JANGAN LUPA UNTUK SELALU MEMBERIKAN DUKUNGANNYA YA...!!!
Lin Yao seorang blogger makanan didunia modern Time Travel kenegeri kuno, menjadi seorang wanita muda miskin.
Berawal hanya dengan sebuah sendok, ia menghasilkan uang sepenuhnya melalui Hobby & kecerdasannya dalam makanan.
Lin Yao memanfaatkan keterampilan memasaknya untuk bisa bertahan bertahan hidup didunia yang baru ia pijaki.
Bukan cuma untuk dirinya seorang, tapi juga bagi keluarganya.
Bagaimana kah kisah perjalan Lin Yao diDunia kuno...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08
Satu per satu suara pelanggan mulai bersahutan. Tangan mereka terulur menyerahkan alat tukar pembayaran.
Lin Song khusus kebagian mengumpulkan uang, karena tak baik jika tangan yang sudah menyentuh duit digunakan untuk mencapit makanan.
"Enak sekali..!"
"Benar, ini sangat enak."
"Ya, berbeda dengan buatan ibuku."
"Buatan istriku juga tidak seenak ini."
Komentar penuh kepuasaan dari semua pembeli.
Lapak Lin bersaudara tak ada kursi atau meja bagi pelanggan, jadi semua pengunjung makan sembari berdiri hingga mempersempit jalan untuk dilalui.
Ada juga beberapa pelanggan yang menoleh kelapak bibi Lie, lalu bergeser kesana kemudian membeli semangkuk bubur panas untuk dimakan bersama pancake kucai telur.
Alhasil warung bubur bibi Lie menjadi lebih ramai.
Senyum dibibir bibi Lie mengembang sempurna, dengan semangat empat lima ia menyajikan pesanan.
"Masih panas, pelan-pelan makannya. Jangan sampai lidah kalian terbakar." seru bibi Lie.
"Bibi, buburmu sangat enak dan cocok dinikmati bersama panekuk kucai ini." komentar seorang pelanggan.
"Iya benar, ini sangat lezat."
Perlahan namun pasti, kedua kedai itu pun menjadi ramai pembeli. Antrean panjang tercipta, beberapa orang yang tadi sudah membeli kembali datang.
Tiba giliran pelanggan yang berada dibarisan paling terakhir, itu adalah tuan muda bersama pelayannya.
"Aku akan mengambil semua panekuk daun bawang yang tersisa."
Lin Yao mendongak untuk melihat siapa gerangan pemilik suara itu.
Ya, bukankah ini pemuda yang ahli tawar-menawar ditoko bahan pangan kemarin.
Namun penampilannya kali ini amat berbeda. Pemuda itu mengenakan jubah panjang indigo yang pudar tetapi bersih, lengkap dengan topi sarjana.
Jika dilihat dari busananya, pemuda itu pasti seorang terpelajar.
Namun setelah diperhatikan lebih teliti, jubah yang dikenakan agak sedikit lebih ketat dan membuat si pemakai tampak lebih tegap.
Kebanyakan para cendekiawan bertubuh ramping, tapi pemuda itu meskipun mengenakan jubah dan topi, lebih mirip seperti seorang prajurit.
Bukan berarti Lin Yao menilai dari penampilan. Namun pria muda didepannya ini seperti putra Jenderal yang telah berlatih bela diri sejak kecil dan tumbuh besar dimedan perang.
Sangat berbeda dari para sarjana lemah yang menghabiskan waktu seharian dengan membaca buku dan menghafalkan sastra.
Tatapan Lin Yao tertuju pada wajah Xu Fang Zhi.
Fitur wajah tajam nan tegas, alis runcing bak pedang, mata cerah namun kelam, hidung mancung dengan bibir yang melengkung membentuk senyum tampan.
Kesan pertama yang terlintas dibenak Lin Yao adalah "sempurna"
Namun kata-kata yang terucap selanjutnya, membuat Lin Yao menarik kembali pujiannya.
"Nona, berikan aku diskon..!"
Lin Yao melirik pelayan yang berdiri dibelakang pemuda itu. Tampak kantong makanan ada tangan kanan, sementara bungkusan bakpao ditangan kiri.
Sepertinya mau apa pun barangnya, pemuda ini akan selalu menawarnya.
Apakah itu salah satu hobbynya...
Lin Yao terdiam sejenak. Pemuda ini telah membeli lima puluh jin tepung kemarin. Ia juga memiliki seorang pelayan. Jelas ia bukan berasal dari keluarga miskin, jadi mengapa harus menawar harga untuk beberapa wen saja.
Lin Yao pernah menyaksikan sifatnya yang gigih sebelumnya, jika menolak pasti akan terjadi perdebatan.
Setelah menggerutu sebentar dalam hati Lin Yao pun setuju "oke, sebelas pancake kucai telur ini harganya tiga puluh wen dan jika kau puas, datang lagi besok kemari untuk membeli."
Xu Fang Zhi menerbitkan senyum flamboyannya.
"Terimakasih nona, aku pasti akan menjadi pelanggan tetap dikiosmu ini." ucap Fang Zhi menangkupkan kedua tangannya.
Lin Yao dengan cepat dan hati-hati membungkus sebelas panekuk yang tersisa lalu menyerahkannya kepada Xu Fang Zhi.
Sang pelayan menerima, lalu menyerahkan tiga puluh wen yang disambut oleh Lin Song.
Helaan nafas lega ketiga saudara hempaskan, begitu Xu Fang Zhi pergi.
Senyum ketiganya pecah, mereka saling merangkul senang.
Sebelum tengah hari mereka berhasil menjual habis sepuluh jin tepung adonan pancake.
Lin Shun memandang lapak miliknya yang telah kosong. Wajah pemuda itu berseri-seri karena kegembiraan yang hampir tak tertahan.
Sambil menggenggam kantong uangnya yang berat, ia dengan gembira berkata kepada kedua adiknya "aku tidak menyangka pancake kita akan laku secepat ini."
Sambil merapikan kios Lin Yao membalas ucapan kakaknya "aku sangat bersyukur karena hari ini usaha kita berjalan dengan lancar."
Lin Yao meraih mangkuk air yang disodorkan Lin Song lalu meneguknya.
"Tapi kita perlu menghitung modal yang sudah dikeluarkan. Meski pun telurnya tidak membeli, kita tetap harus memasukkannya keanggaran belanja sesuai dengan harga pasar."
Lin shun mengangguk "berapa banyak telur yang digunakan hari ini..?"
"Sepuluh...!"
Untuk bawang daun tak masuk hitungan. Sementara tepung, lemak babi dan bumbu diperkirakan hari ini menghabiskan modal tiga puluh wen berikut sewa lapak.
Jika diperkirakan, hari ini mereka mendapat laba bersih delapan puluh wen.
Lin Shun sedikit terkejut mendengar perhitungan kasar sang adik, namun dengan cepat tersenyum.
Pemuda itu dengan hati-hati menyimpan kantung uang kedalam sakunya.
"Delapan puluh wen itu cukup banyak. Ini jauh lebih baik daripada berburu. Bahkan jika kau menghabiskan seharian merangkak di pegunungan, kau mungkin tidak akan mendapatkan uang sebanyak itu."
Lin Yao turut tersenyum "aku lihat semua orang suka pancake ini. Jika kita menyiapkan banyak bahan, kita bisa mendapatkan untung lebih."
Lin Yao melirik kios Bibi Lie dan berencana untuk membeli beberapa meja, kursi, dan peralatan makan begitu bisnisnya berkembang nanti.
Lin Cheng mengangguk cepat, "Oke, aku akan bangun pagi besok untuk menyiapkan bahan-bahan, membeli lebih banyak telur dan tepung juga lemak babi."
Hari pertama kios mereka berjalan jauh lebih baik dari pada yang Lin Yao dan Lin Shun perkirakan.
Setelah berkemas, mereka bertiga membawa tongkat dan keranjang kosong untuk kembali pulang kerumah.
Disepanjang jalan Lin Yao dan Lin Shun mendiskusikan berapa banyak makanan yang akan disiapkan untuk besok dengan menggunakan sisa bahan yang ada dirumah.
Sementara Lin Song melompat-lompat dibelakang dengan sesekali memungut kerikil dari pinggir jalan untuk bermain.
Tetapi begitu mereka memasuki desa suasananya terasa aneh.
Ketiga bersaudara itu selalu akur dengan tetangga, kerap saling menyapa lalu bertukar beberapa patah kata saat bertemu.
Namun hari ini ketika melihat mereka dari jauh, para tetangga mempercepat langkah melipir pergi seolah menghindari tiga saudara itu.
Lin Cheng dan Lin Yao saling bertukar pandang, keduanya merasakan ada sesuatu yang tidak beres.
Saat mendekati rumah, ketiganya melihat seseorang berjongkok di depan pintu pagar.
"Dahuan-ge..!" Lin Shun mempercepat langkahnya.
Liu Dahuan adalah pemburu terkenal di desa. Meskipun ia tampak baru berusia kisaran dua puluh tahunan, pria itu memiliki pengalaman berburu dari umur sembilan tahun.
Sejak ayah tiga saudara Lin menghilang, Liu Dahuan sering mengajak Lin Shun berburu dihutan pegunungan. Mengajari Shun mengenali jejak hewan dan menemukan sumber air. Keakraban keduanya sudah seperti saudara kandung.