NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Watak Asli Sherly

Adrian dengan gerakan kalap segera menyambar ponselnya. Dengan jemari yang gemetar hebat, ia menghapus pesan video menjijikkan itu hingga bersih dan langsung menekan tombol block pada nomor Sherly.

Ia melempar ponselnya ke sudut ranjang seolah benda itu adalah bara api yang baru saja membakar hidupnya.

"Aku nggak ada niat begitu, Co... demi Allah, nggak ada niat menyakiti dia lagi," isak Adrian pecah. Ia berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Aurora yang masih terasa dingin.

"Aku datang cuma mau minta maaf atas kejadian tadi sore. Aku mau bilang terima kasih karena dia sudah menyelamatkan kami di jalan. Tapi gundik murahan itu... dia mengirim pesan itu di waktu yang salah. Aku nggak tahu dia bakal senekat itu!"

Adrian terus meracau dalam tangisnya, matanya tidak lepas dari wajah Aurora yang pucat. Sorot matanya memancarkan ketakutan luar biasa—ketakutan akan kehilangan Aurora untuk selamanya.

Rico, yang sejatinya adalah seorang laki-laki meskipun memiliki sisi feminin yang kental, terdiam melihat kehancuran Adrian. Ia bisa membedakan mana akting dan mana ketulusan.

Kali ini, ia melihat penyesalan yang begitu murni dari sorot mata Adrian. Amarah Rico yang meluap-luap perlahan mereda, menyisakan rasa iba yang dingin.

Rico menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat dan menepuk-nepuk pundak Adrian dengan pelan.

"Dengarkan aku, Adrian," suara Rico kini melunak.

"Setelah kamu pergi, Aurora didiagnosa menderita BPD (Borderline Personality Disorder) akibat depresi dan trauma pengkhianatan yang terlalu berat.

Emosinya bisa meledak atau hancur dalam sekejap jika dipicu oleh memori tentang pengkhianatanmu. Itulah kenapa asmanya langsung kambuh separah ini. Tubuhnya bereaksi terhadap luka di jiwanya."

Rico menatap Adrian tajam.

"Demi kelancaran penelitian Ibumu dan demi keselamatan nyawa Aurora, aku cuma kasih kamu dua pilihan sekarang. Pilihannya mutlak."

Adrian mendongak, mendengarkan dengan saksama.

"Pertama, kamu tetap tinggal di vila ini bersama Sherly, tapi kalian berdua dilarang ikut serta atau menampakkan diri di setiap kegiatan penelitian Aurora. Atau kedua..." Rico menjeda sejenak.

"Kamu ikut kami ke lapangan, membantu penelitian Ibumu, tapi kamu harus meninggalkan Sherly di sini. Dia tidak boleh ikut sejengkal pun dalam kegiatan kita. Kehadiran perempuan itu adalah racun bagi kesehatan Aurora."

Rico melirik Aurora yang mulai bisa bernapas sedikit lebih teratur meski matanya masih terpejam erat.

"Pilih, Adrian. Kamu mau menjaga ego pacarmu itu, atau kamu mau menebus dosamu dengan memastikan Aurora tidak kolaps lagi di tengah hutan nanti?"

Adrian menelan ludah. Ia melirik ke arah pintu, membayangkan Sherly yang mungkin sedang menunggu panggilannya di paviliun ujung, lalu kembali menatap Aurora yang nyawanya hampir hilang karena ulah mereka.

Setelah memastikan napas Aurora kembali teratur dan rona merah mulai muncul di wajahnya, Rico dan Adrian melangkah keluar dengan suara sepelan mungkin.

Di selasar kayu yang lembap, Rico berhenti dan melipat tangannya di dada, menuntut jawaban final.

Adrian teringat kembali wajah Ibu Aurora di teras rumah tadi pagi. Ucapan lembut namun mengancam itu terngiang jelas:

"Jika terjadi sesuatu pada Aurora di sana karena kelalaianmu lagi... Ibu tidak akan pernah memaafkanmu." Kejadian asma tadi adalah peringatan terakhir dari semesta.

"Aku akan ikut penelitian," ucap Adrian dengan nada dingin dan mantap.

"Aku akan tinggalkan Sherly di sini. Aku tidak mau dia mendekat ke arah Aurora lagi."

Rico mengulas senyum tipis—senyum pertama yang tulus yang ia berikan pada Adrian sejak mereka bertemu. Ia menepuk pundak Adrian dua kali.

"Pilihan cerdas, Mas. Setidaknya kamu masih punya sedikit otak untuk menyelamatkan nyawa orang. Aku balik ke kamar dulu, siapkan mentalmu buat menghadapi 'ratu drama' itu."

Adrian berjalan menuju paviliun paling ujung dengan langkah berat. Saat pintu dibuka, ia disambut oleh aroma parfum menyengat dan sosok Sherly yang sudah mengenakan lingerie tipis di balik jubah mandinya, tampak sedang bersantai di atas tempat tidur sambil memainkan ponsel.

"Lama banget sih, Mas? Mana ponselmu? Kok nomormu tiba-tiba nggak bisa dihubungi?" tanya Sherly dengan nada manja yang dibuat-buat kesal.

Adrian tidak duduk. Ia berdiri di dekat pintu dengan tatapan datar.

"Sherly, besok aku akan berangkat ke lapangan untuk penelitian Ibu. Dan kamu... kamu tetap di sini. Kamu tidak diizinkan ikut."

Mata Sherly membelalak. Ia langsung bangkit berdiri.

"Apa?! Mas, kamu bercanda? Kamu mau ninggalin aku sendirian di hutan begini sementara kamu asyik-asyikan sama mantanmu itu di lapangan? Nggak! Aku nggak setuju!"

"Ini bukan permintaan, Sherly. Ini keputusan. Ayah dan Ibu juga sudah setuju kamu nggak usah ikut daripada bikin keributan terus," bohong Adrian sedikit demi menekan ego Sherly.

Sherly mondar-mandir dengan wajah merah padam. Ia tahu ia sudah terpojok setelah insiden tamparan tadi. Namun, otaknya yang licik segera bekerja.

Ia mendekati Adrian, mengalungkan tangannya di leher Adrian, dan membisikkan sesuatu dengan suara yang sangat rendah namun menjijikkan.

"Oke... aku setuju nggak ikut. Aku bakal diam di sini, pura-pura sakit atau apalah terserah kamu," bisik Sherly sambil mengelus dada Adrian dengan gerakan provokatif.

"Tapi ada syaratnya. Aku nggak mau lepasin kamu pergi ke lapangan dengan 'senjata' yang penuh. Aku mau jatah kenikmatan malam ini juga. Puaskan aku dengan goyangan rudalmu itu di dalam lubangku sampai aku lemas... kalau kamu kasih itu sekarang, aku janji besok nggak akan buat ulah."

Adrian merasa perutnya mual. Syarat "di luar nalar" itu terasa begitu kontras dengan kondisi Aurora yang baru saja berjuang antara hidup dan mati beberapa menit lalu. Di saat Aurora butuh oksigen, wanita di depannya ini justru hanya memikirkan kepuasan syahwatnya.

Adrian menatap tangan Sherly yang merayap di tubuhnya. Ia teringat video tak senonoh yang tadi dilihat Aurora. Rasa jijik itu kini mencapai puncaknya.

Adrian menghela napas panjang, memejamkan mata dengan rapat.

Pikirannya buntu.

Demi memastikan besok pagi tidak ada drama melengking yang bisa memicu serangan asma Aurora lagi, ia memutuskan untuk mengalah. Ia membiarkan Sherly menariknya ke atas ranjang, membiarkan wanita itu melucuti pakaiannya dengan nafsu yang menggebu-gebu.

Sherly tersenyum penuh kemenangan. Ia segera menanggalkan jubah mandinya, memperlihatkan tubuhnya yang sudah siap tempur. Ia merangkak di atas tubuh Adrian, memperlihatkan "liang" pribadinya yang sudah sangat banjir oleh cairan nafsu yang meluap.

Namun, saat Sherly mencoba memandu "rudal" Adrian untuk masuk, ia terhenti.

Senjata kejantanan Adrian benar-benar mati total. Lembek, layu, dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

"Mas... ayolah, bangunkan dia," rengek Sherly, mulai tidak sabar.

Adrian hanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Di dalam benaknya, bukan bayangan tubuh Sherly yang ada, melainkan wajah pucat Aurora saat dipasangkan masker oksigen tadi.

Rasa bersalah yang teramat dalam telah membunuh seluruh hasrat seksualnya. Hatinya hancur, dan secara biologis, tubuhnya menolak untuk memberikan kenikmatan pada wanita yang baru saja hampir mencabut nyawa orang yang ia cintai.

Sherly mulai menggila. Ia tidak terima harga dirinya jatuh di depan laki-lakinya sendiri. Ia mulai menggunakan segala cara yang ia tahu.

Ia menjilat, mencium, hingga melumat batang rudal Adrian menggunakan mulutnya dengan teknik yang paling agresif yang ia miliki. Suara decapan basah memenuhi kamar itu, namun tetap saja, tidak ada reaksi sedikit pun.

"Mas! Kamu kenapa sih?! Masa nggak bangun-bangun? Ini aku, Sherly! Lihat lubangku sudah sebasah ini!" teriak Sherly frustrasi, wajahnya memerah karena marah dan nafsu yang tidak tersalurkan.

Adrian membuang muka, merasa sangat jijik pada situasi ini dan pada dirinya sendiri.

Tubuhnya seolah memiliki mekanisme pertahanan diri; nuraninya secara mutlak melarangnya untuk "bersenang-senang" di atas penderitaan Aurora.

"Sudahlah, Sher. Nggak bisa," ucap Adrian dingin sambil mendorong pelan bahu Sherly.

"Aku capek. Pikiranku nggak di sini."

Sherly terduduk di atas paha Adrian dengan napas memburu, menatap tajam ke arah kejantanan Adrian yang tetap tertidur lelap. Ia merasa sangat terhina. Bagi seorang wanita seperti Sherly, kegagalan ini adalah tamparan keras bagi pesona seksualitasnya.

"Ini gara-gara dia, kan?! Gara-gara si Aurora itu?!" jerit Sherly tertahan, matanya berkilat penuh kebencian.

Adrian keluar dari paviliun dengan langkah gontai dan wajah yang sangat kuyu. Ia tidak menyadari bahwa Bang Ucok sedang berdiri di kegelapan selasar, mengisap rokok kreteknya sambil menatap aliran sungai.

Bang Ucok sempat menangkap percakapan panas dan suara frustrasi Sherly dari balik jendela yang sedikit terbuka. Sebagai pria yang sudah makan asam garam kehidupan jalanan, Bang Ucok paham betul apa yang baru saja terjadi: "senjata" Adrian mogok total.

Namun, Bang Ucok hanya diam. Ia membuang puntung rokoknya dan berpura-pura tidak melihat Adrian yang berjalan cepat kembali ke arah gedung utama dengan kepala tertunduk malu.

Pagi buta, kabut masih menyelimuti Bukit Lawang saat rombongan penelitian bersiap. Aurora sudah tampak jauh lebih baik meski wajahnya masih sedikit pucat. Ia mengenakan pakaian lapangan yang praktis namun tetap terlihat sangat berkelas. Sesuai kesepakatan, Sherly ditinggalkan di vila dengan alasan "kurang enak badan".

"Bang Ucok, karena abang sudah jadwalnya istirahat setelah menyetir seharian, abang tetap di vila saja ya," ujar Aurora sambil mengecek perlengkapan.

"Tolong pantau Sherly, barangkali dia butuh bantuan medis atau makanan."

Bang Ucok mengangguk mantap dengan senyum penuh arti. "Siap, Kak Aurora. Serahkan sama saya. Saya jaga 'aman' di sini."

Begitu Hiace yang dikemudikan Bang Rian bergerak menjauh membawa rombongan menuju lokasi penelitian, suasana vila menjadi sangat sunyi. Bang Ucok tidak membuang waktu. Ia tahu ada seekor singa betina yang sedang kelaparan dan frustrasi di paviliun ujung.

Bang Ucok mengetuk pintu kamar Sherly dengan gaya yang sangat santai, jauh dari kesan formal seorang supir. Sherly membuka pintu dengan wajah cemberut, hanya mengenakan daster tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.

"Mau apa? Mas Adrian sudah pergi, kan?" tanya Sherly ketus.

Bang Ucok menyandarkan tubuh kekarnya di bingkai pintu, menatap Sherly dari bawah ke atas dengan tatapan "buaya" yang sangat lihai.

"Saya tahu Mas Adrian sudah pergi. Saya juga tahu... ada yang semalam tidurnya nggak nyenyak karena 'rudalnya' macet, kan?"

Sherly tersentak, wajahnya memerah. "Maksud kamu apa?!"

Bang Ucok terkekeh rendah, suara beratnya terdengar menggoda bagi wanita haus validasi seperti Sherly.

"Laki-laki kota itu banyak pikiran, Neng. Lemah. Beda sama orang lapangan seperti saya. Saya cuma kasihan lihat perempuan secantik Neng Sherly harus merana menahan haus di tengah hutan begini."

Sherly terdiam. Ia menatap otot lengan Bang Ucok yang kecokelatan dan urat-urat menonjol di tangannya—pemandangan yang sangat kontras dengan Adrian yang klimis.

Nafsu Sherly yang semalam sudah sampai di ubun-ubun namun terhenti paksa, kini kembali bergejolak melihat cara Bang Ucok menatapnya.

"Neng butuh hiburan? Saya punya 'cadangan' yang jauh lebih kuat dan lebih tahan lama dari rudal yang mogok itu," bisik Bang Ucok sambil melangkah masuk tanpa diundang, lalu menutup pintu kamar dengan tendangan tumitnya.

Sherly, yang memang dasarnya wanita murahan dan sedang terbakar nafsu yang tak tersalurkan, justru menyambut tantangan itu. Ia melepaskan kancing teratas dasternya sambil tersenyum menantang.

"Buktikan kalau kamu memang lebih baik dari supir biasa."

Tanpa banyak bicara lagi, Bang Ucok langsung menerjang. Hari itu, di tengah kesunyian penginapan milik keluarga Aurora, Sherly justru menenggelamkan dirinya dalam kenikmatan bersama sang supir, mengkhianati Adrian yang sedang berjuang menebus dosa di tengah hutan.

Di dalam paviliun yang terisolasi itu, suasana mendadak berubah menjadi medan pertempuran nafsu yang panas. Sherly, yang sebelumnya merasa terhina oleh "mogoknya" Adrian, kini seolah menemukan pelampiasan yang jauh di luar ekspektasinya.

Bang Ucok, dengan pengalaman hidupnya yang liar, tidak memberikan ruang bagi Sherly untuk sekadar bernapas. Begitu daster tipis itu terlepas dari tubuh Sherly, Bang Ucok langsung memamerkan kejantanannya yang selama ini tersembunyi di balik celah celana kainnya yang kusam.

Sherly membelalakkan mata saat melihat "rudal" Bang Ucok. Ukurannya jauh melampaui milik Adrian; lebih panjang, lebih besar, dan terlihat sangat kokoh dengan urat-urat yang menonjol, mencerminkan kekuatan fisik pria lapangan.

Ada rasa ngeri sekaligus gairah yang meledak di dada Sherly saat melihat ukuran yang tidak masuk akal itu.

"Gimana, Neng? Masih mau merana?" bisik Bang Ucok dengan suara serak yang sangat maskulin.

Tanpa menunggu jawaban, Bang Ucok langsung menghujamkan serangannya.

Begitu rudal besar itu memasuki liang Sherly yang sudah sangat banjir, Sherly sontak memekik kencang.

Ia merasa tubuhnya seolah terbelah, namun rasa sesak yang memenuhi liangnya itu justru memberikan kenikmatan tiada tara yang tidak pernah ia dapatkan dari Adrian yang selalu bermain "halus".

"Aaahh! Bang... pelan... ahh, besar banget!" rintih Sherly sambil mencengkeram sprei ranjang hingga kusut.

Bang Ucok tidak mempedulikan rengekan itu. Ia justru semakin memacu goyangannya dengan ritme yang konstan dan bertenaga.

Setiap hentakan Bang Ucok membuat ranjang jati itu berderit ritmis, seolah ikut merayakan pengkhianatan yang terjadi di atasnya.

Sherly yang semula kewalahan perlahan-lahan mulai menyesuaikan diri. Ia justru semakin agresif, melilitkan kakinya di pinggang kokoh Bang Ucok, menuntut lebih banyak lagi hunjaman yang memenuhi setiap sudut rahimnya.

Desahan-desahan liar yang tadinya hanya bisikan kini berubah menjadi erangan kepuasan yang bersatu di dalam ruangan kedap suara tersebut.

"Mas Adrian nggak ada apa-apanya... ahhh! Bang Ucok... terus, Bang!" racau Sherly dalam puncak nafsunya, benar-benar melupakan statusnya sebagai calon istri Adrian.

Bang Ucok hanya tersenyum licik dalam kegelapan kamar.

Baginya, ini hanyalah "bonus" perjalanan, sementara bagi Sherly, ini adalah bukti betapa murahannya ia saat haus akan validasi seksual.

Keringat mereka bercampur, membasahi ranjang penginapan mewah milik keluarga Aurora yang kini menjadi saksi bisu betapa bejatnya kelakuan kekasih Adrian itu.

Permainan panas di paviliun itu semakin memuncak seiring dengan matahari yang kian tinggi di luar sana. Bang Ucok, yang memiliki stamina orang lapangan, benar-benar mengeksploitasi setiap jengkal tubuh Sherly yang haus akan sentuhan kasar.

Sherly benar-benar dibuat bertekuk lutut; ia yang biasanya berlagak suci dan jago berdakwah, kini justru berubah menjadi sosok yang liar, mengeluarkan kata-kata kotor yang memacu adrenalin Bang Ucok.

Setiap tumbukan rudal besar Bang Ucok menghujam dalam ke pangkal rahim Sherly, membuat wanita itu berkali-kali memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri hingga nyaris berdarah.

Ia merasa seolah seluruh rongga tubuhnya dipenuhi oleh ukuran yang jauh melebihi kapasitas yang biasa ia terima dari Adrian.

"A-ampun, Bang... ahh! Jangan berhenti... isi aku, Bang!" rintih Sherly dengan napas yang sudah putus-putus.

Bang Ucok tahu saatnya sudah tiba. Ia mempercepat ritme pompannya, keringatnya menetes membasahi punggung Sherly, menciptakan aroma maskulin yang semakin membuat Sherly menggila.

Dengan satu sentakan yang sangat kuat dan dalam, Bang Ucok mengunci tubuh Sherly di bawahnya.

Detik itu juga, Bang Ucok melepaskan seluruh bebannya.

Cairan puncak yang panas dan kental dalam jumlah yang sangat banyak menyemprot dengan deras, membanjiri bagian terdalam tubuh Sherly.

Sensasi hangat yang memenuhi rahimnya membuat Sherly memekik panjang, tubuhnya bergetar hebat dalam orgasme yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Mereka berdua terkapar di atas ranjang yang sudah sangat berantakan. Sherly terengah-engah, merasakan denyutan cairan Bang Ucok yang masih tersisa di dalam dirinya.

Tidak ada rasa bersalah di wajahnya; yang ada hanyalah kepuasan yang terpancar dari matanya yang sayu.

"Hebat juga kamu, Bang..." bisik Sherly sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Bang Ucok yang masih naik-turun.

Bang Ucok hanya terkekeh pelan, mengusap rambut Sherly dengan tatapan yang sulit diartikan—setengah puas, setengah meremehkan.

"Itu baru pemanasan, Neng. Sekarang, sebaiknya Neng mandi dan bersihkan diri. Jangan sampai ada 'jejak' yang tertinggal kalau rombongan itu pulang nanti."

Bang Ucok segera beranjak, mengenakan pakaiannya dengan cepat dan bersiap keluar dari kamar seolah tidak terjadi apa-apa, meninggalkan Sherly yang masih termangu menikmati sisa-sisa pengkhianatannya di atas ranjang milik keluarga mantan kekasih Adrian.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!