"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Ramuan Jiwa dan Malam yang "Gagal" Lagi
Malam itu, hutan Amazon diterangi oleh api unggun besar di tengah desa suku lokal. Thiago, sang pemandu, mengajak Calvin dan Nirbi duduk melingkar bersama para tetua suku. Asap kayu bakar membumbung tinggi, membawa aroma rempah yang asing di hidung Calvin.
"Ini adalah Cuerda de Vida," ujar Thiago sambil menyodorkan sebuah batok kelapa berisi cairan berwarna cokelat keruh yang kental. "Ramuan tradisional untuk membersihkan jiwa dan memperkuat ikatan suami istri."
Calvin menatap cairan itu dengan tatapan horor. Di otaknya, ia sedang menghitung jumlah koloni bakteri yang mungkin berkembang biak di dalam batok kelapa yang tidak melalui proses sterilisasi itu.
"Ini... apakah airnya sudah direbus dengan suhu minimal 100 derajat Celcius selama sepuluh menit?" tanya Calvin dengan suara kaku.
"Kak, jangan mulai deh! Ini kehormatan!" bisik Nirbi, lalu dengan berani ia meminumnya sedikit. "Mmm! Rasanya kayak jamu pahit tapi ada manis-manisnya, Kak. Seger!"
Melihat istrinya baik-baik saja, dan karena tatapan para tetua suku yang begitu intens, Calvin akhirnya menyerah. Dengan tangan gemetar, ia meminum ramuan itu sekali teguk. Matanya hampir keluar karena rasanya yang sangat menyengat di tenggorokan.
"Bagaimana, Tuan?" tanya Thiago.
"Saya... saya merasa jiwa saya memang sedang 'dibersihkan', atau mungkin lambung saya sedang berteriak minta tolong," jawab Calvin sambil terbatuk kecil, membuat Nirbi tertawa dan para tetua suku ikut tersenyum.
Misi Romantis Sang CEO
Setelah ritual selesai, mereka kembali ke penginapan rumah pohon. Efek ramuan tadi ternyata benar adanya—Calvin merasa tubuhnya jauh lebih hangat dan entah kenapa, ia merasa sangat rileks. Ketakutannya pada kuman mendadak surut, digantikan oleh keinginan kuat untuk menghabiskan waktu berkualitas bersama istrinya.
Calvin membuka kancing kemejanya perlahan, menatap Nirbi yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melepas ikat rambutnya. Cahaya lampu minyak yang temaram memberikan semu kemerahan di kulit Nirbi, membuatnya tampak sangat menggoda.
"Nirbita," panggil Calvin dengan suara bariton yang lembut dan dalam.
"Ya, Kak?" Nirbi menoleh, wajahnya tampak sedikit sayu karena kelelahan setelah seharian beraktivitas di hutan.
Calvin mendekat, duduk di samping Nirbi lalu melingkarkan lengannya di pinggang sang istri. Ia menghirup aroma rambut Nirbi yang meski sedikit bau matahari, tetap terasa manis baginya. "Malam ini... suasananya sangat tenang. Tidak ada gangguan dari Varro, tidak ada urusan kantor..."
Calvin mulai menciumi bahu Nirbi dengan lembut, memberikan kecupan-kecupan kecil yang biasanya membuat Nirbi kegelian. "Saya ingin menebus malam pertama kita yang gagal di hotel waktu itu."
"Mmm... iya Kak..." jawab Nirbi pelan, suaranya terdengar sangat jauh.
Calvin tersenyum, merasa mendapat lampu hijau. Ia memutar tubuh Nirbi agar menghadapnya. "Nirbita, saya benar-benar bersyukur memiliki kamu. Kamu adalah kekacauan paling indah yang pernah saya—"
Kalimat Calvin terhenti. Ia merasakan beban kepala Nirbi mendarat telak di bahunya.
Zzzzzzz....
Calvin membeku. Ia menjauhkan sedikit wajahnya untuk melihat Nirbi. Benar saja, istrinya itu sudah memejamkan mata rapat-rapat. Bibirnya sedikit terbuka, dan napasnya sudah teratur dalam irama tidur yang sangat pulas.
"Nirbita? Nirbi?" Calvin mengguncang bahunya pelan. "Baru saja saya mulai bicara romantis, kamu sudah sampai di alam mimpi?"
Nirbi hanya bergumam tidak jelas, "Nasi uduknya... jangan pake sambel... Kak Arga..."
"Hah?! Arga?!" Calvin mendesis cemburu, tapi kemudian tersadar Nirbi hanya mengigo. "Bahkan dalam mimpimu saja kamu masih memikirkan makanan dan teman kampusmu itu?"
Calvin menghela napas panjang, menatap langit-langit kelambu yang sudah ia semprot disinfektan tadi sore. Rencana romantisnya berantakan untuk kedua kalinya. Sang CEO Weinstein Group yang ditakuti ribuan karyawan, kini kembali dikalahkan oleh rasa kantuk istrinya sendiri.
"Dasar pelor," gumam Calvin gemas. Ia menyentil ujung hidung Nirbi pelan, lalu mengecup keningnya.
Meskipun kesal karena pancingannya tidak disambut, Calvin tetap merebahkan Nirbi dengan hati-hati. Ia menarik selimut hingga ke dada istrinya, lalu ikut berbaring di sampingnya. Di tengah suara jangkrik Amazon yang riuh, Calvin menarik Nirbi ke dalam pelukannya.
"Baiklah. Malam ini saya biarkan kamu tidur. Tapi besok pagi, jangan harap bisa kabur dari saya, Nyonya Weinstein," bisik Calvin sebelum akhirnya ia ikut terlelap, merasa bahwa "kekotoran" hutan ini tidak lagi menakutkan selama ada Nirbi di sisinya.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka