"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHKOTA YANG DIHANCURKAN
Sekolah Menengah Atas (SMA) Pelita Bangsa bukanlah tempat bagi mereka yang hanya memiliki otak tanpa harta. Di sana, koridor-koridornya berbau parfum mahal, dan deru mesin mobil mewah di area parkir adalah musik harian. Bagi Alya Pramesti Wiratama, sekolah ini adalah mimpi buruk yang harus ia telan setiap hari demi beasiswa prestasi yang ia genggam erat.
Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah memberi peringatan akan badai yang akan menghancurkan hidup Alya selamanya.
Alya berjalan menunduk, memeluk tas ranselnya yang sudah mulai menipis di bagian bahu. Ia tidak berani menatap mata teman-temannya. Bukan karena ia malu, tetapi karena ia tahu bahwa di mata mereka, ia hanyalah "hantu" yang menumpang di istana mereka.
"Lihat si pencuri itu datang," bisik sebuah suara nyaring yang sengaja dikeraskan saat Alya melewati kantin.
Alya menghentikan langkahnya. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh perlahan dan melihat **Vanessa Halim**, ratu sekolah yang ayahnya adalah donatur utama yayasan, sedang duduk dikelilingi oleh antek-anteknya. Di samping Vanessa, berdiri **Riko Santoso**, kapten tim basket yang baru saja menuduh Alya mencuri jam tangan Rolex miliknya kemarin sore.
"Aku tidak mencuri, Riko," suara Alya bergetar, namun ia berusaha tegar. "Aku bahkan tidak tahu seperti apa bentuk jam tanganmu."
Riko tertawa sinis, langkahnya mendekat hingga Alya bisa mencium bau rokok elektrik dari napas pria itu. "Lalu kenapa jam itu ada di dalam lokermu, Alya? Apa jam itu terbang sendiri? Atau mungkin kau butuh uang untuk membayar hutang ayahmu yang bangkrut itu?"
Seluruh kantin tertawa. Informasi tentang kebangkrutan ayahnya, Budi Wiratama, telah menyebar seperti virus. Alya merasa telanjangi. Rahasia kemiskinannya yang selama ini ia tutup-tutupi kini menjadi bahan tertawaan publik.
"Ayahku tidak bangkrut... dia hanya sedang kesulitan bisnis," bela Alya dengan suara yang semakin mengecil. Kepolosan di matanya membuat Vanessa semakin muak.
"Jangan berbohong, Alya. Gadis miskin sepertimu memang punya bakat menjadi parasit," Vanessa berdiri, lalu dengan sengaja menumpahkan jus jeruk dingin ke atas kepala Alya.
Cairan lengket itu mengalir dari rambut hitam panjang Alya, membasahi seragam putihnya yang bersih. Alya mematung. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia ingin berteriak, ia ingin membalas, tapi ia tahu posisinya. Jika ia melawan, beasiswanya akan dicabut.
"Sudahlah, ayo pergi. Jangan sampai kuman kemiskinannya menular pada kita," ajak Vanessa sambil berlalu, sengaja menyenggol bahu Alya hingga gadis itu hampir terjatuh.
Alya berdiri di depan meja **Bu Mariska**, wali kelas yang selama ini ia anggap sebagai figur ibu di sekolah. Alya berharap setidaknya di ruangan ini, kebenaran akan menang.
"Alya, Ibu kecewa," kata Bu Mariska tanpa menatap matanya. Beliau sibuk membolak-balik berkas. "Riko memiliki saksi. Vanessa melihatmu mendekati loker Riko saat jam olahraga. Dan barang buktinya ditemukan di lokermu."
"Itu fitnah, Bu! Saya sedang di perpustakaan saat jam olahraga. Ibu bisa cek CCTV!" seru Alya putus asa.
"CCTV di lorong loker sedang rusak, Alya. Kau tahu itu, kan?" Bu Mariska akhirnya menatapnya, tapi tatapannya dingin. "Pihak sekolah tidak bisa mentoleransi pencurian. Beasiswamu resmi dicabut mulai hari ini. Dan kau diminta untuk mengundurkan diri sebelum surat pemecatan resmi dikeluarkan. Itu akan lebih baik untuk catatanmu."
Alya merasa dunianya gelap. "Tapi Bu... biaya sekolah bulan ini... saya tidak punya uang..."
"Itu bukan urusan sekolah lagi. Silakan kemasi barang-barangmu."
Alya keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Di koridor, ia melihat teman-temannya tertawa sambil merekamnya dengan ponsel. Ia adalah tontonan. Ia adalah badut yang sedang jatuh.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Saat Alya sampai di depan rumahnya yang sederhana di sebuah gang sempit, ia melihat pemandangan yang lebih mengerikan.
Beberapa pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam sedang berdiri di depan pintu rumahnya. Pintu depan sudah rusak, engselnya terlepas. Dari dalam, terdengar suara ibunya, **Ratna Wiratama**, yang menangis histeris.
"Tolong... jangan ambil TV-nya... itu satu-satunya hiburan kami..."
"Diam, Tua Bangka! Suamimu berhutang lima puluh juta dan dia kabur! Kami butuh jaminan!" teriak seorang pria bernama **Toni**.
Alya berlari masuk. "Hentikan! Jangan sakiti ibuku!"
Pak Toni menoleh. Matanya yang merah menatap Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebuah senyum mesum muncul di wajahnya yang kasar. "Oh, jadi ini putrimu yang cantik itu, Ratna? Pantas saja suamimu berani berhutang banyak, ternyata dia punya tabungan berlian di rumah."
"Jangan sentuh dia!" teriak Ratna sambil memegangi dadanya. Wajah ibunya pucat pasi. Penyakit jantungnya kambuh.
"Alya... lari, Nak..." bisik Ratna sebelum akhirnya ambruk ke lantai.
"Ibu! IBU!" Alya memeluk tubuh ibunya yang tak berdaya.
Pak Toni mendekat, ia menjambak rambut Alya dan memaksanya berdiri. "Dengar, Cantik. Besok aku akan kembali. Jika uang lima puluh juta itu tidak ada, kau yang akan membayarnya dengan tubuhmu. Mengerti?"
Alya hanya bisa menangis sesenggukan. Ia melihat adiknya, Alyssa, yang masih SMP, bersembunyi di pojok ruangan dengan tubuh gemetar hebat. Di saat itulah, Alya menyadari bahwa kepolosannya, kebaikannya, dan kerja kerasnya di sekolah tidak berguna di dunia yang kejam ini.
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Alya duduk di emperan depan rumahnya setelah membawa ibunya ke puskesmas dengan sisa uang di tabungannya. Ia merasa benar-benar buntu. Tidak ada saudara yang mau meminjamkan uang. Ayahnya hilang entah ke mana.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah memecah kesunyian gang. Lampu depan yang sangat terang membuat Alya harus menutupi matanya.
Sebuah mobil hitam mengkilat berhenti tepat di depan rumahnya yang kumuh. Seorang pria keluar. Ia tidak memakai jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di pergelangan tangannya melingkar jam tangan yang harganya mungkin bisa membeli seluruh rumah di gang ini.
Pria itu adalah **Zhang Liang**.
Ia melangkah perlahan, asistennya memayunginya agar tidak terkena setetes pun air hujan. Liang menatap Alya yang duduk bersimpuh di lantai semen yang basah. Wajah Alya yang sembab dan seragamnya yang masih menyisakan noda jus jeruk membuat Liang terdiam sejenak.
"Kau Alya Pramesti Wiratama?" suara Liang berat, berwibawa, dan dingin seperti es kutub.
Alya mendongak. Ia melihat sosok pria yang tampak seperti dewa namun dengan aura yang sangat mengintimidasi. "I... iya. Siapa Tuan?"
"Aku adalah orang yang akan membeli semua masalahmu," ucap Liang lugas. Ia tidak basa-basi. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari balik saku asistennya. "Aku tahu tentang fitnah di sekolahmu. Aku tahu tentang hutang ayahmu. Dan aku tahu ibumu butuh operasi jantung segera."
Alya tertegun. Bagaimana pria ini tahu segalanya? "Kenapa Tuan ingin membantu saya?"
Liang berjongkok di depan Alya. Ia mengabaikan noda lumpur yang mungkin mengenai celana mahalnya. Ia menatap mata Alya yang bening, mencari sesuatu di sana.
"Aku tidak sedang membantumu, Alya. Aku sedang melakukan transaksi. Istriku tidak bisa memberiku ahli waris. Keluargaku menuntut seorang putra. Jika kau setuju menjadi istri keduaku secara kontrak dan melahirkan seorang anak untukku, aku akan melunasi semua hutangmu, memulihkan namamu di sekolah, dan memastikan ibumu mendapatkan perawatan medis terbaik di negeri ini."
Alya terdiam. Menjadi istri kedua? Di usianya yang baru delapan belas tahun? Menjadi alat pembuat anak?
"Tapi... saya tidak mengenal Tuan..."
"Kau tidak perlu mengenalku. Kau hanya perlu menuruti perintahku," Liang berdiri kembali. "Kau punya waktu sepuluh menit untuk memutuskan sebelum aku pergi dan membiarkan rentenir itu membawamu besok pagi."
Alya menoleh ke dalam rumah, melihat adiknya yang kelaparan dan ibunya yang terbaring lemah. Lalu ia menatap Liang. Pria ini adalah iblis, ia tahu itu. Tapi iblis ini menawarkan keselamatan bagi orang-orang yang ia cintai.
"Saya setuju," bisik Alya pelan. "Saya akan melakukan apa pun... asal keluarga saya selamat."
Zhang Liang tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk kecil. "Bagus. Mulai malam ini, hidupmu bukan lagi milikmu. Kau adalah milik keluarga Zhang."
Malam itu, di bawah guyuran hujan, mahkota kepolosan Alya mulai retak. Ia tidak tahu bahwa kontrak yang ia tandatangani bukan hanya tentang uang, tapi tentang penyerahan jiwa ke dalam sangkar emas yang penuh dengan duri tersembunyi.