{Area khusus dewasa}
"Saya mohon tolong lepaskan saya, saya mohon." Permintaan wanita itu dengan suara lirih memohon pada pria itu.
"Tidak bisa,hanya kamu yang bisa melakukannya, sampai kapanpun kamu tak akan bisa pergi."ucap pria itu dengan nada serius.
"Tapi kenapa harus saya, masih banyak wanita lain yang mau dengan Anda."
Wanita itu semakin ketakutan, setelah Apa yang dilakukan oleh pria itu.Berharap mampu bisa menghindarinya, tapi tetap saja tak bisa dia hindari ketika ambisi dari pria itu begitu besar terhadap dirinya.
Apakah nantinya dirinya akan menerima kehadiran pria itu atau dirinya lebih memilih untuk pergi dari kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ArsyaNendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang bulan madu~
"Sayang,kenapa kamu diam saja?" Tanya Dio pada istrinya yang sedari lebih banyak diam.
"Tidak ada apa-apa sayang." Jawab Malia yang spontan Dio kaget dirinya dipanggil sayang oleh istrinya.
"Apa ,coba ulangi lagi." Dio langsung menanggapi dengan ekspresi bahagia.
Malia tersadar, dirinya tidak sengaja mengucapkan sesuatu yang membuat Malia malu sendiri."Kenapa sih,mulutku tak terkontrol bicara seperti itu." Batin Malia yang kesal dengan dirinya sendiri.
"Sayang,ayo ulangi lagi." Dio makin memeluk erat istrinya.
"I-iya sayang." Malia berkata dengan nada terbata-bata.
Dio merasa begitu bahagia, akhirnya istrinya memanggil nama sayang.Dio langsung mencium pipi istrinya berulang-ulang.
"Jangan lakukan,kita ada diluar." Malia langsung protes dengan tindakan yang dilakukan suaminya itu.
"Tenang sayang,kita berada pulau yang aman.Bahkan tak akan ada orang berani masuk kedalam pulau ini." Jawab santai Dio yang makin menunjukkan rasa cintanya pada istrinya.
Malia yang awalnya protes karena mereka ada diluar,takutnya ada orang yang melihat kejadian itu.Berbeda dengan Dio yang masih terlihat begitu bahagia, akhirnya perjuangan untuk memiliki dia tak pernah sia-sia.
Malam hari
Mereka berdua baru saja selesai makan malam, keduanya terlihat begitu santai menikmati waktu mereka berdua.Dio nampak memeluk istrinya dengan hangat, Malia duduk bersandar didada suaminya.
"Berapa hari kita akan menginap disini?" Tanya Malia pada suaminya.
"Mungkin lima hari sayang." Jawab Dio yang tiba-tiba saja mencium pipi istrinya.
"Begitu." Jawab singkat Malia yang tak terlalu lama, dirinya mengira jika mereka akan lebih lama disini.
Dio mulai bertingkah lagi, hingga Malia extra sabar menghadapi suaminya.Tanpa menunggu waktu,Dio mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mereka.
Tak terasa waktu baru menunjukkan pukul 1 malam,Malia bangun menuju kamar mandi.Setelah itu dia pergi menuju dapur mengambil segelas air minum.
Malia duduk terdiam yang seolah dia mengingat sesuatu."Jika saja mereka masih ada tak mungkin hidupku seperti ini.Apa aku hanya seorang anak yang tidak mereka inginkan.Tapi kenapa harus aku,aku sekarang memiliki suami tetapi kasih sayang dari mereka tak pernah aku dapatkan."Batin Malia yang meratapi kesedihan kerinduan keluarga.
Malia sedih mengingat kejadian yang dulu pernah terjadi pada dirinya,tapi untungnya masih ada orang lain yang begitu baik pada dirinya hingga semua sedihnya menghilang karena kasih saya dari sosok ibu angkatnya.
"Kemana kalian." Malia tak bisa menahan tangisannya mengingat siapa orang tuanya.
"Kenapa kalian membuang ku di panti asuhan,apa kalian tak sayang padaku hingga membuang ku."ucap Malia yang membungkukkan kepalanya di meja dengan tangisan yang tak tertahan.
"Apa salahku kalian berbuat padaku seperti ini." Hati Malia semakin teriris sakit mengingat hidupnya yang sendiri tanpa sosok orang tua di sampingnya.
Tanpa Malia sadari,tepat dibelakang Malia ada sosok yang terus mengawasinya,sosok itu langsung menyentuh pundak Malia.
"Sayang." Dio berdiri dibelakang istrinya,spontan Malia segera menghapus air matanya.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Dio pada istrinya.
"Tidak apa-apa." Malia segera bangkit dari tempat duduknya dan kembali ke tempat tidurnya.
Dio hanya menghela nafas."Sepertinya dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya."batin Dio yang sebenarnya tahu istrinya sedang merindukan sosok keluarga.
Ia segera menyusul istrinya ke kamar, yang di saat itu istrinya sudah tertidur di tempat tidurnya.
Dio langsung tidur di samping istrinya dengan tangannya melingkar di pinggang istrinya, Malia pun sebenarnya belum tidur,dia hanya memejamkan matanya dia tak ingin suaminya tahu apa yang dia tangisi.
"Sayang." Dio memeluk erat istrinya.
"Jangan bersedih lagi,ada aku yang selalu ada di sampingmu."ucap Dio yang spontan membuat kedua mata Malia terbuka dan mendengarkan perkataan jelas dari suaminya itu.
"Aku janji akan selalu menjagamu, tersenyumlah jangan bersedih dengan apa yang sudah terjadi."ucap Dio yang terus berbicara pada istrinya.
"Iya." Jawab Malia dengan suara lirih,Dio memeluk erat istrinya dan membelai rambut istrinya.
Dio mengetahui apa beban yang selama ini istrinya pikirkan,Dio datang memberikan kehangatan dan kekuatan untuk istrinya.
Tak terasa sudah 5 hari mereka menikmati bulan madu mereka berdua, kini waktunya mereka berdua kembali pulang. Malia terlihat sibuk merapikan baju mereka, setelah itu barulah koper mereka letakkan diluar.
"Semuanya sudah siap, tinggal berangkat."Malia sudah siap untuk pulang sekarang.
Berbeda dengan Dio yang saat itu sedang menghubungi asisten pribadinya, dan diam-diam dia sedang merencanakan hal sesuatu yang dia sengaja sembunyikan dari istrinya.
"Aku tidak mau tahu, kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan. Aku berikan waktu selama seminggu untuk menyelesaikan itu semua setelah itu aku dan istriku akan menepati tempat itu."setelah obrolan mereka selesai, Dio langsung menemui istrinya yang saat itu sedang di luar dengan dua koper yang mereka bawa.
"Semuanya sudah siap sayang, Ayo kita berangkat sekarang."akhirnya mereka berdua berangkat.
Seperti perjalanan biasanya, mereka pulang dengan menaiki pesawat langsung ke tempat tujuan mereka pulang. Selama di perjalanan Malia terlihat begitu tenang, dia pun sudah kehadiran suaminya di kehidupannya.
Dio tetep saja menunjukkan sikap posesifnya dan lebih gilanya dia semakin mesum.Malia dibuat semakin kewalahan dengan tingkah suaminya.
Akhirnya mereka sampai juga di bandara dan langsung menuju ke apartemen milik mereka.Mereka langsung disambut oleh Rian yang sedari tadi menunggu kedatangan mereka berdua.
"Selamat Nona, tuan." Sapa Rian kepada tuannya, mereka pun melanjutkan perjalanan ke apartemen.
Dio terus saja menggenggam tangan istrinya." Apa semua dokumen milik tuan Zio sudah kamu siapkan?" Tanya Dio pada Asistennya.
"Sudah tuan,mungkin besok tuan Zio menemui Anda tuan." Mendengar jawaban itu Dio hanya menganggukkan kepala.
"Baiklah setelah pulang nanti antarkan aku ke kantor,sebelum itu kita pergi apartemen sekarang." Perintah Dio pada Asistennya.
Malia yang mendengarnya hanya bisa terdiam sembari tatapan matanya menoleh kearah suaminya.
Pada akhirnya Dio menjelaskan pada istrinya."Baiklah." Jawab Malia yang tak begitu banyak tanya tentang suaminya.
Dio membalas dengan senyuman, akhirnya istrinya mengerti kesibukan dirinya.Tanpa Dio sadari ada seseorang yang terus mengawasi mereka berdua.
"Sepertinya tuan sudah mendapatkan kebahagiaan itu,semoga keinginan tuan terkabul." Batin Rian yang tahu betul sifat tuannya.
Akhirnya posisi mereka sudah ada di area parkiran Apartemen,Dio keluar dari mobil bersama istrinya,"Sayang,aku tinggal sebentar.Tak sampai malam aku pulang." Pamitan Dio kepada istrinya.
Malia hanya menganggukkan kepala mengerti apa yang dikatakan oleh suaminya, tiba-tiba saja Dio mengecup bibir manis istrinya yang secara langsung membuat dirinya kebingungan.