NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Aluna mencari jawaban

Sepanjang sisa jam pelajaran, pikiran Aluna tidak pernah benar-benar ada di dalam kelas. Meski matanya menatap papan tulis, telinganya masih terngiang suara parau Bara di kantin tadi. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, sebuah ketidakpastian yang membuatnya tidak tenang.

​Aluna tahu Bara terluka. Namun, yang tidak ia mengerti adalah: Kenapa? Bukankah Bara sendiri yang mendorongnya ke pelukan Brian? Bukankah Bara yang dengan tegas mengatakan bahwa mereka hanya teman?

​Sore itu, setelah Brian mengantarnya pulang, Aluna tidak langsung masuk ke rumah. Ia duduk di teras, menatap buket mawar merah pemberian Brian yang kini ia letakkan di meja. Bunga itu cantik, tapi entah kenapa, Aluna merasa ada yang hampa.

​Ia meraih ponselnya, membuka folder tersembunyi yang berisi foto-foto lama. Jarinya berhenti pada sebuah foto candid saat Bara tertawa sambil mengacak rambutnya. Tatapan Bara di foto itu... Aluna memperhatikannya dengan saksama. Itu bukan tatapan seorang sahabat biasa. Itu adalah tatapan yang penuh dengan perlindungan, kerinduan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam.

​"Kenapa kamu harus bohong, Bar?" bisik Aluna lirih.

​Rasa penasaran itu membakar batinnya. Aluna butuh kepastian. Jika memang Bara tidak mencintainya, kenapa Bara tampak seperti orang yang kehilangan separuh jiwanya sejak ia jadian dengan Brian? Dan jika Bara memang mencintainya, kenapa dia justru memberikan Aluna pada orang lain?

​Aluna memutuskan untuk mencari jawaban. Ia tahu ini berisiko, tapi ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang kepura-puraan Bara. Ia mulai mengetik pesan, namun bukan untuk Bara, melainkan untuk Brian.

​Aluna: Bri, besok boleh aku pinjam catatan sejarah kamu? Tadi aku agak kurang fokus di kelas.

​Itu hanya pancingan. Begitu Brian membalas dengan antusias, Aluna mencoba masuk ke tujuannya.

​Aluna: Oiya Bri, menurut kamu Bara kenapa ya akhir-akhir ini? Kok dia kayak sering menghindar? Apa dia ada masalah sama kamu?

​Brian: Nggak ada kok, Lun. Kita baik-baik aja. Mungkin dia cuma lagi banyak pikiran soal tugas atau masalah keluarga. Kenapa? Kamu khawatir ya? Hehe.

​Aluna terdiam. Brian terlalu polos untuk menyadari apa yang terjadi. Bagi Brian, dunianya sedang sangat indah, sehingga ia tidak bisa melihat kegelapan yang sedang menyelimuti sahabatnya sendiri.

​Aluna melempar ponselnya ke kasur. Ia merasa frustrasi. Jawaban yang ia cari tidak ada pada Brian. Jawaban itu ada pada Bara, dan terkunci rapat di balik bibir cowok itu yang selalu tersenyum palsu.

​"Aku harus tahu yang sebenarnya," gumam Aluna teguh.

​Ia memutuskan, besok ia harus bicara empat mata dengan Bara. Tanpa Brian. Tanpa tawa palsu. Hanya mereka berdua. Aluna ingin menatap mata itu sekali lagi dan bertanya: Apakah semua ini benar-benar keinginanmu, atau hanya bentuk pengorbanan yang bodoh?

​Sebab, Aluna merasa, jika ia terus berjalan bersama Brian tanpa mengetahui kebenaran dari Bara, ia seolah-olah sedang membangun rumah di atas tanah yang sedang bergetar. Satu kejujuran dari Bara bisa saja meruntuhkan semuanya, atau justru memperkuat pilihannya untuk tetap bersama Brian.

Rasa penasaran itu kini berubah menjadi kekesalan yang membuncah. Aluna tidak tahan lagi. Ia meraih ponselnya dengan gerakan cepat, jemarinya lincah mencari nama "Bara" di daftar kontak. Tanpa pikir panjang, ia menekan tombol panggil.

Di seberang sana, di sebuah kamar yang gelap, ponsel di atas meja belajar Bara bergetar hebat. Nama 'Aluna' menyala terang di layar, memecah kesunyian malam. Bara hanya menatap benda itu dengan tatapan kosong. Jantungnya berdegup kencang, tangannya gemetar ingin meraih ponsel itu, namun logikanya menahan sekuat tenaga.

Panggilan itu terputus. Namun, sedetik kemudian, ponsel itu kembali menjerit. Aluna tidak menyerah.

"Angkat dong, Bara! Lo kenapa sih sensi banget jadi cowok!" seru Aluna kesal pada layar ponselnya sendiri. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, merasa dipermainkan oleh sikap diam Bara. "Biasanya juga paling cepet kalau ditelpon, sekarang malah sok sibuk!"

Untuk ketiga kalinya, Aluna menelpon. Suara dering itu seolah-olah mengejek Bara di tengah keheningan. Bara memejamkan mata rapat-rapat, meremas seprai kasurnya untuk menahan gejolak di dadanya. Setiap getaran ponsel itu terasa seperti denyutan di jantungnya.

"Maaf, Lun..." bisik Bara lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. "Bukan aku nggak mau angkat telepon kamu. Tapi aku nggak bisa. Aku nggak sanggup denger suara kamu sekarang."

Bara membiarkan ponselnya terus berdering sampai layarnya kembali gelap. Ia tahu, satu kata saja keluar dari mulut Aluna, pertahanannya yang rapuh akan hancur lebur. Ia takut ia akan memohon agar Aluna kembali. Ia takut ia akan mengkhianati Brian, sahabatnya sendiri.

"Aku nggak mau kita terus-terusan seperti ini, Lun. Kamu sudah punya Brian. Dan aku... aku harus belajar untuk terbiasa tanpa kamu," lanjut Bara pelan, setetes air mata jatuh mengenai punggung tangannya.

Sementara itu, Aluna melempar ponselnya ke atas kasur dengan perasaan campur aduk. Amarah dan kesedihan berperang di hatinya.

"Oke, kalau lewat telepon nggak bisa, besok di sekolah kamu nggak akan bisa lari lagi, Bar," gumam Aluna dengan mata yang mulai memanas.

Bersambung..........

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!