Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Malam Festival Bulan Darah
(VOLUME 1: DARAH DI JURANG)
Angin musim gugur bertiup dingin di Kota Qinghe, membawa aroma dupa dan kue bulan yang manis.
Di kediaman Klan Lin, ratusan lampion merah tergantung di setiap sudut atap, bergoyang pelan seperti hantu api yang menari. Malam ini adalah Festival Bulan, satu-satunya malam di mana klan kecil di pinggiran Benua Timur ini melupakan kerasnya dunia kultivasi dan menikmati kehangatan fana.
Lin Xuan duduk di atas genteng paviliun timur, menatap bulan purnama yang bersinar terang di langit. Di tangannya, ia memegang sebuah liontin giok murah hadiah untuk ibunya.
"Xuan'er, turunlah. Ayahmu memanggil."
Suara lembut itu membuat Lin Xuan menoleh. Di halaman bawah, ibunya, Li Rou, melambaikan tangan. Wanita itu tampak anggun meski mengenakan jubah sederhana. Di sampingnya berdiri Lin Xiao, Patriark Klan Lin, pria paruh baya dengan wajah tegas namun mata yang hangat saat menatap putranya.
Lin Xuan melompat turun dengan ringan. Di ranah Qi Condensation Lapisan 3, lompatan setinggi lima meter hanyalah hal sepele.
"Ibu, Ayah," sapa Lin Xuan sopan.
Lin Xiao menepuk bahu putranya. "Kau sudah 15 tahun. Bakatmu memang bukan yang terbaik di kota ini, tapi kau rajin. Sebagai Patriark, aku bangga."
"Ayah tidak perlu menghiburku. Aku tahu Akar Roh ku hanya tiga elemen," Lin Xuan tersenyum kecut. Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya. Tanpa bakat, ia hanya akan menjadi manajer toko klan atau penjaga gerbang.
"Kekuatan bukan hanya soal bakat, tapi juga takdir," Lin Xiao merendahkan suaranya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari lengan bajunya. "Ini hadiah ulang tahunmu. Sebuah Pil Pengumpul Qi."
Mata Lin Xuan membelalak. Pil Pengumpul Qi harganya 500 Batu Roh. Itu pendapatan klan selama tiga bulan!
"Ayah, ini terlalu..."
"Ambillah," potong ibunya sambil tersenyum, menyematkan liontin giok pemberian Lin Xuan ke pinggangnya. "Kami hanya ingin kau aman. Jika kau bisa mencapai Lapisan 6 sebelum umur 20, kau bisa masuk sekte menengah dan hidup tenang."
Hidup tenang. Itulah impian terbesar klan kecil seperti mereka.
Namun, takdir seringkali memiliki selera humor yang kejam.
Tepat saat Lin Xuan hendak menyentuh kotak itu, angin berhenti bertiup.
Suara jangkrik lenyap.
Suara tawa dari aula utama klan terhenti seketika.
Tekanan udara berubah menjadi berat, seolah-olah langit tiba-tiba runtuh menimpa dada setiap orang di kediaman itu.
BOOOM!
Bukan suara ledakan, melainkan suara udara yang dipaksa menyingkir. Di atas langit malam, bulan purnama yang indah perlahan tertutup bayangan raksasa.
Sebuah Kapal Perang Kuno sepanjang tiga ribu meter membelah awan, melayang tepat di atas kediaman Klan Lin. Lambung kapal itu hitam pekat, dihiasi ukiran tengkorak perak yang menyala.
Bendera raksasa berkibar di atasnya, menyulam satu kata yang membuat darah setiap kultivator di Benua Timur membeku:
"BAYANGAN" (Shadow).
Sekte Bayangan Abadi. Salah satu dari Tanah Suci Delapan Bintang. Penguasa mutlak wilayah ini. Keberadaan mereka setara dengan dewa bagi klan semut seperti Klan Lin.
Wajah Lin Xiao memucat, darah seakan terkuras habis dari tubuhnya. "Kenapa... kenapa Raksasa seperti mereka ada di sini?"
Dari atas kapal perang, tujuh sosok turun perlahan. Mereka tidak menggunakan pedang terbang atau artefak, melainkan berjalan di udara tanda ranah Core Formation atau lebih tinggi.
Tekanan aura (Killing Intent) yang mereka pancarkan membuat pelayan-pelayan Klan Lin yang fana langsung memuntahkan darah dan pingsan. Lin Xuan merasa lututnya gemetar hebat, tulang-tulangnya berderit menahan beban tak kasat mata.
Sosok pemimpin di udara itu adalah seorang tua berjubah ungu. Matanya tertutup, seolah memandang klan di bawahnya pun tak layak baginya.
"Patriark Klan Lin," suaranya pelan, tapi menggema di seluruh kota seperti guntur. "Keluarlah."
Lin Xiao gemetar, ia menatap istrinya sekilas, tatapan perpisahan yang pilu, sebelum melangkah maju dan berlutut di halaman.
"Hamba Lin Xiao, menyapa Tetua Agung Sekte Bayangan. Apa... apa kesalahan klan kecil kami hingga Tuan Agung turun ke sini?"
Orang tua itu membuka matanya. Hitam. Tanpa bagian putih sedikitpun.
"Kesalahanmu adalah memiliki sesuatu yang bukan hakmu," ucap orang tua itu datar. Ia mengangkat satu jari.
"Serahkan Cincin Jiwa Kuno. Atau malam ini, Kota Qinghe akan kuhapus dari peta, mulai dari anjing penjaga hingga bayi yang baru lahir."
Lin Xuan yang berlutut di belakang ayahnya bingung. Cincin apa? Klan Lin miskin, harta warisan leluhur hanya pedang besi karatan.
Tapi ia melihat punggung ayahnya menegang kaku. Dan yang lebih mengerikan, ia melihat ibunya, Li Rou, mundur selangkah. Wajah wanita itu bukan takut, melainkan... pasrah.
"Hitungan ketiga," kata Tetua itu.
"Satu."
Seorang murid Klan Lin yang mencoba lari di gerbang depan tiba-tiba meledak menjadi kabut darah tanpa disentuh.
"Dua."
Lin Xiao mendongak, matanya merah. "Tuan! Hamba tidak tahu cincin apa yang..."
CRAAAASH!
Sinar pedang hitam meluncur dari jari si Tetua. Tanpa peringatan, tanpa suara.
Kepala Lin Xiao terpisah dari lehernya, menggelinding pelan di atas tanah batu, berhenti tepat di depan lutut Lin Xuan.
Darah hangat muncrat membasahi wajah Lin Xuan.
Dunia hening.
Tidak ada teriakan. Tenggorokan Lin Xuan tercekat. Otaknya menolak memproses apa yang dilihat matanya. Kotak Pil Pengumpul Qi di tangannya jatuh, isinya menggelinding bercampur darah ayahnya.
"Ayah...?" bisik Lin Xuan, suaranya pecah.
Tetua di langit mendengus dingin. "Masih mau berpura-pura? Geledah mayatnya. Bunuh sisanya. Jangan sisakan satu nyawa pun."
"TIDAK!"
Teriakan itu bukan dari Lin Xuan, tapi dari Li Rou. Ibunya.
Wanita lembut itu tiba-tiba menerjang ke arah Lin Xuan, bukan untuk memeluk, tapi mencengkeram kerah bajunya dengan kekuatan yang mengejutkan.
"Xuan'er! Lari ke Jurang Belakang! JANGAN MENOLEH!"
"Ibu! Ayah... Ayah mati..." Lin Xuan menangis histeris, akalnya hilang.
"DENGARKAN IBU!" Li Rou menampar wajah Lin Xuan keras sekali, menyadarkannya dari syok. Air mata mengalir di pipi wanita itu, tapi matanya menyala dengan tekad gila.
Tangan kanan Li Rou tiba-tiba bergerak, jari-jarinya menegang seperti cakar. Dan di depan mata Lin Xuan yang terbelalak ngeri, ibunya menusukkan tangan itu ke dadanya sendiri.
Sreeeet!
Daging robek. Tulang rusuk patah.
Li Rou tidak berteriak. Ia merogoh ke dalam rongga dadanya sendiri, ke dalam jantung yang masih berdetak, dan menarik keluar sebuah cincin hitam kusam yang berlumuran darah segar.
Cincin itu selama ini disembunyikan di dalam jantungnya!
"Ambil..." desis Li Rou, memuntahkan darah segar. Ia menjejalkan cincin basah dan hangat itu ke tangan Lin Xuan yang gemetar. "Ini dosaku... tapi ini harapanmu. Hiduplah... balaskan kami!"
Sebelum Lin Xuan bisa menjawab, Li Rou menghimpun sisa tenaga terakhirnya dan mendorong tubuh putranya sekuat tenaga ke arah jurang di belakang kediaman.
Pada saat yang sama, ratusan sinar pedang dari Sekte Bayangan turun seperti hujan meteor, membakar Aula Klan Lin menjadi neraka.
Saat tubuh Lin Xuan terlempar ke udara menuju kegelapan jurang, pemandangan terakhir yang ia lihat adalah ibunya yang berdiri di tepi tebing, merentangkan tangan untuk menghalangi sinar pedang yang mengejar, sebelum tubuh wanita itu hancur lebur ditelan cahaya hitam.
"IBUUUUUUUU!!!"
Teriakan Lin Xuan ditelan oleh angin malam dan kegelapan jurang yang tak berujung.
...RANAH KULTIVASI...
...Qi Condensation (Lapis 1-9) → Dasar fisik....
...Foundation Establishment → Membangun pilar spiritual....
...Core Formation → Memadatkan inti tenaga dalam....
...Nascent Soul → Kelahiran jiwa baru yang abadi....
...Soul Transformation → Kekuatan memengaruhi materi dengan jiwa....
...Ascendant → Menyatu dengan ketiadaan....
...Nirvana → Tahap setengah dewa....
...God Emperor → Penguasa hukum alam semesta....