NovelToon NovelToon
Gurial Tempest

Gurial Tempest

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Fantasi / Komedi
Popularitas:644
Nilai: 5
Nama Author: raffa zahran dio

Gurial Tempest

Di hari kelulusannya sebagai Knight Kerajaan Gurial Tempest, seorang wanita berusia 22 tahun akhirnya siap mengabdikan diri untuk melindungi tanah airnya.

Namun langit runtuh sebelum ia sempat memulai.

Sebuah meteor menghancurkan ibu kota. Dari balik kehancuran itu, pasukan misterius bernama Invader merebut kerajaan dalam sekejap. Di antara api dan puing-puing, sang Knight selamat—dan memikul satu tugas mustahil: menyelamatkan Little Princess serta Ratu Vexana.

Perjalanan yang seharusnya menjadi awal pengabdian berubah menjadi perjuangan mempertahankan harapan, mencari para Hero, dan menghadapi kebenaran tentang dunia yang tidak sesederhana hitam dan putih.

Dari kehancuran kerajaan, badai baru pun dimulai.

Inilah awal kisah Gurial Tempest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raffa zahran dio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 : Kota Masa depan?

Chapter 6 : Dari Dunia Lain

Siang hari menyelimuti Pulau Havenload dengan cahaya keemasan yang memantul di atap-atap kayu penginapan Vivi. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin bercampur wangi kayu basah sisa hujan semalam.

Di salah satu kamar lantai dua, Princes kecil terbaring di ranjang dengan selimut tebal sampai ke dagunya. Pipinya memerah tidak wajar, napasnya naik turun perlahan, dan dahinya berkilat oleh keringat.

Pintu kamar terbuka perlahan.

Chika masuk dengan langkah hati-hati, seolah takut lantai kayu akan mengadukan kehadirannya. Rambut pirangnya yang biasanya terikat rapi kini kusut seperti habis dipakai melawan angin topan. Ia hanya mengenakan kaus panjang abu-abu yang sedikit kebesaran dan celana hitam sederhana—tidak ada zirah, tidak ada pedang, hanya seorang pemuda yang tampak lebih seperti kakak cemas daripada pahlawan dunia.

Chika duduk di tepi ranjang, menempelkan punggung tangannya ke dahi Princes.

“Panas banget…” gumamnya pelan.

Princes membuka mata setengah, pupilnya sedikit kabur.

“Chika…” suaranya serak, tapi masih terdengar manja. “Kamu… mau pergi ya…”

Chika tersentak kecil. Ia tersenyum, tapi senyum itu tertahan di sudut bibirnya.

“Iya, Princes… aku harus cari Hero ke-6.”

Princes menarik selimut sedikit lebih tinggi.

“Oh…”

Ia terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Berarti… aku nggak bisa ikut ya…”

Chika menggeleng cepat.

“Enggak. Kamu harus istirahat. Kalau kamu ikut, nanti kamu malah jadi Hero ke-6 spesialis pingsan.”

Princes mendengus kecil, lalu menatapnya.

“Tapi… kamu harus cepat pulang ya.”

Chika mengusap rambut Princes dengan gerakan lembut, jarinya sedikit gemetar.

“Tenang saja. Aku kan sudah kuat, hehehe… paling juga cepat pulangnya.”

Princes menatapnya lama, lalu berkata pelan,

“Janji?”

Chika mengangguk.

“Janji.”

Pintu kamar terbuka lebih lebar.

Vivi masuk sambil membawa baki berisi semangkuk sup hangat. Senyum khasnya—yang selalu membuat matanya terlihat seperti tertutup—mengembang.

“Yah, Chika… lokasinya sudah hampir sampai.”

Princes langsung bersandar ke bantal.

“Chika! Kamu harus bawa oleh-oleh ya dari Hero ke-6!”

Chika tertawa kecil.

“Baik, Yang Mulia Princes. Oleh-oleh dari dunia lain akan segera tiba.”

Di luar penginapan, suasana jauh lebih ramai.

Chika kini sudah mengenakan zirah Gurial Tempest: baja perak mengilap dengan lambang kerajaan di dada, scarf merah berkibar di lehernya, dan helm knight dengan hiasan aneh di atasnya—bentuknya mirip buku ayam kecil yang menempel miring.

Beatrix berdiri sambil melipat tangan, menatap ke bawah pulau dengan ekspresi setengah curiga.

“Hah… semoga Hero ke-6 nggak aneh.”

Vivi berdiri di sampingnya sambil tersenyum santai.

“Padahal yang paling aneh di sini kamu, loh.”

Beatrix langsung menunjuk Vivi.

“Diam kau, dasar senyum nenek!”

Chika melangkah ke tepi pulau melayang itu. Hero Sword di pinggangnya bergetar pelan, seperti kompas hidup.

“Di bawah sana… pasti lokasi Hero ke-6,” katanya. “Hero Sword bereaksi.”

Mereka bertiga melihat ke bawah.

Sebuah kota futuristik terbentang luas—gedung-gedung menjulang dengan lampu hologram, jalur udara dipenuhi kendaraan terbang kecil, dan papan cahaya bergerak seperti ikan neon di langit.

Vivi menyipitkan mata.

“Kelihatannya… damai.”

Beatrix mendengus.

“Justru itu yang bahaya. Air tenang menghanyutkan.”

Chika menoleh.

“Eh… kok aku pernah dengar kalimat itu ya?”

Vivi mengangkat bahu.

“Lupakan saja. Sekarang pergilah… Knight.”

Chika tersenyum kikuk.

“Tapi… jaga Princes ya. Dia masih demam tinggi.”

Vivi mengangguk.

“Tenang saja. Sudah tugasku menjaga kamu dan Princes. Lagian Xiaouman masih tidur di sampingnya.”

Chika menghela napas lega.

“Ya sudah…”

Ia kembali menatap kota futuristik itu.

“Wah… kotanya canggih banget. Nanti aku bawakan mainan robot untuk Princes!”

Beatrix menyeringai.

“Kalau mainan robot mah, aku sama Marianne juga bisa bikin.”

Vivi langsung memotong,

“Tidak. Itu terlalu berbahaya untuk anak kecil seperti Princes.”

Beatrix cemberut.

“Ah… tidak bahaya kok…”

Tiba-tiba kilasan kenangan muncul:

Beatrix dan Marianne di bengkel, menguji robot tempur mini.

“Tes senjata level satu!”

BOOOM!!

Satu bangunan yang baru dibangun MK roboh perlahan, debunya membubung tinggi.

Kembali ke masa kini.

Vivi berkata datar,

“Jangan buat aku mengulanginya.”

Chika berkeringat dingin di balik helm.

“Ehh… aku banyak ketinggalan info ya…”

Beatrix tertawa kecil.

“Tenang saja, Gor—”

Vivi menatap tajam.

Beatrix mengubah kata di tengah jalan.

“—Gorengan… maksudku gorengan nanti kita beli.”

Chika melangkah ke tepi pulau.

“Baiklah… aku berangkat!”

Ia melompat.

Tubuhnya meluncur turun, diselimuti cahaya biru Hero Sword. Kota futuristik membesar di bawahnya seperti dunia baru yang terbuka perlahan.

Di atas pulau, Vivi menatap ke arah jatuhnya Chika, senyumnya sedikit memudar.

“Semoga kali ini… dunia lain itu tidak menelanmu.”

Beatrix menyeringai kecil.

“Kalau dia mati, kita kejar sampai dunia itu runtuh.”

Vivi tertawa pelan.

“Ucapan yang sangat heroik dari orang yang suka meledakkan gedung.”

Dan di kamar penginapan, Princes kecil menggenggam selimutnya sambil berbisik,

“Cepat pulang ya, Chika…”

----------------

Chika berdiri tepat di depan sebuah gerbang kota raksasa. Bangunannya menjulang seperti tebing baja, penuh garis cahaya biru yang mengalir di dindingnya seperti urat nadi makhluk hidup. Di atas gerbang itu, huruf-huruf bercahaya berkedip pelan:

KOTA GIGRI

Chika mendongak sampai helm knight-nya hampir jatuh ke belakang.

“…Waaah…”

Suara itu keluar begitu saja, kecil tapi penuh kagum.

Angin kota bertiup membawa bau logam, ozon, dan sesuatu yang mirip permen kapas sintetis. Jalanan berkilau seperti cermin, dan kendaraan melayang tanpa roda, meluncur dengan suara zzzzhhhh seperti lebah raksasa yang sopan.

Chika melangkah masuk, langkah kakinya berbunyi tak… tok… tak… tok… di lantai metalik.

Matanya bergerak ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, terlalu sibuk untuk berkedip.

“Ini… kota atau dungeon level akhir?” gumamnya sambil memegang Hero Sword, waspada setengah kagum.

Sebuah kendaraan melayang melintas tepat di depannya. Bentuknya lonjong, mengilap, dengan cahaya di bagian bawah.

Chika menunjuknya dengan wajah serius.

“…Kuda tanpa kaki?”

Ia berlari kecil mengejar kendaraan itu.

“Hei! Kuda besi! Berhenti dulu! Aku mau nanya jalan!”

Pengemudi di dalamnya menatap Chika lewat kaca transparan, ekspresinya campuran antara takut dan bingung. Kendaraan itu langsung melaju lebih cepat dengan bunyi WOOOOSH.

Chika berhenti, membungkuk sambil mengatur napas.

“…Kuda zaman sekarang sombong ya.”

Beberapa orang kota Gigri meliriknya. Ada yang pakai jas futuristik, ada yang rambutnya bercahaya, ada yang membawa drone kecil mengambang di bahu.

Chika melambai canggung.

“H-halo… aku… turis.”

Tak ada yang menjawab. Drone justru memindainya dari ujung helm sampai ujung sepatu.

BIP. BIP.

Chika refleks berdiri kaku seperti patung.

“Eh… aku bukan monster, aku knight…”

Ia lanjut berjalan. Melewati toko makanan yang menjual sesuatu berbentuk kubus warna-warni yang melayang sendiri.

Chika mengambil satu dengan dua jari.

“…Ini puding atau baterai?”

Kubus itu tiba-tiba menyala dan berkata dengan suara ceria:

“SELAMAT DATANG DI GIGRI!”

Chika menjatuhkannya.

“MAAF!”

Semakin ke tengah kota, gedung makin tinggi. Langit nyaris tak terlihat karena tertutup layar hologram raksasa. Lampu neon bergerak seperti lukisan hidup.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Sebuah gedung pencakar langit dengan layar raksasa di fasadnya. Di layar itu muncul seorang gadis virtual dengan rambut pastel, mata besar berkilau, dan suara manis seperti lonceng.

“Minna~ hari ini kita farming love point yaaa~ 💕”

Kerumunan orang berdiri di bawah layar, bersorak.

“KYAAAA!”

“IMUT!”

“RATU!”

Chika mengangkat alis.

“…Monster.”

Suasana langsung hening.

Beberapa kepala menoleh pelan ke arah Chika.

“Eh?”

Chika menunjuk layar itu dengan ekspresi polos penuh keyakinan.

“Itu pasti boss dungeon tipe ilusi. Lihat, dia memikat manusia dengan cahaya dan suara…”

Seorang fans menjatuhkan minumannya.

“…APA?”

Chika lanjut dengan penuh analisis.

“Matanya besar—ciri makhluk penghisap jiwa. Suaranya lembut—jelas skill charm. Dan lihat, dia muncul di dinding bangunan! Monster kelas menara!”

Beberapa fans mulai gemetar.

“Dia… bilang… Ratu kita… monster…?”

Seorang pria berteriak:

“HEY! ITU VTUBER SUCI!”

Chika mengangkat pedangnya setengah refleks.

“Jangan takut! Aku akan—”

“JANGAN SENTUH RATU KAMI!!!”

Kerumunan meledak.

“KEJAR DIA!!!”

“PELINDUNG VTUBER!!!”

“HIDUP GIGRI!!!”

Chika terlonjak.

“EH? EH? SALAH YA?!”

Ia berbalik dan lari.

DUARRR!!

Sebuah bot penjaga melompat turun dari gedung, mendarat di depannya.

“TARGET: PENGHINA IDOLA.”

Chika menjerit.

“AKU CUMA SALAH PAHAM!!!”

Ia zig-zag di antara kios, melompati bangku, hampir tersandung kabel cahaya.

“Ini lebih horor dari invader!”

Sementara di layar, vtuber itu masih tersenyum manis.

“Eeeh~ kenapa ramai ya? Ada event dadakan?”

Chika berlari sambil teriak:

“MAAF YA MONS— EHH… NON-MONSTER!”

Kejar-kejaran absurd itu berakhir saat Chika melompat ke balik sebuah lorong sempit, napasnya terengah, wajahnya merah, helmnya miring.

“…Catatan…” gumamnya sambil bersandar ke dinding logam dingin.

“Di dunia masa depan… jangan asal nyebut monster.”

Hero Sword di tangannya bergetar pelan.

Vrrrr…

Chika menatapnya.

“…Dan kalau pedang ini bereaksi… berarti Hero ke-6… pasti ada di kota gila ini.”

Ia berdiri tegak lagi, menghela napas panjang.

“Baiklah, Kota Gigri…”

Senyum bodoh khasnya muncul lagi.

“…Petualangan dimulai.”

...----------------...

Chika keluar perlahan dari gang sempit itu. Cahaya neon menyiram wajahnya dari segala arah, membuat pelindung matanya memantulkan warna ungu, biru, dan hijau seperti kaca patri gereja futuristik. Ia berhenti, menunduk, kedua tangannya bertumpu di lutut, napasnya masih terengah.

“Fiuuuh… hidup masih panjang…”

Ia mengangkat kepala, menatap langit yang tertutup layar iklan raksasa.

“…Mulai sekarang aku nggak bakal sembarang manggil orang monster lagi.”

Ia mengangkat jari telunjuk, seperti sedang bersumpah pada dewa teknologi.

“Minimal… aku tanya dulu. ‘Maaf, kamu monster atau idol?’”

Langkahnya pelan-pelan kembali normal. Suara kota kembali masuk ke telinganya: ding-ding lift melayang, whooosh kendaraan terbang, dan musik iklan yang ceria berlebihan.

Tak jauh dari sana, sebuah bangunan besar berbentuk kubus kristal berdiri dengan pintu otomatis yang membuka dan menutup seperti mulut raksasa. Di atasnya tertulis:

GIGRI MEGA MALL

Chika menyipitkan mata.

“Dungeon perdagangan…”

Pintu otomatis terbuka sendiri.

SSSHHHHT—

Chika refleks mengangkat pedang.

“EH?!”

Ia masuk dengan langkah waspada, setiap langkah disertai bunyi pelindung kakinya klang… klang… yang kontras dengan lantai marmer mengilap.

Di dalam, mall itu seperti dunia lain. Lampu putih lembut, eskalator melayang tanpa rantai, toko-toko dengan layar hologram yang memamerkan sepatu sambil berputar sendiri di udara.

Chika memegang kantong kecil di pinggangnya.

“…Aku harus hubungi Vivi.”

Wajahnya berubah sedikit tegang. Alisnya turun, bibirnya mengatup.

“Dan Princess… semoga dia baik-baik saja…”

Ia mengeluarkan ponsel jadulnya—bentuknya kotak tebal, ada antena kecil bengkok di atasnya. Layarnya hitam putih, tombolnya besar-besar seperti kalkulator kuno.

Chika menekan tombol.

TIT. TIT. TIT.

Tak ada sinyal.

Ia memiringkan ponsel.

“Hmm… mungkin harus diangkat ke arah matahari?”

Ia mengangkat tinggi-tinggi.

Beberapa orang berhenti berjalan.

Seorang anak kecil menunjuk.

“Ma, itu remote TV?”

Ibunya berbisik.

“Itu… fosil.”

Chika menggerakkan antena.

“Vivi… Vivi… ini Chika… halo…”

Ponsel itu hanya mengeluarkan suara:

KRSSSSHHHH…

Seorang pemuda berkacamata mendekat.

“Ehm… Mbak… itu… ponsel?”

Chika menoleh dengan mata berbinar.

“Ah! Penduduk kota! Tolong! Kotak bicara ini tidak mau memanggil temanku!”

Beberapa warga berkumpul. Ada yang jongkok melihat ponselnya, ada yang memotretnya, ada yang terdiam seperti melihat artefak museum.

“Ini… model berapa?”

“Kayaknya sebelum layar sentuh diciptakan…”

“Ini bisa buat nelfon naga kali.”

Chika tersenyum canggung.

“…Ini hadiah dari toko sihir di Havenload.”

Seorang wanita berambut biru tertawa kecil.

“Mbak, ponsel ini… udah nggak bisa dipakai di Gigri.”

Ekspresi Chika langsung jatuh. Bahunya turun.

“…Oh.”

Ia memeluk ponsel itu.

“Tapi ini satu-satunya cara aku hubungi Vivi dan Princess…”

Nada suaranya jadi pelan. Ada cemas di matanya.

Warga-warga saling pandang.

Pemuda berkacamata menggaruk pipinya.

“Kalau begitu… kami ajarin.”

Mereka menyeret Chika ke sebuah toko elektronik. Pintu toko terbuka dengan suara:

“SELAMAT DATANG, MANUSIA.”

Chika kaget.

“ITU BISA BICARA?!”

Seorang kasir robot melambaikan tangan mekaniknya.

“HALO.”

Chika balas melambaikan tangan kaku.

“…Halo… roh besi…”

Mereka memperlihatkan ponsel-ponsel tipis seperti kaca.

Chika mengambil satu dengan dua jari, seolah takut pecah.

“…Ini cermin?”

“Bukan, itu ponsel.”

Chika menyentuh layarnya.

PLING!

Layar menyala.

Chika menjerit kecil.

“MAAF!”

Pemuda itu tertawa.

“Itu normal.”

Mereka mulai mengajari: cara geser layar, cara mengetik, cara menelepon.

Chika mencoba menekan ikon.

“…Kenapa kotaknya kabur?”

“Geser, bukan dipukul.”

Chika menggeser terlalu keras.

SWOOSH!

Semua aplikasi berhamburan.

“…Aku membunuhnya?”

“Tidak, Mbak, itu… fitur.”

Akhirnya, mereka menawarkan tukar tambah.

“Ponsel fosil ini… kami koleksi. Sebagai gantinya… ambil ini.”

Sebuah ponsel canggih diserahkan ke Chika.

Matanya berbinar.

“…Untukku?”

“Gratis.”

Chika menunduk dalam-dalam.

“Terima kasih, penduduk masa depan!”

Lalu ia terdiam, menatap etalase paling mahal. Ponsel layar besar, tipis, berkilau seperti permata.

“Yang itu…?”

“Seri terbaru.”

Chika menggenggam uang koin dari sakunya.

“…Aku mau beli satu lagi.”

“Buat siapa?”

Chika tersenyum, lembut, berbeda dari biasanya.

“…Untuk Princess.”

Ia membayangkan wajah Princess memegang benda itu.

“Kalau aku pulang… dia bisa main game… dan aku bisa hubungi dia kapan saja…”

Warga-warga tersenyum.

Kasir robot berkata:

“TRANSAKSI DITERIMA.”

Chika memegang dua ponsel: satu di tangan kiri, satu di tangan kanan.

Ia mengangkat keduanya seperti pedang kembar.

“…Senjata komunikasi.”

Ia keluar mall dengan langkah ringan, wajah cerah, matanya penuh harapan.

“Vivi… Princess…”

Ia tersenyum lebar.

“Tunggu aku. Aku bawa oleh-oleh dari masa depan.”

Dan di kejauhan, layar iklan raksasa kembali menampilkan vtuber manis itu.

Chika refleks menutup mata.

“…Bukan monster… bukan monster…”

...----------------...

Malam turun di kota Gigri seperti tirai cahaya. Dari jendela kaca besar kamar hotel, deretan gedung bercahaya biru-ungu tampak seperti rasi bintang buatan manusia. Lalu lintas melayang perlahan di udara, meninggalkan jejak cahaya seperti garis-garis komet.

Di dalam kamar hotel itu, suasananya jauh lebih hangat—terlalu hangat.

Chika berdiri di tengah ruangan, helm knight-nya sudah tergeletak di kursi, zirahnya disandarkan rapi di dekat dinding. Sekarang ia hanya mengenakan pakaian dalam sederhana karena udara kamar terasa seperti dapur naga yang lupa dimatikan.

Ia mengibaskan tangan di depan wajah.

“Panas banget… kota masa depan kenapa nggak punya angin malam sih…”

Ia menjatuhkan diri ke kasur empuk yang langsung memantul pelan, seperti awan yang sopan.

Di tangannya, ponsel barunya menyala. Layar bening itu memantulkan wajahnya sendiri. Rambut pirangnya masih sedikit berantakan, pipinya memerah karena panas, dan matanya setengah mengantuk.

Chika memiringkan ponsel.

“…Eh.”

Ia mendekatkan layar ke wajahnya, lalu menjauhkan lagi.

“…Loh.”

Ia memencet tombol kamera depan.

Klik.

Sebuah foto muncul.

Chika menatap hasilnya lama.

“…Aku… imut ya?”

Ia mengangkat alis, lalu menyentuh pipinya sendiri.

“Terus… kenapa semua orang bilang aku ‘si senyum bodoh’…”

Ia mencoba tersenyum lebar ke kamera.

“…Oh.”

Ia mengangguk pelan, seolah menemukan jawaban filosofis.

“Pantes.”

Chika lalu berguling telentang di kasur dan membuka aplikasi game yang tadi diinstal warga kota untuknya.

Ikon berwarna-warni bermunculan.

“Hmm… MOBA…”

Ia memilih karakter secara acak.

Tiba-tiba, dari ponsel terdengar suara karakter perempuan dengan nada serius:

“Air tenang… menghanyutkan.”

Chika langsung duduk tegak.

“…EH?!”

Ia menatap ponsel seolah ponsel itu baru saja mengancamnya.

“Itu… itu kalimat Beatrix kan?!”

Ia mencondongkan kepala.

“Jangan-jangan… dia nyelip di dalam kotak ini…”

Ia mengintip bagian belakang ponsel.

“…Tidak ada Beatrix.”

Chika menghela napas dan mulai bermain. Jarinya yang biasanya memegang pedang kini menari canggung di layar.

“Eh… maju… lompat… kenapa aku mati?”

Ia menyipitkan mata, serius.

“…Kalau ini pakai Lumina Sword, pasti lebih gampang.”

Beberapa menit berlalu.

Beberapa kekalahan.

Satu kemenangan kecil.

“OH! AKU MENANG SATU!”

Ia mengangkat ponsel tinggi-tinggi seperti mengangkat piala.

Lalu ia jatuh lagi ke kasur, tertawa kecil sendiri.

“Ponsel ini… seru banget ya…”

Ia memeluk ponsel ke dadanya.

“Princess pasti senang…”

Wajahnya melunak. Matanya tidak lagi penuh rasa ingin tahu, tapi rindu.

“…Besok aku kasih dia yang lebih bagus dari punyaku.”

Ia berguling miring, menatap langit-langit kamar yang memancarkan cahaya lembut.

“Ngomong-ngomong…”

Ia duduk kembali, ekspresinya berubah penasaran.

“…Siapa ya yang bikin kota ini…”

Ia mengangkat ponsel, membuka kamera, mengarahkannya ke jendela.

“Gedung-gedung ini… kendaraan terbang… robot kasir…”

Ia mengusap dagunya.

“Kalau aku ketemu penciptanya… mungkin…”

Ia tersenyum kecil.

“…dia Hero ke enam.”

Tiba-tiba lampu kamar meredup otomatis.

“EH?!”

Chika meloncat berdiri.

“AKU BELUM TIDUR!”

Lampu kembali terang.

Chika menatap sudut kamar.

“…Hotel ini bisa marah.”

Ia menarik selimut dan menyelimuti dirinya sampai hanya mata yang terlihat.

“Baiklah… aku tidak akan menantang roh lampu.”

Ia mengangkat ponsel sekali lagi, memotret dirinya yang terbungkus selimut seperti kepompong.

Klik.

“…Ini nanti aku tunjukkan ke Princess.”

Ia merebahkan kepala di bantal.

Di luar, kota Gigri terus berdenyut dengan cahaya dan suara.

Di dalam, seorang knight dari dunia lama tertidur sambil memeluk teknologi masa depan—dengan mimpi tentang seorang adik kecil yang menunggu oleh-oleh, dan seorang Hero ke enam yang belum ia temui.

...----------------...

Pagi di kota Gigri datang bukan dengan kokok ayam, melainkan dengan dengungan lembut mesin udara dan bunyi langkah robot pembersih jalan yang berderap rapi. Cahaya matahari memantul di dinding kaca gedung-gedung tinggi, membuat seluruh kota berkilau seperti permata raksasa.

Pintu hotel terbuka otomatis dengan suara,

“Psshh—”

Chika melangkah keluar sambil mengucek mata. Rambutnya masih sedikit acak-acakan, zirahnya kembali terpasang, dan Hero Sword tergantung di punggungnya.

Ia berhenti di ambang pintu, mengangkat telunjuk ke udara seperti menemukan kebenaran hidup.

“…AC itu ternyata alat pendingin ruangan…”

Ia menepuk dahinya pelan.

“Pantasan semalam aku kepanasan… ternyata aku lupa nyalainnya…”

Ia menatap gedung hotel dengan ekspresi setengah kesal, setengah malu.

“Maaf ya kamar… aku nuduh kamu dapur naga…”

Chika berjalan menyusuri trotoar yang bersih mengilap. Sepatu besinya berbunyi “tek… tek… tek” di atas lantai logam. Kendaraan melayang lewat di atas kepalanya dengan suara “woooosh” pelan.

Ia berputar pelan, menatap ke kanan dan kiri.

“Hmm…”

Alisnya berkerut.

“Kira-kira di mana ya tempat orang yang menciptakan kota ini…”

Tiba-tiba, Hero Sword di punggungnya bergetar.

“Bzzzz—”

Cahaya biru pucat menyala di sepanjang bilah pedang.

Chika refleks memegang gagangnya.

“Eh?!”

Ia berbalik mengikuti arah cahaya itu… sampai matanya menangkap sebuah bangunan besar di kejauhan.

Rumah itu berdiri megah, dikelilingi taman hijau dan dinding putih berkilau, dengan menara kaca yang menjulang seperti istana masa depan.

Chika menyipitkan mata.

“…Itu penginapan ya?”

Ia mendekati seorang wanita yang sedang menyiram tanaman di pinggir jalan. Wanita itu mengenakan pakaian kota modern dengan celemek kecil.

Chika menunduk sopan, kaku seperti ksatria sedang melapor.

“Anu… permisi, Kak… itu… penginapan itu indah sekali ya…”

Wanita itu menoleh, tersenyum lebar.

“Iya! Tapi itu bukan penginapan kok.”

Chika memiringkan kepala.

“Bukan…?”

“Itu rumah orang yang menciptakan kota ini jadi lebih canggih dan seru!”

Mata Chika langsung membesar.

“NAH!! Dia yang saya cari!!”

Ia refleks mengangkat kedua tangan ke udara seperti menemukan harta karun.

Wanita itu terkekeh, lalu mendekat sedikit.

“Tapi… lebih baik sekarang jangan diganggu dulu ya. Kamu dari Kerajaan Gurial Tempest, kan?”

Chika terkejut, mundur setengah langkah.

“Eh?! Kok tahu?!”

Wanita itu menunjuk zirahnya.

“Lambangnya khas. Nenekku dulu knight di sana.”

Nada suaranya melunak.

“…Tapi beliau sudah tiada. Saat para invader menyerang kerajaan itu.”

Chika terdiam. Bahunya turun sedikit.

“…Berarti… peristiwa itu…”

Ia menatap jalan di depannya, seolah melihat masa lalu.

“Aku juga di sana… Tapi akhirnya… kerajaan tidak bisa diselamatkan… Para kesatria tercerai-berai… dan mengasingkan diri…”

Wanita itu menutup mulut dengan tangan.

“Jadi… kamu salah satu knight yang selamat…”

Ia melangkah ke belakang Chika, matanya tertuju pada pedang di punggungnya.

“…Dan itu…”

Ia mendekat pelan, seperti mendekati benda suci.

“…Hero Sword?”

Chika menoleh cepat.

“Eh? Kamu tahu?”

Wanita itu berseru kecil.

“Wah! Ini pedang pustaka yang sering diceritakan nenekku!”

Chika berdiri lebih tegak, dadanya sedikit membusung.

“Iya! Aku pemilik barunya!”

Wanita itu tiba-tiba maju dan menggenggam kedua tangan Chika dengan semangat.

“Berarti kamu knight yang ditakdirkan!”

Chika kaget.

“E-Eh?!”

“Siapa pun yang bisa mencabut pedang itu dari batu pusaka berarti dia dipilih Dewi Fil untuk menyelamatkan dunia!”

Chika berkedip.

“…Kok kamu tahu banyak banget sih…”

Lalu ia tertawa kecil, bahunya mengendur.

“Akhirnya ada orang yang bisa aku ajak ngobrol soal beginian…”

Wanita itu tersenyum hangat.

“Hehe… namaku Nifty. Umurku 22 tahun.”

Chika langsung menunjuk dirinya sendiri.

“Eh! Sama! Aku juga 22 tahun! Namaku Chika!”

Mereka saling menatap sebentar… lalu tertawa bersamaan, agak canggung.

Nifty mengangkat alis.

“Berarti tujuanmu ke sini… mencari para Hero, ya?”

Chika mengangguk cepat.

“Iya! Tapi pedang ini malah menunjuk ke rumah itu…”

Nifty menarik napas kecil.

“Sebetulnya… aku asisten beliau.”

Chika melongo.

“EHH?!”

“Dia memang muda, seumuran kita… tapi sekarang sedang sibuk menciptakan alat baru.”

Chika menurunkan bahu.

“Yah… sayang sekali…”

Lalu Nifty tersenyum misterius.

“Tapi… karena tugasmu seperti ini…”

Ia menunjuk Hero Sword.

“…aku akan mengantarkanmu ke beliau.”

Chika langsung meloncat kecil.

“WAH BENERAN?! Makasih, Nifty!!”

Ia hampir membungkuk terlalu dalam sampai helmnya hampir jatuh.

Nifty tertawa.

“Hati-hati… ksatria bisa jatuh karena terima kasih.”

Chika garuk pipi, nyengir.

“Hehe… aku belum terbiasa dengan kota yang bisa buka pintu sendiri…”

Mereka mulai berjalan ke arah rumah besar itu.

Hero Sword kembali bersinar lembut.

“Bzzzz…”

Seolah mengonfirmasi:

👉 Hero ke enam… mungkin ada di balik pintu itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!