"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Rahasia Ginah
Berita tentang Ginah yang gentayangan kian meresahkan. Sastro dan kedua anaknya serta keluarga besar mereka tentu saja merasa terganggu.
Setelah mempertemukan Danu dengan ustadz Firman, akhirnya Sastro memperoleh jawaban mengapa istrinya masih berkeliaran dan mengganggu warga setelah beberapa hari meninggal dunia.
"Maksud Ustadz, istri saya diteluh?" tanya Sastro tak percaya.
"Betul Pak Sastro. Setelah mengamati luka yang timbul di tubuh Bu Ginah dan beberapa kejanggalan yang menyertai proses pemakamannya, ditambah cerita Danu tadi, saya simpulkan istri Bapak memang meninggal karena terkena ilmu hitam," sahut ustadz Firman.
Meski sudah menduga sejak awal, tapi saat mendengar langsung uraian ustadz Firman, Sastro pun kecewa.
"Kira-kira siapa yang tega menyiksa istri saya hingga dia meninggal dunia Ustadz?" tanya Sastro.
"Pasti orang yang sakit hati dan dendam sama istri Bapak. Emangnya Pak Sastro ga tau siapa aja yang pernah dibuat sakit hati sama ucapan Bu Ginah?" tanya ustadz Firman.
Sastro menggelengkan kepala. Meski dia tahu salah satu korban Ginah adalah adiknya sendiri. Tapi dia yakin Sartika tak mungkin melukai Ginah dengan cara kotor seperti itu.
"Kenapa ga coba tanya sama temen deketnya almarhumah aja Pak?" sela Danu tiba-tiba.
"Saya setuju. Saya dengar beberapa diantara mereka juga lagi ketakutan setelah dihantui almarhumah istri Pak Sastro," kata ustadz Firman.
Sastro pun mengangguk. Bersama Sartika, Sastro mulai menemui 'teman dekat' Ginah yang biasa duduk menghabiskan waktu sambil mengghibahi orang lain. Mereka adalah Lia, Padmi dan Ruwina.
Sayangnya dari Lia dan Padmi, Sastro tak memperoleh jawaban yang memuaskan. Kini Sastro dan Sartika sedang berhadapan dengan Ruwina. Wajah Ruwina terlihat pucat dengan kantong mata yang menghitam. Sastro dan Sartika tahu, Ruwina kurang tidur beberapa hari ini karena ketakutan.
"Tolong bicara yang jujur. Saya yakin kamu tau sesuatu," pinta Sastro.
"Sumpah, saya ga tau apa-apa Pak," sahut Ruwina.
"Mustahil. Kalian kan deket dan tiap hari selalu bareng. Kalo udah begitu biasanya apa pun dan siapa pun pasti jadi bahan gibahan kalian. Saya yakin saya juga sering jadi bahan gibahan kalian karena tiap kali saya lewat, kalian pasti tertawa. Saya ga percaya kalo kamu ga pernah liat mbak Ginah berantem sama orang yang ga terima digosipin sama dia," kata Sartika.
"Kalo liat Bu Ginah berantem sama orang yang ga terima sama ucapannya, bukan cuma saya yang liat Bu. Lia dan Padmi juga liat kok," sahut Ruwina.
"Nah itu tau. Terus siapa aja orang yang ribut sama mbak Ginah?" tanya Sartika.
Ruwina terdiam sambil berusaha mengingat orang-orang yang pernah berdebat sengit dengan Ginah.
"Jawaban kamu menentukan langkah kami selanjutnya Ruwina. Soalnya kami di sini lagi nyari akar masalah yang bikin arwah istri saya belum pergi dengan tenang dan masih berkeliaran mengganggu warga. Emangnya kamu mau ditemuin lagi sama istri saya?" tanya Sastro kemudian.
Ucapan Sastro membuat Ruwina gentar. Akhirnya dia menyebut beberapa nama yang dia ketahui pernah berhadapan langsung dengan Ginah.
Sastro dan Sartika nampak saling menatap tak percaya mendengar sejumlah nama yang disebut Ruwina. Karena jumlahnya sangat fantastis, bukan hanya satu atau dua orang tapi banyak.
"Astaghfirullah aladziim Bu, aku ga tau udah sebanyak ini orang yang kamu sakiti. Pantesan kamu dimusuhi orang di desa ini," batin Sastro sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Udah, itu aja. Kalo ada yang lain, saya ga tau Bu," kata Ruwina kemudian.
"Baik lah. Tapi sebentar, kalo ga salah dengar, kamu ada nyebut nama Padmi barusan. Setau saya di desa ini yang namanya Padmi ya cuma anggota genk kalian. Apa dia yang kamu maksud?" tanya Sartika.
"Iya Bu," sahut Ruwina cepat.
"Kok bisa sih. Padmi kan temen kalian, bisa-bisanya kalian jadiin bahan gibahan juga," kata Sartika sambil menggelengkan kepala.
"Ya, kami melakukannya saat Padmi ga ada di tempat Bu. Awalnya saya dan Lia ga mau menanggapi, tapi Bu Ginah terus aja ngomong dan bikin kami penasaran," sahut Ruwina.
"Emang kalian ngebahas apa?" tanya Sartika penasaran.
"Tika. Inget ya, kita ke sini bukan untuk denger gosip yang ga pantes tapi untuk cari info soal mbakmu," sela Sastro mengingatkan.
"Iya Mas, aku tau. Tapi ini juga penting. Soalnya aku ga pernah denger kalo Padmi jadi korban juga bahkan pernah ribut sama mbak Ginah," sahut Sartika sambil memberi isyarat pada Ruwina agar menceritakan apa yang menyebabkan Padmi dan Ginah berselisih.
Lalu mengalir lah cerita dari mulut Ruwina tentang Ginah yang curiga Padmi menjalin hubungan dengan seorang pria. Karena menurut Ginah mustahil Padmi bisa setia pada suaminya yang bekerja di luar negeri selama bertahun-tahun.
Padmi yang mendengar dirinya dijadikan bahan gibahan pun marah dan langsung menjambak rambut Ginah hingga wanita itu terjengkang jatuh ke tanah. Lia dan Ruwina yang ada di sana pun terkejut lalu berusaha melerai keduanya.
Meski Lia dan Ruwina akhirnya berhasil menjauhkan Padmi dengan Ginah, tapi pertengkaran mereka masih berlanjut.
"Ga semua orang kaya kamu Ginah. Walau aku berjauhan sama suami, tapi aku bisa setia dan ga pernah selingkuh!" kata Padmi kala itu.
"Eh, apa maksudmu. Kamu nuduh aku selingkuh dari suamiku. Kapan dan siapa saksinya?!" tantang Ginah marah.
Padmi tersenyum mendengar ucapan Ginah. Setelahnya dia mengucapkan sesuatu yang mengejutkan ketiga temannya.
"Waktu kamu pergi ke Jepang setelah sebulan menikah sama pak Sastro, di sana bukan cuma kerja, tapi kamu juga selingkuh. Iya kan?. Kalo soal saksi, suamiku adalah saksinya. Kebetulan selingkuhanmu bertetangga sama teman kerja suamiku. Karena sering berkunjung ke rumah temannya, suamiku jadi sering ngeliat kamu datang ke tempat cowok itu dan tinggal di sana berjam-jam. Bahkan suamiku bilang dia pernah liat kamu seharian di rumah cowok itu dan baru keluar sore hari dalam kondisi rambut basah," kata Padmi sambil mencibir.
"Apa bener begitu Gin?" tanya Lia setelah terdiam beberapa saat.
"Brengs*k. Kalian percaya sama ucapan Padmi?. Aku ga pernah selingkuh ya, ga pernah!" sahut Ginah.
"Tapi aku punya buktinya. Ini, kalian liat foto yang dikirim suamiku. Ada Ginah yang lagi pelukan sama cowok," kata Padmi sambil memperlihatkan foto di layar ponselnya.
Lia dan Ruwina pun terkejut melihat foto itu. Di sana terlihat Ginah sedang berpelukan dengan gestur yang sangat intim. Tak hanya satu, tapi Padmi memperlihatkan beberapa foto untuk meyakinkan hubungan terlarang Ginah dengan seseorang di luar sana.
Ginah marah dan berusaha merebut ponsel Padmi hingga pergumulan kembali terjadi. Keduanya baru berhenti setelah ketua RT dan sekretarisnya melintas di depan mereka.
Setelah hari itu Ginah dan Padmi tak lagi akur. Meski mereka berada dalam satu circle, tapi keduanya selalu saling menjatuhkan.
Setelah cerita Ruwina berakhir, Sartika menoleh kearah sang kakak dan terkejut melihat wajah Sastro yang merah padam menahan marah. Khawatir Sastro lepas kendali dan mengamuk, Sartika segera mengajak Sastro pulang.
"Terus saya gimana Bu. Bukannya Ibu bilang mau bantu saya lepas dari kejaran Bu Ginah?" tanya Ruwina.
"Saya pasti bantu kamu Ruwina. Tapi sekarang saya pulang dulu ya. Kamu tunggu aja, mungkin saya akan butuh bantuan kamu nanti," sahut Sartika sambil mengejar Sastro yang melangkah cepat kearah rumahnya.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya