Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Menggeledah rumah Pak Edward
"Sepertinya iya. Tapi masih sebatas menganalisis. Belum ada tindakan. Sebaiknya kita ke rumah Pak Edward malam iini. Aku jemput kamu."
"Hah, gila. Bagaimana kalau ketahuan?"Carol ragu dengan rencana Zach.
"Justru kalau malam hari lebih aman. Bersiaplah aku akan jemput kamu." Jack memutus panggilan. Carol menarik nafas panjang. Takut jika kedua orang tuanya mendadak masuk ke kamarnya, saat dia pergi.
Carol mondar-mandir mencari ide supaya dia tidak ketahuan sedang keluar rumah. Tiba-tiba sebersit ide muncul di otaknya. Bergegas Carol menyusun guling di tempat tidur. Menyelimuti, seolah dia sedang tidur disana.
Carol mengambil jaket hoody hitam dari lemari. Meraih sepatu ketsnya dari atas rak. Mengenakannya buru-buru. Tidak lupa juga dengan masker. Seraya tak henti memandang ke arah pintu. Takut ibunya mendadak muncul.
Terdengar ketukan halus di jendela.
Carol melihat bayangan Zach. Dibukanya pengait jendela pelan.
"Kamu sudah siap?" bisik Zach memberi isyarat. Carol mengangguk. Saat Carol mau keluar lewat jendela, tanpa sengaja kakinya menyenggol gelas yang dia letakkan tadi dekat kaki tempat tidur. Terdengar suara gaduh dalam kamar.
Zach menahan nafas di luar. Begitu juga Carol yang mendadak pucat, takut orang tuanya mendengar suara ribut di dalam kamarnya. Carol berlari ke sudut pintu. Bersembunyi. Lima menit berlalu tidak ada yang muncul ke kamar Carol.
Carol menarik nafas lega. Kemudian mendekati jendela kamarnya. Lagi-lagi Carol tertahan. Manakala terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.
"Carol, kamu baik-baik saja Nak? Suara berisik apa tadi di kamarmu?"
"Carol tidak sengaja menjatuhkan gelas, Ma. Carol tidak apa-apa." teriak Carol dari dalam kamar.
"Sudahlah Ma. Biarkan dia beristirahat. Cuma perkara gelas jatuh." terdengar suara Pak Brian, menyela. Lalau langkah ke duanya menjauhi kamar Carol. Carol menghembuskan nafas lega.
Setelah menyingkirkan pecahan gelas, Carol dengan hati-hati menyelinap ke luar kamarnya. Zach sudah menunggunya dengan cemas.
"Hampir saja ketahuan." bisik Carol setelah di luar.
"Kamu ceroboh sih. Lain kali harus lebih hati-hati." bisik Zach. Merapatkan topi jaket hoody di kepala Carol. Menarik simpulnya. Juga membetulkan letak maskernya yang miring.
"Nah, ini baru pas." Carol tersentak mendengar suara Zach. Dia asyik memperhatikan wajah Zach yang membetulkan jaketnya. Jarak antara mereka begitu dekat. Hembusan nafas Zach begitu hangat menyapu wajahnya.
Ada debaran halus menjalar di jantungnya. Zach yang mengenakan jaket yang sama seperti dirinya ternyata tampan juga. Baru kali ini Carol menyadarinya.
"Hallo, kamu baik-baik saja?" tangan Zach mengibas-ibas di depan wajah Carol.
"Eh, iya. Aku baik-baik saja." sahut Carol gugup. Wajahnya memerah malu. Untung saja Zach tidak melihatnya karena gelap.
"Ayo kita bergegas pergi. Jangan mencurigakan orang lain."
"Kita jalan kaki, Zach?!" seru Carol karena tidak melihat motor Zach.
"Aku parkir di ujung gang. Biar gak menarik perhatian tetangga. Ayo, kita harus bergegas." Zach menarik lengan Carol. Mereka mengambil jalan pintas menuju rumah Pak Edward.
"Kok lewat sini, Zach." seru Carol. Karena menurutnya rumah Pak Edward berlawanan arah."
"Kita memutar dikit. Lewat jalan pintas supaya cepat sampai. Kamu tenang saja. Soalnya ada patroli di jalan."
"Patroli? Patroli apaan. Sejak kapan Zach?" Carol keheranan.
"Mulai malam ini diberlakukan jam malam. Aku juga baru tahu." Zach berusaha fokus mengendarai motornya. Menghindari lobang dan bebatuan. Carol tidak bertanya apa-apa lagi. Tubuhnya berguncang karena jalan yang buruk.
Sepuluh menit mereka tiba di halaman belakang rumah Pak Edward. Zach sudah hapal letaknya karena dia sering ke rumah Pak Edward bersama Mario. Membantu beliau menyiangi rumput ilalang. Kini rumput ilalang itu tumbuh semakin liar. Sudah sebatas pinggangnya.
Mungkin karena istri beliau sedang di rawat di rumah sakit, Pak Edward
mengabaikannya.
"Ayo, Carol. Kita menyelinap lewat pintu belakang. Aku tau letak kunci cadangan." Zach menyalakan senter yang disimpannya di kantong jaket.
Lampu senter menyorot ruang yang sepertinya dijadikan gudang. Zach belok kanan. Ke arah pintu penghubung antara gudang dan dapur. Zach membuka pintu yang tidak terkunci.
"Apa rumah ini kosong, Zach?" bisik Carol lirih.
"Harusnya kosong. Pak Edward kan gak punya anak. Istrinya di rumah sakit. Asisten rumah tangganya gak nginap disini." langkah Zach terhenti. Dia menyorot semua ruangan yang gelap.
"Sebenarnya apa yang kita cari? Dan darimana memulainya?" guman Zach bingung.
"Kita ke kamar beliau dulu atau ruang kerjanya. Siapa tau ada catatan penting."
"Hem, ide yang bagus. Masalahnya yang mana kamar Pak Edward juga ruang kerjanya. Banyak sekali pintu ruangan disini." kembali Zach mengarahkan senternya ke arah pintu yang jumlahnya ada empat.
"Biasanya yang depan kamar utama. Yang kedua kamar tamu atau anak. Yang lainnya kamar pembantu atau ruang kerja." Carol menebak.
"Ok, kita tidak akan tau kalau tidak membukanya satu persatu." Zach menuju kamar depan. Disana cuma ada lemari dan tempat tidur.
"Ini, kamar tamu." ucap Carol. Lalu mereka bergerak ke Kamar uang kedua.
"Ini kamar utama Zach! Ayo kita cari apa saja."
"Kamar ini terlalu rapi Carol. Abaikan saja." Zach keluar dan menuju ruangan ke tiga. Zach memutar handle pintu. "Terkunci!"
"Apa ini ruang kerja beliau?" Zach merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
"Kita tidak akan tau kalau tidak membukanya. Aku akan cari sesuatu di gudang unyuk membukanya." Zach bergegas ke gudang. Dan muncul kembali, ditangan ada sebuah linggis. Setelah berusaha keras, akhirnya pintu itu terbuka.
Di dalam kamar tersusun rapi beberapa rak buku. Sebuah meja dengan kursinya. Juga ranjang ukuran kecil. Zach mengacak isi laci tapi tidak menemukan apa-apa.
"Jangan-jangan semua berkas beliau sudah disita. Kita terlambat, Zach."
"Ada satu ruang kamar lagi. Ayo!" Zach kembali membuka paksa pintu kamar. Saat pintu terbuka, aroma tidak sedap langsung menyerbu penciuman Zach dan Carol. Suasana dalam kamar gelap gulita.
Zach mencari saklar lampu dan menekannya. Ruang gelap berubah benderang. Dan apa yang dilihat keduanya, membuatnya shock. Kedua pupil mata Carol dan Zach membulat sempurna. Melihat isi kamar yang membuat perut mereka mual.
Carol keluar lebih dulu. Berlari ke arah kamar mandi dan muntah disana. Diikuti Zach yang cuma mual. Setelah lega telah mengeluarkan isi perutnya, Carol keluar dari kamar mandi. Tubuhnya gemetaran.
"Apa itu tadi Zach? Yang berada di kamar itu?"
"Kita harus pergi secepatnya, Carol. Ayo!"
"Aku mau minum dulu. Tenggorokanku terasa kering." Carol membuka kulkas dan melihat botol mineral.
"Jangan sembarang minum Carol. Kita beli di warung saja."
Tapi terlambat! Carol telah meneguk cairan yang dikiranya air mineral. ***