NovelToon NovelToon
My Lovely Uncle

My Lovely Uncle

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Deskripsi

Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paman jangan pergi!

Lara mengubah posisi duduknya di sofa untuk kesekian kali. Awalnya dia mencoba membaca majalah bisnis yang ada di rak kecil dekat meja Arka, tapi lima menit kemudian kepalanya sudah terasa berat. Angka-angka dan istilah asing itu sama sekali tidak bersahabat dengan otaknya pagi ini.

“Aduh… bosan,” gumamnya pelan.

Matanya melirik ponsel yang tergeletak di sampingnya. Tanpa berpikir panjang, jarinya sudah mengetik sebuah pesan.

Lara:

Lagi ngapain hari ini?

Tak sampai satu menit, balasan muncul.

Axel:

Lagi mikir kenapa ada orang yang bisa milih boneka capybara segede guling tapi nggak mikir cara bawanya 🤔

Lara langsung tertawa kecil, bahunya ikut berguncang.

Lara:

Itu namanya seni memilih kebahagiaan, Axel.

Kamu aja yang kurang visioner.

Axel:

Kalau aku kurang visioner, berarti kamu visioner banget sampai bikin aku pegel keliling satu mall.

Lara menggigit bibirnya menahan senyum. Entah sejak kapan, obrolan mereka selalu mengalir tanpa usaha. Tidak perlu berpikir harus membalas apa, tidak perlu takut salah bicara. Semua terasa… ringan.

Lara:

Jadi hari ini kamu juga nggak ke kampus?

Axel:

Nggak. Ngapain kan nggak ada dosen juga.

Kamu?

Lara sempat ragu membalas, lalu memutuskan jujur setengah-setengah.

Lara:

Ikut paman ke kantor.

Lagi numpang hidup di ruangannya 😅

Axel:

Wah, VIP dong.

Jangan-jangan kamu bos rahasia di situ.

Lara:

Iya, aku bos bagian ngabisin duit.

Axel mengirim emotikon tertawa. Lara ikut tersenyum lagi. Percakapan itu absurd, tidak penting, bahkan bisa dibilang receh—tapi justru di situlah letak nyamannya.

Axel tidak pernah menanyakan hal-hal yang membuat Lara merasa harus menjelaskan hidupnya. Tidak memaksa masuk terlalu dalam. Ia hanya… hadir.

Tanpa Lara sadari, pintu ruangan terbuka.

Arka melangkah masuk dengan map tipis di tangan. Langkahnya terhenti sesaat saat melihat Lara duduk bersandar di sofa, menunduk ke arah ponsel dengan senyum kecil yang jarang sekali ia lihat akhir-akhir ini.

Senyum yang… lepas.

Arka berdehem pelan.

“Lara.”

Sontak Lara mendongak. “Eh—Paman!”

Ponselnya refleks ia turunkan, seolah baru saja ketahuan melakukan sesuatu yang terlarang, padahal tidak.

“Paman udah selesai rapat?” tanyanya cepat, sedikit terlalu cepat.

Arka mengangguk. “Masih jeda. Aku cuma ambil dokumen.”

“Oh… iya,” jawab Lara, lalu berdiri setengah badan sebelum kembali duduk. “Tadi aku… bosan, jadi chat teman.”

Arka menatapnya sekilas. “Teman kampus?”

Lara mengangguk ringan. “Iya.”

Jawaban itu singkat, tapi cukup membuat Arka mengingat kembali bayangan di depan gerbang kampus beberapa hari lalu. Namun kali ini ia memilih diam.

“Kakimu gimana?” tanya Arka akhirnya.

“Udah mendingan. Nggak sakit banget,” jawab Lara. “Tenang aja, aku nggak akan kabur ke mana-mana.”

Nada bercandanya membuat Arka menghela napas pelan. “Aku bukan takut kamu kabur.”

Lara menatapnya, menunggu kelanjutan kalimat itu. Tapi Arka tidak melanjutkan.

Hening sejenak.

Lara memecahnya dengan senyum kecil. “Paman kerja aja. Aku di sini baik-baik kok.”

Arka mengangguk, lalu berbalik menuju meja kerjanya. Sebelum duduk, ia melirik Lara sekali lagi—seolah ingin memastikan gadis itu benar-benar aman, benar-benar ada.

Pintu kembali tertutup saat Arka keluar ruangan.

Lara menghembuskan napas pelan dan melirik ponselnya lagi. Pesan baru dari Axel sudah masuk.

Axel:

Kamu ketawa sendirian ya barusan?

Aku bisa ngerasainnya.

Lara tersenyum, jempolnya bergerak cepat.

Lara:

Ketauan, ya.

Ada orang masuk tiba-tiba, aku kaget.

Axel:

Orang penting?

Lara terdiam sejenak sebelum membalas.

Lara:

Iya… orang penting.

Axel membaca pesan itu cukup lama. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan—bukan cemburu, bukan juga takut. Lebih seperti kesadaran kecil yang baru tumbuh.

Bahwa Lara adalah seseorang yang bisa dengan mudah membuatnya peduli.

Bahwa ia mulai menunggu pesan itu, bukan sekadar membalasnya.

Dan tanpa ia sadari, perasaannya pada Lara tidak lagi berhenti di kata nyaman.

Sementara di ruangannya, Lara menatap layar ponsel sambil tersenyum samar.

Ia belum sadar bahwa hatinya sedang berdiri di persimpangan.

Dan bahwa dua orang, dengan cara yang sangat berbeda, sedang berjalan ke arahnya.

Lara kembali menyandarkan tubuhnya di sofa setelah meletakkan ponsel di dadanya. Ruangan itu terasa terlalu nyaman—sunyi, sejuk, dan dipenuhi aroma parfum Arka yang samar namun menenangkan. Aroma itu tidak menusuk, justru lembut seperti efek relaksasi yang perlahan merambat ke inderanya.

Kelopak mata Lara terasa berat.

Awalnya ia hanya berniat memejamkan mata sebentar. Tapi tanpa disadarinya, napasnya mulai teratur, tubuhnya mengendur, dan kesadarannya tenggelam pelan-pelan. Ponsel di dadanya hampir saja jatuh, namun tertahan oleh lengannya yang terlipat.

Lara pun tertidur.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka perlahan.

Sintia melangkah masuk dengan membawa nampan berisi makanan ringan dan minuman hangat. Itu atas perintah Arka—ia hanya menjalankan tugasnya. Namun langkahnya terhenti begitu melihat sosok di sofa.

Seorang gadis muda… sedang tidur dengan sangat santai.

Sintia mematung sesaat. Matanya menelusuri Lara—wajah polos tanpa riasan berlebihan, rambut yang tergerai, dan ekspresi damai yang sama sekali tidak mencerminkan seseorang yang sedang “menumpang” di ruang direktur.

Dia siapa, sebenarnya? batinnya bertanya.

Ada rasa kesal yang menyelinap. Bukan karena Lara melakukan kesalahan, tapi karena gadis itu terlihat terlalu nyaman berada di tempat yang selama ini terasa begitu jauh baginya. Ruangan ini. Sofa itu. Perhatian Arka yang tidak pernah ia dapatkan, meski sudah berusaha keras.

Namun Sintia menahan diri.

Ia melangkah mendekat dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara. Perlahan, nampan itu ia letakkan di meja kecil di samping sofa, memastikan tidak ada yang bergeser atau berbunyi. Ia bahkan sempat merapikan posisi gelas agar aman.

Pandangan Sintia kembali jatuh pada wajah Lara yang terlelap.

“Siapa pun kamu,” gumamnya dalam hati, “kamu pasti bukan orang biasa.”

Tanpa membangunkan Lara, Sintia berbalik dan melangkah keluar ruangan, menutup pintu dengan pelan. Di dadanya, rasa penasaran itu tidak hilang—justru tumbuh menjadi sesuatu yang lebih tajam.

Rapat akhirnya usai.

Arka melangkah masuk ke ruangannya dengan langkah yang sedikit lebih berat dari biasanya. Jasnya masih rapi, wajahnya kembali dingin seperti direktur pada umumnya—namun semua itu runtuh begitu pandangannya jatuh pada sofa di sudut ruangan.

Lara yang sedang tidur.

Tidurnya terlihat begitu damai, seolah dunia tidak pernah melukainya. Rambutnya sedikit berantakan, napasnya teratur, dan wajahnya—terlalu tenang untuk seseorang yang semalam berdebat hebat dengannya.

Arka berhenti melangkah.

Ada sesuatu yang menekan dadanya tanpa ia pahami. Tanpa sadar, kakinya bergerak mendekat. Ia duduk di tepi meja kecil di samping sofa, jaraknya begitu dekat hingga ia bisa melihat jelas bulu mata Lara yang lentik, juga ponsel yang hampir saja terjatuh dari genggaman longgarnya.

Dengan gerakan pelan, Arka mengambil ponsel itu dan meletakkannya di meja.

Tangannya tidak langsung menjauh.

Entah dorongan dari mana, jari-jarinya terangkat dan dengan sangat hati-hati menyingkap rambut Lara yang menutupi matanya. Gerakannya begitu lembut, seakan takut membangunkannya.

Namun detik berikutnya, Arka membeku.

Di sela mata Lara, mengalir cairan bening.

Bukan tangis yang deras. Hanya setetes—, nyaris tak terlihat—namun cukup untuk menghantam kesadarannya. Dadanya terasa sesak.

Belum sempat ia menarik tangannya, bibir Lara bergerak samar.

“Paman Arka… jangan pergi…”

Suara itu lirih, rapuh, seperti bisikan dari mimpi yang terlalu menyakitkan. Arka terperangah. Napasnya tertahan. Kata-kata itu bukan sekadar igauan—itu adalah ketakutan yang Lara simpan terlalu lama.

Arka menegakkan tubuhnya perlahan, jantungnya berdetak keras. Ia menatap Lara dengan tatapan yang sulit ia jelaskan—campuran rasa bersalah, keterkejutan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam… rasa takut kehilangan.

Apa yang sebenarnya kamu simpan selama ini, Lara? batinnya bergemuruh.

Untuk pertama kalinya, Arka menyadari satu hal dengan jelas dan menohok:

gadis yang selama ini ia jaga, ia jauhi, dan ia beri jarak—ternyata masih berdiri di tempat yang sama… menunggunya.

Dan kesadaran itu mengguncangnya lebih keras dari rapat mana pun hari ini.

Setelah Lara siuman dari tidurnya, Arka mengajaknya pulang.

Perjalanan menuju apartemen berlangsung seperti biasa. Kadang sunyi, kadang diisi obrolan ringan yang tidak terlalu penting—tentang jalanan, tentang cuaca, tentang hal-hal kecil yang aman untuk dibicarakan. Namun Arka tidak menyadari satu hal.

Sesekali, Lara meliriknya diam-diam.

Tatapan itu tidak lama, tidak terang-terangan. Hanya sekilas, cukup untuk menyimpan rasa hangat di dadanya sendiri. Pikirannya melayang pada foto lama yang masih tersimpan —foto masa kecil mereka. Senyum Arka remaja yang berdiri di sampingnya. Tangan yang dulu terasa besar dan aman. Fakta bahwa foto itu masih ada, masih utuh, menjadi bukti kecil namun berarti.

Berarti dia tidak benar-benar melupakanku…

Dan pikiran itu saja sudah cukup membuat hati Lara pelan-pelan menghangat.

Sesampainya di apartemen, mereka berpisah menuju kamar masing-masing.

Lara masuk ke kamarnya untuk bersiap mandi.Sementara Arka justru duduk di tepi ranjang, bahunya merosot, pandangannya kosong menatap lantai.

Kata-kata itu kembali terngiang.

“Paman Arka… jangan pergi…”

Arka mengusap wajahnya pelan, napasnya berat.

“Apa yang sudah kulakukan selama ini…”

Ucapannya nyaris tak terdengar, tenggelam di ruang kamar yang sunyi.

Ia dulu berpikir semuanya akan berjalan sesuai rencananya. Bahwa tidak apa-apa jika ia pergi. Tidak apa-apa jika ia menghilang. Lara kecil, pikirnya, tidak akan menunggu. Waktu akan berjalan, tumbuh dewasa akan menghapus segalanya. Lara akan melupakannya—seperti kenangan lain yang pudar dimakan usia.

Tapi kenyataan memukulnya dengan keras.

Lara tidak pergi dari tempat itu.

Ia tidak melupakan.

Ia hanya tumbuh… sambil tetap menunggu.

Dan kini Arka merasakan sesuatu yang belum pernah ia izinkan hadir sepenuhnya: rasa bersalah yang begitu dalam. Luka yang tanpa ia sadari telah ia tinggalkan, ternyata tidak pernah sembuh—hanya tertutup rapi di balik senyum dan kepolosan Lara.

Arka menunduk.

Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri…

apakah jarak yang ia ciptakan selama ini benar-benar demi kebaikan Lara—

atau hanya cara pengecutnya untuk lari dari perasaannya sendiri.

1
Sia Zara
Thank you🙏
Retno ataramel
vote berhasil mendarat untuk kakak author
anggita
lewat ng👍like aja. iklan☝
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!