NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelatihan

Kembali ke wilayah kediaman Phenex, suasana tidak lagi terasa sama bagi Riser. Jika dulu dia melihat kastel ini sebagai simbol kesombongan, kini dia melihatnya sebagai aset strategis. Namun, ada satu hal yang mengganggunya: Peerage aslinya. Meskipun mereka setia, Riser tahu bahwa untuk mencapai targetnya—membangun kekuatan yang bisa menantang tatanan dunia—dia membutuhkan individu dengan potensi yang lebih spesifik.

Riser berdiri di tengah lapangan pelatihan pribadi yang luas. Udara di sekitarnya bergetar karena panas yang terpancar secara alami dari tubuhnya. Di depannya, Yubelluna berdiri dengan sikap sempurna, tongkat sihirnya tergenggam erat, namun matanya memancarkan kebingungan yang mendalam.

"Tuanku Riser," suara Yubelluna memecah keheningan. "Anda meminta saya untuk menyerang dengan kekuatan penuh? Tanpa ada bidak Pawn atau Knight yang menjaga Anda?"

Riser meregangkan lehernya, bunyi gemertak tulang terdengar memuaskan. "Benar, Yubelluna. Aku ingin kau melepaskan sihir ledakanmu yang paling kuat. Jangan menahan diri jika kau tidak ingin melihatku menguap."

[ Sinkronisasi Jiwa: 21% ]

[ Kondisi Tubuh: Optimal ]

[ Saran: Gunakan teknik pernapasan Re-Taekwondo untuk menstabilkan aliran energi iblis. Jika kamu ceroboh, pakaian mahalmu akan terbakar lagi. ]

Yui, bisakah kau memberikan sedikit dukungan moral daripada mengkhawatirkan jas ini? batin Riser sambil tersenyum kecut.

[ Dukungan moral tidak akan melindungimu dari ledakan sihir tingkat tinggi. Konsentrasi, Pemalas. ]

Riser mengambil kuda-kuda rendah. Tubuhnya tidak lagi tegang. Dia mengingat setiap gerakan Jin Mori, setiap aliran Renewal Taekwondo yang kini tertanam di otot-ototnya. Dia tidak hanya mengandalkan api; dia mengandalkan kontrol.

"Mulailah," perintah Riser.

Yubelluna tidak lagi ragu. Sebagai Queen yang loyal, dia menuruti perintah tuannya. Dia mengangkat tongkatnya, lingkaran sihir ungu besar tercipta di atas kepalanya.

"Jika itu kemauan Anda... Arcane Burst!"

Seketika, serangkaian bola energi destruktif meluncur dengan kecepatan tinggi menuju Riser. Setiap bola itu cukup kuat untuk meratakan sebuah bangunan beton.

Riser tidak menghindar. Dia justru maju.

Langkah pertama: Penguasaan Medan.

Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, Riser menggeser tumpuan kakaknya. Saat bola energi pertama hampir menyentuh wajahnya, dia memutar tubuhnya—sebuah gerakan spinning hook kick yang sempurna—namun alih-alih menendang fisik, kakinya membawa aliran udara yang dipadukan dengan energi Full Counter.

Blar!

Bola energi itu meledak, namun arah ledakannya berbalik seratus delapan puluh derajat ke arah serangan berikutnya, menciptakan reaksi berantai di udara.

[ Teknik Terdeteksi: Penangkapan Momentum. ]

[ Efektivitas: 85% ]

Riser terus bergerak. Dia melesat di antara ledakan, bayangannya tampak seperti kilat pirang. Saat dia berada cukup dekat dengan Yubelluna, dia tidak menyerang. Dia berhenti tepat di depan hidung ratunya, membiarkan energi panasnya menyelimuti mereka berdua tanpa menyakiti gadis itu.

Yubelluna gemetar, bukan karena takut, tapi karena intensitas aura yang dikeluarkan Riser. Ini bukan lagi api yang membabi buta. Ini adalah kekuatan yang terkendali, tajam, dan sangat dominan.

"Kau terlalu lambat dalam memicu ledakan kedua, Yubelluna," bisik Riser tepat di telinganya. "Di medan perang yang sesungguhnya, satu detik keraguan adalah tiket menuju pemakaman."

Riser menjauhkan dirinya, mematikan aura panasnya seketika. "Tapi, akurasi sihirmu meningkat. Itu bagus."

Yubelluna membungkuk dalam, wajahnya sedikit merona. "Terima kasih atas bimbingannya, Tuanku. Namun... saya merasa Anda berbeda. Teknik bela diri yang Anda gunakan... saya belum pernah melihatnya di buku sejarah iblis mana pun."

Riser tertawa kecil, dia berjalan menuju tepi lapangan di mana sebotol air dingin telah disiapkan. "Sebut saja itu hobi baru. Membaca buku tua ternyata ada gunanya juga."

[ Kebohongan yang sangat payah. ]

[ Peringatan: Energi dalam tubuhmu sedang bergejolak. Efek penggunaan 'Full Counter' pada tubuh iblis yang belum terbiasa mulai terasa. ]

Riser merasakan dadanya sedikit sesak. Dia duduk di bangku taman, mencoba mengatur napasnya. "Yui, apa masalahnya? Tubuh Phenex seharusnya bisa beregenerasi dengan cepat."

[ Regenerasi Phenex bekerja pada kerusakan fisik. Namun, teknik yang kamu gunakan menuntut beban mental dan jalur energi yang berbeda dari sihir iblis biasa. Kamu butuh sinkronisasi yang lebih tinggi jika ingin menggunakan kekuatan Meliodas tanpa efek samping. ]

"Begitu ya... Jadi aku masih harus banyak berlatih," gumam Riser.

Dia kemudian menoleh ke arah Yubelluna yang masih berdiri setia di sana. Riser telah mengambil keputusan. Dia tidak bisa membawa seluruh Peerage lamanya ke jalan yang penuh bahaya ini. Dia butuh mereka untuk tetap aman, sementara dia membentuk tim khusus yang bisa mengikuti kecepatannya.

"Yubelluna," panggil Riser dengan nada serius.

"Iya, Tuanku?"

"Setelah Rating Game melawan Rias selesai... aku akan menyerahkan posisi pimpinan Peerage asliku kepada Ravel. Dia butuh perlindungan, dan kalian adalah orang-orang yang paling aku percayai untuk menjaganya."

Mata Yubelluna membelalak. "Apa? Tapi... bagaimana dengan Anda? Seorang King tanpa Peerage adalah sasaran empuk."

Riser berdiri, menatap langit Underworld yang luas. "Aku tidak bilang aku akan sendirian. Aku hanya bilang, aku akan membangun tim yang baru. Tim yang mampu berdiri di puncak dunia bersamaku. Dan kau..." Riser menatap Yubelluna dengan tatapan yang dalam. "Aku ingin kau tetap bersamaku. Bukan hanya sebagai bidak, tapi sebagai salah satu pilar kekuatanku."

Yubelluna merasa jantungnya berdegup kencang. Kata-kata Riser tidak terdengar seperti perintah seorang tuan kepada budaknya, melainkan ajakan seorang pria kepada rekannya.

"Saya... saya akan mengikuti Anda ke mana pun, bahkan ke dasar neraka sekalipun," jawab Yubelluna dengan kemantapan hati yang mutlak.

Riser tersenyum puas. Satu pilar telah diamankan. Kini, dia hanya perlu memenangkan Rating Game konyol itu dan mulai mencari anggota-anggota barunya yang telah dia rencanakan dalam ingatannya.

[ Analisis: Loyalitas Yubelluna meningkat drastis. ]

[ Saran: Gunakan waktu luangmu untuk mulai mempelajari koordinat dunia manusia. Target pertama: Saeko Busujima. ]

"Saeko, ya?" Riser menyeringai. "Gadis dengan pedang yang haus darah. Dia akan sangat cocok di timku."

Malam di dunia manusia memiliki aroma yang sangat berbeda dengan Underworld. Jika di rumahnya Riser mencium bau belerang dan kemewahan yang kaku, di sini—di tengah hiruk-pikuk kota yang diselimuti lampu neon—dia mencium bau kebebasan, polusi, dan potensi.

Riser melangkah keluar dari gang gelap, menyesuaikan letak kerah jaket hitamnya. Dia meninggalkan setelan jas mahalnya di kastel, beralih ke pakaian yang lebih kasual namun tetap berkelas: kaos hitam pas badan yang menonjolkan hasil latihan fisiknya, dibalut jaket kulit dan celana jins gelap. Penampilannya kini benar-benar menyerupai Kuze Masachika, namun dengan sorot mata yang jauh lebih tajam dan berbahaya.

[ Lokasi: Kota Kuoh - Sektor Barat. ]

[ Target Terdeteksi: Fluktuasi energi kehidupan yang tajam di area dojo tua. ]

[ Jarak: 400 meter. ]

Yui, pastikan kehadiranku tidak terdeteksi oleh jaringan pengawas Gremory atau Sitri. Aku tidak ingin Sona Sitri yang cerewet itu datang menanyakan visaku, batin Riser sambil berjalan santai.

[ Sudah diatur. Aku telah menyelimuti keberadaanmu dengan frekuensi energi rendah yang menyatu dengan latar belakang kota. Selama kamu tidak melepaskan api Phoenix-mu seperti orang gila, mereka hanya akan melihatmu sebagai pemuda tampan yang sedang mencari alamat. ]

Riser mendengus geli. "Pemuda tampan, ya? Setidaknya sistem ini jujur soal visualku."

[ Jangan terlalu percaya diri. Itu hanya protokol deskripsi objektif. ]

Riser terus berjalan, melewati deretan toko yang sudah tutup hingga sampai di sebuah area yang lebih sunyi. Di sana, berdiri sebuah dojo tua dengan papan nama kayu yang sudah mulai lapuk. Namun, di balik dinding kayu itu, Riser bisa mendengar suara yang sangat spesifik.

Slash! Slash!

Suara tebasan pedang kayu yang membelah udara dengan presisi yang mengerikan. Riser berhenti di depan gerbang, tidak langsung masuk. Dia menyandarkan tubuhnya di pagar batu, memejamkan mata sejenak untuk mempertajam indranya.

[ Intuisi Pertempuran Aktif. ]

[ Analisis: Setiap tebasan mengandung niat membunuh yang murni. Subjek tidak hanya berlatih teknik, dia sedang menekan insting liarnya. ]

Riser membuka pintu geser dojo dengan gerakan yang sangat pelan. Di dalam, di bawah cahaya remang dari lampu gantung yang bergoyang, seorang gadis dengan rambut ungu panjang yang diikat ekor kuda sedang mengayunkan bokken (pedang kayu). Keringat membasahi tubuhnya, membuat pakaian latihannya menempel erat, namun fokusnya tidak goyah sedikit pun.

Saeko Busujima.

Riser memperhatikan setiap gerakannya. Saeko bukan sekadar ahli pedang; ada kegelapan di dalam setiap ayunannya. Kegelapan yang dicari Riser.

"Tebasanmu terlalu penuh dengan penekanan," suara Riser memecah keheningan dojo, terdengar santai namun bergema di setiap sudut ruangan.

Saeko bereaksi seketika. Dalam hitungan detik, dia sudah berbalik dan mengarahkan ujung pedang kayunya tepat ke arah tenggorokan Riser. Matanya yang dingin dan tajam menatap pria asing yang tiba-tiba muncul di wilayah pribadinya.

"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa masuk tanpa membuat suara?" tanya Saeko dengan nada rendah yang mengancam.

Riser tidak mundur. Dia justru melangkah maju satu inci, membiarkan ujung pedang kayu itu nyaris menyentuh kulit lehernya. Dia menatap mata Saeko dengan senyum miring yang provokatif.

"Hanya seorang pelancong yang tertarik dengan aroma darah di tengah kota yang damai ini," jawab Riser tenang. "Kau punya bakat yang disia-siakan di sini, Saeko Busujima. Pedangmu menangis karena dia tidak diberi makan dengan benar."

Pupil mata Saeko bergetar. Kalimat itu menghantam bagian terdalam dari rahasia yang selama ini dia sembunyikan—hasratnya akan kekerasan. "Kau bicara seolah-olah kau tahu sesuatu tentangku."

"Aku tahu lebih banyak dari yang kau bayangkan," Riser mengangkat tangannya, perlahan menjauhkan ujung bokken itu dari lehernya dengan satu jari. "Dunia ini jauh lebih luas daripada sekadar kompetisi kendo tingkat nasional. Ada tempat di mana haus darahmu bukan dianggap sebagai kutukan, melainkan sebuah anugerah."

Saeko menurunkan pedangnya, namun kewaspadaannya tetap di tingkat tertinggi. "Kau bukan manusia biasa, kan? Atmosfer di sekitarmu... terlalu berat."

Riser tertawa pelan. "Pengamatan yang bagus. Jadi, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan? Aku akan memberimu kesempatan untuk melepaskan monster di dalam dirimu, dan sebagai gantinya, kau akan meminjamkan pedangmu padaku."

[ Sinkronisasi Jiwa: 23% ]

[ Status Subjek: Tertarik namun Skeptis. ]

[ Saran: Berikan sedikit demonstrasi. Wanita seperti dia hanya menghormati kekuatan. ]

Riser mengangguk dalam hati. "Ambil pedang kayumu, Saeko. Serang aku dengan niat untuk membunuh. Jika kau bisa menyentuh pakaianku saja, aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu lagi. Tapi jika kau kalah... kau harus mendengarkan penawaranku sampai selesai."

Saeko terdiam sejenak, sebelum akhirnya sebuah senyum tipis yang haus akan tantangan muncul di wajah cantiknya. "Menarik. Jangan menyesal jika tulangmu patah, Tuan Asing."

Saeko mengambil posisi kuda-kuda Chudan-no-kamae. Udara di dalam dojo mendadak menjadi sangat dingin. Dalam sekejap, dia melesat maju.

"Hah!"

Pedang kayu itu meluncur dengan kecepatan yang mustahil bagi manusia biasa, mengincar pelipis Riser. Namun, bagi Riser yang memiliki Intuisi Pertempuran tingkat Khusus, gerakan itu seolah melambat. Dia tidak menghindar jauh; dia hanya memiringkan kepalanya beberapa milimeter.

Angin tebasan itu menerpa pipi Riser, namun tidak mengenainya.

Saeko tidak berhenti. Dia memutar tubuhnya, melepaskan serangkaian tebasan beruntun yang mengincar titik-titik vital. Riser bergerak dengan keanggunan seorang penari, tangannya tetap berada di saku jaketnya. Setiap serangan Saeko hanya menemui udara kosong.

"Kenapa? Apa hanya ini kemampuan monster di dalam dirimu?" ejek Riser, memprovokasi insting liar Saeko.

Saeko menggeram pelan. Matanya mulai berkilat dengan cahaya yang sedikit berbeda. Dia melepaskan tebasan vertikal yang sangat kuat—serangan yang dia gunakan untuk membelah musuhnya di masa lalu.

Riser berhenti menghindar. Dia mengangkat tangan kirinya, bukan untuk menangkap, tapi untuk menyentuh sisi pedang kayu itu saat meluncur turun. Dengan sedikit sentuhan energi Full Counter yang disesuaikan, dia membelokkan momentum serangan Saeko.

Brak!

Saeko kehilangan keseimbangan karena kekuatannya sendiri yang berbalik arah. Sebelum dia bisa pulih, Riser sudah berada di belakangnya, tangan kanannya melingkari pinggang Saeko sementara tangan kirinya menahan pergelangan tangan gadis itu yang memegang pedang.

Napas Saeko memburu. Dia bisa merasakan suhu tubuh Riser yang panas—jauh lebih panas dari manusia mana pun—dan aroma maskulin yang dominan.

"Game over, Saeko," bisik Riser di dekat telinganya.

Saeko terengah-engah, tubuhnya gemetar bukan karena takut, tapi karena sensasi aneh yang menjalar di tulang belakangnya. Kekuatan pria ini... begitu mutlak dan menenangkan di saat yang bersamaan.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Saeko dengan suara yang sedikit parau.

Riser melepaskan pelukannya perlahan, membiarkan Saeko berbalik menghadapnya. "Namaku Riser Phenex. Dan aku datang untuk menawarimu kursi di meja para penguasa."

[ Misi Sampingan: Rekrutmen Ksatria Pertama (Progres 50%). ]

[ Komentar Yui: Cara yang sangat klise untuk menggoda wanita, tapi aku harus mengakui, itu cukup efektif. Dia sudah terpikat. ]

Riser hanya tersenyum tipis. Dia tahu, malam ini baru saja dimulai, dan Saeko Busujima adalah kepingan pertama dari Peerage impiannya.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!