"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."
Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.
Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.
Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?
"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 - Perawat Misterius
Aura duduk dengan seragam yang tampak kebesaran di tubuhnya yang kian kurus. Matanya merah dan kantuknya masih menggantung berat.
"Kak, aku nggak masuk sekolah ya hari ini?" pinta Aura lirih, suaranya hampir hilang. "Aku mau ke rumah sakit, mau nungguin Bunda. Aku nggak tenang kalau cuma dapet kabar lewat telepon."
Bima, yang sedang memakai jaket motornya, berhenti sejenak. Ia menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara kasihan dan ketegasan.
"Nggak bisa, Ra. Kamu itu lagi ujian," jawab Bima dengan nada yang tak terbantah. "Bunda bakal makin stres kalau tahu kamu bolos sekolah gara-gara dia. Kamu mau Bunda makin parah?"
Aura menunduk, memainkan ujung jilbabnya. "Tapi Kakak bisa anter kan? Aku takut kalau di jalan..."
Bima menghela napas panjang, ia memegang pundak Aura sebentar. "Maafin gue, Ra. Gue harus ke rumah sakit buat urus perpindahan kamar Bunda dan disana Bunda ga ada yang jagain. Gue bener-bener nggak bisa anter lo pagi ini."
Bima mengeluarkan ponselnya dan memesankan taksi online. "Taksi udah di depan. Berangkat sekarang. Fokus ujian kamu, soal Bunda biar jadi urusan gue."
Aura hanya bisa mengangguk pasrah. Ia melangkah keluar pagar dengan hati yang tertinggal di rumah sakit. Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa ratus meter di belakang taksi itu, sebuah mobil hitam dengan kaca gelap terus membuntuti, menjaga jarak yang sangat presisi agar tidak tertangkap oleh kaca spion. Arfan, dengan tatapan yang sulit diartikan, terus mengawasi setiap pergerakan Aura dari balik kemudi.
Sesampainya di kelas, Aura melangkah lunglai menuju mejanya. Pikirannya masih teringat pada wajah pucat Bunda dan janjinya semalam untuk membatalkan mimpi ke London. Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sebuah kotak bekal berwarna krem di atas mejanya, lengkap dengan sebotol jus jeruk segar.
Di sebelahnya, Mawar sudah duduk tenang sambil membalik halaman bukunya. Wajahnya tampak damai, kontras dengan gemuruh di hati Aura.
"Pagi, Ra," sapa Mawar lembut, namun matanya tetap fokus pada buku.
"Pagi, War," jawab Aura singkat sambil menatap kotak bekal itu dengan kening berkerut. "Ini... dari siapa?"
Belum sempat Mawar menjawab, Zahra muncul di pintu kelas dengan napas terengah-engah. Ia langsung menghampiri meja Aura dan melihat kotak bekal tersebut. Zahra mendengus kesal, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Nggak perlu ditanya lagi, Ra. Bau-baunya ini pasti dari si Arfan itu," cetus Zahra tanpa basa-basi. Ia menatap Aura yang tampak bimbang. "Jangan dimakan, Ra! Kita nggak tahu dia masukin apa ke situ. Entah ramuan apa supaya lo makin nurut atau apa. Pokoknya jangan disentuh!"
Aura terdiam, menatap bekal itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa lapar yang mulai menusuk perutnya, tapi rasa muaknya pada obsesi Arfan jauh lebih besar.
Zahra kemudian menarik kotak bekal itu ke arahnya sendiri dengan gerakan cepat. "Daripada mubazir atau bikin lo keracunan perasaan, mending buat gue aja. Gue tadi belum sempat sarapan karena buru-buru. Anggap aja gue jadi sukarelawan buat tes makanan ini aman atau nggak."
Aura hanya menghela napas panjang, ia merasa terlalu lelah untuk berdebat. "Terserah kamu deh, Zah."
Aura kemudian menoleh ke arah jendela, menatap langit pagi yang mulai cerah, namun hatinya tetap terasa kelabu. Ia merasa seperti sedang berada di dalam sangkar kasat mata, di mana setiap langkahnya sudah diprediksi dan setiap kebutuhannya dipenuhi oleh orang yang justru ingin ia hindari. Sementara itu, di parkiran sekolah, Arfan mematikan mesin mobilnya, tetap berada di dalam sana, menunggu dan mengawasi.
...****************...
Siang nya, koridor sekolah terasa berputar di mata Aura. Wajahnya yang semula pucat kini tampak hampir seputih kertas. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dan sebelum kesadarannya benar-benar hilang, Zahra dan Mawar dengan sigap memapahnya menuju UKS.
Aura dibaringkan di atas ranjang UKS yang beralaskan seprai putih bersih. Kepalanya terasa sangat berat, denyut di nadinya seperti dipukul martil. Sayup-sayup, ia mendengar suara gorden disingkap.
Seorang pria berseragam perawat putih masuk dengan masker medis yang menutupi separuh wajahnya. Ia bergerak dengan sangat tenang, sangat efisien, seolah sudah tahu persis apa yang harus dilakukan. Aura mengerutkan kening, rasa familiar menyengat ingatannya. Postur tubuh itu, cara berjalan yang tegap namun sunyi, dan sorot mata di balik masker itu...
"Kamu??" gumam Aura lirih, suaranya nyaris hilang.
Ia teringat perawat yang berdiri di samping ranjang Bundanya di ICU semalam. Sosok yang memberikan jawaban bisu lewat anggukan kepala. Mengapa perawat rumah sakit ada di UKS sekolahnya?
Perawat itu tidak mengubris ucapan Aura. Ia tidak menjawab, tidak juga membuka maskernya. Dengan gerakan yang sangat telaten, ia meletakkan nampan di atas nakas samping tempat tidur. Ia membantu Aura untuk duduk bersandar, lalu menyodorkan segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul.
Setelah itu, ia membuka sebuah kotak bekal berisi nasi goreng yang aromanya sangat menggoda aroma yang sangat Aura kenali, persis seperti nasi goreng langganannya yang sering dibelikan Arfan.
"Makan," ucap perawat itu singkat. Suaranya berat, teredam di balik masker, namun memiliki nada perintah yang tidak bisa dibantah.
Aura menatap nasi goreng itu dengan tangan gemetar. "Kenapa Mas bisa ada di sini? Mas kan perawat yang semalam..."
Lagi-lagi, pria itu diam. Ia hanya menyodorkan sendok ke arah tangan Aura, menunggunya untuk mulai makan. Aura merasa ada yang aneh. Di sekolah ini biasanya ada petugas UKS tetap, tapi pria di depannya ini terasa seperti tamu asing yang menyusup masuk.
Meskipun hatinya penuh kecurigaan, rasa lemas yang luar biasa membuat Aura tidak punya tenaga untuk melawan. Ia menerima sendok itu dan mulai menyuap nasi gorengnya perlahan. Hangatnya teh dan gurihnya makanan itu mulai mengalirkan energi ke tubuhnya, namun rasa waswas di hatinya justru semakin memuncak.
Perawat itu berdiri mematung di samping ranjang, terus mengawasi Aura sampai suapan terakhir, persis seperti seekor elang yang sedang menjaga sarangnya.
Di tengah suasana sunyi dan tegang di dalam UKS, tiba-tiba headphone Aura bergetar dan mengeluarkan bunyi nyaring. Nama Kak Bima berkedip di layar ponsel yang tergeletak di samping bantal.
Aura dengan gerakan cepat meraih ponselnya, mengabaikan rasa lemas yang masih tersisa. Perawat bermasker itu sempat tersentak kecil, namun ia tetap berdiri diam di tempatnya, membeku seperti patung.
"Halo, Kak?" suara Aura bergetar penuh harap.
"Ra! Bunda, Ra! Bunda sudah sadar!" suara Bima di seberang sana terdengar sangat emosional, antara lega dan ingin menangis. "Baru saja Bunda buka mata dan panggil nama kamu. Dokter bilang ini perkembangan yang luar biasa!"
Mata Aura seketika membelalak. Air mata bahagia tumpah begitu saja membasahi pipinya yang pucat. "Serius, Kak? Bunda sudah bangun? Aku... aku ke sana sekarang, Kak!"
"Sabar, Ra. Selesaikan ujian kamu dulu. Bunda sudah stabil, sekarang lagi disuapi suster. Nanti pulang sekolah Kakak jemput, ya?" pesan Bima sebelum menutup telepon.
Aura menurunkan ponselnya dengan tangan yang masih gemetar karena bahagia. Ia menatap ke depan dengan pandangan berbinar, seolah beban berat yang menghimpit dadanya baru saja terangkat.
Arfan, di balik masker medisnya, memejamkan mata sejenak. Ada rasa lega yang amat sangat merayap di hatinya mendengar kabar itu.
Aura menempelkan ponselnya erat-erat ke telinga, mencoba meredam isak tangis bahagianya agar tidak terdengar terlalu kencang di dalam ruang UKS yang sepi itu.
"Aura? Ra, denger aku kan?" tanya Bima yang khawatir karena Aura hanya diam dan terdengar suara tangisan Aura.
"Iya, Kak... Aura denger. Alhamdulillah kalau Bunda udah sadar," jawab Aura dengan suara yang masih serak.
"Ra," suara Bima di seberang sana berubah menjadi lebih lembut dan penuh perhatian, "Kamu udah makan belum? Tadi pagi kamu pucat banget pas berangkat. Kakak kepikiran terus di sini. Kamu nggak apa-apa kan di sekolah?"
Aura melirik kotak bekal kosong yang baru saja dirapikan oleh perawat misterius itu. "Aura... Aura udah makan kok, Kak. Tadi ada yang bawain bekal nasi goreng ke kelas, terus ini baru aja minum teh hangat. Aura cuma agak lemas sedikit, tapi sekarang udah mendingan setelah denger kabar Bunda."
"Bagus kalau gitu. Jangan lupa makan, Ra. Kamu harus sehat buat nemenin Bunda nanti," sahut Bima terdengar sedikit lega. "Kakak nggak mau kamu nyusul sakit. Ya udah, fokus ujian dulu ya, nanti Kakak langsung jemput."
Setelah panggilan terputus, Aura terdiam. Ia menatap punggung perawat yang masih berdiri membelakanginya di dekat pintu. Ada rasa hangat di hatinya karena perhatian Bima, tapi ada juga rasa janggal yang terus mengusik pikirannya.
Perawat itu seolah sengaja menunggu percakapan Aura selesai. Begitu Aura menurunkan ponselnya, perawat itu kembali bergerak tanpa kata, hendak keluar dari ruangan.
"Mas..." panggil Aura lagi, kali ini lebih tegas. "Tadi pagi ada bekal di meja saya, dan siang ini Mas bawain makanan yang rasanya sama persis. Mas ini sebenarnya siapa? Nggak mungkin kan perawat rumah sakit tiba-tiba ada di UKS sekolah saya cuma buat nganter nasi goreng?"
Langkah Arfan berhenti tepat di depan gorden. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu Aura bukan gadis bodoh yang mudah dikelabui berkali-kali. Namun, Arfan tetap tidak menoleh. Ia hanya menundukkan kepalanya, memastikan maskernya masih terpasang sempurna.
"Tugas saya hanya memastikan kamu tidak sakit, Aura" jawab Arfan dengan suara yang dibuat seberat mungkin, lalu ia melangkah keluar dengan terburu-buru sebelum Aura sempat turun dari ranjang.
Bersambung........
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰