NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Istana Pondok Indah dan Misi Ayah Dadakan

|Lobi Utama - The Langham Jakarta|Raka menatap layar ponselnya dengan mata berbinar. Angka saldo di rekeningnya kini terlihat sangat cantik\, deretan digit yang panjangnya menyerupai nomor telepon.

Saldo Akhir: Rp 212.450.000,00

"Gila..." batin Raka. "Makan steak 60 juta, dapet kembalian 180 juta. Kalau tiap hari gue makan di sini, sebulan gue bisa beli hotelnya."

Rasa kenyang yang memuaskan bercampur dengan euforia finansial membuat mood Raka berada di puncaknya. Dia memasukkan ponsel ke saku, lalu menoleh ke arah Clarissa yang berdiri anggun di sampingnya.

"Clarissa," panggil Raka lembut. "Gue anter balik ke showroom ya?"

Clarissa tertegun sejenak. Biasanya, jika ada klien pria yang menawarkan tumpangan pulang setelah makan siang bisnis, dia akan menolak dengan sopan menggunakan seribu satu alasan klise: "Masih ada meeting", "Dijemput sopir", atau "Mau mampir ke butik". Itu adalah protokol pertahanan dirinya untuk menghindari sexual harassment atau kesalahpahaman.

Tapi hari ini... entah kenapa, lidahnya kelu untuk menolak.

"Boleh, Pak... eh, Raka," jawab Clarissa, sedikit tersipu karena lidahnya terpeleset memanggil nama langsung. "Terima kasih tumpangannya."

Dalam hati, Clarissa merutuki dirinya sendiri. Kenapa gue iyain? Jangan baper, Ris. Dia klien. Klien super VVIP.

Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar lobi. Namun, sebelum mereka mencapai pintu putar otomatis, terdengar suara langkah kaki berat yang berlari terengah-engah di belakang mereka.

"Bos Raka! Bos Raka! Tunggu sebentar!"

Raka menoleh. Pak Haji Herman, Sang General Manager, sedang berlari kecil mengejar mereka. Perut buncitnya berguncang sedikit di balik jas mahalnya. Napasnya tersengal, tapi wajahnya sumringah.

"Hah... Hah... Untung belum pergi," Pak Herman mengatur napas.

"Kenapa, Pak Haji? Ada yang ketinggalan? Dompet saya?" canda Raka.

"Bukan, Bos. Justru saya yang mau ngasih ini," Pak Herman mengeluarkan sebuah kartu hitam elegan dengan aksen emas dari saku jasnya.

[The Langham - Infinite Black Membership]

"Ini kartu akses VVIP khusus, Bos," jelas Pak Herman sambil menyerahkannya dengan dua tangan. "Cuma ada 10 orang di Jakarta yang pegang kartu ini. Dengan kartu ini, Bos Raka dapet diskon 50% untuk semua suite room, prioritas reservasi di restoran tanpa antre, dan akses bebas ke Club Lounge. Anggap aja ini tanda persaudaraan kita."

Raka menerima kartu yang terasa berat dan dingin itu mungkin terbuat dari titanium.

"Wah, makasih banyak Pak Haji. Bakal sering saya pake nih buat nongkrong," Raka tersenyum tulus.

"Siap! Ditunggu kedatangannya lagi, Bos. Hati-hati di jalan!"

Setelah berpamitan, Raka dan Clarissa masuk ke dalam McLaren 720S yang sudah disiapkan oleh valet tepat di depan pintu lobi.

|Perjalanan Kembali ke Showroom McLaren|

Di dalam kabin mobil yang sempit dan intim, suasana terasa berbeda dari saat berangkat tadi.

Jika tadi dipenuhi ketegangan dan rasa penasaran, sekarang suasananya lebih... hangat. Dan sedikit canggung dalam artian romantis.

Musik jazz instrumental mengalun pelan dari sound system Bowers & Wilkins mobil itu.

"Kenyang?" tanya Raka memecah keheningan.

"Banget," Clarissa menepuk perut ratanya yang tersembunyi di balik rok pensil. "Saya rasa saya nggak perlu makan malem lagi sampai besok siang. Makasih ya, Raka. Experience-nya luar biasa."

"Sama-sama. Seneng ada temen makan yang enak dipandang," gombal Raka tipis-tipis.

Clarissa menoleh, menatap profil samping Raka. Tatapannya lembut. "Kamu... beda ya."

"Beda gimana? Hidung saya dua?"

Clarissa tertawa kecil. "Bukan. Beda aja. Kamu punya segalanya mobil, uang, koneksi tapi kamu nggak... sengak. Nggak sombong yang bikin ilfeel. Malah kadang tingkah kamu kayak anak asrama yang baru dapet lotre."

Raka tertawa ngakak. Emang iya, Neng. Emang gue anak asrama.

"Anggap aja saya lagi menikmati hidup, Ris."

Tak terasa, mobil sudah sampai di depan pelataran McLaren Jakarta.

Raka menghentikan mobilnya. Clarissa melepaskan sabuk pengaman, tapi dia tidak langsung turun. Dia diam sejenak, seolah menunda perpisahan.

"Hati-hati di jalan ya," ucap Clarissa akhirnya. "Jangan ngebut-ngebut. Kalau ada apa-apa sama mobilnya... atau sama pemiliknya... langsung telepon nomor pribadi saya."

"Siap, Bu Manajer," Raka mengedipkan sebelah mata.

Clarissa tersenyum manis, lalu membuka pintu butterfly itu dan melangkah turun.

Raka menekan gas pelan, membiarkan mobilnya meluncur pergi. Di spion, dia melihat Clarissa masih berdiri di depan lobi showroom, melambaikan tangan sampai mobil Raka menghilang di tikungan.

"Menarik," gumam Raka. "Satu lagi bidadari masuk radar."

|Menuju Kawasan Pondok Indah|

Raka tidak langsung pulang ke asrama yang sumpek. Dia mengarahkan GPS mobilnya ke alamat properti barunya.

The Sultan Residence - Pondok Indah.

Raka mengemudikan McLaren-nya dengan santai, menikmati mode berkendara Comfort.

Begitu memasuki kawasan Pondok Indah, suasana jalanan berubah. Hiruk pikuk angkot dan motor yang semrawut perlahan menghilang, digantikan oleh jalanan lebar yang diapit pohon palem raja dan rumah-rumah gedung yang pagarnya setinggi benteng keraton.

Raka berbelok masuk ke jalan akses khusus menuju Bukit Golf.

Aspal di sini mulus hitam pekat, seolah baru disetrika pagi tadi. Trotoarnya lebar dan bersih, tidak ada pedagang kaki lima, hanya ada jogging track yang dipagari tanaman hias rapi.

Di ujung jalan, sebuah gerbang raksasa bergaya Eropa Klasik menjulang tinggi. Pintu gerbangnya terbuat dari besi tempa hitam dengan ornamen emas, dijaga oleh pos keamanan yang lebih mirip lobi hotel bintang tiga.

[THE SULTAN RESIDENCE - PRIVATE CLUSTER]

Raka melambatkan mobilnya saat mendekati palang pintu otomatis.

Dari kejauhan, para petugas keamanan yang berseragam safari lengkap (mirip Paspampres) sudah mendengar raungan halus mesin V8 McLaren. Telinga mereka terlatih. Mereka tahu suara uang.

Tiga orang satpam langsung keluar dari pos, berdiri tegak, dan memberikan hormat militer.

Kaca mobil Raka turun perlahan.

Komandan Regu Satpam, seorang pria berbadan tegap bernama Pak Asep (bukan Asep teman asrama), mendekat dengan sopan namun waspada.

"Selamat sore, Bapak. Mohon maaf, boleh kami tahu tujuannya? Apakah sudah ada janji temu dengan salah satu penghuni?" tanyanya tegas.

Prosedur standar. Tidak ada orang luar yang boleh masuk tanpa izin, meskipun dia bawa mobil mahal. Privasi adalah jualan utama tempat ini.

"Sore, Pak. Saya pemilik baru. Mau ambil kunci."

Pak Asep mengernyit sedikit. Pemilik baru? Biasanya pemilik di sini adalah bapak-bapak tua atau ibu-ibu sosialita. Anak muda ini terlihat terlalu... muda.

"Maaf, Bapak. Atas nama siapa dan unit nomor berapa?"

"Raka Adiyaksa. Villa Nomor 1."

DEG!

Mata Pak Asep dan dua rekannya melotot seketika.

Villa Nomor 1? Itu bukan sembarang rumah. Itu adalah "The Crown Jewel" dari seluruh kompleks ini. Rumah yang posisinya paling tinggi, paling luas, dan paling mahal. Legenda mengatakan rumah itu dibangun dengan fengshui khusus dan harganya konon menembus angka 200 Miliar Rupiah jika dihitung dengan inflasi tanah saat ini.

Selama ini rumah itu kosong, hanya dirawat oleh tim maintenance khusus. Mereka pikir pemiliknya adalah pangeran Arab atau sembilan naga yang tidak pernah menampakkan diri.

Ternyata... anak muda ini?

"V-Villa Nomor 1...?" Pak Asep tergagap, keringat dingin muncul di pelipisnya. Sikapnya langsung berubah dari waspada menjadi sangat submissive. "Astagfirullah... Mohon maaf, Pak Raka! Saya tidak mengenali Bapak. Silakan, Pak. Mari saya antar ke kantor Manajemen Estate untuk serah terima kunci akses."

"Oke, makasih Pak," jawab Raka santai.

Palang pintu terbuka. Pak Asep mengambil motor patroli, menyalakan lampu rotator biru, dan mengawal McLaren Raka masuk ke dalam kompleks.

Pemandangan di dalam cluster itu membuat Raka menahan napas.

Ini bukan Jakarta. Ini seperti gabungan antara Beverly Hills dan Nusa Dua Bali. Tidak ada kabel listrik yang semrawut (semua underground). Rumah-rumah tidak memiliki pagar tinggi, hanya dibatasi oleh taman yang asri, menandakan tingkat keamanan yang absolut.

Setelah mengurus verifikasi biometrik di kantor manajemen yang dilayani oleh staf wanita cantik dan wangi, Raka akhirnya meluncur menuju istananya.

Perjalanan dari gerbang depan ke Villa Nomor 1 memakan waktu 5 menit berkendara. Itu menunjukkan betapa luasnya kawasan ini.

Villa Nomor 1 terletak di ujung jalan buntu yang paling tinggi, menghadap langsung ke lembah lapangan golf.

Saat gerbang kayu ulin otomatis setinggi 3 meter terbuka, Raka melihatnya.

Istana Barunya.

Arsitekturnya bergaya Modern Tropical Resort. Dindingnya didominasi batu alam andesit dan kayu ulin, dengan jendela-jendela kaca raksasa dari lantai ke langit-langit. Atapnya datar dengan konsep green roof.

Di halaman depan, ada air mancur minimalis dan sebuah pohon kamboja fosil yang harganya mungkin setara mobil Avanza. Garasinya... oh Tuhan, garasinya bisa memuat 6 mobil berjajar.

Raka memarkirkan McLaren-nya di carport utama.

Dia turun, menarik napas dalam-dalam. Udara di sini terasa lebih segar, sejuk, dan berbau rumput basah. Hening. Sangat hening.

Seorang staf wanita dari manajemen properti yang tadi mengikutinya dengan buggy car golf, membukakan pintu utama yang menggunakan Smart Lock pengenal wajah.

"Selamat datang di rumah, Bapak Raka," ucapnya sambil membungkuk.

Raka melangkah masuk.

Kakinya disambut oleh lantai marmer Italia Statuario yang dingin dan mahal. Ruang tamunya memiliki angit-langit setinggi 8 meter dengan lampu gantung modern yang artistik. Sofa-sofanya dari merek Minotti, empuk dan sleek.

"Gila..." Raka bergumam pelan, suaranya menggema di ruangan raksasa itu. "Ini rumah apa museum?"

Staf wanita itu dengan telaten mengajak Raka berkeliling.

Lantai 1: Ruang tamu, ruang makan formal (meja panjang muat 12 orang), dry kitchen mewah dengan peralatan Gaggenau, dan home theater kedap suara dengan layar 120 inchi.

Lantai 2: Empat kamar tidur tamu yang masing-masing punya kamar mandi dalam dan balkon. Ada juga ruang kerja/perpustakaan dengan pemandangan golf.

Lantai 3: Lantai khusus Master Suite. Kamar utama Raka.

Saat masuk ke kamar utamanya, Raka hanya bisa menggelengkan kepala. Kamar ini luasnya mungkin 150 meter persegi. Lebih luas dari rumah orang tuanya di kampung. Ada Walk-in Closet yang bisa jadi toko baju, kamar mandi dengan jacuzzi yang menghadap jendela kaca (dengan teknologi smart glass yang bisa buram otomatis), dan tentu saja...

Sebuah tempat tidur Super King Size dengan matras King Koil edisi Sultan yang tebalnya setengah meter.

"Bapak, untuk makan siang dan malam, kami menyediakan layanan Private Chef gratis selama satu bulan pertama sebagai welcome service," jelas staf wanita itu. "Menu bisa dipesan lewat iPad yang tertanam di dinding. Laundry dan Housekeeping juga tinggal panggil."

"Oke, makasih Mbak. Kamu boleh pergi. Saya mau istirahat," kata Raka.

"Baik, Pak. Selamat beristirahat."

Setelah staf itu pergi, Raka sendirian di istana seluas hampir 1000 meter persegi itu.

Hening.

Dia berjalan ke arah kasur raksasa itu. Dia menjatuhkan dirinya dengan posisi terlentang.

BUM.

Tubuhnya tenggelam dalam kelembutan yang memabukkan. Rasanya seperti dipeluk oleh ribuan bulu angsa. Seprai sutranya terasa dingin di kulit.

"Anjir..." desah Raka, menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. "Ini baru hidup. Kasur asrama gue rasanya kayak tidur di atas tumpukan batu kali dibanding ini."

Perutnya kenyang, dompetnya tebal, rumahnya mewah. Raka merasa dia bisa tidur selama tiga hari tiga malam di sini. Matanya mulai memberat. AC sentral yang sejuk membuainya ke alam mimpi.

Namun, baru saja dia hendak terlelap...

TING!

Sebuah suara notifikasi sistem yang nyaring berbunyi di dalam kepalanya, memaksanya membuka mata.

Panel holografik muncul mengambang di atas tempat tidur.

[MISI HARIAN TERDETEKSI!]

Raka mengucek matanya malas. "Apa lagi sih? Misi belanja lagi? Gue udah capek belanja."

Dia membaca tulisan di panel itu.

[MISI MENDADAK: IKATAN BATIN]

Deskripsi: Seorang Sultan sejati tidak hanya memiliki harta benda, tetapi juga memiliki tanggung jawab dan seseorang untuk dilindungi. Rumah sebesar ini terlalu sepi untuk ditinggali sendirian.

Target: Dapatkan seorang Anak Perempuan (Putri) dalam waktu 24 jam.

Metode: Adopsi, Penyelamatan, atau Pengakuan. (Tidak harus biologis).

Hadiah:

Tiket Gacha x10 (Premium).

Uang Tunai Rp 1 Miliar.

Unlock Fitur Baru: Family System.

Hukuman Gagal: Skill "Transformasi Fisik Adonis" ditarik kembali (Kembali jadi perut buncit).

Raka langsung terduduk tegak di kasur. Matanya melotot horor membaca baris "Hukuman Gagal".

"HAH?! Punya anak perempuan?!" teriak Raka histeris di kamar kosong itu.

"Gila lo Sistem! Gue baru 21 tahun! Pacar aja baru diputusin kemarin, masa sekarang disuruh punya anak?! Lo nyuruh gue ngehamilin anak orang apa gimana?!"

Dia membaca ulang syaratnya. "Metode: Adopsi, Penyelamatan, atau Pengakuan."

"Oh... nggak harus biologis..." Raka menghela napas lega, tapi tetap saja panik. "Tapi tetep aja! Gue cari anak di mana dalam 24 jam?! Emangnya beli kucing di pasar hewan?!"

Raka memijat pelipisnya yang mendadak pening. Misi ini gila. Tapi ancaman perut buncit kembali itu lebih menakutkan daripada hantu.

Dia beranjak dari kasur empuknya, mondar-mandir di kamar mewah itu.

"Oke, Raka. Pikir. Pikir."

Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Di perjalanan tadi, saat melewati daerah pinggiran sebelum masuk kawasan elite, dia sempat melihat sebuah panti asuhan kecil yang kondisinya agak memprihatinkan.

"Adopsi..." gumam Raka. "Atau mungkin... mengangkat adik angkat?"

Apapun itu, Raka harus bergerak cepat. Waktu 24 jam sudah mulai berjalan mundur. Dan dia tidak mau kehilangan sixpack-nya yang baru tumbuh setengah jalan itu.

1
:)
harus banget ya king scuma sungkem
Jujun Adnin
ngopi dulu mas raka
ABIMANYU CHANNEL
kasih yg banyak....
DipsJr: siap kak. paling nanti pindah ke max kalo nda lolos.
total 5 replies
Gege
kereen...ditunggu adegan kulit ketemu kulit dan bulu ketemu bulunya...kan udah gede..🤣🤭
Gege
kereen alurnya.. meski banyak mainkan durasi...lanjuuttt thoor..
DipsJr: wkwk. tau aja kak. 🤭
total 1 replies
Arya Rizki Sukirman
mana ini Thor updatenya
DipsJr: besok lagi kak, sehari 3 bab.
makasih sudah baca.
total 1 replies
DipsJr
besok lagi kak. saya updatenya jam 00.00 😁
ellyna munfasya
lanjut Thor 😤
ellyna munfasya
up lagi Thor nanti siang pokoknya 😤
Monchery
kalau ini menurut ku terlalu berlebihan
DipsJr: apanya yg berlebihan kak?. 🤭
total 1 replies
ellyna munfasya
alur nya seru
ellyna munfasya
gak mau tau nanti pagi harus up Thor 😤😤😤
DipsJr: siap kak, sebntar saya upload. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!