Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sejak Lama
Stella merebut sendok dari tangan Kayson. Lalu ia mencelupkannya ke dalam es krim, mengambil satu sendok besar, dan langsung memasukkannya ke dalam mulut.
Mungkin itu bisa menenangkannya. Karena cara pria itu menatapnya, membuatnya gelisah.
“Timing gue emang selalu buruk, ya?” Kayson mengambil satu sendok es krim. Ia memasukkannya ke mulut dan menikmatinya sejenak. “Gue seharusnya bikin lo merasa aman dan tenang, karena gue tahu lo lagi melewati kejadian sialan. Tapi gue malah baru aja flirting sama lo.”
Stella menelan ludah. “Lo enggak mungkin serius.”
Kayson tidak pernah serius.
Bukankah itu memang gayanya?
Stella mengambil sendok lagi dan kali ini benar-benar merasakan manisnya. Kayson juga tidak serius saat menciumnya dulu. Karena keesokan harinya dia sudah bersama perempuan lain. Dia juga tidak serius setiap kali menggoda Stella selama bertahun-tahun.
Momen-momen itu selalu random.
“Itu cuma permainan yang lo mainin ke gue.”
Stella merasakan tubuh Kayson menegang. Dia mengambil sendok lagi, menjilat sedikit es krim yang tertinggal di sendok, lalu tatapannya langsung melesat ke Kayson.
“Itu yang lo pikir, Stella? Kalau selama ini gue cuma main-main sama lo?”
Stella mencelupkan sendok lagi. Mencicipi cepat. Mengumpulkan keberanian. “Terus menurut lo apalagi?”
“Apalagi, ya .…”
Napasnya terdengar pelan. Stella kembali menjilat sendoknya.
Perhatian Kayson tetap tertuju padanya.
Astaga, pria itu benar-benar seksi. Jeans longgar itu, perut berotot itu, rambut berantakan yang jatuh di dahinya … janggut tipis di rahangnya.
Seksi sekali.
Ini pertanda buruk.
“Ini udah gak bener.” Stella meletakkan sendok. “Mungkin … besok pagi lo bisa langsung ngarahin gue ke salah satu agen lo? Gue tahu lo enggak kerja lapangan sendirian. Gue bisa bicara sama dia … atau dia, sebaiknya perempuan … dan bakal ngurus situasi gue untuk selanjutnya.”
Stella memang akan menginap malam ini di rumah Kayson, tapi dia berniat pergi saat fajar.
Stella turun dari bangku dan menjauh dari meja. Jari Kayson langsung melingkar di pergelangan tangannya.
“Gue selalu ngacau sama lo, ya? Kebiasaan lama. Tapi gue bakal berusaha mati-matian buat ngubah itu.”
“Itu tadi cuma—”
Cengkeramannya menguat. “Bukan kesalahan. Lo butuh bantuan, dan gue bakal bantu. Enggak ada syarat apa pun. Tim gue bakal mengamankan rumah lo. Kita bakal cari tahu siapa yang ngusik lo, dan lo bakal aman, Stella. Pegang kata-kata gue!”
Kayson melepaskan sendok sebelum menggenggam tangannya. Tangannya besar dan kuat, tapi tidak menyakitinya. Kayson selalu hati-hati setiap kali mereka bersentuhan. Pria itu kuat, tapi selalu sepenuhnya terkendali.
Itu memang Kayson.
Kayson menghela napas panjang. “Gue perlu nanya satu hal. Mungkin bagus buat memperjelas semuanya. Supaya gue tahu posisi gue.”
“Oke.” Stella jelas tidak menyukai ini.
Ibu jari Kayson mengusap bagian dalam pergelangan tangan Stella, dan nadinya yang berkhianat langsung berdenyut lebih cepat.
Tenang.
Fokus.
“Apa pertanyaannya?”
“Lo suka sama gue, Stella? Lo tertarik sama gue?”
Masuk ke rumah Stella bukan hal yang sulit bagi Kayson. Dia sudah beberapa kali ke sana. Pernah sekali ia bahkan masuk saat Stella sedang tidur.
Stella terbaring di tempat tidur, terbungkus selimut, mengenakan celana pendek lari dan kaus biru. Ia terlihat cantik. Dia berdiri memperhatikannya. Membayangkan bisa menyentuhnya.
Tapi Kayson tidak melakukannya. Malam itu, ia membiarkan Stella tetap tertidur. Membiarkannya bersama mimpinya. Mungkin saja Stella bermimpi tentang dirinya.
Sekarang, dia kembali memasuki kamar itu. Bahkan Polisi sudah datang sebelumnya. Stella menelepon mereka, membiarkan mereka memeriksa rumahnya, tetapi Kayson tahu mereka tidak akan menemukan apa pun. Memang tidak ada yang bisa ditemukan.
Rumah itu adalah tempat aman bagi Stella. Atau setidaknya, itulah yang ia kira. Dia ingin Stella menyadari bahwa anggapan itu salah.
Karena dunia bukan tempat yang aman. Dunia ini berbahaya, gelap, dan mematikan.
Jika Stella mengatakan bahwa dia tidak suka dengannya, maka Kayson akan mundur.
Kayson memang tidak ingin mempermainkannya. Dia hanya ingin memperjelas hubungan mereka. Dia ingin mengetahui posisinya, juga mengetahui posisi Stella. Karena percakapan ini sudah terlalu lama tertunda.
Dan jika Stella menyuruhnya menjauh … ya sudah maka itu pilihannya.
“Stella?” Kayson memaksakan menyebut namanya ketika Stella hanya menatapnya dengan mata yang luar biasa itu.
“Kenapa lo nanya gitu?”
“Karena gue pingin tahu. Karena dari dulu gue naksir sama lo, dan gue capek pura-pura enggak peduli. Gue tahu timing gue kacau. Gue ngerti, percaya deh. Tapi gue pingin lo tahu … sial, gue cuma—”
“Lo naksir gue?” Stella menggeleng. “Sejak kapan?”
"Sejak Lo berumur lima belas tahun. Sejak gue nunggu lo pulang sekolah karena enggak mau lo pulang sendirian. Sejak hujan turun dan rambut lo nempel di pipi, gue nyibakin rambut lo ke belakang dan gue malah cium lo. Dan Lo belum siap untuk semua itu," batin Kayson.
Kayson juga belum siap. Jadi ia cuma berdeham. “Udah lama.”
Stella memalingkan wajah. Dia tidak menjawab. Atau mungkin, diamnya sudah menjadi jawaban.
Kayson mundur. “Stella.” Suaranya begitu pelan.
Kayson berkedip.
Stella menarik tangannya. “Lepasin gue.”
Dia langsung melepaskannya.
“Gue tertarik sama lo. Itu jelas ... Kayaknya udah jelas dari dulu,” papar Kayson.
Stella menjauh. Wajahnya serius. Sedikit sedih, dan Kayson tidak menginginkan itu. Dia tidak pernah suka melihat Stella sedih.
Biasanya Riggs akan muncul saat Stella sedih dan membuatnya merasa lebih baik.
Persetan dengan dia.
Dia bisa melakukannya. Kayson tahu dia bisa membuat Stella jauh lebih bahagia. Jika saja Stella memberinya kesempatan.
“Tapi kita ...” Stella memberi isyarat bolak-balik di antara mereka. “Astaga ini gak bener. Lo sendiri yang pernah bilang, ingat? Waktu kita masih anak-anak. Lo bilang keluarga kita berdua tuh kayak langit sama dasar laut, dan Lo juga sempat pingin jauhin gue sama Riggs.” Stella tersenyum kecut. “Selalu kan Lo anggap gue gak pantes.”
Stella menjauh darinya.
Kayson memperhatikannya pergi, seperti yang sudah sering dia lakukan ketika dia mengatakan sesuatu yang bodoh. Hanya saja kali ini, dia tidak bisa tetap diam ketika Stella menjauh.
“Lo kira selama ini gue enggak berusaha menjauh dari lo?”
Stella melirik ke arahnya dari balik bahu. Wajahnya sempat terkejut, lalu dalam sekejap berubah waspada. Stella tidak pernah seperti itu. Biasanya perasaannya selalu terlihat jelas.
Kayson menahan napas. “Menurut lo selama ini gue ngapain? Lo sama Riggs, kalian enggak pernah pisah sejak kelas satu.”
“Sejak TK.”
Sial.
Stella berusaha memilih kata-kata yang tepat.
“Gue tahu dia itu cinta pertama lo .…”
Mata Stella membelalak.
“Dan gue nunggu. Gue udah mundur. Waktu terus berlalu dan gue enggak ngapa-ngapain. Setiap kali lo deketin gue, gue pengin banget bisa ngobrol panjang lebar, tapi gue malah enggak bicara apa-apa. Terus kalian berdua … gue terus mikir kalau suatu hari nanti, di salah satu hari terburuk itu, gue bakal dapat telepon yang bilang kalau lo sama Riggs bakalan nikah. Gue tahu kalau telepon itu bakal datang, gue harus datang ke tempat lo. Senyum dan pura-pura ikut bahagia buat kalian. Padahal kenyataannya .…”
Stella berbalik sepenuhnya menghadapnya. Dia masih mengenakan kemeja Kayson dan terasa menyakitkan. “Terus kenyataannya?”
“Kenyataannya, nanti kalau Riggs masang cincin di jari lo, mungkin gue bakal nembak pantat dia.”
Stella menatap tangan kirinya. Menggerakkan jari-jarinya. “Nggak ada cincin di sini, nih. Lihat?” Rambutnya jatuh ke pipi saat dia menatap Kayson. “Tapi lo kira itu yang terjadi malam ini, kan? Lo bilang sendiri tadi di rumah gue tadi.”
Kayson mengangguk kaku.
“Dan lo tetap datang ... buat hajar Riggs?”
Kayson sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ingin dia lakukan di rumah Stella.
Diam saja?
Mengucapkan selamat pada adiknya?
“Oke, lo emang belum tunangan. Kalian tuh ibaratnya masih dansa bareng.”
Stella menggeleng.
“Gue ngerti dia itu cinta pertama buat lo, tapi itu bukan berarti kalian harus bareng selamanya.” Jari-jari Kayson mengepal di sisi tubuhnya. “Dan gue udah cukup nunggu. Riggs bakal benci gue, jelas ... tapi gue capek nahan diri. Kalau ada sedikit aja kemungkinan lo mau sama gue, gue bakal ambil risiko itu.”
Stella hanya menatapnya.
Ruangan terasa begitu sunyi sampai Kayson bisa mendengar detak jam besar di dinding.
Dia benci jam itu. Seorang desainer interior yang memasangnya. Besok pagi jam itu akan dia hancurkan.