"Mereka mengira aku boneka porselen yang siap pecah. Mereka pikir aku buta, bodoh, dan lemah. Biar aku tunjukkan, dari balik duri-duri ini, ada mahkota yang menungguku."
Alana Wijaya adalah putri tunggal konglomerat yang jatuh miskin. Setelah ayahnya wafat, ia menikah dengan pria yang diam-diam berselingkuh dengan sahabatnya sendiri—tepat di bawah atapnya, selama tiga tahun. Alana memilih diam. Bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun takhta.
Di balik gaun mahal dan senyum palsunya, ia diam-diam membangun kembali kerajaan ayahnya. Ia masuk ke klub eksklusif dengan pakaian usang, diremehkan, dicemooh—sampai suatu hari, para investor paling disegani di negeri ini berlutut menawarkan kerja sama.
Saat sang suami dan sahabatnya mulai menyadari bahwa mereka bukan lagi predator, melainkan mangsa... Alana baru benar-benar tersenyum.
"Kau pikir kau yang memainkanku? Sayang sekali. Permainan baru saja dimulai—dan akulah pembuat aturannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonymous MC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pakaian Bekas dan Rencana Besar
Puisi untuk Alana:
"Wanita yang Tenggelam"
Ia belajar berenang di lautan air mata
Sementara mereka mengira ia tenggelam
Di dalam dadanya, tersimpan peta harta karun
Yang hanya bisa dibaca oleh malam
Jangan pernah memberi ikan pada wanita yang belajar menahan lapar
Karena saat ia menggigit
Bukan roti yang ia santap
Tapi jantung orang-orang yang meremehkannya
Ia diam bukan karena kalah
Ia menunduk bukan karena takluk
Ia hanya sedang menghitung langkah
Sampai bumi berbalik arah
---
Pukul empat pagi, Jakarta masih berselimut kabut tipis. Alana duduk di depan meja rias peninggalan ibunya—satu-satunya benda di rumah ini yang benar-benar miliknya. Sisanya, atas nama Richard. Atas nama penipuan.
Ia membuka laci paling bawah. Di balik tumpukan kain sutra usang, tangannya meraba-raba hingga menemukan kotak kayu cendana. Wanginya masih sama seperti dua puluh tahun lalu, saat ibunya masih hidup dan sering bercerita tentang masa kecil di Semarang.
"Ini bukan sekadar perhiasan, Nak. Ini adalah peta saat ibu hampir menyerah."
Jemari Alana membuka kotak itu perlahan. Cahaya lampu tidur menyinari sederet kalung, gelang, dan anting-anting berlian—sisa-sisa kejayaan keluarga Wijaya yang tak sempat dirampas Richard karena terlalu sentimental untuk dijual. Atau karena Richard pikir, Alana tak akan pernah punya nyali menjualnya.
Dua tahun lalu, saat pertama kali menikah, Richard pernah berkata sambil tertawa, "Perhiasan ibumu itu biar jadi mainanmu. Anggap saja kenang-kenangan."
Dengan nada yang sama, Alana pernah menjawab, "Terima kasih, Sayang."
Di balik senyum itu, ia sedang menghitung: Berapa banyak nyali yang kubutuhkan untuk mengambil kembali semuanya?
Sekarang, ia tahu jawabannya.
Alana mengambil satu per satu perhiasan itu. Kalung berlian yang dikenakan ibunya saat pernikahan. Gelang emas dengan ukiran nama ayah dan ibu. Anting-anting zamrud yang selalu membuat ibunya terlihat seperti bangsawan Eropa. Ia menciumnya satu per satu, lalu menaruhnya di dalam tas kanvas polos—tas yang sama yang ia gunakan saat belanja ke pasar tradisional, agar tak ada yang curiga.
"Maafkan aku, Ibu. Aku jual ini bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku sedang membangun kembali istana yang mereka hancurkan."
Setengah jam kemudian, Alana melangkah keluar kamar. Di lorong, ia berpapasan dengan Viola yang baru pulas dari kamar utama—kamar yang dulu miliknya dan Richard, sebelum ia pindah ke kamar tamu dengan alasan "ingin sendiri".
Viola masih mengenakan daster tipis, rambut acak-acakan, dan bau Richard masih melekat di lehernya. Mereka bertemu pandang.
"Lana? Pagi-pagi mau ke mana?" suara Viola manis, seperti gula yang ternyata arsenik.
"Ke pasar. Belanja sayur," jawab Alana tenang. Tas kanvas di tangannya ia selipkan ke belakang punggung.
Viola menyipitkan mata. "Tumben banget pagi-pagi. Biasanya kan kamu bangun jam delapan."
Karena biasanya aku berpura-pura tidur sambil mendengar kalian bercinta, Viola. Tapi sekarang aku punya urusan lebih penting daripada mendengar erangan palsumu.
"Kebetulan lagi pengen sayur segar. Yang di supermarket dekat rumah biasanya udah layu," Alana tersenyum. Senyum yang sama yang selalu ia kenakan selama dua tahun terakhir—senyum boneka porselen yang tak punya perasaan.
Viola mengangkat bahu. "Ya udah, hati-hati. Jangan lama-lama, soalnya tadi Richard bilang mau ada tamu penting jam sembilan. Minta kamu siapin sarapan."
Minta aku siapin sarapan untuk tamunya, sementara kau akan kembali ke kamarnya begitu aku pergi.
"Siap, Mbak Viola," jawab Alana. Kali ini, senyumnya sedikit berbeda. Tapi Viola terlalu mengantuk untuk menyadarinya.
Di pasar tradisional Pasar Minggu, Alana bukan cuma membeli sayur. Ia masuk ke lorong sempit di belakang deretan kios ikan asin, menuju sebuah toko emas tua yang nyaris tersembunyi. Toko itu milik seorang wanita tua bernama Suli—teman ibunya sejak empat puluh tahun lalu. Satu-satunya orang di Jakarta ini yang masih mengingat Alana saat masih kecil dengan pita merah di rambut.
"Mana barangnya?" Suli bertanya tanpa basa-basi. Matanya yang rabun tetap tajam melihat nilai.
Alana mengeluarkan perhiasan itu satu per satu. Suli mengamatinya dalam diam, lalu menghela napas panjang.
"Kau benar-benar mau jual semua ini, Nak? Ini warisan ibumu."
"Justru karena ini warisan ibuku, aku jual. Ibuku dulu bilang, perhiasan ini adalah peta saat ia hampir menyerah. Sekarang, aku perlu peta itu."
Suli menatap Alana lama. Lalu matanya berkaca-kaca. "Kau mirip ibumu. Bukan dari wajah, tapi dari caranya bicara. Kau tahu, dulu ibumu juga pernah jual semua perhiasannya untuk menyelamatkan usaha ayahmu dari kebangkrutan?"
Alana tertegun. Ia tak pernah tahu itu.
"Ia jual semua, dapat uang dua miliar waktu itu. Lumayan besar. Tapi ayahmu nggak tahu. Ibumu bilang, 'Biarlah ini rahasiaku. Suamiku tak perlu tahu aku berkorban, karena cinta bukan tentang utang budi.'"
Dada Alana sesak. Selama ini ia mengira hanya dirinya yang menyimpan rahasia. Ternyata ibunya juga pernah berdiri di tempat yang sama—di depan wanita tua ini, menyerahkan kenangan demi masa depan.
"Aku nggak akan tawar-menawar, Nak," Suli melanjutkan. "Ini perhiasan ibumu, dan kau adalah anaknya. Aku kasih harga pantas: delapan koma lima miliar."
Alana hampir tersedak. Ia tahu perhiasan itu mahal, tapi tak menyangka sampai segitu.
"Tapi aku nggak bisa kasih tunai semua. Aku transfer ke rekeningmu tiga hari lagi. Sisanya, aku kasih dalam bentuk emas batangan kecil. Biar mudah disembunyikan."
Alana mengangguk. "Aku percaya, Tante Suli."
Suli menggenggam tangannya. "Dengar, Nak. Aku tahu hidupmu nggak mudah sekarang. Tapi ingat: mawar butuh waktu untuk tumbuh. Dan durinya adalah yang terakhir layu."
Tiga hari kemudian, Alana duduk di kafe pinggiran di kawasan Kelapa Gading. Di hadapannya, Lucas Tan—mantan kepala IT perusahaan ayahnya yang kini bekerja sebagai "konsultan keamanan data" freelance. Pria bertubuh kurus dengan kacamata tebal itu sedang asyik mengutak-atik laptop, sementara Alana mengawasi pintu masuk.
"Lo serius mau nyusup ke sistem perusahaan suami lo sendiri?" Lucas bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Bukan suamiku lagi. Cuma orang yang numpang tidur di rumahku."
Lucas tersenyum sinis. "Dua tahun, Lana. Lo tahan banget ya."
Alana tak menjawab. Ia hanya menyerahkan secarik kertas berisi detail yang ia kumpulkan selama dua tahun terakhir—nomor rekening Richard, kata sandi yang ia curi diam-diam, nama-nama perusahaan fiktif, dan alamat server yang mungkin digunakan untuk menyembunyikan uang hasil penggelapan.
Lucas membacanya, lalu bersiul pelan. "Ini mah udah kerjaan detektif, bukan cuma iseng. Lo punya bukti kalo Richard korupsi dari perusahaan ayah lo?"
"Aku punya lebih dari bukti, Lucas. Aku punya keyakinan."
Lucas mengangkat alis. "Keyakinan nggak cukup buat lapor polisi."
"Bukan polisi yang mau kutuju. Aku mau bukti itu untuk diriku sendiri. Untuk saat aku siap mengambil kembali semuanya."
Lucas diam sejenak. Lalu jari-jarinya mulai menari di atas keyboard. Layar laptopnya berganti-ganti tampilan—hitam, hijau, biru—deretan kode yang Alana tak pahami.
"Ini agak riskan, Lana. Tapi karena lo yang minta, dan karena almarhum ayah lo dulu baik banget sama nyokap gue pas susah... gue bantu. Tapi gue minta satu hal."
"Apa?"
"Lo harus janji. Begitu semua ini kelar, lo nggak akan jadi orang yang kejam. Gue nggak mau bantu lo jadi monster."
Alana menatap Lucas lekat-lekat. "Aku hanya mau jadi hakim. Bukan algojo."
Lucas mengangguk, lalu kembali ke layarnya. "Oke, gue udah masuk ke server internal perusahaan. Lo tahu kalo mereka punya sistem lama yang nggak pernah di-update? Itu celah keamanan tingkat dewa."
Selama dua jam berikutnya, Alana menyaksikan Lucas menyusup satu per satu lapisan pertahanan digital perusahaan Richard—perusahaan yang seharusnya milik ayahnya. Dengan setiap lapisan yang tembus, ia merasa seperti sedang mengupas kulit bawang. Di balik setiap lapisan, ada air mata baru.
Lucas menunjukkan deretan angka: transfer ke rekening pribadi Richard, pembelian aset atas nama perusahaan fiktif, pembayaran ke vendor yang tak pernah ada. Semuanya rapi, terstruktur, dan sangat terorganisir.
"Ini baru permukaan, Lana. Butuh waktu buat gali lebih dalam. Tapi dari sini aja, lo udah bisa lihat: Richard udah gelapkan sekitar 200 miliar selama tiga tahun terakhir."
Alana menarik napas. 200 miliar. Angka itu berputar di kepalanya, bercampur dengan kenangan: saat ayahnya bekerja hingga larut malam, saat ibunya menjual perhiasan diam-diam, saat ia sendiri harus tersenyum di depan orang-orang yang merampok keluarganya.
"Bisa lacak di mana uang itu sekarang?"
"Sebagian besar udah diputar. Beli properti, saham, dan... rekening bersama atas nama Richard dan Viola Santoso."
Nama terakhir itu seperti pisau yang menikam ulu hati. Bukan karena cemburu—cinta pada Richard sudah mati dua tahun lalu. Tapi karena pengkhianatan punya rasa yang lebih pahit saat tahu bahwa orang yang kau anggap saudara ikut menggerogoti tulang-tulang keluargamu.
"Simpan semua data itu, Lucas. Jangan beritahu siapa pun, termasuk aku. Aku belum siap lihat semuanya. Nanti, saat waktunya tiba, aku minta laporan lengkap."
Lucas menatapnya aneh. "Lo nggak mau liat sekarang?"
Alana menggeleng. "Kalau aku lihat sekarang, aku bisa melakukan sesuatu yang bodoh. Dan aku nggak boleh bodoh. Aku harus tetap jadi boneka porselen yang mereka kira rapuh."
Saat Alana pulang, matahari sudah condong ke barat. Ia membawa belanjaan—sayuran, daging, bumbu dapur—seperti tak terjadi apa-apa. Seperti paginya ia benar-benar ke pasar, bukan ke toko emas dan kafe pinggiran.
Di depan pintu rumah, ia berhenti sejenak. Dari dalam terdengar suara tawa Richard dan Viola. Mungkin sedang menonton TV, mungkin sedang bercanda, mungkin sedang melakukan hal-hal yang tak seharusnya dilakukan di rumah orang yang mereka khianati.
Alana meraih gagang pintu. Tangannya dingin, tapi hatinya panas.
Ia membuka pintu. Tawa itu berhenti. Richard dan Viola duduk di sofa, berjarak wajar, berpura-pura seperti ipar dan kakak ipar yang baik.
"Lana, lama banget?" Richard menyapa, nada suaranya manis palsu.
"Iya, tadi macet. Sekalian mampir beli buah buat kamu, Mas. Ini anggur, favoritmu." Alana mengangkat plastik berisi anggur merah.
Richard tersenyum. "Makasih, Sayang."
Panggil aku sayang lagi. Suatu saat kau akan tahu, dari semua kata yang pernah kau ucapkan, kata "sayang" adalah yang paling mahal harganya.
Viola bangkit, mendekati Alana dengan senyum manis. "Sini Mbak Lana, bantuin bawa belanjaannya."
Kau sentuh plastik ini, Viola. Di dalamnya ada sayuran murahan. Tapi di tasku, ada sisa uang 200 juta dan dua batang emas yang akan menjadi fondasi kehancuranmu.
"Nggak usah, Vi. Aku bisa sendiri. Lagian kamu lagi nemanin Mas Richard, kan? Biar aku yang urus dapur."
Alana melangkah menuju dapur. Di ambang pintu, ia berbalik. Richard dan Viola sudah kembali duduk, berbisik-bisik, mungkin membicarakannya.
"Mas Richard," panggilnya.
Richard menoleh. "Ya?"
"Tadi aku lihat bunga mawar di halaman depan layu. Aku siram, tapi kayaknya perlu dipangkas durinya. Besok aku panggil tukang taman, ya?"
Richard mengangguk acuh. "Terserah."
Alana tersenyum. Kau bahkan tak tahu, duri yang kau biarkan tumbuh sekarang akan melukaimu.
Malam itu, saat rumah sepi dan Richard sudah terlelap—entah di kamar mana—Alana duduk di kamarnya. Ia membuka lemari, mengambil kotak perhiasan kosong yang tadi pagi berisi berlian dan emas. Kini hanya ada selembar kertas di dalamnya.
Ia membaca tulisan tangannya sendiri:
Dari penjualan perhiasan: Rp 8.500.000.000
Rencana alokasi:
- 2M untuk operasional awal
- 3M untuk investasi reksadana (atas nama palsu)
- 2M untuk Lucas (operasional dan keamanan)
- 1,5M cadangan
Target akuisisi saham: 6 bulan.
Target kudeta: 12 bulan.
Sembunyikan ini di tempat yang hanya kau tahu, Alana.
Karena jika mereka tahu kau sedang membangun istana di bawah tanah mereka, mereka akan menggali lebih dalam untuk menguburmu hidup-hidup.
Alana melipat kertas itu, lalu menyelipkannya di balik pigura foto ibunya—foto yang selalu ia bawa ke mana pun, bahkan saat pindah kamar. Di foto itu, ibunya tersenyum dengan gaun putih, memegang setangkai mawar merah tanpa duri.
"Ibu, doakan aku. Kali ini, aku tak hanya ingin bertahan. Aku ingin menang."
Ia mematikan lampu. Di luar, angin malam berdesir membawa aroma mawar dari halaman depan. Bunga-bunga itu mulai mekar, siap menunjukkan durinya.
---
Bersambung (ノ゚0゚)ノ→
terlalu enak klo cuma dimiskin kan
selingkuh di rumah sendiri selama 3th, istrinya dikira tdk tau 😄