NovelToon NovelToon
DONOR DARI MASA LALU

DONOR DARI MASA LALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Hamil di luar nikah / Cintapertama
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: ilonksrcc

"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDML 3: NOTIFIKASI YANG MENGUBAH SEGALANYA

“Pesan Anda telah dibaca.”

Empat kata itu berkedip di layar ponsel butut Aisha seperti peringatan bahaya. Jantungnya berhenti sejenak, lalu berdebar kencang deg… deg… deg seperti drum perang di telinganya. Tangannya gemetar hingga hampir menjatuhkan ponsel.

Dia baca.

Rafa membacanya.

Aisha menatap layar, menunggu. Tiga titik bergerak-gerak yang menunjukkan Rafa sedang mengetik balasan muncul, lalu hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Seperti napas yang tertahan.

“Tunggu,” pikirnya. “Dia sedang memikirkan jawaban. Atau... dia sedang mengecek profilku.”

Profil LinkedIn Aisha hampir kosong. Hanya foto samar, tanpa riwayat pekerjaan. Apa yang bisa dilihat Rafa? Seorang wanita berusia 26 tahun yang terlihat lebih tua dari usianya, dengan mata lelah dan senyum pahit.

Notifikasi baru.

Aisha hampir tersedak melihatnya.

“Aisha? Aisha yang dulu dari kampus?”

Iya. Itu dia. Aisha yang dulu. Aisha yang pernah dicintainya. Aisha yang menghilang tanpa jejak delapan tahun lalu.

Dengan jari yang dingin, ia membalas: “Iya. Maaf tiba-tiba menghubungi.”

Tiga titik bergerak lagi. Kali ini lebih lama.

“Lama sekali. Apa kabar?”

Apa kabar? Pertanyaan sederhana yang mustahil dijawab. Bagaimana menjawab “apa kabar” ketika hidupmu adalah rusunawa tiga lantai, anak yang sakit parah, tumpukan tagihan, dan rasa bersalah yang menggerogoti setiap malam?

“Baik. Kamu?” Aisha membalas, berbohong dengan lancar. Kebohongan pertama setelah delapan tahun. Rasanya pahit di lidah.

“Alhamdulillah baik. Ini nomorku baru, 08xxxxxx. Lebih mudah WhatsApp.”

Nomor telepon. Kontak langsung. Pintu yang terbuka. Tapi Aisha malah merasa seperti berdiri di tepi jurang. Sekali ia melangkah, ia jatuh.

Ia menyimpan nomor itu. Di buku kontak, ia ketik: “Rafa (JANGAN DITELEPON DULU)”. Seperti peringatan untuk dirinya sendiri.

 

Di ruang rumah sakit, cahaya pagi mulai masuk. Arka bergerak-gerak, matanya terbuka pelan. “Bun… kita di mana?”

“Di rumah sakit, sayang. Kamu demam tinggi tadi malam.”

Arka melihat sekeliling, wajahnya murung. “Berapa hari lagi?”

“Tiga hari. Tapi kalau cepat sembuh, mungkin bisa pulang lebih awal.” Aisha membelai rambutnya. “Lapar? Bunda beli bubur.”

Arka menggeleng. “Ga mau makan. Mual.”

Efek samping. Selalu begitu. Aisha menghela napas. “Minum susu dulu, ya?”

Saat ia sedang menyuapi Arka susu cair, ponselnya bergetar lagi. Notifikasi WhatsApp.

“Rafa mengirim kontak.”

Kontak? Ia buka. Foto profil WhatsApp Rafa. Bukan foto profesional lagi. Foto keluarga kecil: Rafa dengan seorang wanita cantik berjilbab, dan seorang anak perempuan berusia sekitar 5 tahun yang tersenyum lebar. Latar belakang taman bermain. Sempurna. Bahagia.

Perih. Tajam. Menusuk ulu hati.

Aisha menutup ponselnya, tapi gambar itu sudah terpateri di benaknya. Keluarga yang utuh. Kehidupan yang tidak pernah ia miliki.

“Bunda, kenapa?” tanya Arka, mata cerahnya memperhatikan.

“Ga ada apa-apa, sayang. Bunda cuma… capek.”

“Bunda cari ayah Arka belum?”

Pertanyaan itu seperti tamparan. Aisha memandangi foto keluarga di ponsel, lalu memandangi Arka yang kurus, pucat, dengan selang infus di tangan. Dua dunia. Satu penuh tawa, satu penuh luka.

“Bunda… sedang mencoba,” jawabnya, suara bergetar.

 

Sepanjang hari, Aisha tidak membalas pesan Rafa. Ia sibuk dengan Arka membantunya ke kamar mandi, menemani saat fisioterapis datang, menghibur saat Arka menangis karena disuntik obat baru. Tapi pikirannya terus melayang ke ponsel yang diam di dalam tas.

Apa yang harus ia katakan?

“Halo Rafa, aku punya anak kita, dia sakit parah butuh ginjalmu”?

“Maaf aku tidak memberi tahumu dulu, tapi bisakah kamu menyelamatkannya sekarang?”

Egois. Itu yang ia rasakan. Sangat egois. Menghilang selama delapan tahun, lalu muncul hanya saat butuh sesuatu sesuatu yang sangat besar: sebuah ginjal.

Tapi di sisi lain: Arka. Anak yang tidak bersalah. Anak yang tidak meminta dilahirkan. Anak yang sekarang terbaring lemah, bertanya-tanya mengapa tubuhnya tidak bisa seperti anak lain.

Pukul 14.00, perawat datang membawa obat. “Bu Aisha, ada telepon dari laundry tempat ibu kerja. Katanya ibu harus konfirmasi, besok bisa masuk atau tidak.”

Aisha menghela napas. “Tolong bilang, saya tidak bisa. Anak saya dirawat.”

“Mereka bilang kalau ibu absen lagi, kemungkinan… dipecat.”

Dunia semakin sempit. Pekerjaan terancam. Penghasilan satu-satunya. Tanpa itu, bagaimana membayar obat? Bagaimana membayar sewa rusunawa?

“Tolong minta waktu sampai lusa,” pinta Aisha, suara hampir merengek.

Perawat mengangguk simpatik. “Baik, Bu.”

 

Sore hari, Arka tertidur lagi. Aisha keluar ruangan, berdiri di koridor yang sunyi. Dengan napas berat, ia akhirnya membuka WhatsApp. Membuka chat dengan Rafa.

“Maaf baru balas. Sibuk.” Ia ketik.

Balasan datang hampir langsung. “Ga apa. Aku juga lagi meeting. Lama banget ya kita tidak kontak. 8 tahun?”

“Iya. 8 tahun.”

“Kamu sekarang di mana?”

Pertanyaan itu berbahaya. “Di Kota S.”

“Sama dong! Aku juga di sini. Wah, kebetulan. Kapan kita ketemu? Lama banget.”

Ketemu. Kata itu membuat perutnya mual. Ketemu berarti melihat langsung. Ketemu berarti mengungkap segalanya.

“Bisa. Tapi… aku ada sesuatu yang berat mau bicarakan.” Aisha mengetik, jari-jarinya dingin.

Jeda lama. Sangat lama hingga Aisha berpikir Rafa mungkin mengurungkan niat.

“Tentang apa?”

“Tentang… masa lalu. Dan tentang… seorang anak.”

Kata “anak” itu ia kirim. Langsung. Tanpa penjelasan. Bom waktu.

Layar diam. Tidak ada “sedang mengetik”. Tidak ada balasan. Sepi. Menakutkan.

Aisha menutup mata. Dia tahu. Rafa sekarang sedang mencerna. Seorang anak. Dari Aisha. Dari masa lalu mereka.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Ponsel berdering. Bukan pesan. TELEPON. Nama: “Rafa (JANGAN DITELEPON DULU)”.

Aisha hampir menjatuhkan ponsel. Tangan gemetar tak terkendali. Ia menatap layar yang bergetar, seperti ular berbisa.

Ia angkat?

Ia tolak?

Nafasnya tersengal. Jantung berdebar kencang. Ini dia. Momen yang tidak bisa ia hindari lagi.

Dengan jari yang hampir kaku, ia geser untuk menerima.

“Halo?” suaranya serak, hampir tidak terdengar.

“Aisha.” Suara di seberang sana… dalam. Berbeda. Bukan suara pemuda 20 tahun yang dulu. Tapi suara pria dewasa. Tegang. “Pesanmu… maksudnya apa?”

Aisha bersandar ke dinding, kakinya lemas. “Rafa… aku…”

“Kamu bilang ‘anak’. Apa maksudmu, Aisha? Jangan main-main.”

“Aku tidak main-main.” Aisha menutup mata, air mata sudah mengalir. “Ada… ada seorang anak. Anak kita. Laki-laki. Umurnya 7 tahun.”

Hening.

Hening yang mematikan.

Lalu, suara Rafa, datar, tapi bergetar halus: “Apa?”

“Aku… aku hamil dulu. Waktu kita putus. Aku coba hubungi kamu, tapi… kamu tidak ada. Aku takut. Aku pulang ke orangtuaku. Dan… aku melahirkannya. Namanya Arka.”

“Arka.” Rafa mengulang nama itu, seperti kata asing. “Kenapa… kenapa baru sekarang kamu bilang?”

“Karena…” Aisha menarik napas dalam, mengumpulkan keberanian terakhir. “Karena dia sakit, Rafa. Sakit parah. Ginjalnya tinggal 12%. Butuh transplantasi. Butuh… donor dari orang tua kandung.”

Lagi-lagi hening.

Tapi hening kali ini berbeda. Seperti udara sebelum badai. Tegang. Berat.

“Jadi…” suara Rafa perlahan, terukur, tapi ada sesuatu yang retak di baliknya. “Jadi setelah 8 tahun kamu menghilang, tidak pernah memberi kabar, tidak pernah bilang aku punya anak… sekarang kamu muncul lagi, dan… kamu minta ginjalku?”

Kalimat itu. Tajam. Akurat. Mengenai sasaran.

Aisha menangis diam-diam. “Aku tahu kedengarannya egois. Aku tahu. Tapi… Arka tidak bersalah. Dia cuma anak kecil. Dan dia… dia sekarat, Rafa. Aku tidak punya pilihan lain.”

“Kamu tidak punya pilihan? DELAPAN TAHUN, Aisha! DELAPAN TAHUN kamu punya waktu untuk bilang! Saat dia lahir! Saat dia ulang tahun pertama! Saat dia masuk sekolah! TAPI TIDAK! Kamu pilih diam! Dan SEKARANG, saat dia sakit, kamu muncul dan minta GINJALKU?”

Suara Rafa meninggi. Marah. Sakit. Terluka.

“Aku minta maaf,” bisik Aisha, hancur. “Aku minta maaf atas segalanya. Tapi tolong… tolong jangan hukum Arka. Dia tidak tahu apa-apa.”

“Di mana kamu sekarang?” tanya Rafa tiba-tiba, suara masih tegang.

“Di Rumah Sakit Umum Daerah. Ruang 307.”

“Aku akan ke sana.”

TUTUP.

Telepon putus. Aisha terduduk lemas di lantai koridor. Dia datang. Rafa akan datang ke sini. Segera.

Dan ia belum siap.

Belum siap melihat wajahnya.

Belum siap melihat kemarahan di matanya.

Belum siap memperkenalkan Arka pada ayahnya dalam kondisi seperti ini.

Ia berjalan pelan kembali ke ruangan. Arka masih tertidur, wajahnya damai. Tidak tahu bahwa badai sedang datang. Badai yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.

Aisha memegang tangan Arka. “Ayahmu akan datang,” bisiknya, air mata menetes ke tangan anak itu. “Tolong jangan benci dia. Dan… tolong jangan benci Bunda.”

 

Di luar, langit sore mulai mendung lagi.

Seperti hari delapan tahun lalu, saat ia memutuskan untuk lari.

Kini, ia tidak bisa lari lagi.

Ia harus menghadapi semua ini.

Untuk Arka.

 

(Di parkiran rumah sakit, sebuah mobil SUV hitam berhenti kasar. Pintu terbuka. Sepasang sepatu kulit pria menjejak tanah. Langkahnya cepat, tegas, penuh amarah yang tertahan.)

1
ilonksrcc
hello 🙏😍
Amiera Syaqilla
hello author🥺
ilonksrcc: hello..😍😍
total 1 replies
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
Dian Fitriana
up next lg
Ummi Rafie
semoga aja Rafa segera merespon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!