"Di dunia yang dibangun di atas emas dan darah, cinta adalah kelemahan yang mematikan."
Kenzo Matsuda adalah kesempurnaan yang dingin—seorang diktator korporat yang tidak mengenal ampun. Namun, satu malam penuh kegilaan di bawah pengaruh alkohol dan bayang-bayang masa lalu mengubah segalanya. Ia melakukan dosa tak termaafkan kepada Hana Sato, putri dari wanita yang pernah menghancurkan hatinya.
Hana, yang selama ini hidup dalam kehampaan emosi keluarga Aishi, kini membawa pewaris takhta Matsuda di rahimnya. Ia terjebak dalam sangkar emas milik pria yang paling ia benci. Namun, saat dinasti lama mencoba meruntuhkan mereka, Hana menyadari bahwa ia bukan sekadar tawanan. Ia adalah pemangsa yang sedang menunggu waktu untuk merebut mahkota.
Antara dendam yang membara dan hasrat yang terlarang, mampukah mereka bersatu demi bayi yang akan mengguncang dunia? Ataukah mahkota duri ini akan menghancurkan mereka sebelum fajar dinasti baru menyingsing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Sangkar Emas
Villa Samudera, Pulau Pribadi Matsuda - 2026
Hana Sato terbangun oleh sebuah sensasi yang asing—sebuah keheningan yang begitu murni sehingga terasa menyakitkan di telinganya. Tidak ada lagi deru mesin kota Tokyo yang tak pernah tidur, tidak ada sirine polisi di kejauhan, dan tidak ada suara tetangga yang memulai hari. Yang ada hanyalah simfoni alam yang brutal; deburan ombak yang konsisten menghantam dinding tebing granit di bawah vila, diselingi teriakan tajam burung-burung camar yang meluncur di angkasa luar sana.
Ia membuka matanya perlahan, menemukan dirinya terbaring di atas tempat tidur king-size dengan tiang-tiang kayu jati yang diukir tangan dengan motif sulur tanaman yang rumit. Langit-langit ruangan itu menjulang tinggi, dihiasi dengan lampu kristal Baccarat yang kini hanya membiaskan cahaya matahari pagi yang menyilaukan. Hana mencoba bangkit, namun gravitasi seolah menariknya kembali ke kasur empuk itu. Kepalanya berputar, dan sebuah gelombang mual yang hebat tiba-tiba menghantam perutnya.
Hana segera berlari menuju kamar mandi marmer yang berlapis emas. Ia berlutut di depan wastafel, memuntahkan cairan empedu yang pahit ke dalam wadah porselen putih yang dingin. Tubuhnya bergetar hebat. Sambil membasuh wajahnya dengan air dingin yang segar, ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai perak. Matanya yang biasanya datar kini menyimpan ketakutan yang purba, namun di balik ketakutan itu, ada sesuatu yang mulai mengeras—sebuah tekad yang lahir dari keputusasaan.
"Kau tidak di Tokyo lagi, Hana," bisiknya pada bayangannya sendiri, suaranya parau. "Pria gila itu telah membawamu ke tengah neraka yang terlihat seperti surga."
Hana melangkah keluar menuju balkon marmer yang luas. Angin laut yang kencang segera menerpa rambut hitamnya yang berantakan, membawa aroma garam yang tajam dan kelembapan yang membuat kulitnya terasa lengket. Di hadapannya, Samudera Pasifik membentang luas tanpa batas, sebuah hamparan biru safir yang gelap yang memudar menjadi garis cakrawala yang tipis di kejauhan.
Villa ini dibangun di atas tebing granit hitam yang menjorok tajam ke laut, sebuah pencapaian arsitektur yang menantang maut. Di bawah sana, buih-buih putih melompat tinggi saat ombak menghantam karang, seolah-olah tangan-tangan laut sedang mencoba meraih kaki Hana. Pulau itu sendiri adalah sebuah paradoks; hutan hujan tropis yang lebat di sisi timur tampak seperti tembok hijau yang hidup, sementara pasir pantainya yang berwarna abu-abu vulkanik berkilau di bawah terik matahari.
Meskipun terlihat seperti resor mewah bagi para miliarder, Hana bisa merasakan mata-mata teknologi yang mengintainya. Di setiap sudut tebing, lensa kamera pengawas bergerak halus dengan presisi militer. Ia melihat menara sensor kecil di puncak bukit yang mungkin merupakan bagian dari sistem keamanan satelit Matsuda Corp. Tidak ada dermaga, tidak ada perahu. Satu-satunya jalan masuk dan keluar adalah melalui helipad yang dijaga ketat di puncak bukit. Di sini, laut adalah sipir penjara yang paling setia, dan tebing adalah jeruji besi yang mustahil untuk didaki.
❤️❤️❤️
Pintu kamar terbuka dengan suara klik elektronik yang halus. Hana segera mengubah posisi tubuhnya, merapatkan gaun tidur satinnya dan memasang ekspresi wajah yang rapuh. Kenzo Matsuda melangkah masuk. Pagi ini ia tampak berbeda—ia tidak mengenakan setelan jas formalnya yang kaku, melainkan kemeja linen putih yang santai dengan kerah terbuka. Ia tampak seperti seorang pria yang sedang berlibur, namun tatapan matanya tetap memiliki intensitas seorang predator yang telah mengunci mangsanya.
Ia membawa sebuah baki perak berisi piring buah-buahan segar, roti gandum yang masih hangat, dan segelas susu.
"Selamat pagi, Hana," suara Kenzo berat namun tenang, hampir terdengar seperti suara seorang suami yang penyayang. "Udara laut di sini sangat bersih. Aku yakin ini akan sangat baik untuk kesehatanmu—dan kesehatan kehidupan kecil di dalam dirimu."
Hana mengepalkan tangannya di balik kain gaunnya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri untuk meredam amarah yang meledak-ledak. Ia ingin berteriak, ingin menghancurkan baki itu ke wajah Kenzo, namun bayangan wajah ibunya, Rena, kembali muncul di benaknya. Seorang predator tidak akan menyerang saat ia terpojok, pikir Hana. Ia akan berpura-pura mati, atau berpura-pura jinak.
Hana menarik napas dalam-dalam, membiarkan bahunya merosot lemas. Ia menundukkan kepala, membiarkan poninya menutupi sebagian wajahnya, menciptakan kesan seorang gadis yang sudah benar-benar hancur dan menyerah.
"Kenzo-sama," suara Hana keluar lembut, hampir seperti bisikan yang tertiup angin. "Aku... aku tidak tahu harus merasa apa lagi. Tempat ini... terlalu jauh dari segalanya."
Kenzo terhenti sejenak, langkahnya tertahan oleh sapaan "Sama" yang keluar dari bibir Hana. Ia meletakkan baki itu di atas meja marmer dan mendekati Hana dengan perlahan, seolah takut akan menakuti burung kecil yang baru saja hinggap di tangannya. Ia meraih dagu Hana, mengangkatnya perlahan agar mereka bisa bertatapan.
"Kau memanggilku dengan hormat, Hana? Apakah laut akhirnya menyadarkanmu bahwa tidak ada gunanya melawan?"
Hana membiarkan air mata buatan menggenang di sudut matanya, berkilau di bawah sinar matahari pagi. "Aku menyadari bahwa tidak ada gunanya berteriak di tengah samudera yang luas ini. Jika kau memang ingin aku melahirkan anak ini... jika kau memang ingin aku menjadi bagian dari dunia gila ini, setidaknya perlakukan aku dengan sedikit kelembutan. Aku lelah merasa takut setiap kali kau masuk ke ruangan."
Kilatan kemenangan yang murni muncul di mata Kenzo. Selama puluhan tahun, ia memimpikan momen ini—seorang wanita dengan wajah Rena yang akhirnya bertekuk lutut dan mengakuinya sebagai tuan. "Apapun yang kau inginkan, Hana. Aku akan memberikan seluruh pulau ini padamu. Kau akan memiliki kebebasan di dalam batas-batas surga ini, asalkan kau berjanji untuk tidak pernah mencoba menyakiti dirimu sendiri atau... dia."
Hana mengangguk pelan, menyentuh perutnya dengan gerakan yang ia buat-buat seolah-olah ia sedang melindungi janin itu. Dalam hatinya, ia merasa mual yang luar biasa, sebuah rasa jijik yang mengakar hingga ke sumsum tulang. Namun, ia terus melanjutkan perannya dengan sempurna.
"Aku berjanji," ucap Hana pelan. "Tapi aku punya syarat. Aku tidak ingin terus-menerus dikunci di kamar ini. Aku ingin akses ke perpustakaan vila, dan aku ingin diizinkan berjalan-jalan di pantai tanpa dikelilingi pria-pria bersenjata itu. Mereka... mereka membuatku teringat bahwa aku adalah tawanan."
Kenzo tersenyum—sebuah senyuman yang mengerikan karena terlihat tulus. "Tentu, Sayangku. Aku akan memerintahkan para penjaga untuk tetap berada dalam jarak pandang namun tidak mengganggumu. Perpustakaan di lantai bawah memiliki koleksi langka yang aku yakin akan kau sukai. Makanlah sekarang. Kita tidak ingin pewaris Matsuda kelaparan, bukan?"
Ia mengecup dahi Hana dengan cara yang sangat posesif sebelum berbalik dan keluar, meninggalkan aroma parfum oud yang mahal yang kini terasa seperti aroma kematian bagi Hana.
❤️❤️❤️
Setelah pintu terkunci kembali, Hana segera mengambil gelas susu itu dan menuangkannya ke dalam pot tanaman palem di sudut ruangan. Ia duduk di kursi kayu ek di depan jendela, menatap ke arah laut lepas dengan mata yang kini tajam dan waspada.
Kau pikir kau sudah menjinakkanku, Kenzo? batin Hana dengan dendam yang dingin. Kau melihat ibuku dalam diriku, tapi kau melupakan satu hal penting. Rena Sato bukan hanya seorang kekasih; ia adalah seorang pemburu. Dan aku... aku baru saja mulai mempelajari wilayah perburuanku.
Hana menyadari bahwa di pulau terpencil ini, komunikasi dengan dunia luar adalah mustahil melalui cara biasa. Namun, Kenzo adalah pria yang terobsesi dengan kendali. Ia pasti memiliki ruang kerja pribadi dengan koneksi satelit. Jika Hana bisa membangun kepercayaan Kenzo hingga ke titik di mana Kenzo membiarkannya masuk ke ruang pribadinya, ia akan memiliki akses ke seluruh rahasia gelap Matsuda Corp—rahasia yang bisa ia gunakan untuk menghancurkan Kenzo dari dalam, tepat di saat Kenzo merasa paling bahagia.
Sore harinya, Mari—pelayan paruh baya yang bisu itu—datang untuk merapikan kamar. Kali ini, Hana tidak menatapnya dengan kebencian. Ia mendekati Mari, membantu wanita itu merapikan seprai sutranya.
"Mari-san," suara Hana terdengar tulus, sebuah manipulasi tingkat tinggi. "Terima kasih sudah menjagaku. Bisakah kau membantuku mengambilkan buku tentang sejarah keluarga Matsuda dari perpustakaan? Aku ingin mengenal lebih dalam tentang pria yang... yang akan menjadi ayah dari anakku ini."
Mari menatap Hana dengan ekspresi ragu, namun melihat "keramahan" baru di wajah Hana, ia hanya mengangguk pelan sebelum berlalu pergi. Hana tersenyum tipis. Langkah pertama sudah dimulai. Ia akan menjadi "Rena" yang diinginkan Kenzo, sampai tiba saatnya ia menjadi "Ayano" yang akan menghancurkannya.
❤️❤️❤️
Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan semburat warna oranye dan ungu yang dramatis di langit Pasifik. Hana diizinkan berjalan-jalan di pantai berpasir vulkanik, dengan dua penjaga berseragam hitam yang mengawasinya dari jarak lima puluh meter. Angin laut yang dingin menerpa gaun putih panjangnya, membuatnya tampak seperti hantu yang bergentayangan di tepi air.
Saat ia berjalan di dekat tumpukan karang yang tajam, matanya menangkap sesuatu yang berkilau di antara celah batu. Sebuah botol kaca tua yang tertutup rapat oleh lilin. Hana membungkuk, berpura-pura sedang membetulkan tali sandalnya sambil memungut botol itu dengan cepat dan menyembunyikannya di balik lipatan gaunnya yang lebar.
Jantungnya berdebar kencang saat ia kembali ke kamarnya dan memastikan pintu terkunci. Dengan tangan gemetar, ia memecahkan segel lilin itu dan mengeluarkan secarik kertas yang tampak usang dan lembap. Saat ia membuka lipatannya, matanya membelalak melihat tulisan tangan yang panik, ditulis dengan apa yang tampak seperti tinta hitam yang sudah memudar—atau mungkin darah yang sudah mengering.
'Jika kau menemukan ini, jangan percaya padanya. Dia bukan ingin menghidupkan kembali cintanya, dia ingin menghapus dosanya. Aku adalah yang ketiga di pulau ini. Jangan sampai ada yang keempat. LARI!'
Hana menatap kertas itu, lalu menoleh ke arah kamera pengawas di pojok ruangan. Keringat dingin membanjiri punggungnya. Ia menyadari satu hal yang jauh lebih mengerikan dari sekadar penculikan: Ia bukanlah korban pertama di surga terpencil ini, dan para pendahulunya tidak pernah berhasil keluar hidup-hidup.
Bersambung...