Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Wajah Isabella Martinez memucat, tangannya gemetar hebat saat menatap Leonor yang masih terduduk kaku di atas ranjang.
Di pikirannya, kehormatan keluarga Martinez sedang berada di ujung tanduk. Edgar, dengan panik yang luar biasa, segera mengenakan kaosnya sembarangan dan melompat turun dari ranjang, berdiri menghalangi pandangan ibunya dari Leonor.
"Mom, tenang dulu! Ini tidak seperti yang Mommy pikirkan!" seru Edgar, suaranya naik satu oktav karena gugup.
"Tidak seperti yang kupikirkan?" suara Isabella bergetar, penuh emosi. "Kau menciumi perutnya, kau menyebut dirimu Daddy, dan kau memanggilnya Mommy. Edgar, aku tidak butuh gelar Ph.D untuk tahu apa yang sedang terjadi di sini!"
Leonor sendiri sudah merasa seperti akan pingsan. Pikirannya melayang ke skenario terburuk, Nyonya Martinez akan mengeluarkannya dari kampus, menghapus eksistensinya dari muka bumi, atau minimal menjebloskannya ke penjara karena dianggap menggoda putra mahkota mereka. Ia hanya bisa menunduk, tidak berani bicara, tangannya meremas selimut dengan erat.
"Mom, dengar!" Edgar mendekat, mencoba memegang tangan ibunya. "Aku bersumpah demi Tuhan, aku hanya berani mencium kening dan pipinya. Aku hanya memeluknya sepanjang malam karena dia kemarin sakit, tapi aku tidak pernah... aku tidak berani melakukan hal sejauh itu sampai menghamilinya! Itu hanya candaan kami!"
Isabella menepis tangan Edgar. "Candaan? Siapa yang bercanda soal kehamilan, Edgar? Kau pikir Mommy bodoh? Wajah gadis itu pucat, dia tampak lemas, dan kau memperlakukannya seperti porselen yang bisa pecah. Itu tanda-tanda wanita hamil!"
Isabella segera merogoh tasnya, mengeluarkan ponsel dan menekan nomor suaminya dengan gerakan cepat. "Julian, kemarilah sekarang juga! Apartemen Edgar! Cepat, sebelum aku terkena serangan jantung!"
Edgar melihat situasi semakin tak terkendali. Ia menoleh ke arah Leonor yang tampak sangat ketakutan. Ketakutan terbesar Edgar saat ini bukan pada kemarahan ayahnya, tapi ia takut orang tuanya akan memisahkan mereka. Ia takut Julian Martinez akan mengirimnya ke luar negeri dan membuang Leonor ke jalanan jika tahu Leonor adalah anak dari keluarga Gonzales yang tidak diakui.
Otak pintar Edgar yang biasanya digunakan untuk strategi bisnis, kini melakukan manuver gila yang tak terduga.
"Iya, Mom!" teriak Edgar tiba-tiba, memutus pembicaraan telepon ibunya.
Isabella dan Leonor tersentak.
"Iya, Mom... Leonor hamil anakku," ucap Edgar dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat dramatis dan penuh permohonan. Ia berlutut di depan ibunya.
"Ku mohon... ku mohon restui hubungan kami. Jangan pisahkan kami. Aku mencintainya, Mom. Dan aku tidak peduli dengan apa pun, aku ingin menjaga bayi kami."
Leonor melotot hingga matanya hampir keluar. Apa?! Ia ingin berteriak bahwa ia sedang menstruasi hari ini! Ia ingin bilang bahwa perutnya sakit karena kram rahim, bukan karena ada bayi di dalamnya! Namun, melihat tatapan Edgar yang penuh kode "Ikuti saja atau kita tamat", Leonor hanya bisa membeku.
Isabella terengah-engah, air mata mulai mengalir di pipinya. "Jadi... jadi benar? Oh astaga..." Isabella langsung mendekat ke ranjang, menyingkirkan Edgar, dan memeluk Leonor dengan sangat erat.
"Oh astaga, sayang... maafkan Mommy. Kamu pasti sangat takut, ya? Kamu hamil sudah berapa minggu, nak? Katakan pada Mommy."
Leonor yang masih syok, merasa lidahnya kelu. Ia menatap Edgar yang memberi isyarat "Dua minggu!".
"Dua... dua minggu, Tante," bisik Leonor pasrah, mengikuti drama gila ini.
"Kurang ajar kau, Edgar!" Isabella berbalik dan memukul bahu Edgar berkali-kali. "Bisa-bisanya kau membuat anak orang hamil dan masih sempat bercanda seperti tadi? Kau harus menikahinya! Kau tidak boleh meninggalkannya!"
Tepat saat itu, pintu apartemen terbanting terbuka. Julian Martinez masuk dengan aura yang begitu mengintimidasi, persis seperti singa yang siap menerkam. Di belakangnya, beberapa ajudan pribadinya berdiri siaga.
"Apa yang terjadi, Bella?" tanya Julian dengan suara bariton yang berat.
Isabella menunjuk Edgar dengan marah. "Putramu, Julian! Dia menghamili gadis ini! Dan dia baru mengakuinya sekarang!"
Julian menatap Edgar, lalu menatap Leonor yang masih bersembunyi di balik pelukan Isabella. Ruangan itu menjadi sedingin es. Julian tidak banyak bicara, ia hanya menatap tajam ke arah Edgar.
"Siapkan pernikahan rahasia sore ini juga," perintah Julian pada ajudannya tanpa ekspresi. "Aku tidak akan membiarkan ada cucu Martinez yang lahir tanpa status pernikahan yang sah. Kita akan urus pesta besarnya nanti, tapi sore ini mereka harus terikat secara hukum."
"Tunggu, Dad!" Edgar menyela, ia tahu ia harus memastikan Leonor aman dari David Gonzales. "Ada satu hal lagi. Leonor... dia sebenarnya anak yatim. Ayahnya tidak mengakuinya dan dia tidak punya siapa-siapa di dunia ini selain aku. Dia sangat menderita, Dad."
Mendengar hal itu, tangis Isabella semakin pecah. "Ya Tuhan... malang sekali nasibmu, nak. Kau sudah sebatang kara dan pria bodoh ini malah berbuat semena-mena padamu." Isabella menciumi dahi Leonor berkali-kali.
"Tenang sayang, sekarang kau punya aku. Kau punya Mommy."
Leonor hanya bisa terdiam dengan air mata yang benar-benar jatuh, bukan karena sedih, tapi karena ia baru sadar dari mana kegilaan dan bakat drama Edgar berasal. Ternyata Edgar adalah replika sempurna dari Mommy Isabella.
Sore itu juga, sebuah gereja kecil di pinggiran kota disewa secara eksklusif. Julian Martinez tidak main-main. Ia mendatangkan pendeta dan petugas catatan sipil dalam hitungan jam.
Leonor didandani dengan gaun putih sederhana yang dibelikan Isabella secara mendadak. Di dalam gereja yang sepi itu, Leonor berdiri di samping Edgar dengan perasaan yang masih terasa seperti mimpi buruk sekaligus indah.
Saat pendeta mulai membacakan sumpah, Edgar menggenggam tangan Leonor dengan sangat erat. Ia berbisik sangat pelan, hanya untuk telinga Leonor, "Maafkan aku, Leo. Ini satu-satunya cara agar orang tuaku melindungi mu selamanya dari ayahmu. Soal kehamilan... kita bisa urus keguguran palsu nanti, atau kita benar-benar membuatnya jadi nyata malam ini."
Leonor mencubit lengan Edgar sekuat tenaga. "Kau gila, Edgar! Benar-benar gila!"
"Puas?" tanya Leonor setelah mereka resmi menandatangani dokumen pernikahan, mengikuti ucapan Edgar sebelumnya di kampus.
Edgar tersenyum lebar, ia menarik Leonor ke dalam pelukan di depan orang tuanya yang sedang menangis haru. "Sangat puas, Nyonya Martinez. Sekarang kau milikku sepenuhnya. Ayahmu tidak akan bisa menyentuhmu lagi."
Leonor menghela napas panjang, memutar bola matanya sambil bersandar di dada pria yang kini resmi menjadi suaminya melalui drama kehamilan palsu paling epik di abad ini. Ia hanya berharap, saat masa menstruasinya selesai nanti, ia siap menghadapi kegilaan Edgar yang pastinya akan menuntut stok anak yang sesungguhnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰