Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mesin-mesin perlawanan
Di lambung kapal pesiar Madam Syaza, suasananya jauh dari kemewahan yang terlihat di permukaan. Di bawah dek utama, terdapat ruangan kedap suara yang dipenuhi oleh jajaran mesin cetak digital mutakhir dan deretan komputer dengan spesifikasi tinggi. Tempat ini adalah dapur rahasia Sang Naga Laut, tempat di mana narasi-narasi yang dibungkam penguasa dihidupkan kembali.
"Jangan hanya menatapnya, Aruna. Gunakan waktumu," Madam Syaza berdiri di sampingku, asap cerutunya menari-nari di bawah lampu neon yang terang benderang.
Aku sedang menatap layar monitor besar, tempat draf buku 'Wajah-Wajah Tersembunyi' sedang disusun ulang oleh tim desainer Madam Syaza. Mereka menambahkan dokumen-dokumen tambahan yang tadi kuberikan—peta lahan, bukti transfer ilegal, hingga testimoni nelayan yang selama ini hanya tersimpan di kantong memori kamera Biru.
"Kita tidak hanya membuat buku esai foto sekarang," kataku sambil memperbaiki salah satu kalimat narasi. "Kita sedang menyusun surat dakwaan."
Madam Syaza tersenyum tipis. "Itu semangat yang bagus. Tapi ingat, Abhinara bukan lawan yang bodoh. Begitu buku ini tersebar, dia akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyebut ini sebagai hoaks atau pencemaran nama baik. Kamu sudah siap menghadapi badai hukum setelah ini?"
"Saya sudah kehilangan segalanya, Madam. Karier, apartemen, bahkan ketenangan saya. Satu-satunya yang belum saya lepaskan adalah kebenaran ini," jawabku tanpa berpaling dari layar.
Tiba-tiba, salah satu kru Madam Syaza masuk dengan tergesa. "Madam, ada sinyal masuk dari informan kita di darat. Biru sudah dipindahkan dari lokasi awal."
Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku langsung menghampiri pria itu. "Dia dibawa ke mana? Apa dia terluka?"
Pria itu menatap Madam Syaza, menunggu izin sebelum menjawab. Madam mengangguk pelan.
"Dia dibawa ke ruang bawah tanah gedung lama Laksmana Group. Sepertinya Abhinara sedang kehilangan kesabaran. Dia tidak hanya mencari naskah itu, dia ingin Biru menandatangani surat pernyataan bahwa seluruh data yang ditemukan Biru adalah palsu," jelas kru tersebut.
Aku mencengkeram pinggiran meja. "Abhi ingin menghancurkan karakter Biru secara total."
Madam Syaza mematikan cerutunya. "Itu cara lama keluarga Laksmana. Jika tidak bisa membunuh orangnya, bunuh kredibilitasnya. Aruna, dengarkan aku. Kita punya waktu tiga hari sebelum peresmian proyek pelabuhan baru itu dimulai. Kita harus mulai mencetak sekarang."
"Tapi bagaimana dengan Biru?" suaraku sedikit bergetar. "Kita tidak bisa membiarkannya membusuk di sana sementara kita di sini."
Madam Syaza mendekat, memegang bahuku dengan tangannya yang dingin namun mantap. "Biru adalah seorang Laksmana. Dia tahu cara bertahan hidup di kandang singa lebih baik darimu. Jika kita menyerang sekarang untuk menyelamatkannya, Abhinara akan tahu lokasi kita dan menghancurkan mesin-mesin ini. Buku ini adalah satu-satunya alat tawar kita. Jika buku ini terbit, Biru adalah pahlawan yang tidak bisa disentuh. Jika kita gagal, Biru hanya akan menjadi korban yang terlupakan."
Aku menelan ludah. Pilihan yang sangat sulit. Memilih antara keselamatan orang yang kucintai atau perjuangan yang kami bangun bersama.
"Tuliskan bab penutupnya, Aruna," perintah Madam Syaza. "Tuliskan tentang pengorbanan yang dilakukan untuk satu frame foto. Buat orang-orang yang membacanya merasa berdosa jika mereka tetap diam."
Aku kembali duduk di depan komputer. Jemariku mulai menari di atas papan ketik dengan amarah yang dingin. Aku tidak lagi menulis sebagai editor yang netral. Aku menulis sebagai saksi mata dari sebuah pengkhianatan.
Sementara itu, di lantai atas, suara mesin cetak mulai menderu. Satu per satu halaman keluar, membawa aroma tinta dan keberanian. Di setiap lembar yang tercetak, aku menyelipkan doa agar Biru tetap bertahan.
"Madam," panggilku tanpa menoleh. "Bisa saya minta bantuan satu hal lagi?"
"Apa?"
"Saya ingin mengirim pesan singkat kepada Maira. Dia adalah satu-satunya retakan di pihak Abhinara yang bisa kita gunakan untuk menyusup ke dalam gedung lama itu secara digital."
Madam Syaza menatapku dengan binar kekaguman. "Kamu mulai belajar cara bermain di air yang keruh, Aruna. Lakukanlah."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...