NovelToon NovelToon
HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

HEARTS & SCALPELS: The Silent Recipe

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / BTS
Popularitas:467
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

"Di balik presisi pisau bedah, ada rahasia yang tidak boleh terucap."
Sheril tidak pernah menyangka bahwa kariernya sebagai ahli forensik akan membawanya ke dalam lingkaran berbahaya antara cinta dan kebenaran. ia mempercayai sekaligus mencurigai kekasihnya Jungkook.
Beberapa rahasia memang lebih baik tetap membisu. Tapi, apakah detak jantung bisa berbohong di bawah tajamnya skalpel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Kencan yang Mencekam

Angin malam di atas atap Penthouse kawasan Gangnam berembus lembut, membawa aroma maskulin dari parfum kayu cendana milik Jungkook yang bercampur dengan wangi kelopak mawar yang ditaburkan di sekeliling meja. Langit Seoul malam itu bersih, menonjolkan hamparan bintang yang bersaing dengan kerlap-kerlip lampu kota di bawah sana. Sebuah meja bundar dengan taplak putih bersih telah ditata dengan sangat sempurna—lilin-lilin kecil menyala di dalam lentera kaca, menciptakan pendaran emas yang menari-nari di wajah Jungkook.

Jungkook terlihat sangat menawan. Ia mengenakan kemeja hitam satin dengan kancing atas yang terbuka, memamerkan kalung perak tipis yang berkilau. Senyumnya tidak pernah pudar sejak mereka naik ke atas sini.

"Aku ingin malam ini menjadi milik kita sepenuhnya, Sheril. Tanpa polisi, tanpa laboratorium, tanpa gangguan," bisik Jungkook lembut. Suaranya terdengar seperti melodi yang menghipnotis, seirama dengan alunan musik jazz klasik yang diputar pelan dari pemutar piringan hitam di sudut atap.

Jungkook bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Sheril untuk menuangkan wine merah ke gelas kristalnya. Gerakannya begitu anggun, hampir seperti tarian. Namun, mata Sheril tidak tertuju pada wajah tampan kekasihnya, melainkan pada tangan Jungkook. Tangan yang terlihat begitu kuat, dengan urat-urat halus yang menonjol saat ia mencengkeram botol wine.

"Terima kasih, Kook," ujar Sheril, suaranya sedikit bergetar. Ia mencoba tersenyum, meski otot-otot wajahnya terasa kaku.

Hidangan utama disajikan. Jungkook memasak sendiri semuanya—sebuah tradisi setiap kali mereka berkencan. Malam ini, ia menyajikan Wagyu A5 Steak dengan siraman saus red wine reduction yang terlihat sangat menggiurkan. Potongan daging itu tampak begitu lembut, merah muda di tengah, dan matang sempurna di bagian luar.

Jungkook duduk kembali dan mulai mengambil pisau steak di sisi piringnya.

Mata Sheril terpaku pada gerakan itu. Pisau itu sangat tajam, terbuat dari baja Damaskus yang berpola pusaran air. Jungkook memegang gagangnya dengan posisi yang sangat spesifik—ibu jarinya berada di atas punggung pisau untuk memberikan tekanan yang stabil, sementara jari telunjuknya mengarahkan mata pisau dengan presisi milimeter.

Sret... sret...

Jungkook mengiris daging itu tanpa tenaga berlebih. Gerakannya pendek, cepat, dan sangat terkontrol. Ia tidak hanya memotong; ia seolah memisahkan jaringan dengan pemahaman anatomi yang luar biasa.

Pikiran Sheril mendadak melompat kembali ke meja autopsi kemarin malam. Ia teringat pola sayatan pada korban ke-4. Sayatan di leher itu—bersih, tidak ada jaringan yang terkoyak, dilakukan dalam satu tarikan napas yang mantap. Sama persis dengan cara Jungkook mengiris steak di hadapannya sekarang.

"Dagingnya sangat lembut, Sayang. Kau harus mencobanya," ucap Jungkook. Ia menusuk potongan daging kecil dengan garpu dan mengarahkannya ke mulut Sheril.

Sheril merasa mual menghantam ulu hatinya. Di matanya, cairan merah saus di atas piring itu mendadak berubah menjadi darah yang mengalir dari luka mayat. Ia melihat tangan Jungkook—tangan yang sama yang sekarang menyuapinya dengan penuh kasih sayang—sebagai tangan yang mungkin saja telah menjahit luka atau menaburkan tepung gandum di lantai truk.

"Sheril? Ada apa?"

Sheril tersentak. Ia menyadari bahwa ia telah terdiam terlalu lama sambil menatap kosong ke arah garpu Jungkook. Ia terpaksa membuka mulutnya, membiarkan daging itu masuk. Rasanya memang luar biasa, namun setiap kunyahan terasa seperti pengkhianatan terhadap nuraninya.

"Kau melamun lagi," Jungkook meletakkan pisaunya dengan bunyi ting pelan yang menggema di telinga Sheril.

Jungkook mengulurkan tangannya melintasi meja, ibu jarinya mengusap sudut bibir Sheril yang terkena sedikit saus. Sentuhannya sangat hangat, sangat manusiawi. Ia menatap Sheril dengan binar mata yang begitu memuja, sebuah tatapan yang selalu membuat Sheril merasa menjadi wanita paling istimewa di dunia.

"Kenapa kau melihatku seperti itu, Sayang?" tanya Jungkook lembut. Suaranya berat, penuh dengan kerinduan yang seolah tidak pernah tuntas.

Sheril memaksakan sebuah senyum kaku. "Hanya... hanya kagum. Kau selalu terlihat begitu ahli saat memegang pisau."

Jungkook terkekeh, namun tawanya tidak sampai ke matanya. "Hanya kebiasaan, Sheril. Pisau adalah perpanjangan tanganku. Jika kau tidak menguasainya, kau akan melukai dirimu sendiri. Atau lebih buruk lagi, kau akan merusak sesuatu yang berharga."

Di bawah meja, tangan kiri Sheril merogoh tas kecilnya yang diletakkan di pangkuan. Jemarinya meraba permukaan ponselnya yang licin. Ia sudah membuka aplikasi darurat. Satu tekanan kuat pada tombol samping, dan sinyal GPS serta panggilan langsung akan terhubung ke nomor Suga dan Jin.

Ponsel itu adalah satu-satunya pelindung yang ia miliki saat ini.

"Kau tahu, Sheril," Jungkook melanjutkan pembicaraan sambil menyesap wine-nya, matanya tidak pernah lepas dari wajah Sheril. "Dunia ini sangat bising. Orang-orang membicarakan hal-hal yang tidak mereka mengerti. Mereka mencoba merusak apa yang sudah kita bangun dengan susah payah."

Jungkook berdiri, berjalan memutar ke belakang kursi Sheril. Ia meletakkan tangannya di bahu Sheril, memijatnya perlahan. Sentuhan itu seharusnya menenangkan, namun Sheril merasa seperti sedang dicengkeram oleh seekor predator yang sedang bersabar.

"Suga, Jin Hyung... mereka hanya melihat permukaan," bisik Jungkook tepat di telinga Sheril. Napas hangatnya menggelitik kulit leher Sheril, membuat bulu kuduknya berdiri. "Mereka tidak tahu betapa kerasnya aku bekerja untuk memastikan kau tetap aman. Untuk memastikan tidak ada yang bisa menyentuhmu."

Sheril mencengkeram ponselnya lebih erat. "Kook, kau menakutiku..."

Jungkook langsung menghentikan pijatannya. Ia berlutut di samping kursi Sheril, mengambil kedua tangan Sheril dan menciuminya dengan lembut. Matanya menatap Sheril dengan kejujuran yang menyakitkan.

"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud begitu," ucap Jungkook lirih. "Aku hanya terlalu mencintaimu, Sheril. Kadang aku merasa ketakutan jika suatu saat kau akan percaya pada mereka dan meninggalkanku. Aku tidak bisa membayangkan hidup di dunia di mana aku tidak bisa memasak untukmu, atau melihatmu tidur di pagi hari."

Jungkook mengambil pisau steak dari meja dan memainkannya di tangannya—bukan dengan cara yang mengancam, melainkan seperti seseorang yang sedang gelisah. Cahaya lilin memantul di mata pisau itu, berkilau di depan mata Sheril.

"Jika aku harus membedah dunia ini hanya untuk menemukan tempat di mana kita bisa hidup tenang, aku akan melakukannya," gumam Jungkook.

Sheril menahan napas. Kalimat itu—membedah dunia—terasa sangat literal bagi seorang dokter forensik. Ia menatap wajah Jungkook yang tampak begitu tulus dalam kegilaannya. Pria ini tidak berbohong tentang cintanya. Cintanya nyata, sedalam samudra, namun samudra itu gelap dan penuh dengan bangkai rahasia.

"Kook," Sheril memberanikan diri, suaranya gemetar namun tegas. "Kalau kau benar mencintaiku, beritahu aku satu hal. Di mana anting mutiaraku yang satunya lagi?"

Keheningan seketika jatuh di antara mereka. Musik jazz yang mengalun seolah menghilang, menyisakan hanya suara angin yang menderu di ketinggian gedung.

Jungkook tidak bergerak. Matanya yang jernih menatap mata Sheril dalam-dalam. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Sheril siap untuk menekan tombol darurat di ponselnya.

Lalu, Jungkook tersenyum. Sebuah senyum yang paling manis, paling menghancurkan yang pernah Sheril lihat.

Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya, sebuah anting mutiara yang identik dengan yang ditemukan di perut mayat itu bersinar dengan lembut.

"Aku menemukannya di sela-sela sofa tadi pagi, Sayang. Aku ingin memberikannya padamu saat kita selesai makan, sebagai kejutan," ujar Jungkook dengan nada tanpa dosa. Ia mengambil anting itu dan dengan sangat lembut memasangkannya ke telinga kiri Sheril.

Sentuhan jemari Jungkook yang dingin di telinganya membuat Sheril gemetar. Anting itu... apakah ini benar-benar anting yang hilang, ataukah Jungkook baru saja membeli yang baru untuk menutupi jejaknya? Ataukah ini adalah cara Jungkook mengatakan bahwa dia selalu memegang kendali atas apa yang ditemukan Sheril?

"Nah, sekarang kau lengkap kembali," bisik Jungkook, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Sheril.

Sheril melepaskan cengkeramannya pada ponsel di bawah meja. Ia merasa lemas. Ia tidak bisa menekan nomor darurat sekarang. Tidak ada ancaman fisik. Jungkook hanya sedang bersikap romantis—setidaknya secara lahiriah. Namun di dalam hatinya, Sheril tahu bahwa "kelengkapan" yang dimaksud Jungkook memiliki arti yang jauh lebih mengerikan.

Jungkook menarik Sheril ke dalam pelukannya, memeluknya erat di bawah sinar rembulan.

"Jangan pernah takut padaku, Sheril. Aku adalah pelindungmu. Selamanya," gumam Jungkook di balik rambut Sheril.

Sheril membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di dada Jungkook. Ia bisa mendengar detak jantung Jungkook yang tenang dan berirama, seolah pria itu tidak memiliki beban rahasia apa pun. Namun di kejauhan, di bawah sana, suara sirine polisi sayup-sayup terdengar, mengingatkan Sheril bahwa kencan romantis ini hanyalah sebuah gencatan senjata sementara di atas sebuah medan perang berdarah.

Malam itu, di atas gedung tinggi, Jungkook berhasil mempertahankan kedoknya. Ia tetap menjadi kekasih yang manis, yang menyiapkan makan malam mewah dan mengembalikan perhiasan yang hilang. Namun bagi Sheril, mutiara yang menggantung di telinganya kini terasa seberat rantai besi, dan setiap suapan daging yang ia telan terasa seperti rasa bersalah yang akan menghantuinya selamanya.

...****************...

1
Lilyyanaa
ternyata member bts lengkapp🤭
sabana: iyah, semoga suka🙏
total 1 replies
sabana
Ini Fanfic idol lagi ya, minjam nama-nama personil BTS ya, semoga suka
李慧艳
mampir...semangatk kak
李慧艳: tolong AP???
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!