NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Berondong

Terjerat Cinta Berondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:8.5k
Nilai: 5
Nama Author: Noorinor

Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.

Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.

Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Arion duduk di kursi samping ranjang Lydia. Tangannya menggenggam tangan perempuan itu dan sesekali menciumnya. Sudah lewat jam makan malam, namun ia tetap diam di situ, menunggu Lydia membuka mata sampai lupa mengisi perutnya sendiri.

Tidak berselang lama, suara pintu terdengar. Namira masuk ke dalam ruangan untuk menawarkan makanan pada Arion. Ia khawatir putranya sakit jika dibiarkan tidak makan seharian.

"Kamu mau makan apa, Kak? Biar Mamah belikan," tawar Namira sambil menghampiri Arion.

"Aku tidak lapar, Mah. Mamah saja yang makan," sahut Arion tanpa menoleh sedikit pun ke arah ibunya.

Ia terus menatap wajah Lydia, seolah satu-satunya hal yang ia tunggu hanyalah melihat perempuan itu membuka matanya.

"Kamu harus makan, Kak. Mamah tidak mau kamu sakit," ujar Namira yang membuat Arion akhirnya menatapnya.

"Kak Lydia belum bangun, Mah," kata Arion pelan.

Ia berharap ibunya mengerti alasannya menolak makan. Perempuan yang dicintainya masih belum membuka matanya sampai saat ini.

"Iya, Mamah tahu. Tapi tetap saja kamu harus makan, Kak. Kamu butuh asupan energi agar bisa menjaga Lydia," bujuk Namira.

Arion kembali menatap Lydia. Perempuan itu masih belum membuka matanya. Saat ia hendak bicara pada ibunya, tangannya merasakan gerakan lembut dari tangan Lydia dalam genggamannya.

"Tangan Kak Lydia bergerak, Mah," ujar Arion memberitahu ibunya.

Ia menatap wajah Lydia tanpa berkedip. Perlahan, kelopak mata perempuan itu terbuka. Tatapannya tampak kosong sesaat, lalu bergerak menelusuri sekitar. Tiba-tiba Lydia tersentak dan langsung terduduk, persis seperti seseorang yang terbangun dari mimpi buruk.

Arion dan Namira sama-sama kaget. Lydia baru saja sadar, tapi sudah memaksakan tubuhnya yang masih lemah untuk duduk. Genggaman Arion sampai terlepas karena gerakan mendadak itu dan Arion pun refleks bangkit dari tempat duduknya.

"Di mana ini? Aku harus pergi ke wisuda Arion," ujar Lydia, masih belum menyadari siapa yang berada di ruangan bersamanya.

Mendengar itu, Arion langsung memeluk Lydia. Ia tidak menyangka Lydia masih mengingat wisudanya, bahkan dalam keadaan belum sepenuhnya sadar.

"Aku di sini, Kak. Kakak sudah tidak perlu datang ke wisudaku," bisik Arion pelan. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga.

Lydia tampak belum sepenuhnya mencerna situasi. Ia merasa seperti dipeluk orang asing, namun ada sesuatu dalam dirinya yang mendorongnya untuk membalas pelukan itu.

"Lydia baru bangun, Kak. Baringkan dulu dia. Mamah panggilkan dokter untuk memeriksanya," ujar Namira menasihati putranya.

Arion buru-buru menghapus air matanya, lalu melepaskan Lydia dari pelukannya. Ia menuruti ibunya dengan membantu Lydia kembali berbaring. Sementara Namira sudah pergi dari ruangan untuk memanggil dokter.

"Apa ada yang sakit, Kak?" tanya Arion sambil membaringkan Lydia di ranjang rawat.

Lydia memandangi wajah laki-laki di depannya cukup lama, hingga akhirnya ia sadar bahwa laki-laki itu adalah Arion yang hari ini wisuda.

"Arion?" panggilnya pelan. Tangannya terangkat perlahan hingga menyentuh wajah Arion.

Arion dengan cepat menangkap tangan itu dan menahannya di wajahnya.

"Iya ini aku, Kak. Akhirnya Kakak sadar," ucapnya sambil kembali meneteskan air matanya.

Ia bahagia melihat Lydia bangun, dan air mata itulah yang menjadi bukti kebahagiaannya. Arion tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika Lydia sampai tidak membuka matanya lagi.

"Maaf, Kakak tidak datang ke wisuda kamu," ujar Lydia menyesal.

Lydia bahkan tidak tahu di mana hadiah yang sudah ia siapkan untuk Arion. Ia tidak mungkin turun dari tempat tidur untuk mencarinya. Meski tadi ia sempat bangun, tapi kepalanya masih terasa berat.

Arion menggeleng pelan. "Kakak tidak perlu meminta maaf. Aku yang salah karena tidak menjaga Kakak dengan baik sampai Kakak harus mengalami semua ini."

Lydia terkekeh mendengarnya. Kecelakaan yang dialaminya bukan karena Arion tidak menjaganya, tapi karena ia sendiri kurang berhati-hati saat menyeberang jalan. Arion tidak seharusnya menyalahkan dirinya sendiri.

"Apa yang kamu bicarakan? Kakak seperti ini karena tidak hati-hati. Bukan karena kamu tidak menjaga Kakak," ucap Lydia sambil tersenyum tipis dengan bibirnya yang masih pucat.

"Jangan terluka lagi, Kak. Aku tidak mau kehilangan Kakak," ujar Arion, lalu mengecup punggung tangan Lydia yang masih ia tahan di pipinya.

Lydia belum sempat merespons saat Namira kembali bersama dokter. Refleks, ia menarik tangannya dari Arion ketika dokter mendekat ke sisi ranjangnya.

"Baik, saya periksa dulu, ya." ucap dokter itu sambil mulai memeriksa kondisi Lydia dan melontarkan beberapa pertanyaan.

Arion dan Namira hanya diam menyaksikan Lydia diperiksa. Keduanya berharap tidak ada hal buruk terjadi pada perempuan itu.

***

Di depan ruangan, Airin tampak gelisah menunggu Lydia diperiksa oleh dokter. Ia lega saat ibunya mengatakan Lydia sudah sadar, tapi tetap cemas dengan hasil pemeriksaan. Lydia menjalani operasi di bagian kepala. Bagaimana jika calon kakak iparnya itu mengalami amnesia dan melupakan kakaknya?

"Bagaimana kalau Kak Lydia hilang ingatan dan melupakan Kakak?" tanya Airin mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.

Xavier menatap Airin dengan satu alis terangkat. Ia tidak menyangka putrinya bisa berpikir sejauh itu. Hilang ingatan katanya?

"Bagus kalau benar Lydia hilang ingatan. Biar tahu rasa tuh Kakak kamu," ujarnya.

Airin mendelik tajam mendengar ucapan ayahnya. Ia tahu ayahnya masih kesal, tapi tidak seharusnya bicara seperti itu. Ia tidak bisa membayangkan sehancur apa kakaknya jika benar Lydia sampai kehilangan ingatannya.

"Jangan bicara sembarangan, Pah. Aku tidak mau Kakak sedih kalau itu sampai terjadi," seru Airin.

"Kamu masih memperdulikan Kakak kamu setelah apa yang dia katakan?" tanya Xavier sambil memandangi wajah Airin.

Ia percaya kedua anaknya tidak akan saling membenci apa pun yang terjadi. Namira sudah berhasil mendidik anak mereka dengan baik. Namun, ia ingin memastikan apakah Airin tidak merasa sakit hati atas apa yang Arion katakan terhadapnya.

"Ya, aku peduli. Kakak juga selalu peduli padaku selama ini. Tadi Kakak marah hanya karena dia sedang kacau," jawab Airin tanpa ragu.

Ia sedih dan sakit hati saat dimarahi, tapi itu bukan alasan untuk berhenti memedulikan kakaknya. Ia tetap peduli, bahkan setelah kata-kata menyakitkan yang kakaknya ucapkan.

"Kamu sama saja seperti Mamah kamu," ucap Xavier sambil menggelengkan kepalanya.

Ia tidak habis pikir mengapa kedua perempuan di keluarganya sangat peduli dan menyayangi Arion, terlepas dari apa yang sudah Arion lakukan.

"Papah dan Kakak juga mirip," sahut Airin cepat.

Bukan dari sikap, tapi wajah mereka. Semua yang mengenal Xavier dan Arion pasti mengakui kemiripan mereka. Yang membedakan di antara mereka hanyalah kerutan di wajah dan aura yang terpancar.

"Oh ya, Papah sudah memikirkan cara berbaikan dengan Mamah? Tadi aku lihat Mamah marah sekali waktu Papah bicara soal uang ke Kakak," ujar Airin, mengingatkan barangkali ayahnya lupa.

Xavier menghela napas pelan. Hampir saja ia melupakan hal itu.

"Tidak apa-apa. Aku hanya perlu meminta maaf pada Arion dan semuanya akan baik-baik saja," batinnya.

Ngomong-ngomong, Xavier tidak benar-benar ingin Lydia melupakan Arion. Ia juga tahu betapa hancurnya Arion jika itu sampai terjadi. Kata-katanya tadi hanyalah luapan kekesalannya karena Arion membentak Namira.

"Tapi yang menjadi masalah sekarang, Arion sulit sekali diajak bicara baik-baik." pikir Xavier. Ia bingung bagaimana cara berbicara dengan putranya agar Arion mau memaafkannya.

1
Syaira Liana
udah mikirin anak aja 🫣🫣🫣
Resa05
semangat up-nya 💪
Syaira Liana
ditunggu kelanjutanya kaka🫶
Aulia Shafa
kapan sehari 2 bab lagi , penasaran👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏
Reverie Noor: sabtu dan minggu update 2 bab
total 1 replies
Resa05
semangat up-nya thor
Resa05
ditunggu up nya kak
Resa05
wah makin penasaran nih
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Resa05
semangat up-nya thor!
Reverie Noor: terimakasih ❤
total 1 replies
Resa05
sayang banget cerita bagus kayak gini ga rame, semangat up terus thor!
Reverie Noor: lanjutannya udah ada ya
selamat membaca 🙏❤
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!