Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tujuh belas
"Shafira!!" pekik bu Ratna.
Shafira yang sedang mencuci pakaian tersentak dengan suara nyaring ibu mertuanya ibu.
Ia pun segera meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri ibu mertuanya. Terlihat pak Agus dan Tia pun datang.
"Apa sih bu, pagi-pagi udah teriak-teriak aja. Lagian aku juga gak budeg kali bu." sahut Shafira.
"Ini meja makannya kenapa masih kosong?
Mana sarapannya?" Tanya bu Ratna sambil menunjuk meja makan yang hanya ada air putih saja.
"Iya ih, aku udah mau berangkat sekolah ini.
Kenapa mbak belum masak buat sarapan." timpal Tia adik iparnya.
"Mau masak apa, orang mas Aris aja gak kasih uang buat belanja" Shafira pun mendengus.
Terlihat Aris keluar dengan pakaian yang sudah rapi hendak pergi kekantor.
"Loh, kok sarapannya belum ada? Kamu gak masak Ra? Tanya Aris, yang lagi-lagi membuat kepalanya panas.
"Mau belanja pake apa? pake daun? orang kamu gak kasih aku duit, gimana mau masak." ketusnya.
"Loh, kan mas udah bilang pake uang kamu dulu Ra, kamu kan tahu kalau mas habis kemalingan."
ucap Aris dengan entengnya.
"Heh mas, kamu sebenarnya bisa mikir gak sih!
aku ada uang darimana, emangnya kamu pernah kasih aku uang lebih? kamu pikir uang yang kamu kasih setiap hari itu banyak? terus kamu pikir aku bisa nyimpen sisanya, gitu?" cerocos Shafira emosi yang ingin sekali menggeplak kepala suaminya supaya otaknya encer, agar suaminya itu bisa berpikir.
Melihat istrinya yang sudah marah membuat nyalinya menciut.
"Y-ya.. Mas pikir kamu punya uang simpanan, sisa-sisa beli sayuran yang kamu kumpulin." cicit Aris takut-takut.
Shafira menggeleng tidak habis pikir dengan pemikiran suaminya itu. Kalau sudah seperti ini ia jadi tidak merasa bersalah lagi karna sudah mengambil uang suaminya yang pelit itu.
"Itu aja malah kurang, kamu pikir aku juga gak pusing, setiap hari harus putar otak mikirin mau dibelikan apa uang yang dua puluh ribu itu supaya cukup untuk dimakan orang satu rumah dan harus cukup sampai malam." Shafira pun mengeluarkan unek-uneknya yang tidak pernah mau didengar suaminya itu.
"Heh kamu jangan kurang ajar jadi istri, yang sopan kamu kalau bicara. Harusnya kamu bersyukur kami masih mau menampung kamu disini dan kasih kamu makan, gak tahu diri!" sarkas bu Ratna.
Shafira mengepalkan tangannya erat-erat mencoba mengendalikan emosinya yang hampir meledak karna ucapan kasar ibu mertuanya itu.
Kalau saja yang berbicara itu bukan ibu mertuanya, sudah pasti ia akan menampar mulut kasar itu.
"Ibu selalu bilang aku gak tahu diri kan? Oke, mulai sekarang ibu akan tahu itu apa yang namanya tidak tahu diri." setelah mengatakan itu, Shafira pun segera memasuki kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Ia sungguh sakit hati dengan kata-kata ibu mertuanya itu, selalu menyinggung dirinya yang menumpang hidup dan tidak tahu diri. Wajarkan istri menumpang hidup pada suaminya.
Ia juga tidak tinggal gratis disini, ia setiap hari melayani kebutuhan suaminya, bahkan bukan hanya suaminya yang ia layani. Ia selalu diam ketika ibu mertuanya menyuruhnya ini itu.
"Kamu lihat kan Ris, istri kamu itu selalu melawan apa yang ibu bilang. Kamu juga gak pernah dihormati sebagai suami. Mending kamu cerein aja istri kamu itu. Biar tahu rasa dia nanti luntang-lantung dijalanan. Dia juga gak bisa kasih kamu anak, kualat sih jadi istri." bu Ratna sengaja berbicara dengan suara keras supaya Shafira dengar apa yang ia ucapkan.
"Ibu apa an sih bahas-bahas soal cerai. Aris sampe kapan pun juga gak mau cerai dari Shafira." Aris pun mulai sewot,
ia tidak suka ibunya sedikit-sedikit menyuruhnya menceraikan Shafira. Walaupun Shafira selalu melawan, tapi ia masih mencintai istrinya itu.
"Kamu sama aja kayak istri kamu itu, gak pernah mau dengerin ibu." ujar bu Ratna ketus.
"Kamu kenapa masih disini? sana sekolah, keburu siang." Tia pun tak luput dari semprotan bu Ratna.
"Tia kan belum sarapan bu, tambahin uang dong buat beli sarapan." Tia yang tidak peka dengan situasi malah meminta uang pada bu Ratna sambil menadahkan tangannya.
Plak..
Bu Ratna pun menggeplak telapak tangan putrinya itu.
"Gak ada! kamu setiap bulan udah dijatah lima ratus ribu sama mas mu, pake itu aja buat beli sarapan." ketus bu Ratna.
Tia pun pergi dengan menghentak-hentakkan kakinya sambil menggerutu.
"Gara-gara mbak Fira, aku juga kena omel sama ibu. Mana uang tinggal sedikit lagi, apa aku telpon om Bram ya buat minta duit. Huuhh... kalau gak karna duit, sebenarnya ogah banget ngelayani si tua bangka itu." gerutunya sepanjang jalan.
"Dasar nenek lampir! seenaknya aja kalau ngomong. Kurang sadar diri gimana lagi coba, setiap hari tenaga ku diperas, belum lagi harus terima omelan tiap kerjaan yang gak sesuai menurutnya, babu aja gak gini amat perasaan. Liat aja, mulai sekarang aku ogah dijadikan babu gratisan lagi, biar aja menantu barunya yang ambil alih tugas dirumah ini." dumel Shafira.
Ia mendengar semua yang diucapkan ibu mertuanya itu pada Aris, karna memang bu Ratna sengaja bicara dengan suara keras.
"Main kerumah Vinna aja deh biar gak stress dirumah."
Saat Shafira hendak mengganti bajunya, ia teringat dengan cuciannya yang masih belum selesai ia cuci.
Shafira pun pergi ke belakang rumah untung melanjutkan cuciannya. Tapi kali ini, ia hanya mencuci pakaiannya dan pakaian Aris saja. Sisanya ia biarkan terendam. Supaya ibu mertuanya tahu, apa itu tidak tahu diri.
Shafira juga tidak akan mau lagi disuruh beres-beres rumah. Percuma saja ia menurut selama ini, kalau akhirnya tetap dimusuhi dan tidak dihargai.
Setelah selesai, Shafira segera pergi kerumah Vinna menggunakan ojek online.
Saat baru sampai, ia melihat Vinna sedang duduk santai diteras rumahnya bersama ibu mertuanya.
Vinna juga tinggal dengan mertuanya, tapi Vinna mempunyai mertua yang baik, dan tidak pernah membeda-bedakan anak dan menantunya. Berbanding terbalik dengan Shafira.
Ibu mertua Vinna juga selalu ramah ketika Shafira datang menemui Vinna kerumahnya.
"Assalamu'alaikum.." seru Shafira dan langsung menyalami tangan bu Nana, ibu mertua Vinna.
"Wa'alaikumsalam.. Eh nak Fira, kenapa sekarang jarang main kesini?" ucap bu Nana setelah cipika-cipiki, ia pun tak segan memeluk Shafira layaknya seorang anak.
"Iya, Shafira lagi ada kerjaan dirumah bu, makanya jarang main kesini." jawab Shafira tersenyum.
"Lo tumben dateng gak bilang-bilang dulu. Pasti ada apa-apa ini." ujar Vinna yang sudah hafal dengan sifat Shafira.
"Hehehe... Biasa tiap pagi perang mulut sama mertua." Shafira pun cengengesan, sebenarnya ia ingin menangis tapi tidak enak dengan bu Nana.
"Ya ALLAH... Kamu yang sabar nak." bu Nana pun mengelus punggung Shafira, ia juga tahu kalau Shafira tidak pernah akur dengan ibu mertuanya, dan bagaimana ia diselingkuhi oleh suaminya itu.
"Shafira juga selama ini sabar bu, tapi ya itu. Shafira juga bisa lelah kalau setiap hari dimusuhi, suami juga gak pernah mau belain. Selalu perpihak ke keluarganya." akhirnya pertahanan Shafira pun runtuh juga, ia menangis dipelukan bu Nana menceritakan kehidupan rumah tangganya.
Keberadaan bu Nana bisa sedikit mengobati kerinduannya pada kedua orang tuanya yang sudah meninggal.
"Kamu banyak-banyak bersabar dan berdo'a, Allah itu tidak tidur nak, suatu saat kamu akan memetik buah dari kesabaran dan keikhlasan kamu yang selama ini mereka dzolimi." ujar bu Nana menenangkan Shafira yang masih sesegukan.
"Cup cup cup.. kenapa jadi mewek gini sih. Kamu gak usah pikirkan keluarga toxic itu lagi, sebentar lagi kamu juga akan bebas dari mereka. Kalau bisa kamu secepatnya gugat si Aris itu, aku udah gedeg banget liat kamu terus tersiksa batin gini." Vinna juga geram.
Kalau Shafira sudah sampai menangis, itu artinya keluarga suaminya sudah keterlaluan. Ia tahu betul bagaimana kuatnya Shafira, Ia tidak akan mudah menangis.
"Kamu udah tahu kapan si Aris akan menikah?"
Tanya Vinna.
Saat ini keduanya sedang berada di dapur, sedang membuat es buah. Bu Nana sengaja membiarkan keduanya mengobrol supaya Shafira tidak canggung untuk bercerita.
"Besok hari minggu." sahut Shafira yang tengah memotong-motong buah.
"Oke, sesuai rencana kan. Gue udah gak sabar mau cepet-cepet hari minggu. Jangan lupa lo ajak si Nita, nanti dia ngambek kalau gak ikut." ujar Vinna yang sudah tidak sabar melihat aksi sang besti pada acara pernikahan suaminya itu.
"Kenapa lo yang jadi semangat gini, lo gak sabar ya liat gue jadi janda." dengus Shafira.
"Mendingan juga lu jadi janda daripada punya suami modelan si Aris. Udah lah pelit, tiap hari batin kesiksa, jadi babu keluarganya dan sekarang malah mau kasih lo madu. Jangan sampai Dimas begitu, mit-amit." ujar Vinna.
"Ya sih, lo bener. Mendingan ngejanda aja udah, biar gak tiap hari stress." Shafira pun membenarkan apa yang diucapkan sahabatnya, memang lebih baik ia menjanda daripada punya suami tapi batinnya selalu tersiksa. Apalagi melihat suaminya yang akan menikah diam-diam.
"Rumah lo juga udah bisa ditempati itu, tinggal diisi aja."
"Ya alhamdulillah.. Ngomong-ngomong lo gak pengen buka usaha gitu?" Tanya Shafira mengalihkan pembicaraan, Ia malas kalau membicarakan suaminya itu.
"Pengen sih, tapi gue masih takut-takut buat mulai. Gue juga gak tau mau usaha apa."
"Gimana kalau kita buka usaha bareng, ajak Nita juga, dia pasti mau. Sayang kan uang lo yang bertumpuk direkening itu gak dimanfaatin."
"Uang lo juga bertumpuk kali, bukan gue aja." dengus Vinna.
"Ya makanya, selagi ada modal kita buka usaha, lo mau gak?"
"Mau lah, lo mau buka usaha apa memangnya?" Tanya Vinna antusias.
"Kalau sekarang ya belum tahu, kita diskusiin dulu. Kan usahanya juga bukan punya gue aja. Lo bantu mikir juga, yang sekiranya peminatnya rame gitu."
"Oke deh, nanti kita diskusi bertiga, biasanya si Nita idenya banyak." ujar Vinna semangat.
Selama ini ia ingin sekali membuka usaha, tapi ia masih takut untuk mulai. Vinna juga sudah pernah menyuruh suaminya untuk buka usaha saja, tapi Dimas tidak enak kalau harus menggunakan uang istrinya sebagai modal.
Memang Dimas tipe suami yang tidak enakan dan ia juga tidak pernah mengurusi uang istrinya, walaupun ia tahu istrinya mempunyai banyak uang.