Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Benteng Senyap
Paviliun Senyap, sebuah simbol ketahanan yang selama ratusan tahun berdiri kokoh di tengah kejamnya Dunia Bawah, kini layaknya sebuah benteng rapuh yang digerus ombak besar dari lautan darah.
Langit yang biasanya kelabu kini diselimuti oleh warna oranye yang mengerikan, pantulan dari api yang berkobar hebat di setiap sudut markas.
Suara ledakan energi bergema tanpa henti, merobek gendang telinga, sementara jeritan para pejuang, dentingan senjata yang beradu, dan suara runtuhan batu besar menyatu menjadi sebuah simfoni kehancuran yang pilu.
Paviliun itu sedang sekarat. Dan setiap inci dari tanahnya yang terbakar menjadi saksi bisu atas gugurnya mereka yang setia.
Di depan aula utama yang kini tinggal separuh karena dihantam ledakan besar, Xuan Yao berdiri dengan jubah peraknya yang terkoyak di banyak tempat.
Darah menetes deras dari sudut bibirnya, membasahi lantai yang dulunya bersih. Di sekelilingnya, sisa-sisa tetua Paviliun Senyap yang masih hidup membentuk formasi pertahanan terakhir.
Napasnya tersengal, dan cadangan Qi mereka telah menipis hingga ke titik nadir.
Di hadapan mereka, lima Pembunuh Inti Paviliun Darah berdiri dengan anggun, bagaikan dewa kematian yang sedang menunggu saat yang tepat untuk mencabut nyawa.
Aura benturan inti mereka begitu pekat hingga tanah di bawah kakinya retak merambat.
"Menyerahlah," ucap salah satu pembunuh dengan suara datar yang dingin, seolah-olah ia sedang memesan makanan.
"Serahkan anak itu. Jika kalian melakukannya sekarang, kami akan memberi kalian kematian yang cepat dan tanpa siksa."
Xuan Yao tertawa lirih, sebuah tawa yang penuh dengan kepahitan namun juga penghinaan. Ia menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan.
"Paviliun Senyap mungkin boleh hancur hari ini. Batu-batunya mungkin akan berubah menjadi abu. Tapi selama napas terakhir kami masih ada, kami tidak akan pernah berlutut di hadapan anjing-anjing Paviliun Darah."
Ia mengangkat tangannya ke atas, jemarinya membentuk segel kuno yang sudah lama tidak terlihat di dunia ini.
Sesaat kemudian, formasi kuno pelindung Paviliun Senyap diaktifkan secara paksa. Cahaya biru keperakan menyelimuti seluruh aula, menyembur dari celah-celah ubin batu seolah-olah ada rembulan yang meledak di bawah tanah.
Cahaya itu tidak hanya sekadar berpendar; ia memiliki tekstur cair yang kental, merambat naik ke tiang-tiang penyangga dan mengunci di udara, menciptakan kubah energi yang berdenyut hebat seperti jantung raksasa yang sedang sekarat.
Udara di dalam aula mendadak menjadi sangat padat hingga suara pertempuran di luar terdengar teredam, menyisakan dengungan frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga.
Energi murni melonjak liar, memancar keluar dari pusat formasi dengan gelombang kejut yang transparan namun masif dan memaksa kelima pembunuh Paviliun Darah itu mundur setengah langkah karena tekanan yang luar biasa.
Namun, aktivasi paksa ini adalah pedang bermata dua. Harga yang harus dibayar sangatlah mahal. Satu per satu tetua di belakang Xuan Yao memuntahkan darah hitam.
Formasi itu tidak memakan energi alam, melainkan membakar inti Qi mereka sendiri sebagai bahan bakar.
Tetua Shen Ku, pria tua dengan rambut yang sudah memutih sepenuhnya, melangkah maju. Tubuhnya bergetar hebat saat ia menyalurkan sisa-sisa tenaga hidupnya ke dalam kubah pelindung.
"Pemimpin ..." suaranya lirih namun berat, membawa kedalaman sebuah wasiat. "Bawa anak itu pergi sekarang."
Xuan Yao terdiam sesaat, matanya melebar. "Apa yang kau maksud, Shen Ku? Jangan bicara bodoh!"
Shen Ku tersenyum tipis, sebuah senyuman damai yang kontras dengan kekacauan di sekeliling mereka.
"Kita semua sudah tahu siapa yang sebenarnya sedang mereka cari. Jika anak itu tetap di sini, paviliun ini bukan lagi sekadar medan perang, melainkan kuburan bagi kita semua. Biarkan dia hidup, karena dialah satu-satunya harapan kita."
Tatapan Xuan Yao berubah suram, penuh dengan kesedihan yang tak tertahankan. Namun sebelum ia bisa membalas, Shen Ku berbalik menghadap para pembunuh Paviliun Darah. Ia berteriak dengan suara yang menggelegar ke seluruh lembah:
"Formasi Penghancur Jiwa! Aktifkan!"
Energi biru di aula itu seketika berubah menjadi putih menyilaukan yang menyakitkan mata.
Satu demi satu tetua Paviliun Senyap melepas kendali atas inti Qi mereka. Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lembah, meruntuhkan pilar-pilar aula utama dan melemparkan musuh-musuh ke segala arah.
Tiga dari lima Pembunuh Inti Paviliun Darah terpental dengan luka parah, armor mereka hancur, dan tubuhnya hangus oleh energi murni.
Salah satu dari mereka bahkan tidak sempat menghindar, tubuhnya terkoyak oleh tekanan formasi dan hancur menjadi kabut darah.
Namun, harga yang harus dibayar sungguh mengerikan. Para tetua Paviliun Senyap, pilar-pilar yang menjaga markas ini selama berpuluh-puluh tahun, gugur sepenuhnya, menyisakan kekosongan yang dingin di tempat mereka berdiri.
Xuan Yao berdiri terhuyung-huyung di tengah puing-puing. Matanya yang merah menatap nanar ke arah sisa-sisa tetua yang telah tiada.
Dengan sisa tenaga terakhir, ia menoleh ke arah lorong bawah tanah tempat Ye Chenxu bersembunyi.
"Chenxu ... sekarang!”" teriaknya, suaranya parau namun penuh desakan. "Jangan menoleh! Teruslah lari!"
Di dalam lorong gelap, Ye Chenxu berlari sekuat tenaga. Ia bisa merasakan jantungnya berdetak seirama dengan kehancuran di atas sana.
Formasi teleportasi darurat yang telah disiapkan Luo Yan kini menyala dengan cahaya pudar di ujung lorong. Namun, sebelum ia bisa masuk sepenuhnya, hawa dingin yang familiar dan mematikan menyergap dari belakang.
Darah Ketujuh muncul. Sosok berjubah merah darah itu berdiri di udara, menatap Chenxu dengan mata tajam yang seolah bisa melihat menembus jiwa.
"Jadi kau di sini ..." ucap Darah Ketujuh, suaranya bagaikan pisau yang menggesek kaca.
Tekanan kultivasinya menghantam Chenxu bagaikan gunung yang runtuh. Chenxu terhuyung ke depan, darah segar mengalir dari hidungnya. Tubuhnya terasa berat, seolah setiap ototnya sedang diremukkan oleh gravitasi tak kasat mata.
Namun, di tengah keputusasaan itu, roh Dewa Kehampaan di dalam jiwanya bergetar hebat. Sesuatu yang asing, gelap dan purba, meresap ke dalam tubuh Chenxu.
Untuk sesaat, kesadarannya terlepas dari realitas. Ia melihat kehampaan luas tak bertepi—tempat di mana waktu tidak berarti. Sebuah suara bergema di dalam kepalanya:
"Bergerak ... atau mati."
Ye Chenxu meraung pelan dan membuang semua keraguannya. Ia menggertakkan gigi, memaksa seluruh Qi di dalam tubuhnya berputar dalam pola yang belum pernah ia coba sebelumnya.
Teknik naluriah muncul dari kedalaman jiwanya: Langkah Kehampaan: Jejak Bayangan Kosong.
Tubuhnya menghilang dari posisi semula, seolah-olah ia memotong dimensi secara instan, dan muncul beberapa meter di samping posisi aslinya.
Serangan Darah Ketujuh menghantam kehampaan, menciptakan lubang besar di dinding lorong.
"Hmm?" Darah Ketujuh tampak terkejut.
Tanpa membuang kesempatan, Chenxu melompat masuk ke dalam formasi teleportasi. Cahaya menyala terang dan mulai menarik tubuhnya ke dalam pusaran ruang.
Sebelum benar-benar menghilang, Chenxu melihat ke arah reruntuhan aula utama dari kejauhan.
Xuan Yao berdiri seorang diri, dengan pedang yang sudah patah, dikelilingi oleh lautan musuh yang mulai merangsek maju. Tatapan mereka sempat bertemu untuk sepersekian detik.
Xuan Yao tersenyum samar, senyum kelegaan yang penuh kepedihan.
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya