When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anak yang dibuang oleh langit.
Desa Mooire, perbatasan antara Kerajaan Khanox dan Vladmir.
Dipagi hari yang cerah itu, masyarakat desa dibuat panik akan adanya kabar bahwa peperangan antara Khanox dan Vladmir pecah.
"Hei, aku dengar kabar dari pedagang yang baru saja tiba dari Ibu Kota, katanya peperangan antara Khanox dan Vladmir semakin besar? Desa kita aman gak ya?"
"Cih, apa yang kau takutkan Darel, Savior Kerajaan kita (Khanox) itu luar biasa kuatnya! Tidak mungkin kita akan kalah dari para kroco Vladmir."
Savior adalah konsep hero atau pasukan elite yang dianut ke-3 kerajaan; semua yang tertarik terjun kedunia militer pasti ingin lolos tes menjadi savior.
"Eh tapi musuh kita, Kerajaan Vladmir punya komandan savior yang terkenal kejam ituloh..siapa namanya ya.. Oh iya, Komandan Besar Vitalii Aizen dengan kekuatan dewa Morvael. Beberapa tahun ini, dia menunjukkan kekejamannya pada daerah yang ia jajah."
"Benar.. Aku harap kali ini Komandan Besar Senno Xaverius bisa menang.."
Dari balik tembok, Kai kecil menguping pembicaraan 2 pria yang sedang membahas perang.
"Perang.. Komandan Besar.." Mendengar kata-kata itu saja sudah membuat hatinya berdebar. Ia tidak sabar untuk mendapat kekuatan dewa dan pergi berperang.
"HEI!! Apa yang kamu lakukan disini anak buangan?!" teriak salah satu bocah seumurannya.
"Ah... Tidak... Bukan-"
"KAMU MENGUPING LAGI YA??" ucap anak itu sambil mengeluarkan api dari tangannya.
"T-tunggu! Maafkan aku Derik!" Teriak Kai.
"Tidak ada maaf untuk bocah buangan sepertimu!"
*BURNN!!
"AAARGGGH!!" Kai menahan api yang dilemparkan Derik. Ia hanya bisa menjerit tanpa balas.
"Kenapa.. Kenapa aku tidak diberkahi kekuatan dewa.. Apakah dewa tidak suka padaku..?" pikiran itu selalu terlintas didalam pikirannya.
"Hei, sudah cukup Derik.. Nanti dia bisa mati.. Kamu tahu kan kalo membunuh itu kriminalitas tingkat tinggi." Ucap salah seorang teman perempuan Derik khawatir.
"Tch.. Baiklh, cukup buat hari ini, ayo pergi!"
Namun sebelum pergi sepenuhnya, anak perempuan itu menatap Kai cukup lama dengan tatapan khawatir. Kai pun balas menatapnya dengan tubuh yang sudah penuh luka bakar.
"Ada apa Selina?? Kenapa kau masih disitu?" Teriak Derik.
"I-Iya! Aku kesana.." Dari gerakan bibirnya sebelum pergi ia meminta maaf pada Kai. Dan itu cukup baginya.
Kai pulang dengan rasa sakit. Sakit fisik dan hatinya. Umurnya baru 12 tahun, namun ia sudah menerima perlakuan ini sejak usianya 5. Terlahir ditengah kekacauan perang dan kehilangan orangtua sejak lahir, ia tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayang. Yang ia tahu hanyalah penolakan, pengucilan, penghinaan dan selalu diabaikan.
Digubuk kayu kecilnya itu, ia membasuh diri dan mencoba merawat lukanya sendiri dengan alat dan bahan yang seadanya. Entah mengapa Kai selalu bisa bertahan dari siksaan anak-anak desa itu.
"Dengan tubuh penuh luka begini, kira-kira Pak Garo bakalan izinin aku kerja gak ya.." ucap Kai diatas kasurnya. Mengingat ia hanya punya 1 pekerjaan itu untuk menghidupi dirinya sendiri.
Ketika Kai hendak membaringkan badannya dan beristirahat, suara ketukan pintu terdengar.
*tok tok tok!
"Tamu? ini tengah malam loh.. jangan-jangan itu Derik lagi.. siall.." Gumam Kai.
"Bentar Derik, aku kesana!"
*kreek!
Ketika ia membuka pintu, bukannya Derik, yang ada dihadapannya justru bocah perempuan tadi siang.
"E-Eh! Kamu yang tadi siang? temannya Derik? apa yang membuatmu kesini tengah malam?" Tanya Kai dengan penasaran.
"M-maaf mengganggu waktu istirahat mu! aku Selina.. aku benci mengakuinya tapi Derik memang temanku.. Aku kesini untuk meminta maaf dengan benar padamu Kai.. dan aku ingin merawat lukamu." Balas Selina.
Pipi Kai memerah, ini pertama kalinya dia berbicara pada perempuan. Dan kini perempuan itu mau merawat lukanya?
"Anu.. Selina.. kamu gak takut sama aku? Aku ini anak buangan Langit yang tidak direstui dewa.. bahkan sampai sekarang aku tidak merasakan adanya berkah yang akan muncul. berbeda dengan Derik yang mewarisi berkah Api Dewa Ifrit dari leluhurnya. Pergilah Selina, Derik akan marah jika ia tahu kamu ke sini.."
*tap tap
Selina malah berjalan masuk kedalam gubuk milik Kai.
"Hei, kau dengar kataku?" Tegas Kai.
"Wow lukisan disini bagus sekali, kamu yang membuatnya sendiri?" Tanya Selina.
"I-iya.. cuma ini satu-satunya tempatku bisa berbicara dengan bebas. lukisan tidak pernah menghakimi."
"Kamu tahu.. Kai. Aku tidak peduli dengan siapa dirimu dan julukan mereka padamu. sejujurnya, aku selalu memperhatikanmu sejak dulu. meskipun dibenci dan selalu terabaikan, kamu tetap bekerja keras untuk bisa hidup. Mungkin.. aku sedikit suka dirimu yang seperti itu." Ucap Selina dengan malu dan pipinya mulai memerah.
Mendengar itu, Kai ikutan merasa malu. "A-apa maksudmu Selina.. Nanti banyak yang salah paham loh.."
"Ah sudahlah! sini aku rawat lukamu. gimana bisa kamu hidup dengan merawat luka seperti ini.. nanti bisa infeksi tau!"
Pada akhirnya Selina membantu Kai merawat lukanya malam hari itu.
"Selesai juga.. Istirahatlah Kai, jangan banyak gerak dulu. aku pulang ya.." ucap Selina.
"Selina.. Terima Kasih." Balas Kai dengan Senyuman.
Hari pun berpindah. Kabar tentang Selina yang mengunjungi Kai dengan cepat menyebar. Semalam, ternyata ada orang yang sempat mengikuti Selina.
Pagi hari sekitar pukul 08.00
*BRAKKK!
Pintu gubuk Kai didobrak dengan paksa. ia terbangun dengan kaget.
"TUNGGU! AYAH!! KAI TIDAK SALAH, AKU YANG MENGUNJUNGINYA SENDIRI!!"
Gerombolan warga tampak ramai mengelilingi gubuk Kai.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU ANAK BUANGAN!?!" Teriak Ayah Selina sambil mencekik leher Kai.
"A.. Ak.. Aku.. T-Tidak ber.. berbuat.. Apa pun.. Tuan.." Balas Kai dengan nafasnya yang terbatas.
"Sialan! MASIH BISA BERBOHONG?!?"
*BUGHHH!!! Ayah Selina memukul perut Kai dengan sangat keras.
*BRAKK!
Tubuh Kai terjatuh ketanah.. tak berdaya, pandangannya kabur, namun sekilas ia melihat Selina dari kejauhan. Selina menangis sembari berusaha untuk bisa menggapai Kai.
"BAWA ANAK KOTOR INI KE PENGADILAN DESA!"
Seketika puluhan warga mengamankan Kai yang sudah tidak berdaya itu untuk dipindahkan.
Hancur sudah.. hidupku hanya sampai sini saja ya..
Hah.. harusnya aku melakukan banyak hal yang kusuka, bukannya bekerja tanpa henti di Pak Garo..
Tapi tak apa, Pak Garo orangnya baik.. ia suka memberi makanan dan uang lebih padaku.. maafkan aku Pak Garo.. Mungkin besok aku sudah tidak bisa bekerja ditempatmu lagi..
Dan untuk Para Dewa.. Selamat, Kalian menang.