(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan
Kabut tebal yang biasanya menutupi Kepulauan Tengkorak Naga tampak lebih pekat dari biasanya, diwarnai oleh asap hitam yang mengepul dari arah pulau utama.
Di haluan kapal Sang Gerhana, Han Luo berdiri tak bergerak. Angin laut mengibarkan jubah hitamnya yang compang-camping, mengekspos bahu kirinya yang mengerikan—tempat di mana bilah pedang rongsokan terjahit kaku di antara otot dan tulang yang meradang.
Xiao Ling yang berada di ruang kendali mengirimkan transmisi suara yang bergetar.
"Tuan... formasi pulau... sebagian telah dirusak paksa dari dalam. Ada ratusan aura permusuhan mengepung Benteng Hitam. Guru Baili... auranya melemah di pusat formasi."
Long Tian mencabut pedangnya, rahangnya mengeras. "Bajak laut sialan. Tuan baru pergi dan mereka sudah berani menggigit tangan yang memberi makan."
"Loyalitas bajak laut hanya bertahan selama pedang di leher mereka masih tajam, Hei Long," Han Luo menatap asap di kejauhan dengan mata kanannya yang dingin. "Mereka mencium bau darahku di lautan, dan mereka mengira singa ini sudah mati."
Su Qingxue berjalan ke geladak, menyilangkan tangan di depan dada. "Pemandangan yang menyedihkan, Tuan Mo. Kerajaanmu ternyata hanya rumah pasir. Ingin aku turun tangan dan membersihkan sampahmu? Anggap saja sebagai pembayaran sewa kapal."
Han Luo menoleh sedikit, menatap Su Qingxue dari sudut matanya.
"Jika kau mengangkat satu jari pun di pulaumu ini, aku akan memotongnya. Ini rumahku. Aku sendiri yang akan menyapu lantainya."
Kapal Sang Gerhana menembus kabut, memasuki teluk utama.
Pemandangan di dermaga kacau balau. Tiga kapal patroli Aliansi Gerhana sedang terbakar. Ratusan bajak laut, yang sebelumnya telah disumpah setia oleh Han Luo, kini berkerumun di depan gerbang Benteng Hitam yang dilapisi obsidian.
Di atas tembok benteng, sebuah kubah es tipis berkedip-kedip menahan serangan meriam Qi. Itu adalah sihir pertahanan Baili Xue, namun kondisinya tampak kritis.
Pemimpin pemberontakan itu adalah seorang pria jangkung dengan tato jangkar di wajahnya. Kapten Kobra, mantan wakil Geng Gurita yang sebelumnya tunduk pada Han Luo.
"Menyerahlah, Nenek Tua!" teriak Kapten Kobra, suaranya diperkuat dengan Qi. "Kami tahu Si Topeng Emas itu sudah mati di Kekaisaran Pusat! Armada utama sedang mencarinya! Serahkan tambang tulang naga dan kekayaan pulau ini, dan kami akan membiarkanmu pergi!"
Dari dalam benteng, suara Baili Xue terdengar lemah namun penuh cibiran.
"Kau lebih bodoh dari gurita mati, Kobra. Jika muridku mati, pulau ini akan ikut mati bersamanya. Teruslah bermimpi."
"Kalau begitu kami akan membakar pintunya!" Kobra mengangkat tangannya, memerintahkan penembak meriam untuk bersiap.
Tepat pada saat itu, bayangan kapal hitam Sang Gerhana menutupi mereka.
Kapal itu tidak memelankan kecepatan. Ia melaju lurus dan menabrak dermaga kayu dengan hantaman keras.
BRAM!
Kayu-kayu beterbangan. Ratusan pemberontak menoleh dengan kaget.
"Kapal Tuan Mo?!"
Kepanikan menyebar sesaat, namun ketika debu mereda, Kapten Kobra melihat sosok yang berdiri di haluan kapal.
Itu memang Tuan Mo. Dengan topeng emasnya. Tapi...
Jubahnya robek. Wajahnya pucat pasi di balik topeng yang retak. Napasnya pendek. Dan yang paling mencolok, lengan kirinya hilang, digantikan oleh patahan pedang karatan yang tertanam secara menjijikkan di bahunya, meneteskan nanah dan darah ke geladak.
Keheningan sesaat berubah menjadi tawa meledak dari Kapten Kobra.
"Hahahaha! Lihatlah Raja kita yang agung! Dia pulang sebagai pengemis cacat!" Kobra menunjuk Han Luo dengan pedangnya. "Kalian takut pada rongsokan ini?! Dia bahkan tidak bisa berdiri tegak! Kekaisaran Pusat telah memotong taringnya!"
Para bajak laut yang tadinya gentar mulai ikut tertawa. Kelemahan fisik adalah undangan untuk dibantai di dunia ini.
Long Tian menggeram, bersiap melompat turun untuk membantai mereka. Tapi Han Luo menahan dadanya dengan tangan kanan.
"Mereka milikku," bisik Han Luo.
Han Luo tidak menggunakan Langkah Hantu. Keseimbangannya belum sempurna untuk melompat dari ketinggian kapal. Dia berjalan menuruni tangga kayu yang dijatuhkan, selangkah demi selangkah.
Dia berhenti tepat sepuluh langkah di depan pasukan pemberontak yang berjumlah lebih dari lima ratus orang.
"Kapten Kobra," suara Han Luo serak, sangat pelan, namun berkat manipulasi Qi, terdengar jelas di telinga semua orang. "Aku pergi sebentar, dan kau memutuskan untuk mendekorasi ulang halamanku?"
Kobra meludah ke tanah. "Halaman ini milik kami sekarang, Tuan Cacat. Masa jayamu sudah habis. Serahkan pedang dan cincinmu, lalu berlututlah. Mungkin aku akan menjadikanmu anjing penjaga tambang."
Beberapa pemberontak mulai maju, menghunus senjata mereka, bersiap mencincang pria yang terlihat sekarat itu.
Han Luo menunduk, menatap lantai tanah berbatu. Dia tertawa pelan. Tawa yang menggetarkan bahunya, membuat luka di tulang selangkanya berdarah lagi.
"Kalian tidak mengerti, ya?"
Han Luo mengangkat wajahnya. Mata di balik topeng emas itu tidak memancarkan ketakutan. Mata itu kosong, segelap jurang tanpa dasar.
"Aku tidak kehilangan lenganku karena aku lemah. Aku mengorbankannya untuk membunuh dewa. Dan kalian... kalian hanyalah cacing."
Kobra merasa terhina. "Banyak omong! Cincang dia!"
Tiga bajak laut tingkat Pondasi Awal menerjang serentak.
Han Luo tidak mencabut Pedang Teratai Darah di tangan kanannya.
Dia hanya memutar tubuhnya dengan ekstrem ke arah kanan, menggunakan berat bilah pedang yang tertanam di bahu kirinya sebagai pendorong.
SLASH! SLASH! SLASH!
Gerakan itu sangat canggung, sangat jelek, tapi kecepatannya tidak masuk akal. Pedang rongsokan di bahu Han Luo membelah tenggorokan ketiga bajak laut itu dalam satu putaran penuh.
Darah menyembur seperti air mancur. Ketiga tubuh itu ambruk sebelum mereka menyadari bahwa mereka sudah mati.
Han Luo kembali ke posisi asalnya. Luka di bahunya robek lebih lebar, darah membasahi jubahnya, tapi dia tidak peduli.
"Siapa lagi?" tantang Han Luo.
Kobra terbelalak. Dia tidak melihat gerakan tangan. Dia hanya melihat pria cacat itu berputar dan anak buahnya mati.
"Gunakan formasi! Serang dari jauh!" teriak Kobra panik.
Puluhan anak panah dan tombak Qi ditembakkan ke arah Han Luo.
Han Luo akhirnya mengangkat tangan kanannya.
Tarian Naga Merah.
Bukan cambuk api. Han Luo menyalurkan Api Bumi yang tersisa di tubuhnya ke dalam benang Sutra Es-Api, lalu meledakkannya di udara membentuk gelombang kejut berbentuk cincin api yang meluas.
BLARRRR!
Panah dan tombak Qi menguap seketika. Gelombang api itu menyapu barisan depan pemberontak, membakar puluhan orang hidup-hidup. Jeritan kepanikan memenuhi udara.
"Ini... ini bukan kekuatan Pondasi biasa!" Kobra mundur ketakutan. "A-Apa kau... Inti Emas?!"
Han Luo tidak menjawab. Dia mengaktifkan Langkah Hantu.
Meski keseimbangannya hancur, dia menggunakan pedang di bahunya untuk menstabilkan diri saat dia meluncur menembus asap dan api. Dia muncul tepat di hadapan Kobra.
Kobra mencoba menangkis dengan pedang lengkungnya.
Han Luo tidak menggunakan pedangnya. Dia mencengkeram wajah Kobra dengan tangan kanannya yang memancarkan hawa dingin nol mutlak (Sutra Hati Es Abadi).
Cesss!
"ARGHHHH!"
Wajah Kobra membeku seketika. Kulit dan dagingnya menempel pada telapak tangan Han Luo.
Han Luo mengangkat pria raksasa itu dari tanah hanya dengan satu tangan.
"Kau ingin cincinku?" bisik Han Luo, menatap mata Kobra yang dipenuhi teror murni. "Kau tidak punya kapasitas untuk menampung apa yang ada di dalamnya."
Han Luo mengerahkan tenaga.
KRAK!
Tengkorak Kobra retak karena tekanan es dan kekuatan fisik Han Luo. Han Luo melempar tubuh yang sudah tak bernyawa itu ke tengah-tengah pasukan pemberontak yang tersisa.
Keheningan yang mencekam turun ke atas dermaga.
Mayat pemimpin mereka, dengan wajah hancur dan membeku, menjadi bukti absolut. Pria di depan mereka mungkin cacat. Dia mungkin berdarah dan tampak seperti mayat hidup. Tapi dia tetaplah sang predator puncak.
Han Luo berdiri di tengah genangan darah. Bahunya naik turun dengan napas yang berat.
Dia menatap ratusan bajak laut yang kini gemetar ketakutan, senjata mereka perlahan turun.
"DENGAR!" raung Han Luo, suaranya menggelegar ke seluruh pulau.
"Aku telah kembali. Siapapun yang masih ingin mengambil pulau ini dariku, melangkahlah maju sekarang. Aku berjanji kalian akan mati lebih lambat dari Kobra!"
Klang. Klontang.
Satu per satu, para bajak laut menjatuhkan senjata mereka ke tanah. Mereka berlutut massal, menundukkan kepala mereka dalam-dalam.
"Ampun, Tuan! Kami buta! Kami ditipu oleh Kobra!"
"Hidup Tuan Mo! Hidup Aliansi Gerhana!"
Mereka kembali menjadi anjing yang patuh. Bukan karena hormat, tapi karena teror yang absolut.
Di atas kapal, Su Qingxue menatap punggung Han Luo dengan mata menyipit. Dia pernah melihat orang kuat, tapi dia jarang melihat seseorang yang bisa memancarkan dominasi psikologis sekuat ini dalam kondisi fisik yang begitu hancur. Pria itu adalah definisi murni dari 'Bahaya'.
Kubah es di atas Benteng Hitam perlahan memudar.
Pintu gerbang raksasa terbuka.
Baili Xue, dengan wajah pucat dan lelah, berjalan keluar dituntun oleh tongkatnya. Matanya yang buta "melihat" kekacauan di luar.
Arah pandangannya terkunci pada Han Luo. Dia bisa merasakan kekosongan di sisi kiri muridnya, dan logam kotor yang menggantikannya.
"Kau benar-benar terlihat mengerikan, Bocah," kata Baili Xue, suaranya bergetar sedikit menahan emosi. "Kau kehilangan tanganmu demi barang rongsokan."
Han Luo berjalan menghampiri gurunya. Dia tidak menunduk. Dia tersenyum di balik topengnya yang retak.
"Aku mungkin kehilangan tanganku, Guru," kata Han Luo, suaranya melemah saat adrenalinnya mulai habis. "Tapi aku pulang membawa kunci. Dan seorang tamu."
Baili Xue mengerutkan kening. Dia merasakan aura Su Qingxue di atas kapal, aura yang sangat familier dan berbahaya.
"Masuk," perintah Baili Xue cepat, menutupi kepanikannya. "Sebelum darahmu menarik hiu laut dalam."
Han Luo mengangguk. Pemberontakan telah ditumpas. Wilayahnya kembali aman.
Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam batas Benteng Hitam, pertahanannya akhirnya runtuh. Kesadarannya memudar, dan tubuhnya yang hancur jatuh pingsan ke lantai batu yang dingin, meninggalkan sisa urusan kepada Long Tian dan Baili Xue.
Raja telah pulang, tapi harga untuk kembali mengklaim takhtanya baru saja dimulai.
tpi gw demen....