NovelToon NovelToon
Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Duda Menyebalkan Itu Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Pagi ini Vania membuka lembaran baru tanpa sang kekasih Deo, karena pengkhianatan dan perselingkuhan mantan kekasihnya itu. Vania berusaha untuk tegar menghadapi masalah yang dua hadapi sekarang akibat fitnahan dari mantan kekasihnya itu. Selama perjalan menuju Managementnya dia melamun memikirkan nasib nya, tak lama taksi yang dia tumpangi bersama ibu dan kedua asistennya sampai di gedung management.

Vania menarik napas dalam-dalam saat melangkah keluar dari taksi, matanya terpejam sejenak mencoba mengusir bayang-bayang Deo yang terus menghantuinya. Langit pagi di atas gedung management tampak mendung, seolah turut berempati dengan kekacauan di hatinya. Ibunya menyentuh bahunya lembut, memberikan dukungan tanpa perlu berkata apa-apa.

Dua asisten pribadinya, Rika dan Laras, segera mengambil alih tas dan barang bawaan Vania, memastikan segalanya teratur. Vania mengangguk pelan kepada mereka, berusaha menunjukkan ketabahannya. Setiap langkah yang dia ambil menuju pintu masuk gedung terasa berat, namun dia tahu dia harus terus melangkah.

Di dalam gedung, suara gemuruh kota teredam menjadi bisikan latar yang tidak jelas. Vania melangkah melewati resepsionis yang memberikan senyuman simpatik. Semua mata di lobi sepertinya tertuju padanya, menambah beban di pundaknya yang sudah terasa berat. Vania mencoba untuk tidak menoleh, fokus pada langkah kakinya yang mantap menuju lift.

Saat pintu lift tertutup, Vania membiarkan dirinya bersandar pada dinding. Air matanya tidak menetes namun wajahnya nampak terlihat sedih. Ibunya dengan cepat berada di sampingnya, memeluknya erat. "Kamu kuat, Van," bisik ibunya, suaranya penuh dengan kehangatan dan kekuatan.

Lift berhenti di lantai yang dituju, dan dengan susah payah Vania mengubah ekspresinya, memperbaiki postur tubuhnya. Saat pintu lift terbuka, dia melangkah keluar dengan kepala tegak, siap menghadapi apa pun yang menantinya. Hari ini, dia memulai lembaran baru, lembaran yang tidak lagi mencantumkan nama Deo di dalamnya.

Sebelum acara klarifikasi di gelar, Vania dan ibunya di rias secantik mungkin oleh tim rias agar terlihat menarik ketika tampil di kamera. Dari ujung rambut hingga ujung kaki harus terlihat menarik, cantik dan ceria harus tetap melekat dalam diri Vania meski sedang dilanda masalah.

Cukup lama merias diri, Vania dan ibunya kemudian dipersilahkan untuk masuk ke dalam salah satu studio di sana, yang merupakan studio podcast khusus untuk membahas permasalahan yang sedang menimpa Vania saat ini. Sebelum sorotan kamera dan lampu menyala, tim yang berada di sana terlebih dahulu memberikan pengarahan, selain itu beberapa penggemar Vania yang hadir juga ikut mendukung Vania. Seorang wanita pembaca acara pun hadir untuk melancarkan acara klarifikasi dari Vania.

"Siap ya, kita mulai acaranya. Kamera siap?"

Kameramen mengacungkan jempolnya dan klarifikasi pun di mulai. Sebagai publik figur yang sudah terbiasa dengan kamera melakukan pembicaraan di depan kamera bukan lah hal yang sulit untuknya. Kosa kata dan kalimat yang dia sampaikan terkesan tegas dan jelas, percakapan mengalir apa adanya dan sesuai dengan fakta tanpa ada yang di kurangi maupun ditambahkan.

"Oke Vania, berita mengenai hubungan kamu dan Deo yang kandas sudah jadi perbincangan khalayak ramai. Apalagi sebenarnya kalian berdua itu dikenal sebagai pasangan yang romantis ala drama Korea. Jelas netizen terkejut dengan berita ini, jadi bisa di ceritakan gimana awalnya hubungan kalian bisa seperti ini?"

"Baik saya akan ceritakan semua di sini, supaya tidak ada berita simpang siur lagi. Jadi sebelumnya hubungan kami baik-baik saja, tapi ada beberapa fans saya yang tidak sengaja melihat mantan tunangan saya dengan wanita lain yang tak lain adalah mantan kekasihnya. Dari sana Fans saya merasa curiga, dan mengirim foto pertemuan antara Deo dengan mantan kekasihnya Karina pas saya. Pertama kali fans saya melaporkan itu hampir satu tahun yang lalu, awalnya saya tidak percaya karena memang Deo itu laki-laki yang baik, meski kami berhubungan jarak jauh tapi saya percaya pada dia. " Vania terdiam sejenak.

"Saya gak pernah tau apa yang dia lakukan di belakang saya dan saya pun gak pernah menaruh curiga. Tapi beberapa bulan terakhir ini fans saya sering sekali mengirimkan foto Deo bersama Karina di berbagai tempat, dari situ saya mulai tidak percaya dengan Deo. Dan foto-foto yang fans saya kirim bisa dijadikan bukti kalau memang Deo selingkuh."

"Oke, terus kemarin sempat ramai juga di bahas mengenai Deo yang mengatakan kalau kamu dan orang tua kamu mengajukan mahar yang fantastis, gimana tanggapan kamu?"

Vania menghela napasnya." Ini yang buat saya terkejut, entah bagaimana dia tiba-tiba bawa  nama orang tua saya. Kalau emang yang ia katakan hanya gimmick untuk meramaikan konten, menurut saya kurang etis ya. Perlu di garis bawahi, saya memang sudah merencanakan pernikahan dengan dia tapi, soal mahar saya dan orang tua saya belum pernah membahas perihal itu. Karena menurut orang tua saya, yang harusnya membahas soal mahar terlebih dahulu itu harusnya dari pihak laki-laki. Jika itu sudah dibahas, kemudian kedua belah pihak keluarga berdiskusi mengenai mahar yang fiks nantinya. Tapi masalahnya keluarga dari pihak Deo sama sekali belum pernah membicarakan hal ini, keluarga kamu juga jarang bertemu."

"Kalau dari pihak keluarga kamu sendiri, apakah akan menuntut Deo ke jalur hukum? Karena, maaf banyak yang mengatakan kalau Deo seolah tersakiti karena kamu."

"Perihal itu sebenarnya saya ingin melaporkan Deo ke jalur hukum, karena dia sudah mencemarkan nama baik kedua orang tua saya. Juga membuat kedua orang tua saya menjadi sasaran hujatan netizen. Saya tidak peduli jika saya di katai matre oleh dia maupun netizen, tapi saya tidak terima jika sudah menyangkut orang tua saya. Dari pihak orang tua saya, mereka meminta masalah ini di selesaikan dengan cara kekeluargaan saja. Terutama papah saya gak mau masalah ini semakin rumit nantinya."

Acara klarifikasi memakan waktu satu jam lebih. Semua kebenaran sudah terungkap dan di rekam dan siap untuk dipublikasikan ke sosial media. Meski nantinya akan timbul pro dan kontra, namun Vania cukup lega karena sudah mengklarifikasi semuanya.

Ponsel Vania bergetar di atas meja, sambil tertawa ringan bersama ibu dan kedua asistennya, dia segera mengambilnya dan menyadari ada panggilan masuk. "Halo," jawab Vania dengan suara lembut. Di sisi lain telepon, suara asisten rumah tangganya terdengar agak cemas. "Mbak, ada driver taksi katanya dia seharusnya menjemput Mbak tadi pagi, tapi dia terjebak macet dan baru sampai sekarang di depan gerbang."

Vania mengerutkan keningnya, bingung. "Tapi, kami sudah di studio hampir dua jam yang lalu," ujarnya pelan, mencoba mengingat detail pagi itu. Ibu Vania dan asisten melihat kebingungan di wajahnya, mereka saling pandang, sama-sama bingung.

"Loh mbak? Terus yang nganter mbak tadi siapa toh? Ini driver yang di depan saya batalin atau gimana mbak?"

"Waduh saya juga gak merhatiin lagi, supirnya tadi pakai topi dan masker terus gak ngobrol juga. Yaudah drivernya suruh jemput saya aja ke sini ya bi."

"Oh, baik kalau begitu mbak Vania."

Vania mengucapkan terima kasih dan meminta maaf kepada asisten rumah tangganya, kemudian memutus sambungan. Dia duduk kembali, pikirannya melayang jauh mencoba menghubungkan kepingan-kepingan yang hilang. "Ini gak masuk akal," gumamnya, sambil memijat pelipisnya yang mulai terasa berdenyut.

Ibu Vania dan kedua asistennya menatap Vania bingung. "Kenapa nak?"

Vania kemudian menjelaskan apa yang dibicarakan dirinya dan asisten rumah tangganya tadi. "Terus yang tadi nganterin kita siapa ya?"

Ibunya menggeleng, sama tidak tahu. Asisten yang lain menggaruk kepalanya, mencoba mengingat. Semua orang di ruangan itu tampak kebingungan, suasana tiba-tiba menjadi tegang.

Semua orang di ruangan itu terdiam, masing-masing tenggelam dalam pikiran mereka sendiri, mencoba menggali memori pagi itu. Kejadian ini membawa pertanyaan besar yang belum terjawab, meninggalkan benak Vania dipenuhi tanda tanya dan kekhawatiran tentang siapa sebenarnya yang telah mengantar mereka ke studio. Atmosfer yang tadinya hangat perlahan berubah menjadi dingin dan penuh ketidakpastian.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
falea sezi
bodoh kn ada tuh fto dio. up aja lah bego
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!