NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11: operasi badai salju

Siberia, Rusia – Zona Terlarang "Dead Frost", Pukul 02.00 Dini Hari.

Dunia sedang tidak menyadari bahwa di ujung utara yang membeku, sebuah bencana tingkat kiamat sedang berdenyut. Sebuah Gerbang Abyss tipe 'Frost-Legion' kelas S+ telah terbuka secara ilegal, memuntahkan ribuan raksasa es setinggi sepuluh meter yang memiliki kulit sekeras baja tungsten. Militer Rusia telah mengerahkan dua divisi tank dan lima Hunter Kelas S nasional mereka, namun dalam waktu tiga jam, garis pertahanan mereka hancur total. Badai mana yang dihasilkan gerbang tersebut menurunkan suhu hingga minus delapan puluh derajat Celcius, membekukan bahan bakar dan mematikan sihir Hunter biasa.

"Ini bukan lagi pertempuran, ini pembantaian!" teriak Jenderal Volkov melalui saluran radio internasional yang penuh dengan statis. "Jika tempat ini jatuh, Moskow akan menjadi kuburan es dalam waktu dua puluh empat jam! Dimana bantuan dunia?!"

Namun, bantuan yang datang bukanlah dari Hunter Association.

Di tengah badai salju yang mampu membutakan mata, sebuah titik merah muncul di langit. Tanpa pesawat, tanpa parasut. Sebuah meteor manusia melesat jatuh dengan kecepatan hipersonik, membelah awan badai dan menghantam tepat di tengah barisan pasukan raksasa es.

BOOOOOMMM!!!

Ledakan itu tidak menghasilkan api, melainkan gelombang kejut murni yang meratakan hutan pinus dalam radius dua kilometer. Di tengah kawah yang tercipta, Bastian—sang Vanguard—berdiri dengan tenang. Ia tidak mengenakan baju hangat. Tubuhnya yang atletis hanya dibalut zirah ringan berwarna hitam dengan jubah merah darah yang berkibar sombong menantang badai. Kulitnya yang putih porselen tidak menunjukkan tanda-tanda kedinginan; esensi Sovereign di dalam darahnya menjaga suhu tubuhnya tetap konstan pada titik optimal tempur.

"Julian, apa kau mendengarku?" Bastian menyentuh anting perak di telinganya.

Di markas Sanguine Throne yang tersembunyi, Julian menatap ribuan layar hologram yang menampilkan data biometrik Bastian dan peta taktis Siberia. "Jelas, Kakak. Kau sedang dikepung oleh delapan ratus raksasa es. Seer telah menandai titik kelemahan mereka pada sendi leher dan inti kristal di dada. Phantom sudah berada di posisi sayap kiri untuk membersihkan pemanah es. Plague sedang menyiapkan zona dekomposisi di sisi kanan. Kau punya waktu empat menit sebelum satelit militer Rusia berhasil menembus gangguan mana untuk merekam wajahmu."

"Empat menit?" Bastian menyeringai, menampakkan taringnya yang tajam. "Dua menit saja cukup."

Bastian melesat maju. Gerakannya begitu kuat hingga tanah permafrost di bawah kakinya hancur berkeping-keping. Satu raksasa es mencoba menghantamnya dengan gada raksasa seberat sepuluh ton. Bastian bahkan tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya.

KLANG!

Gada es itu hancur berkeping-keping saat menyentuh telapak tangan Bastian. Bastian kemudian melayangkan satu pukulan lurus ke perut raksasa itu.

Sanguine Art: Gravity Impact.

Pukulan itu tidak hanya menghancurkan tubuh raksasa tersebut, tapi menciptakan tekanan gravitasi yang begitu besar hingga monster di belakangnya ikut tersedot dan hancur menjadi serpihan es halus. Bastian bergerak seperti badai merah di tengah putihnya salju. Ia tidak hanya bertarung; ia sedang menunjukkan dominasi fisik yang melampaui logika manusia.

Sementara itu, di sebuah SMA di Seoul yang tenang.

Arkan sedang duduk di bangku paling belakang kelas, pura-pura tertidur dengan menempelkan telinga ke atas meja. Di balik kelopak matanya yang tertutup, ia melihat apa yang dilihat oleh Elara (Seer). Ia bisa merasakan setiap getaran darah Bastian melalui jaringan Blood-Link.

'Bastian, jangan terlalu banyak menggunakan energi gravitasi. Kau merusak ekosistem di sana,' tegur Arkan secara telepatis.

Bastian yang sedang bersiap menghantam sekumpulan monster langsung tersentak. 'M-Maafkan saya, Tuanku! Saya akan lebih halus!'

Bastian segera mengubah taktiknya. Ia menarik energi darahnya dan membentuk ribuan pedang tipis dari uap air yang membeku. Dengan satu lambaian tangan, ribuan pedang itu melesat dengan presisi menembus inti kristal setiap raksasa es secara bersamaan.

Di sisi lain medan perang, Hana (Phantom) bergerak seperti hantu. Para pemanah es raksasa jatuh satu per satu tanpa pernah melihat siapa yang membunuh mereka. Hana muncul di belakang pemimpin Frost-Legion, sebuah monster tingkat SSS bernama 'Frost Monarch'.

"Selamat malam," bisik Hana.

Dalam satu gerakan melingkar yang indah, kepala sang Monarch terlepas dari bahunya sebelum ia sempat mengaktifkan perisai esnya. Darah biru monster itu membeku di udara, menjadi hiasan kristal yang indah di bawah sinar bulan.

Julian segera memberikan komando akhir. 'Operasi selesai. Plague, lepaskan kabut pembersih. Jangan tinggalkan jejak mana Crimson Sovereign sedikit pun.'

Rehan (Plague) yang sejak tadi berdiri diam di atas bukit es, menghembuskan nafas ungu panjang. Kabut itu menyapu seluruh medan perang, melahap sisa-isisa bangkai monster dan mengubahnya menjadi energi murni yang diserap kembali oleh tanah. Dalam hitungan detik, ribuan mayat raksasa es hilang tanpa bekas, seolah-olah pertempuran itu tidak pernah terjadi.

Bastian berdiri tegak di tengah padang salju yang kini sunyi. Ia menatap ke arah helikopter militer Rusia yang baru saja tiba di kejauhan. Sebelum mereka bisa mengarahkan kamera, Bastian melepaskan satu koin perak kuno ke atas tanah yang membeku.

"Crimson Eclipse telah lewat," gumamnya sebelum ia dan timnya menghilang dalam portal darah yang diciptakan Julian.

Esok paginya, dunia gempar.

Berita utama di seluruh planet menampilkan rekaman drone yang memperlihatkan kawah raksasa di Siberia dan hilangnya seluruh Frost-Legion dalam satu malam. Rusia secara resmi mengumumkan bahwa ada "Pihak Ketiga" yang menyelamatkan negara mereka. Nama 'Vanguard' dan logo 'Gerhana Merah' mulai menjadi simbol yang dipuja oleh jutaan orang yang ketakutan akan serangan Abyss.

Di kelas 1-A SMA Gwangyang, Liora sedang menonton video berita tersebut dengan mata berbinar. "Arkan! Lihat ini! Vanguard baru saja menyelamatkan Rusia sendirian! Dia keren sekali, kan? Aku ingin tahu siapa yang melatih orang sekuat itu."

Arkan mengerjapkan mata, berpura-pura baru bangun tidur. "Eh? Rusia? Jauh sekali ya. Mungkin dia hanya sedang lewat dan merasa dingin, jadi dia berolahraga sedikit."

Liora mendengus kesal. "Kamu ini... tidak ada rasa kagumnya sama sekali. Orang itu baru saja mencegah kiamat salju, dan kamu bilang dia cuma olahraga!"

Arkan tersenyum tipis di balik kacamatanya. Ia mengambil pulpennya dan kembali mencatat pelajaran biologi. Di telinganya, suara Julian kembali terdengar.

'Tuan, misi Rusia sukses besar. Reputasi kita naik 400% di pasar gelap internasional. Selanjutnya, Seer mendeteksi masalah di hutan Amazon, Brasil. Ada tumbuhan Abyss yang mulai memakan desa-desa di sana. Apakah kita kirim Plague untuk pembersihan total?'

'Kirim Rehan dan Elara,' balas Arkan dalam batin. 'Biarkan dunia tahu bahwa kita tidak hanya punya otot, tapi juga punya racun yang bisa menyembuhkan bumi.'

'Melaksanakan, Sovereign.'

Arkan kembali fokus pada bukunya, sementara di bawah meja, jarinya mengetuk meja mengikuti irama detak jantung para bawahannya yang sedang bersiap menuju benua lain. Dunia boleh saja memuja para pahlawan itu, tapi hanya ia yang tahu betapa melelahkannya menjadi "Ayah" dari lima monster yang terlalu bersemangat ini.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!