NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Aliansi Ipar Dadakan

Pasir pantai Sanur yang halus kini berhamburan ke udara, terinjak oleh derap langkah sepatu bot para tentara bayaran yang muncul dari laut. Mochi, yang biasanya tenang dalam situasi ekstrem sekalipun, kini mengeong protes dengan nada paling tinggi saat tubuhnya disambar dan dimasukkan ke dalam karung jaring oleh salah satu pria bertopeng.

"Mochi! Kurang ajar ya kalian! Itu kucing mahal, biaya perawatannya lebih gede dari gaji kalian sebulan!" teriak Alana.

Tanpa mempedulikan peluru yang masih dimuntahkan oleh Maya dari arah semak-semak, Alana berlari menerjang ke arah pria yang membawa Mochi. Sisi nekatnya sudah di level puncak. Masa bodoh dengan gaun pantai atau keselamatan diri; tidak ada yang boleh menyentuh kucingnya.

"Lana, jangan!" teriak Arkan panik. Ia segera melepaskan tembakan perlindungan ke arah pria bertopeng itu agar tidak bisa membidik Alana.

Di sisi lain, Ariel tidak tinggal diam. Ia menendang meja kayu hingga terbalik untuk melindungi posisi mereka, lalu mengeluarkan senjata laras pendek dari balik pinggangnya. Gerakannya sangat taktis, jauh lebih efisien daripada Arkan.

"Arkan! Kamu urus Maya di jam dua! Aku urus tikus-tikus air ini!" perintah Ariel dengan suara bariton yang penuh otoritas.

Arkan sempat ragu sejenak—bagaimana pun, Ariel adalah orang yang baru saja ia curigai. Namun, melihat Alana yang hampir sampai ke barisan musuh, ia tidak punya pilihan. "Kalau kamu berkhianat, aku sendiri yang akan menghancurkan Pramudya Corps!"

"Simpan ancamanmu buat nanti, Ipar. Sekarang, selamatkan istrimu yang gila itu!" balas Ariel sambil mulai menembak dengan akurasi yang mengerikan.

Alana berhasil mendekati pria pembawa Mochi. Ia tidak punya senjata api, tapi ia punya botol saus sambal ekstra pedas yang tadi ia sambar. Saat pria itu hendak melompat kembali ke speedboat, Alana meluncur di atas pasir layaknya pemain bola yang sedang melakukan tackle.

Sret!

Kaki pria itu tersangkut, membuatnya jatuh tersungkur. Alana langsung menindih punggungnya dan menyemprotkan seluruh isi botol saus sambal itu ke dalam celah topeng si pria.

"Rasain nih bumbu rahasia Nyonya Arkananta! Pedesnya sampai ke ginjal!" teriak Alana.

Pria itu menjerit histeris, tangannya refleks melepaskan karung berisi Mochi untuk mengucek matanya yang terbakar saus. Mochi langsung melesat keluar dari karung, bulunya berdiri semua, dan ia segera memanjat bahu Alana seolah mencari perlindungan.

"Dapet! Mas Arkan, Mochi aman!" seru Alana bangga.

Namun, kegembiraan Alana terpotong oleh suara kokangan senjata tepat di belakang kepalanya. Maya sudah berhasil mendekat, wajahnya merah padam karena amarah dan debu pantai.

"Bagus, Alana. Sekarang aku tidak perlu mengejar kucing itu. Aku cukup membunuhmu dan mengambil loncengnya dari mayatmu," desis Maya.

Arkan dan Ariel terkunci dalam baku tembak dengan sisa tentara bayaran di tepi air. Mereka tidak bisa melihat posisi Alana yang terhalang oleh tumpukan kayu perahu nelayan.

"Mbak Maya... Mbak beneran mau bunuh aku?" suara Alana mendadak mengecil, tampak ketakutan. "Padahal aku baru mau kasih tahu kalau kodenya bukan di lonceng ini."

Maya mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Data aslinya... data yang bisa buka brankas itu... sebenarnya ada di bawah jok motor trail yang aku pakai di lereng Agung kemarin. Lonceng ini cuma umpan yang dibuat Ayah Malik buat nipu orang kayak Mbak," Alana bicara dengan nada sangat meyakinkan, matanya berkaca-kaca.

Maya ragu sejenak. Keserakahannya mulai bertarung dengan dendamnya. Di saat itulah, Mochi—seolah mengerti isyarat—melompat dari bahu Alana dan mencakar wajah Maya dengan sekuat tenaga.

"AAAAA!" Maya berteriak, senjatanya meledak ke arah langit.

Duar!

Sebuah peluru melesat dari arah samping, mengenai tangan Maya yang memegang senjata. Itu adalah tembakan dari Ariel. Arkan menyusul dengan menerjang Maya hingga wanita itu terjatuh ke air laut yang dangkal.

"Permainan berakhir, Maya," ucap Arkan dingin, menodongkan senjatanya ke arah mantan sekretarisnya yang kini terengah-engah di dalam air.

Pasukan keamanan Ariel dan tim elit Arkananta yang baru tiba akhirnya mengepung seluruh area pantai. Para tentara bayaran yang tersisa menyerah setelah melihat pemimpin mereka (Maya) tak berdaya. Helikopter polisi Bali mendarat di atas pasir, menciptakan badai debu yang menutup drama sore itu.

Ariel berjalan mendekati Alana yang sedang sibuk mengelus Mochi yang belepotan pasir. Ia memasukkan kembali senjatanya ke sarung tersembunyi.

"Aksi saus sambal yang menarik, Kembaran. Aku harus mengakui, cara bertarungmu sangat... unik," ujar Ariel dengan senyum tipis yang kini terlihat lebih tulus.

Alana berdiri, ia membersihkan pasir dari lututnya. "Unik itu nama tengah aku, Mas Ariel. Tapi serius deh, kalian berdua tadi lumayan juga. Kayak duet maut di film-film bioskop, cuma kurang musik latar aja."

Arkan menghampiri mereka, ia langsung memeluk Alana dengan protektif. "Kamu tidak apa-apa? Ada yang luka?"

"Cuma kuku patah satu, Mas. Tapi hati aku yang luka karena liburan ke Bali isinya malah main tembak-tembakan lagi," keluh Alana, sisi "julid"-nya kembali normal.

Ariel menatap Arkan, lalu mengulurkan tangannya. "Arkan. Aku tidak meminta maaf atas apa yang aku lakukan pada perusahaanmu. Itu bisnis. Tapi untuk hari ini... terima kasih sudah menjaga adikku selama aku tidak ada."

Arkan menatap tangan Ariel lama. Ia tahu, di dunia bisnis, Ariel tetaplah rival yang berbahaya. Tapi di dunia nyata, pria ini adalah satu-satunya keluarga sedarah yang dimiliki Alana. Arkan menjabat tangan Ariel dengan mantap.

"Jaga dia bersamaku, Ariel. Karena sepertinya, musuh kita jauh lebih banyak dari yang kita duga."

Malam harinya, di sebuah vila pribadi yang sangat tertutup di daerah Uluwatu, Alana, Arkan, Ariel, dan Larasati duduk melingkar di depan api unggun kecil. Suasana tenang, hanya ada suara ombak yang menghantam tebing di bawah mereka.

Larasati menatap kedua anaknya—Alana dan Ariel—dengan mata yang basah oleh air mata bahagia. "Dua puluh tahun aku memimpikan saat seperti ini. Melihat kalian berdua duduk di satu meja."

Ariel terdiam, ia tampak canggung dengan suasana kekeluargaan yang begitu kental. "Ibu... maaf aku baru muncul sekarang."

"Tidak apa-apa, Ariel. Kamu selamat saja sudah cukup bagi Ibu," Larasati menggenggam tangan Ariel dan Alana secara bersamaan.

"Jadi..." Alana memecah suasana haru dengan gayanya yang khas. "Sekarang kita gimana? Mas Ariel tetep mau bangkrutin Mas Arkan? Atau kita bikin grup WhatsApp keluarga dulu buat bahas menu makan malam?"

Ariel terkekeh. "Grup WhatsApp terdengar seperti mimpi buruk bagi privasiku, tapi boleh juga. Soal bisnis... Arkan, aku punya tawaran. 'The Board' tidak benar-benar hancur hanya karena Maya ditangkap. Masih ada dewan pusat di London yang dipimpin oleh seorang pria bernama Julian Black. Dia yang mendanai seluruh operasi Kakek Waluyo."

Arkan mengangguk. "Aku pernah dengar nama itu. Dia kolektor barang antik yang juga mendanai kelompok tentara bayaran."

"Dia menginginkan kunci Swiss itu karena di dalamnya bukan cuma ada harta Arkananta, tapi juga daftar nama pejabat di seluruh Asia Tenggara yang pernah menerima suap dari 'The Board'," lanjut Ariel. "Jika data itu bocor, pasar saham akan runtuh. Julian ingin menggunakan data itu untuk memeras negara-negara tersebut."

Alana menelan ludah. "Jadi... lonceng Mochi ini isinya kiamat buat ekonomi?"

"Bisa dibilang begitu," sahut Ariel. "Dan Julian sudah mengirim tim pembersih yang lebih elit daripada anak buah Maya. Kita tidak aman di sini."

Tiba-tiba, lampu di seluruh vila padam. Suara alarm keamanan berbunyi melengking. Dari layar monitor di ruang tengah yang menggunakan baterai cadangan, terlihat sebuah pesan singkat yang memenuhi layar:

"TIC-TOC, ALANA. KUNCI ATAU NYAWA IBUKAMU. KALIAN PUNYA 24 JAM UNTUK SAMPAI DI LONDON. - J.B."

Alana menoleh ke arah ibunya. Di leher Larasati, sebuah titik merah kecil berkedip pelan. Sebuah bom mikro telah ditempelkan di jaket Larasati saat kekacauan di pantai tadi tanpa ada yang menyadari.

"BU!" teriak Alana.

Arkan dan Ariel serentak berdiri. Wajah mereka menjadi sangat gelap.

"Oke, Julian," gumam Arkan dengan suara yang sangat dingin. "Kamu ingin perang? Aku akan membawakan perang ke pintu rumahmu."

Alana mengepalkan tangannya. "Mas Arkan, Mas Ariel... panggil pilot jet pribadinya sekarang. Kita berangkat ke London. Dan kali ini, aku nggak akan cuma bawa saus sambal!"

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!