Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1
Pagi itu, Karina terbangun dengan kepala berat dan tenggorokan kering. Matahari belum naik sepenuhnya, hanya seberkas cahaya pucat yang menyelinap di antara tirai jendela apartemennya di lantai sembilan.
Ia duduk di tepi ranjang, memandangi cangkir kopi kosong di meja kerja, sisa malam yang dihabiskan dengan menulis, lagi-lagi tanpa hasil. Entah mengapa, akhir-akhir ini setiap kalimat yang ia tulis terasa seperti déjà vu.
Karina meraih jaket tipisnya dan keluar hendak mencari sarapan di warung langganannya. Tapi begitu pintu apartemen terbuka, langkahnya terhenti. Sebuah amplop tebal berwarna krem tergeletak tepat di depan pintu.
Bukan surat biasa.
Kertasnya berkilau halus, dan di tengah amplop tertera segel lilin berwarna emas dengan inisial H.F.
Jantung Karina berdegup pelan saat ia membungkuk mengambilnya. Tulisan di permukaannya begitu rapi, nyaris antik.
>Kepada Nona Karina Joram, Kehadiran Anda sangat diharapkan dalam jamuan pribadi di kediaman saya.
^^^Rumah Hugo Fuller, Jalan Paradise No. 7, pukul delapan malam ini.^^^
Tidak ada nomor telepon, tidak ada keterangan acara. Hanya tanda tangan elegan di bawahnya: Hugo Fuller, nama yang tak asing di dunia bisnis dan sastra. Konglomerat yang dikenal suka mengoleksi lukisan, manuskrip langka, dan kabarnya... rahasia orang.
Karina menatap undangan itu lama, mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu Tuan Fuller sebelumnya. Tidak ada ingatan seperti itu. Namun sesuatu dari surat itu membuatnya sulit berpaling. Mungkin karena rasa ingin tahu yang samar. Mungkin karena pikirannya yang berbisik halus.
Mungkin Novel pertamamu yang pernah sampai pada dia.
Karina mengerjap, terkejut oleh pikiran itu sendiri. Novel pertama? pikirnya. Yang mana? Ia hanya mengingat dua naskah, Bayang di Jendela dan Di Balik Langit Senja. Yang pertama gagal, katanya dulu pada semua orang. Tapi kalau begitu, mengapa ia tak bisa mengingat sedikit pun tentangnya? Bahkan judulnya pun tidak?
Ia menatap undangan itu sekali lagi. Lilin emas di segelnya tampak belum benar-benar kering, seolah baru saja ditempelkan.
Karina menatap undangan itu sebentar, lalu menghela napas pendek.
“Mungkin nanti saja,” gumamnya pelan. Ia melemparkan amplop itu ke dalam apartemennya, biarkan tergeletak di lantai dekat rak buku, lalu menutup pintu dengan bunyi klik halus.
Udara pagi hari di kota besar terasa lebih hangat, sangat berbeda dengan desanya yang cenderung dingin sampai siang. Jalanan ibu kota mulai ramai dengan suara mesin dan langkah kaki.
Ia berjalan ke warung kecil di ujung blok, tempat ia biasa memesan bubur ayam dan segelas kopi hitam. Warung itu sudah penuh dengan pelanggan kantoran yang berbicara cepat dan tertawa keras. Karina memilih duduk di sudut dekat jendela, memandangi kaca yang sedikit berembun.
Di meja sebelah, dua pria paruh baya sedang mengobrol dengan antusias. Suaranya cukup keras untuk terdengar.
“Kau tahu, si Tuan Hugo itu baru beli kapal pesiar. Katanya lebih besar dari punya menteri!”
“Ah, yang benar saja? Orang itu sudah punya rumah di lima negara, sekarang kapal juga? Kalau bukan karena bisnis gelap, aku tak tahu lagi apa.”
“Hati-hati bicara, katanya dia suka dengar dari jauh.”
“Wajar saja karena dia punya banyak telinga berjalan. Orangnya banyak.”
Mereka tertawa kecil.
Karina menatap ke arah mereka sekilas. Nama itu muncul lagi, Tuan Hugo. Orang yang sama di undangan tadi. Konglomerat yang katanya memiliki segalanya, termasuk hal-hal yang tak bisa dibeli orang lain.
Ia tersenyum tipis. Mungkin, pikirnya, undangan nanti malam akan menjadi awal keberuntungan baru. Bertemu langsung dengan orang sekaya dan sepengaruh itu bisa membuka banyak jalan, terutama bagi penulis yang sedang mencari inspirasi untuk kisah berikutnya. Atau mungkin… inspirasi akan datang padanya tanpa ia harus mencarinya.
Kopi di depannya mulai dingin, tapi Karina tak menyadarinya. Entah kenapa, di dasar pikirannya muncul rasa lain, semacam tarikan halus, yang memanggil dari balik tirai yang belum sepenuhnya terbuka.
Karina harus datang kesana, memenuhi undangan itu. Kalau dia beruntung Hugo Fuller mungkin akan membeli salah satu novelnya dengan bayaran mahal. Dari yang Karina dengar pria kaya raya itu tidak pernah membayar murah untuk segala sesuatu yang dia beli.
...\=\=\=\=...
Karina menghentikan motornya di depan gerbang rumah mewah dan megah di pinggir kota C. Rumah bergaya klasik itu seperti sudah berdiri ribuan tahun adalah milik Tuan Hugo Fuller.
“Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya satpam yang berjaga di gerbang. Lelaki tiga puluhan berkulit gelap dan wajah tegas itu mengamatinya cukup lama.
“Eum… saya Karina Joram, diundang datang oleh Tuan Fuller.” Kata Karina seraya menyodorkan undangan yang tadi pagi tergeletak di depan pintu.
Pria itu mengambilnya. Hanya dalam sekali pandang dia tahu undangan itu resmi. Dengan sigap membukakan gerbang dan mempersilahkan Karina masuk.
“Silahkan, Nona. Motor anda biar saya parkirkan.” Gerbang terbuka lebar, dia membawa motor Karina masuk ke halaman sambil menjelaskan. “Untuk sampai ke pintu utama, anda hanya perlu berjalan lurus. Nanti akan ada kepala pelayan yang akan mengantarkan anda ke dalam.”
Karina mengangguk, matanya menatap sekeliling. Halaman itu luas, bersih, asri dan alami tetapi juga sunyi.
Ia tidak melihat seorangpun selain mereka berdua. Karina berhenti dekat undakan tangga menuju pintu utama. Ia merasa seperti sedang diamati. Sontak saja Karina mendongak.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun insting Karina mengatakan ada seseorang dari lantai dua yang mengawasi. Mungkin tuan Fuller.
“Selamat datang, Nona Joram. Terima kasih sudah menghadiri undangan.”
Karina menoleh ke atas, dan di anak tangga paling atas atau lebih tepatnya di teras depan berdiri satu sosok wanita paruh baya bertubuh gemuk. Dia tersenyum formal pada Karina.
“Ya, Tuan Fuller mengundangku. Apakah aku bisa langsung bertemu beliau?” Tanya Karina mendekati wanita itu.
“Aku Ranra, kepala pelayan.” Ranra mengulurkan tangannya yang gemuk.
Karina menyambutnya. “Karina.”
Tangan mereka saling menggenggam, Karina tersentak merasakan betapa dinginnya tangan Ranra. Dingin yang membuat bulu kuduk berdiri. Karina menarik tangannya, tersenyum canggung dan menjaga jarak beberapa langkah dari Ranra.
“Tuan akan bertemu semua orang saat makan malam. Mari saya antarkan ke kamar untuk beristirahat sejenak, nanti saya akan memberitahu waktu makan malam.” Ranra membukakan pintu, meminta Karina berjalan lebih dulu.
Perasaan Karina mulai tidak nyaman sejak menyentuh tangan dingin Ranra, dengan agak enggan dia masuk. Bagian dalam rumah dipenuhi furniture mewah dan elegan. Jika Karina takar secara kasar, setidaknya barang-barang yang terlihat mencapai harga ratusan juta.
Ada banyak barang antik dan lukisan aneh yang tersebar di sepanjang dinding.
Ranra membawanya ke sebuah kamar di ujung lorong. Kamar itu tak kalah mewah, ada kasur king size, karpet bulu mewah, dinding licin, lantai marmer dan benda-benda lainnya yang juga mewah dan begitu bernilai.
“Aku harus menunggu disini?” Tanya Karina berhenti di dekat nakas.
“Ya, Nona. Saya permisi untuk menyambut tamu lain.”
Ada tamu lain? Jadi tidak hanya dirinya yang diundang? Kalau begitu Karina tidak perlu khawatir, ini benar-benar hanya undangan makan malam.
Pintu tertutup, menandakan Ranra sudah pergi. Karina meletakkan tasnya di kursi, kemudian berbaring di kasur yang terasa sangat nyaman.
Mungkin karena tidak pernah tidur di kasur yang seempuk ini, mata Karina seketika menjadi berat dan dalam waktu singkat sudah tertidur pulas.
Karina tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur, ia terbangun karena mendengar suara ketukan pada pintu. Pelan namun tergesa.
“Kenapa dia mengetuk pintu? Padahal kan pintu nggak dikunci.” Gumam Karina, bangun dari ranjang dan membukakan pintu.
Tetapi bukan Ranra yang datang melainkan seorang pria. Dewasa, tinggi, kekar, namun pucat. Jika kamu pernah menyentuh air di pagi hari, maka seperti itulah aura orang ini. Dingin, sejuk dan berbahaya.
"Kamu siapa?" Tanya Karina setelah mengumpulkan kembali kepingan-kepingan ingatan dan menyatakan bahwa ia tidak mengenal pria ini. Apakah dia salah satu tamu Tuan Fuller?
Lalu... Kalau dia tamu, untuk apa datang ke kamarnya?
“Saya Hugo Fuller.” Jawab pria itu, suaranya netral tetapi tidak ada kehangatan sama sekali.
“Ah!” Karina kaget, sedikit menurunkan kepalanya. “Maafkan saya belum menyapa anda, saya pikir kita akan bertemu di meja makan seperti yang dikatakan Ranra.”
“Makan malam?” Bibirnya tertarik ke atas membentuk seringaian dingin, dia maju selangkah dan sekarang berdiri tepat di depan wajah Karina. “Kamu sudah siap?”
“Y–ya, tentu.” Jawab Karina gugup, tanpa sadar ia mundur ke belakang.
“Kalau begitu mari kita mulai,”
Alis Karina berkerut. “Mulai apa?”
“Makan malam dengan kamu sebagai hidangannya.” Kata Hugo menjilati bibirnya yang kering.
Karina melotot terkejut. Makan? Dirinya akan dimakan? Oh tidak! Pria ini kanibal. Dengan cepat Karina menutup pintu namun Hugo menahannya lebih cepat.
“TIDAKKKK!!!! JANGAN MAKAN AKU!”
...***...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor