Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²⁵ — Wanita Hebat.
Kalvin dan Malvin mengangkat tubuh Sinta dengan hati-hati.
Sinta ringan… terlalu ringan untuk ukuran perempuan hamil. Lastri ikut memegang bahunya, menahan agar kepala Sinta tidak terbentur. Darah masih mengalir, menetes di lantai rumah, lalu jatuh ke tanah halaman.
Alya berdiri di samping pintu, wajahnya pucat. Dia menangis tanpa suara.
“Teh…” Sinta merintih.
Lastri menggenggam tangan Sinta erat. “Jangan ngomong dulu, simpan tenaga.”
Sinta menggeleng pelan. “Aku… aku takut mati…”
“Kamu nggak akan mati, kamu harus yakin. Kamu nggak akan mati.”
Malvin membuka pintu mobil dengan cepat.
“Masuk!” perintahnya tegas.
Kalvin langsung membantu mengangkat kaki Sinta, sementara Malvin mengangkat bagian bahu dan punggung. Lastri ikut naik ke belakang, memangku kepala Sinta.
Alya ragu-ragu.
Malvin menoleh pada adik perempuannya. “Naik.”
Alya mengangguk cepat, lalu ikut naik. Tangannya gemetar masih memegang handuk dan kain.
Kalvin masuk ke depan, Malvin duduk di kursi pengemudi. Dan mobil langsung melaju.
Di dalam mobil, Sinta tiba-tiba menjerit lagi.
“AAAAAHH…!”
Lastri menahan tubuhnya.
“Tarik nafas, Sinta! Tarik nafas!”
Sinta menggeliat, tangannya mencengkeram lengan Lastri sampai sakit. “Teh… aku… aku nggak kuat…”
Lastri menunduk, ia melihat kain yang menutupi paha Sinta. Basah, darahnya makin banyak.
Lastri mulai gemetar. “Bang… dia benar-benar akan melahirkan…”
Malvin menatap ke belakang lewat kaca spion, wajahnya tegang. “Pegang dia, Lastri. Jangan biarkan dia pingsan.”
Alya menangis, suaranya patah. “B-bayi… bayinya gimana…?”
Lastri menelan ludah, ia bahkan belum sempat memastikan apa pun.
Sinta menjerit lagi, lebih keras. Dan tiba-tiba... tubuhnya mengejang.
Lastri membeku. “Astaghfirullah…”
Sinta menatap Lastri dengan mata berkaca-kaca. “Teh… bayinya… kayaknya… udah mau keluar…”
Lastri seperti kehilangan nafas.
Alya menutup mulutnya. “Ya Allah… disini? Di dalam mobil?!”
Kalvin yang duduk di depan ikut panik.
“Bang… ini gimana?!”
Malvin mengumpat pelan, tapi bukan kata kasar. Itu suara orang yang menahan guncangan, ia segera memutar setir cepat.
“Kita ke puskesmas terdekat saja!” Ucap Lastri akhirnya.
“Yang di ujung desa itu?” Tanya Malvin.
“Ya!”
Malvin menekan gas.
Namun baru beberapa menit… Sinta menjerit lagi. “AAAAAAHHHH!”
Kali ini Lastri merasakan sesuatu, bukan hanya darah. Ada cairan hangat yang mengalir deras. Ia menunduk, dan seketika wajahnya langsung pucat.
Air ketuban.
Lastri menatap Alya.
“Alya… sini kainnya!“
Alya buru-buru menyerahkan kain yang tadi ia bawa.
Lastri menggertakkan gigi. “Alya, kamu harus bantu. Jangan panik! Kalau kamu panik... dia dan anaknya bisa dalam bahaya!”
Alya menangis, tapi ia mengangguk. “Baik… baik…”
Sinta merintih kesakitan. “Teh… sakit…”
Lastri menahan tangan Sinta.
“Dengarkan aku, Sinta. Kalau kamu mau melahirkan anakmu, kamu harus kuat.”
Sinta menggeleng. “Aku… aku…”
Lalu ia menangis keras.
“Teh… maafin aku… a-aku ngerasa ikut jahat sama teteh... ”
Lastri membeku, suaranya lembut tapi tegas. “Kita ngomong itu nanti, sekarang kamu dan anakmu harus selamat dulu.”
Sinta menggertakkan gigi, ia menahan napas.
Lalu… jeritan itu keluar lagi.
“AAAAHHH!”
Dan kali ini, Lastri merasakan… kepala bayi itu benar-benar sudah turun. Tangannya gemetar, wajahnya semakin pucat.
Di tengah mobil yang melaju, di jalanan desa yang gelap. Tanpa bidan, tanpa dokter dan tanpa alat-alat melahirkan.
Lastri menelan ludah. “Bang…”
Suara Lastri bergetar.
Malvin menatap spion.
“Apa?”
Lastri hampir menangis.
“Bayinya… udah keluar.”
Kalvin menoleh cepat, matanya membelalak.
“HAH?!”
Alya menjerit kecil, lalu menutup mulutnya sendiri. “Ya Allah…”
Malvin menginjak rem mendadak.
Mobil berhenti.
“Bang!” Kalvin panik.
Malvin memutar kepala, suaranya tajam.
“Kita nggak bisa bawa dia sambil lahiran di jalan. Lastri, kamu bisa?”
Lastri menatap Malvin, matanya berkaca-kaca. Ia takut, tapi ia juga tahu... kalau ia tidak melakukannya, maka semuanya selesai.
Lastri mengangguk tegas. “Insya Allah bisa, aku harus bisa.”
Malvin menatap Lastri beberapa detik, itu tatapan penuh kepercayaan.
Malvin mengangguk. “Oke.”
Kalvin langsung turun dari mobil, membuka pintu belakang agar udara masuk.
Alya menangis. “Teh….”
Lastri menatap Alya.
“Alya, kamu pegang tangan Sinta. Kamu semangatin dia, dan minta untuk tarik nafas.”
Alya mengangguk cepat. Ia memegang tangan Sinta, meski tubuhnya sendiri gemetar. “Sinta… tarik nafas… tarik nafas ya…”
Sinta menangis. “Aku takut… aku takut…”
Lastri menunduk, menatap bagian bawah tubuh Sinta. Kepala bayi itu sudah terlihat jelas, ia menarik nafas panjang.
Ia membasuh tangannya dengan air botol yang Kalvin ambil dari depan, lalu ia menatap Sinta dengan penuh keyakinan. “Sinta, kalau aku bilang dorong, kamu dorong.”
Sinta mengangguk lemah.
Lastri menelan ludah. “Sekarang… tarik nafas.”
Sinta menarik napas.
Lastri berkata cepat. “Dorong!”
Sinta menjerit, dan tubuhnya mendorong. Lastri menahan, membantu perlahan. Beberapa detik kemudian… bayi itu keluar. Kecil, sangat mungil. Tubuhnya licin, dan merah.
Lastri menangkapnya dengan kain. Namun... bayi itu diam—tidak menangis.
Lastri membeku.
Sinta menangis histeris. “Anakku…!”
Lastri menahan nafas. Tangannya gemetar, tapi ia memaksa dirinya tetap bekerja. Ia membersihkan mulut bayi itu, mengusap hidungnya. Menepuk punggungnya pelan.
“Ayo sayang… menangislah….”
Namun, tetap tak ada suara.
Lastri menepuk lagi.
Lalu lagi.
Sinta menangis keras. “Ya Allah…!”
Lastri menahan air mata, ia menepuk lebih kuat. Dan akhirnya… sebuah suara kecil terdengar. Lemah, tapi hidup.
“Oeeee... oeee...“
Lastri langsung menangis.
Alya menangis lebih keras.
Sinta terisak, tubuhnya lemas. “Alhamdulillah…”
Lastri membungkus bayi itu rapat-rapat. Lalu ia menunduk, menatap Sinta. Namun senyum Lastri tidak bertahan lama, karena Sinta tiba-tiba merintih. “Arghhh… gelap…”
Lastri menoleh, darah keluar banyak... terlalu banyak.
Lastri panik. “Bang! Dia pendarahan!”
Malvin langsung membuka pintu belakang lebih lebar-lebar, ia memeriksa kondisi Sinta. Wajahnya berubah, ia naik setengah badan ke kursi belakang.
“Tekan di sini,” katanya pada Lastri, menunjukkan posisi kain.
Lastri menurut, Malvin menekan dengan tangan sendiri. Wajahnya tegang.
Kalvin menelan ludah. “Bang, ambulans gimana?!”
Malvin menatap Kalvin. “Telepon lagi.”
Kalvin langsung menghubungi.
Dan di saat itu… akhirnya suara sirene terdengar dari kejauhan.
“Ambulans…“ Malvin menatap jalan.
“Alhamdulillah.”
Ambulans berhenti di depan mereka, petugas medis turun cepat. Mereka melihat kondisi Sinta dan bayi. “Ya Allah… ini lahiran di mobil?”
Lastri mengangguk, wajahnya basah air mata.
“Dia… pendarahan…”
Petugas langsung sigap.
“Tandu! Cepat!”
Sinta diangkat, bayi dibawa. Lastri ikut turun, kakinya gemetar sampai hampir jatuh. Sontak, Malvin memegang siku Lastri.
“Pegang aku.”
Lastri menatap Malvin. “Tadi… a-aku takut…”
Malvin menatap Lastri, suaranya sangat lembut. “Lastri, kamu wanita hebat.”
Kalimat itu sederhana, tapi membuat Lastri seperti ditarik kembali dari jurang.
Alya ikut turun, ia juga masih menangis. Kalvin berdiri di samping ambulans, wajahnya pucat.
“Bang… itu… polisi juga datang.”
Lastri menoleh.
Sebuah mobil polisi berhenti di belakang ambulans, lalu dua polisi turun. Salah satunya membawa senter, menatap ke arah mereka.
“Bu Lastri?”
Lastri menelan ludah. “Iya…”
Polisi itu menatap darah di mobil, menatap wajah Lastri, lalu menatap Malvin.
“Laporan masuk ada penganiayaan dan percobaan penculikan.”
Malvin maju setengah langkah.
“Saya yang lapor, nama saya Malvin.”
Polisi menatap Malvin. “Bisa ikut kami sebentar? Kami butuh keterangan.”
Lastri menahan napas.
Malvin menoleh ke Lastri, tatapannya tegas. “Akan aku urus.”
Lastri mengangguk pelan, Alya memegang tangan Lastri. “Teh… kita… kita gimana?”
Lastri menatap ambulans yang sudah menutup pintu. “Kita ikut ambulans.”
Di dalam ambulans, Lastri memegang ujung kain bayi yang kecil. Tangannya gemetar, ia menatap wajah mungil itu. Bayi itu hidup, namun nafasnya kecil... lemah.
Lastri menangis tanpa suara, Alya memeluk Lastri dari samping. “Teh… mereka pasti akan selamat, kan?”
Lastri mengangguk pelan. “InsyaAllah.”
Sementara Malvin bersama polisi, memberikan keterangan. Tatapan Malvin dingin. Namun di balik dingin itu… ada satu hal yang tidak bisa ia sembunyikan—amarah.
Karena malam ini, Lastri hampir dihancurkan. Dan Malvin bersumpah dalam hati, ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.