NovelToon NovelToon
CINTA DI ANTARA DUA SAF

CINTA DI ANTARA DUA SAF

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14. Proyek dari Jakarta

Bayu masih memandang Nayla yang berdiri lesu di depan lemari kayu itu, wanita yang sedang bertarung melawan kemiskinan dengan sisa-sisa harga diri yang masih tersisa banyak. Kesunyian dapur panti terasa mencekam, hanya menyisakan deru napas Nayla yang berat dan getaran kulkas tua yang semakin menjadi-jadi.

Tiba-tiba, ponsel di saku celana Bayu kembali bergetar dengan intensitas yang lebih kuat dari sebelumnya. Getaran itu seolah-olah sengaja membuyarkan momen haru di antara mereka berdua dan menyeret Bayu kembali ke realitas yang kejam.

"Ponselmu bunyi lagi, Bay. Siapa tahu itu telepon penting," ujar Nayla sembari mencoba mengatur kembali raut wajahnya agar nampak lebih tegar.

Bayu merogoh saku celananya dengan gerakan yang sedikit kaku dan mendapati layar ponselnya menyala terang di tengah remang dapur. Ia melihat sebuah notifikasi pesan masuk, namun ia segera menutup layarnya sebelum Nayla sempat melihat siapa pengirimnya.

"Cuma teman lama, Nay. Kayaknya aku harus angkat sebentar di luar biar nggak ganggu anak-anak," bohong Bayu dengan suara yang sedikit parau.

Ia melangkah perlahan menuju pintu belakang dapur yang terhubung langsung dengan area kebun singkong yang luas. "Aku pamit sekalian ya, Nay. Kamu jangan lupa istirahat, besok aku mampir lagi ke sini."

Nayla mengangguk pelan, lalu berkata, “Makasih ya, Bay, bantuannya. Berkat kamu, pekerjannya jadi lebih ringan.”

Bayu tersenyum sambil mengangguk singkat. “Cuma cuci piring, Nay. Kalau aku bisa bantu, pasti aku bantuin, kok.”

“Yaudah, kamu pulang, gih. Takut makin malem,” ucap Nayla, ia melepaskan kepergian Bayu dengan tatapan mata yang masih dipenuhi oleh sejuta keraguan.

Bayu segera mendorong pintu kayu belakang yang berderit nyaring, membiarkan udara malam yang menusuk tulang menyambut kehadirannya. Ia berjalan beberapa meter menjauh dari bangunan panti, menuju area gelap di mana deretan pohon singkong berdiri tegak seperti barisan penjaga.

Bayu menghentikan langkahnya di bawah naungan pohon nangka besar, lalu ia membuka kunci layar ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar.

Sebuah pesan singkat dari Rian muncul di layar, namun kali ini bukan sekadar kata-kata rayuan atau ancaman halus seperti sebelumnya. Pesan itu berisi sebuah foto resolusi tinggi yang memperlihatkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu yang tertata rapi di atas meja kantor.

"Gila. Ini bener-bener gila," bisik Bayu sembari menatap tumpukan uang di layar ponselnya dengan mata yang nanar dan penuh nafsu.

Pesan di bawah foto itu tertulis dengan sangat jelas dan lugas, ‘Ini uang muka buat lo, Bay. Kirim kode akses server malem ini, dan tumpukan ini bakal jadi milik lo besok pagi.’

Bayu menatap kebun singkong yang gelap gulita di depannya, di mana pepohonan itu hanya nampak sebagai siluet hitam di bawah cahaya bulan. Ia merasa seolah-olah uang di dalam foto itu bisa membeli seluruh kebun ini, bahkan sanggup melunasi seluruh utang panti asuhan dalam sekejap mata.

"Dengan uang ini, Haikal bisa operasi di rumah sakit terbaik, dan Nayla nggak perlu lagi pusing mikirin telur sebutir," batin Bayu penuh gejolak.

Ia membayangkan wajah Nayla yang akan sangat bahagia jika ia datang membawa sekarung beras dan tumpukan daging untuk sahur anak-anak panti. Namun, bayangan itu segera buyar saat ia mengingat kembali wajah ibunya yang sedang sujud di atas sajadah usang setiap malam.

Ia mendengar suara jangkrik yang berderik konsisten di sekitar kakinya, seolah-olah serangga kecil itu sedang mencoba mengingatkannya pada kejujuran alam. Bayu merasakan dinginnya angin malam menembus pori-pori kulitnya, memberikan sensasi getir yang sangat nyata di tengah godaan yang luar biasa besar ini.

"Kalau gue ambil uang ini, gue bukan lagi Bayu yang pulang untuk tobat. Gue cuma pecundang yang ganti cara ngerampok," gerutu Bayu pada dirinya sendiri.

Tangannya kembali gemetar, namun kali ini bukan karena takut, melainkan karena amarah yang memuncak terhadap nasib yang terus menekannya. Ia melihat kembali tumpukan uang itu, menyadari bahwa setiap lembar kertas di sana adalah racun yang akan mematikan nuraninya selamanya.

"Rian, lo pikir harga diri gue semurah foto tumpukan kertas ini?" suara Bayu terdengar rendah dan penuh dengan penekanan yang dalam.

Ia mengusap layar ponselnya dengan ibu jari, lalu dengan satu gerakan tegas, ia menekan opsi hapus pada pesan bergambar dari Jakarta tersebut. Bayu merasa ada sesuatu yang lepas dari dadanya saat foto uang itu menghilang secara permanen dari kotak masuk pesan singkatnya.

Namun, ia tahu Rian tidak akan berhenti begitu saja dan akan terus menerus mengirimkan godaan selama ponselnya masih dalam kondisi aktif. Bayu memandangi layar ponselnya sekali lagi.

Dengan satu tarikan napas, ia mengetik pesan balasan bahwa ia menolak tawarannya. Setelah mengirim pesan itu, Bayu menekan tombol daya dengan durasi yang lama sampai logo ponsel itu muncul dan perlahan padam.

Ia mematikan daya ponselnya sepenuhnya, memutuskan koneksi dengan dunia Jakarta yang penuh dengan tipu daya dan kepalsuan materi. Bayu memasukkan kembali ponsel bisu itu ke dalam saku celananya yang robek, merasakan beban logam itu kini tidak lagi terasa begitu berat.

Ia berdiri diam di tengah kebun singkong yang sunyi, membiarkan kesunyian malam meresap ke dalam jiwanya yang baru saja melewati perang batin. Bayu menarik napas panjang di udara malam yang dingin, merasakan paru-parunya terisi oleh oksigen murni yang menyegarkan pikiran yang tadinya kalut.

"Duit itu emang bisa nyelametin panti, tapi nggak akan bisa nyelametin jiwa gue di depan Tuhan," bisik Bayu dengan penuh kemantapan.

Ia teringat kembali pada daftar stok makanan yang tadi ia catat di kertas kecil, sebuah daftar kemiskinan yang kini menjadi misi hidupnya. Bayu menyadari bahwa ia lebih memilih berjuang dengan tangan kosong dan keringat sendiri daripada menggunakan kode akses hasil curian.

Di bawah sinar rembulan yang temaram, Bayu mulai melangkahkan kakinya menuju jalan pulang ke rumah ibunya dengan hati yang lebih ringan. Ia membiarkan jangkrik terus bernyanyi dan angin terus berhembus, saksi bisu atas keputusannya untuk tetap menjadi manusia yang memiliki harga diri.

Malam itu, Bayu berjalan pulang tanpa membawa uang sepeser pun, namun ia membawa kembali sesuatu yang lebih berharga, sebuah nurani yang masih utuh. Ia tahu hari esok akan sangat berat, namun ia tidak lagi merasa takut karena ia telah memenangkan pertempuran melawan dirinya sendiri.

Bayu melangkah menembus kegelapan, meninggalkan panti asuhan yang tertidur dan kebun singkong yang sunyi di belakang punggungnya yang kini nampak tegak. Ia menarik napas panjang di udara malam yang dingin, merasa siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi saat matahari terbit esok hari.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..

‎🥰🥰🥰
Hary Nengsih
baru baca kayanya bagus nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!