Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang
Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.
Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sampai di Kota Yanjing
Suasana sunyi menyelimuti medan pertempuran yang baru saja usai. Cahaya bulan terasa redup di tengah pemandangan mayat-mayat perampok yang tergeletak berserakan. Para pengawal yang tersisa berdiri kaku, sebagian masih gemetar, sebagian lain menatap Gao Rui dengan campuran rasa takut dan hormat yang sulit dijelaskan.
Tuan muda Keluarga Ao akhirnya kembali mendekat. Pria muda itu masih terlihat pucat, namun langkahnya kini jauh lebih mantap dibanding beberapa saat lalu. Ia berhenti di hadapan Tetua Peng Bei, lalu menangkupkan tangan dengan hormat yang dalam.
“Senior Bei,” ucapnya dengan suara tulus, “jika bukan karena bantuan Anda, nyawaku hari ini sudah pasti melayang. Atas nama Keluarga Ao, aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.”
Ia kemudian membungkuk dalam-dalam, sikap yang jarang dilakukan seorang tuan muda dari keluarga bangsawan besar. Para pengawal di belakangnya ikut menangkupkan tangan, mengikuti sikap tuan mereka.
Pandangan Ao Lie lalu bergeser ke arah Gao Rui. Ia menatap bocah itu beberapa detik lebih lama, jelas berusaha memahami sosok di hadapannya. Wajah Gao Rui masih sama, tenang, datar, dan terlalu dewasa untuk usianya.
“Junior ini begitu hebat…” Ao Lie berkata ragu, lalu tersenyum sopan. “Apakah kau murid Tetua Bei?”
Tetua Peng Bei melirik Gao Rui sekilas, namun tidak ada reaksi apa pun dari Gao Rui. Namun itu justru membuat Ao Lie semakin yakin bahwa dugaannya tidak meleset.
Dengan sikap yang semakin ramah, Ao Lie melanjutkan,
“Senior Bei, hari sudah mulai gelap. Jika berkenan, izinkan kami menjamumu untuk bermalam dan makan malam bersama rombongan kami. Terus terang saja…” Ia menarik napas pelan. “Aku masih khawatir akan adanya serangan susulan dari pihak lain.”
Kekhawatiran itu jelas bukan dibuat-buat. Meski gerombolan perampok telah dimusnahkan, siapa pun bisa menebak bahwa mereka bukan satu-satunya bahaya di jalur ini.
Ao Lie sendiri tentu sudah pernah mendengar nama besar Tetua Peng Bei. Di Kekaisaran Zhou, Penguasa Kartu Cahaya dari Sekte Bukit Bintang bukanlah sosok yang asing. Kesempatan untuk menjalin hubungan baik dengan pendekar sekelas itu adalah sesuatu yang tidak akan ia lepaskan begitu saja.
Tetua Peng Bei tidak langsung menjawab. Ia mengangkat kepala, memandang langit yang perlahan berubah warna. Sisa-sisa cahaya senja telah lenyap, digantikan hamparan gelap yang semakin pekat. Bintang pertama mulai tampak samar di kejauhan.
“Malam memang telah tiba,” gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia lalu menoleh kembali ke Ao Lie. Setelah beberapa detik hening, ia mengangguk perlahan.
“Baiklah. Kami akan ikut bermalam.”
Wajah Ao Lie langsung berseri. Ia kembali menangkupkan tangan dengan penuh rasa terima kasih.
“Terima kasih, Senior Bei. Kehadiran Anda benar-benar membuatku jauh lebih tenang.”
Perkemahan segera dirapikan. Mayat-mayat perampok disingkirkan sejauh mungkin dari area istirahat, dan pengawal ditambah kewaspadaannya. Api unggun dinyalakan, dan suasana perlahan berubah dari ketegangan mematikan menjadi kewaspadaan yang terkendali.
Saat makan malam disajikan, Tetua Peng Bei dan Gao Rui duduk bersama rombongan Keluarga Ao. Di tengah percakapan ringan yang sengaja dibuat Ao Lie untuk mencairkan suasana, barulah terungkap bahwa tujuan mereka ternyata sama.
“Kota Yanjing?” Tetua Peng Bei mengangkat alisnya sedikit saat Ao Lie menyebutkan tujuan perjalanan mereka.
“Benar,” jawab Ao Lie cepat. “Keluarga kami dipanggil untuk menghadiri sebuah urusan penting di sana.”
Tetua Peng Bei tersenyum tipis.
“Kebetulan. Kami juga menuju ke Yanjing.”
Mata Ao Lie langsung berbinar. Seolah mendapatkan keberanian tambahan, ia meletakkan sumpitnya dan menatap Tetua Peng Bei dengan ekspresi sungguh-sungguh.
“Kalau begitu… Senior Bei,” katanya hati-hati, namun jelas terdengar ada permohonan di dalamnya, “bolehkah dirimu berkenan ikut bersama rombongan kami hingga tiba di Kota Yanjing?”
Ia mengepalkan tangannya di bawah meja.
“Terus terang saja, setelah kejadian tadi, aku benar-benar tidak tenang. Aku khawatir akan ada serangan susulan di perjalanan.”
Sebelum Tetua Peng Bei sempat menjawab, Ao Lie berdiri dan berjalan ke salah satu peti kayu kecil miliknya. Ia membukanya, lalu mengangkat sebuah kotak kayu yang lebih kecil, namun tampak berat. Saat kotak itu dibuka di atas meja, kilau emas langsung memantul dari cahaya api unggun.
Di dalamnya, tersusun rapi sekitar seratus koin emas.
“Senior Bei,” kata Ao Lie dengan suara tulus, “ini hanyalah sedikit tanda terima kasih dariku. Hanya ini yang bisa aku berikan atas jasamu yang telah menyelamatkan nyawaku.”
Ia menundukkan kepala sedikit.
“Mohon maaf jika jumlahnya tidak seberapa. Saat ini aku memang tidak membawa banyak harta.”
Tatapan Tetua Peng Bei jatuh pada koin-koin emas itu, lalu kembali ke wajah Ao Lie. Ia bisa merasakan ketulusan di balik tindakan pemuda itu. Bukan keserakahan, bukan pamer kekayaan, melainkan rasa takut yang jujur dan keinginan untuk bertahan hidup.
Setelah hening beberapa detik, Tetua Peng Bei menghela napas pelan.
“Aku akan ikut ke Kota Yanjing bersamamu,” ucapnya akhirnya.
Wajah Ao Lie langsung dipenuhi kelegaan dan kegembiraan. Namun sebelum ia sempat mengucapkan terima kasih lagi, Tetua Peng Bei melanjutkan,
“Tapi koin emas itu… simpanlah. Aku tidak membutuhkannya.”
Ao Lie tertegun.
“Senior, ini…”
Ia ragu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke Gao Rui.
“Jika Senior Bei tidak mau menerimanya… mungkin murid Senior yang bisa menerimanya?”
Begitu kata-kata itu keluar, Tetua Peng Bei justru tertawa. Tawa yang ringan, namun penuh makna.
“Rui’er?” katanya sambil melirik Gao Rui. “Dia jauh lebih kaya dariku. Jadi tidak usah repot-repot.”
Ucapan itu membuat Ao Lie benar-benar kikuk. Senyumnya kaku, tangannya yang masih memegang kotak kayu sedikit gemetar. Ia tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Seorang bocah… lebih kaya dari seorang tetua Sekte Bukit Bintang?
Gao Rui sendiri hanya menatap koin-koin emas itu sekilas, lalu memalingkan wajahnya tanpa minat sedikit pun.
Suasana makan menjadi hening sesaat, sebelum akhirnya Ao Lie tertawa kecil untuk menutupi kecanggungannya. Namun di dalam hatinya, rasa hormatnya kepada dua orang di hadapannya justru semakin dalam dan sedikit rasa gentar pun ikut tumbuh.
Malam itu akhirnya mereka benar-benar bermalam bersama. Api unggun dijaga tetap menyala hingga larut, dengan pengawal Keluarga Ao bergantian berjaga di sekeliling perkemahan. Tidak ada lagi tawa atau percakapan panjang seperti saat makan malam. Setelah kejadian berdarah di sore hari, semua orang memilih diam dan waspada. Bahkan suara serangga malam terdengar lebih jelas di telinga.
Tetua Peng Bei duduk bersila di dalam tenda sederhana yang disiapkan khusus untuknya. Matanya terpejam, napasnya tenang, seolah dunia luar tak lagi menyentuhnya. Gao Rui berada tidak jauh darinya, bersandar di sudut tenda dengan mata setengah tertutup. Bagi bocah itu, medan penuh mayat beberapa jam lalu sama sekali tidak mengganggu tidurnya.
Beberapa kali, Ao Lie melirik ke arah tenda mereka dari kejauhan. Setiap kali melihat siluet dua sosok itu, rasa gelisah di dadanya sedikit mereda. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan wilayah keluarga, ia bisa tidur dengan perasaan relatif aman.
Malam itu berlalu tanpa gangguan. Tidak ada serangan susulan. Tidak ada bayangan mencurigakan di balik pepohonan. Seolah-olah kemunculan Tetua Peng Bei telah menjadi penangkal alami bagi bahaya di jalur tersebut.
...*******...
Keesokan paginya, rombongan segera bersiap melanjutkan perjalanan. Kabut pagi masih menggantung rendah ketika para pengawal mulai membongkar tenda dan menyiapkan kereta kuda. Ao Lie bangun lebih awal dari biasanya. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding hari sebelumnya, meski sisa kelelahan masih jelas tampak di matanya.
Setelah semuanya selesai sarapan, Ao Lie mendekati Tetua Peng Bei dan Gao Rui yang sedang berdiri di pinggir jalan tanah, memandang ke arah matahari yang baru muncul dari balik perbukitan.
“Senior Bei,” kata Ao Lie dengan sikap hormat, “kereta kuda sudah siap. Perjalanan ke Kota Yanjing masih cukup jauh. Aku mohon… berkenanlah menggunakan kereta.”
Tetua Peng Bei menoleh, lalu menggeleng pelan tanpa ragu.
“Tidak perlu. Kami terbiasa berjalan.”
Gao Rui juga langsung berkata singkat,
“Aku juga tidak butuh.”
Jawaban yang terlalu cepat itu membuat Ao Lie tersenyum pahit. Ia sudah menduganya, namun tetap merasa tidak pantas membiarkan dua orang yang telah menyelamatkan nyawanya berjalan kaki sementara ia sendiri duduk nyaman di kereta.
“Senior, mohon jangan menolak,” katanya lagi, kali ini nadanya lebih sungguh-sungguh. “Ini bukan soal kenyamanan semata. Dengan Senior Bei berada di kereta, pengawal-pengawalku juga akan lebih tenang.”
Tetua Peng Bei terdiam sejenak. Ia menatap Ao Lie, lalu melirik Gao Rui. Bocah itu mengangkat bahu kecil, jelas tidak terlalu peduli.
“Rui’er,” kata Tetua Peng Bei datar, “bagaimana menurutmu?”
Gao Rui menoleh ke arah kereta kuda yang besar dan kokoh itu, lalu kembali menatap jalan panjang di depan mereka.
“Kalau dipaksa terus, nanti jadi merepotkan,” jawabnya singkat.
Ao Lie langsung menangkap maksud itu. Ia tersenyum lebar, hampir seperti anak kecil yang berhasil membujuk orang dewasa.
“Terima kasih, terima kasih!” katanya cepat. “Aku janji, ini hanya soal tumpangan. Tidak ada maksud lain.”
Akhirnya, Tetua Peng Bei mengangguk kecil.
“Baiklah.”
Dengan begitu, Gao Rui dan Tetua Peng Bei dipersilakan naik ke dalam salah satu kereta kuda terbaik milik Keluarga Ao. Kereta itu berlapis kayu hitam mengilap, dengan bantalan empuk dan tirai tebal yang mampu meredam debu dan panas.
Saat roda kereta mulai bergerak, perjalanan mereka pun dimulai. Jalan menuju Kota Yanjing terbentang panjang dan relatif ramai. Beberapa pedagang kecil dan rombongan lain sesekali berpapasan dengan mereka, namun tidak ada satu pun yang berani mendekat terlalu dekat ketika melihat bendera Keluarga Ao di kereta kuda itu.
Di dalam kereta, suasana hening. Tetua Peng Bei memejamkan mata, seolah kembali bermeditasi. Gao Rui duduk diam, memandangi tirai yang bergoyang pelan seiring laju kereta. Dari celah kecil, ia mengamati perubahan pemandangan, ladang, bukit rendah, lalu perlahan mulai terlihat bangunan-bangunan kecil di kejauhan.
Beberapa jam berlalu tanpa terasa. Akhirnya, suara langkah kaki dan roda kereta melambat. Dari luar terdengar seruan para pengawal yang mulai berbaris rapi.
“Gerbang Kota Yanjing di depan!”
Gao Rui membuka tirai sedikit. Di hadapan mereka, berdiri tembok kota yang menjulang tinggi, kokoh, dengan batu-batu besar yang telah menghitam oleh usia. Di atas gerbang utama, bendera kekaisaran berkibar pelan tertiup angin.
Arus manusia dan kereta keluar-masuk kota tampak jauh lebih padat dibanding wilayah mana pun yang mereka lewati sebelumnya. Aura sebuah kota terasa kental, hiruk pikuk, kekuasaan, dan bahaya yang tersembunyi di balik kemegahan.
Tetua Peng Bei membuka matanya dan memandang ke depan.
“Yanjing…” gumamnya pelan.
Gao Rui menatap gerbang itu tanpa ekspresi, namun di dalam matanya, cahaya dingin berkilat sesaat.