suatu pagi, sambil meremas tanah di telapak tangannya, lalu membiarkannya jatuh kembali.
Alya memperhatikan caranya memperlakukan tanah pelan, penuh hormat. Dan tanpa sadar, ia mulai memperlakukan dirinya sendiri dengan cara yang sama.
Alya tetap berdiri di sana cukup lama, memperhatikan tanah yang sebentar lagi akan menjadi tanggung jawabnya. Bayu sudah berjalan lebih dulu beberapa langkah, lalu berhenti ketika menyadari Alya belum menyusul.
“Riko mikir paran?” tanyanya. (Kamu mikir apa.)
Alya menggeleng pelan, tapi matanya masih menatap tanah.
“Enggak. Cuma… takut.”
Bayu tidak tertawa, tidak meremehkan. Ia jongkok, mengambil segenggam tanah, lalu meremasnya perlahan.
“Wedi iku tandane riko peduli,” katanya tenang. (Takut itu tandanya kamu peduli.)
Alya menelan ludah. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa terasa menenangkan.
Mereka mulai membersihkan lahan hari itu juga. Bukan kerja besar hanya mencabut sisa rumput liar, merapikan galengan, dan mengukur jarak tanam. Alya belajar dengan tubuhnya sendiri: punggung pegal, telapak tangan panas, dan napas yang harus diatur.
Beberapa kali ia berhenti, duduk di galengan sambil meneguk air.
Bayu tidak menyuruhnya bangkit.
“Istirahat sulung,” ucapnya singkat. (Istirahat dulu.)
Menjelang siang, matahari naik tinggi. Lahan itu belum sepenuhnya siap, tapi cukup untuk membuat Alya merasa… punya pijakan, tangannya terasa nyeri, tapi tak dirasa bagi Alya ini sebuah proses, untuk memulai hidup.
Saat mereka berjalan pulang, Alya melangkah lebih pelan dari pagi tadi.
“Bayu,” katanya tiba-tiba.
“Iyo?”
“Makasih sudah nggak nyuruh aku cepat.”
Bayu menoleh sekilas.
“Urip dudu sekedar lomba.”
Hanya itu, jawaban yang keluar dari mulut pria manis berlesung pipi itu, keduanya akhirnya melangkah pulang dan berpisah di suatu persimpangan gang menuju rumah masing-masing.
Sore itu, Alya mandi dengan tubuh lelah tapi hati ringan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidur tanpa dihantui pertanyaan: aku harus ke mana?
Karena jawabannya sudah mulai tumbuh pelan, di tanah yang sama setiap hari ia pijak, gadis itu duduk di teras sambil menikmati langit senja yang mulai turun, keindahannya benar-benar membuatnya terlena hingga tanpa sadar suara adzan mulai terdengar, dari situlah ia mulai masuk ke dalam rumah.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pagi di desa datang dengan suara yang jujur. Bukan klakson, bukan teriakan. Hanya desir angin yang menyentuh daun pisang dan langkah kaki di tanah basah.
Alya berdiri di tepi lahan sewaan itu lebih lama dari yang ia rencanakan. Tanahnya belum sepenuhnya rapi. Masih ada rumput liar, sisa batang kering, dan tanah yang belum digemburkan sempurna. Tapi justru di sanalah matanya bertahan di ketidaksempurnaan yang bisa ia ubah pelan-pelan.
Ia menggulung lengan bajunya. Hari ini bukan hari menanam. Hari ini hari menyiapkan.
Cangkul terasa berat di awal. Nafasnya sedikit terengah setelah beberapa ayunan. Tangannya belum sepenuhnya terbiasa, telapak kulitnya masih terlalu halus untuk pekerjaan seperti ini. Tapi Alya tidak berhenti. Setiap hentakan ke tanah terasa seperti meluapkan sesuatu yang lama ia pendam.
Ia berhenti sejenak, menghapus keringat, lalu melanjutkan lagi.
Dari kejauhan, Bayu memperhatikan tanpa mendekat. Ia duduk di pematang, memperbaiki tali capingnya yang hampir putus. Tidak memberi arahan. Tidak menyuruh berhenti. Ia tahu, ada kerja yang harus diselesaikan seseorang dengan tangannya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Bayu berdiri dan menghampiri. Bukan membawa cangkul, hanya botol air.
“Ngombe sek,” katanya singkat. (Minum dulu.)
Alya menerima botol itu tanpa membantah. Tegukan pertama terasa seperti hidup masuk kembali ke tubuhnya.
“Makasih.”
Bayu mengangguk. Lalu, alih-alih pergi, ia justru mengambil sabit dan mulai membersihkan rumput di sisi lain lahan.
Alya melirik. “Katanya cuma nemenin.”
Bayu tersenyum tipis. “Isun mung ngerijigi kang katon ganggu.” (Aku cuma bersihin yang terlihat ganggu.)
Mereka bekerja berdampingan. Tidak sejajar, tidak berhadap-hadapan. Tapi cukup dekat untuk saling sadar keberadaan.
Alya memperhatikan Bayu dari sudut matanya. Cara pria itu memegang sabit. Cara ia menekuk lutut saat membersihkan akar rumput. Terlihat terlatih, terlalu rapi untuk sekadar kebiasaan desa.
“Kamu dari dulu di sawah?” tanya Alya, ringan.
Bayu tidak langsung menjawab. Sabitnya berhenti sebentar.
“Sak lawase.” (Sejak lama.)
Jawaban itu terdengar singkat, tapi tertutup. Alya tidak memaksa. Ia sudah belajar, tidak semua orang siap membuka tanahnya sekaligus.
Matahari mulai naik. Tanah yang tadinya keras mulai terurai. Alya berjongkok, meremas tanah yang sudah gembur.
“Kalau berhasil,” ucap Alya pelan, “aku pengin punya sesuatu yang benar-benar hasil dari tanganku sendiri.”
Bayu menoleh. “Ora kudu cepet.” (Tidak harus cepat.)
Alya tersenyum kecil. “Aku nggak kejar cepat. Aku kejar bertahan.”
Bayu terdiam lebih lama dari biasanya. Lalu ia berkata, nyaris seperti berbicara pada tanah.
“Kang bertahan iku kang biasane tau ambruk.”
(Yang bisa bertahan biasanya yang pernah runtuh.)
Alya menoleh. Kalimat itu tidak ditujukan padanya, tapi terasa dekat.
“Kamu juga?” tanyanya hati-hati.
Bayu tidak menghindar. Tidak pula menjawab langsung. Ia hanya berkata, “Ono wong kang milih nandur maneng ketimbang mbaleni kang lawas.” (Ada orang yang lebih memilih menanam ulang daripada kembali ke yang lama.)
Angin lewat di antara mereka. Alya tidak mengejar jawaban. Tapi ada sesuatu yang ia simpan kesadaran bahwa Bayu bukan orang yang sekadar kebetulan muncul di hidupnya.
Menjelang siang, pekerjaan dihentikan. Tanah sudah cukup siap untuk hari tanam berikutnya. Alya berdiri di tengah lahan, menatap hasil kerjanya hari itu. Belum apa-apa, tapi sudah berbeda.
Bayu berdiri di pinggir. Tidak masuk ke tengah. Tidak mengklaim apa pun.
“Bay,” panggil Alya.
“Iyo?”
“Kalau nanti panen pertama gagal… kamu masih mau bantu aku?”
Bayu menatapnya lama. Bukan tatapan ragu. Bukan pula janji kosong.
“Isun bantu nganti riko ora butuh isun maneh.” (Aku bantu sampai kamu tidak membutuhkanku lagi.)
Alya menelan ludah. Bukan karena sedih, tapi karena kalimat itu terlalu dewasa untuk sekadar perhatian.
Di atas tanah cabai yang belum ditanami, Alya sadar ia tidak sedang ditopang. Ia sedang ditemani.
Dan di situlah, untuk pertama kalinya, cintanya pada hidup tumbuh tanpa rasa takut.
Bersambung ...
bikin alya lupa sama kisah pedih hidupnya
thor novelnya jgn trllu kaku dong