When Gods Grow Bored berlatar di sebuah benua kuno "Nirenva" yang dilanda perang tanpa akhir, tempat kerajaan-kerajaan saling membantai atas nama para dewa yang pernah turun dan meminjamkan kekuatan mereka kepada umat manusia. Di dunia di mana nilai hidup diukur dari restu ilahi, Kai Jhoven: seorang anak tanpa berkah dan tanpa asal-usul tumbuh sebagai sosok terbuang, dipaksa bertahan di tengah kekacauan yang tidak pernah ia pilih. Ketika sebuah kekuatan asing akhirnya menjamah dirinya, Kai Jhoven terseret ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih besar dari perang antar manusia: intrik ilahi, kekuasaan yang dipinjam, dan kebenaran kelam di balik mukjizat yang disembah dunia. Dalam perjalanan dari medan perang hingga jantung kekuasaan, takdir, kepercayaan, dan kemanusiaan diuji; sementara langit yang selama ini dipuja perlahan mulai retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jhoven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
anak yang dibuang oleh langit.
Desa Mooire.
Perbatasan antara Kerajaan Khanox dan Vladmir.
Pagi itu seharusnya cerah.
Namun udara terasa berat.
Desas-desus tentang perang menyebar lebih cepat daripada angin. Para petani meninggalkan ladang lebih awal, para pedagang berkumpul di depan kedai, dan wajah-wajah yang biasanya santai kini dipenuhi kegelisahan.
“Katanya perang antara Khanox dan Vladmir makin besar,” ujar seorang pria dengan nada cemas. “Pedagang dari ibu kota bilang pertempuran sudah sampai wilayah timur. Desa kita aman nggak ya?”
“Cih.” Pria di sampingnya mendengus. “Apa yang kau takutkan, Darel? Savior Kerajaan Khanox itu luar biasa kuatnya. Kita nggak mungkin kalah dari kroco-kroco Vladmir.”
Kata Savior diucapkan dengan penuh kebanggaan.
Di tiga kerajaan besar Nirenva, Savior adalah simbol kejayaan: pasukan elite pilihan yang mewarisi restu dewa. Menjadi Savior adalah impian setiap anak yang lahir dengan berkah.
“Eh, tapi Vladmir punya Komandan Besar yang terkenal kejam itu…” Darel menelan ludah. “Siapa namanya… Oh! Vitalii Aizen. Katanya dia mewarisi kekuatan Dewa Morvael. Daerah yang dia jajah… hancur semua.”
“Tenang saja. Komandan Besar Senno Xaverius pasti bisa menang.”
Percakapan itu terhenti oleh derap langkah orang-orang yang mulai membicarakan hal yang sama.
Di balik tembok batu rumah terdekat, seorang anak lelaki kurus menguping dalam diam.
Kai.
“Perang… Komandan Besar…”
Kata-kata itu membuat jantungnya berdebar.
Suatu hari nanti, ia ingin berdiri di medan perang. Mengenakan lambang kerajaan. Mengendalikan kekuatan dewa seperti para Savior.
Suatu hari nanti...
“HEI!! Apa yang kamu lakukan di sini, anak buangan?!”
Suara itu memecah lamunannya.
Kai tersentak.
Di hadapannya berdiri Derik, bocah sebaya dengan tangan menyala oleh api merah terang. Beberapa anak lain berdiri di belakangnya, tertawa mengejek.
“A-aku cuma lewat…” Kai mundur selangkah.
“Kamu nguping lagi, ya? Dasar tikus!”
“Aku nggak—”
“KAMU NGUPING, KAN?!”
Api di tangan Derik membesar.
“T-tunggu! Maaf, Derik! Aku cuma—”
“Tidak ada maaf buat anak buangan sepertimu!”
Api itu melesat.
BURNN!
“AAARGH!!”
Tubuh Kai terlempar ke tanah. Bau daging terbakar memenuhi udara. Rasa panas menjalar dari bahu hingga punggungnya, menusuk seperti ribuan jarum.
Ia tidak membalas.
Ia tidak pernah membalas.
Karena ia tidak punya apa-apa untuk membalas.
Kenapa…
Kenapa aku tidak diberkahi kekuatan dewa?
Apakah para dewa bahkan tahu aku ada?
Derik tertawa puas.
“Sudah cukup, Derik…” suara seorang anak perempuan terdengar ragu. “Kalau dia mati, itu kriminal tingkat tinggi…”
Derik mendecak kesal. “Tch. Baiklah. Cukup buat hari ini. Ayo pergi!”
Langkah kaki menjauh.
Namun satu orang tertinggal.
Seorang gadis berambut panjang berdiri memandangi Kai yang tergeletak dengan tubuh melepuh.
Tatapan itu bukan ejekan.
Itu… khawatir.
“Ada apa, Selina?!” teriak Derik dari kejauhan.
“I-Iya! Aku ke sana!”
Sebelum berbalik, bibirnya bergerak pelan.
Maaf.
Kai menangkap gerakan itu.
Dan entah kenapa… itu cukup untuk membuatnya bertahan hari ini.
####
Gubuk kayu kecil di ujung desa menyambutnya dalam sunyi.
Kai membersihkan lukanya dengan air seadanya. Perihnya luar biasa, tapi ia sudah terbiasa. Sejak usia lima tahun, ia menerima perlakuan seperti ini.
Terlahir tanpa tanda restu.
Tanpa cahaya.
Tanpa berkah yang seharusnya muncul sedari lahir.
Anak-anak lain mulai menunjukkan kemampuan mereka—api, angin, penguatan tubuh. Sementara dirinya?
Kosong.
Anak yang dibuang oleh langit.
Ia duduk di atas ranjang reyotnya, menggigit kain saat mengoleskan ramuan seadanya ke luka bakarnya.
“Dengan kondisi begini… Pak Garo bakal izinin aku kerja nggak ya…” gumamnya lirih.
Bekerja di toko sederhana milik Pak Garo adalah satu-satunya cara ia bertahan hidup.
Ia berbaring.
Tubuhnya lelah.
Jiwanya lebih lelah lagi.
Tok. Tok. Tok.
Kai membuka mata.
“Tamu? Tengah malam begini?” Ia menelan ludah. “Jangan-jangan Derik lagi…”
Ia bangkit perlahan.
“Bentar, Derik… aku buka…”
Creek…
Pintu terbuka.
Dan yang berdiri di sana bukan Derik.
Melainkan gadis yang tadi menatapnya dengan khawatir.
“K-kamu?”
“Aku… Selina.” Suaranya pelan. “Maaf mengganggu. Aku datang untuk… meminta maaf yang sebenarnya. Dan… kalau boleh… aku ingin merawat lukamu.”
Kai membeku.
Ini pertama kalinya seorang gadis berbicara padanya tanpa nada hinaan.
“Kamu nggak takut?” tanyanya pelan. “Aku ini anak buangan. Tanpa restu dewa. Bahkan sampai sekarang… tidak ada tanda apa pun.”
Ia tertawa pahit.
“Derik mewarisi Api Dewa Ifrit. Kamu tahu itu. Kalau dia tahu kamu ke sini—”
Selina melangkah masuk.
“Aku tidak peduli.”
Kai terdiam.
Pandangan Selina menyapu dinding gubuk.
“Lukisan-lukisan ini… kamu yang buat?”
Dinding kayu itu dipenuhi gambar: langit, pegunungan, medan perang, dan sosok bersayap yang berdiri di kejauhan.
“Iya… cuma itu satu-satunya tempat aku bisa bicara bebas. Lukisan tidak pernah menghakimi.”
Selina tersenyum tipis.
“Kai… aku tidak peduli apa kata orang tentangmu. Aku selalu memperhatikanmu. Meskipun dibenci, kamu tetap bekerja keras. Kamu tidak pernah mencuri. Tidak pernah membalas.”
Ia menunduk, pipinya memerah.
“Mungkin… aku sedikit menyukai dirimu yang seperti itu.”
Jantung Kai seperti berhenti sesaat.
“A-apa maksudmu…? Nanti orang bisa salah paham loh…”
“Diam.” Selina duduk dan mulai membersihkan lukanya dengan hati-hati. “Kalau begini terus, bisa infeksi.”
Sentuhannya lembut.
Hangat.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kai merasa diperlakukan seperti manusia.
“Selesai,” ucap Selina akhirnya. “Istirahatlah. Jangan banyak bergerak.”
Sebelum pergi, ia menoleh.
Kai tersenyum kecil.
“Terima kasih, Selina.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun hidupnya…
Kai tertidur tanpa merasa sendirian.
####
Pagi datang terlalu cepat.
BRAKK!!
Pintu gubuknya hancur didobrak.
Kai terbangun dengan kaget.
“TUNGGU, AYAH! KAI TIDAK SALAH! AKU YANG DATANG KE SINI!”
Suara Selina.
Di ambang pintu berdiri seorang pria bertubuh besar dengan wajah merah padam oleh amarah.
Ayah Selina.
“APA YANG KAU LAKUKAN PADA PUTRIKU, ANAK BUANGAN?!”
Tangannya mencengkeram leher Kai.
“Ngh— A-aku… tidak… melakukan apa pun…”
“MASIH BERANI BERBOHONG?!”
BUGH!!
Tinju keras menghantam perutnya.
Napas Kai terhenti. Tubuhnya terlempar ke tanah.
Pandangan kabur.
Suara warga menggema di sekelilingnya.
“Bawa dia ke pengadilan desa!”
“Anak tanpa restu memang pembawa sial!”
Dalam samar-samar penglihatannya, ia melihat Selina menangis, berusaha meraih tangannya.
Namun jarak di antara mereka terasa seperti jurang.
Tangannya terkulai.
Selesai sudah…
Hidupku cuma sampai sini ya…
Ia tersenyum tipis dalam kesadaran yang memudar.
Maaf, Pak Garo… sepertinya aku tidak bisa bekerja lagi besok.
Dan untuk para dewa…
Selamat.
Kalian menang.