NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / TKP / Horror Thriller-Horror / Cintamanis / Kekasih misterius
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hal-Hal yang Kupilih untuk Percaya

Mungkin rasa aneh yang kurasakan sejak tadi cuma efek bangun dari tidur yang terlalu panjang.

Mesin di samping ranjang terus berbunyi pelan. Ritmenya stabil, hampir seperti metronom. Aku mencoba menyesuaikan napasku dengan bunyi itu. Seolah kalau tubuhku tenang, pikiranku akan ikut.

Arven masih memegang tanganku. Genggamannya tidak kuat, terasa nyaman saat dia menggenggamku.

"Aku panggil perawat dulu, ya," katanya. Nada suaranya ringan, seperti sedang bicara soal hal kecil.

Aku mengangguk.

Saat ia berdiri, aku baru benar-benar menyadari betapa berat tubuhku. Bukan sakit, lebih seperti habis membawa beban lama yang baru saja diturunkan.

Perawat dan dokter datang, bertanya banyak hal. Namaku. Hari apa. Aku menjawab sebisaku. Kadang benar, kadang salah. Tidak ada yang memarahiku. Dokter hanya mencatat, wajahnya tenang.

"Ini wajar," katanya. "Habis trauma, otak butuh waktu."

Aku melirik Arven. Ia berdiri dekat pintu, tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya fokus ke aku, bukan ke dokter.

"Ingatan dia bisa balik dok?" tanya Arven.

"Mungkin," jawab dokter itu. "Mungkin juga tidak sepenuhnya. Yang penting jangan ditekan."

Setelah mereka pergi, ruangan terasa lebih sunyi. Tapi bukan sunyi yang membuatku takut. Lebih seperti ruang yang kosong

Arven duduk lagi.

"Kepala kamu masih pusing?" tanyanya.

"Sedikit," jawabku jujur.

"Kalau capek, tidur aja. Nggak usah mikir dulu."

Aku tersenyum tipis. "Kedengarannya gampang."

Ia ikut tersenyum. "Memang nggak gampang. Tapi kita bisa pelan-pelan aja dulu."

Aku memejamkan mata sebentar. Tidak benar-benar tidur, aku hanya diam. Bayangan samar itu muncul lagi, pria dengan punggung menghadapku. Kali ini aku tidak panik. Aku biarkan saja lewat.

"Arven," panggilku.

"Iya?"

"Kalau aku jadi beda… kamu bakal kaget nggak?"

Ia berpikir sebentar. "Mungkin. Tapi beda bukan berarti buruk, kan?"

Aku membuka mata dan menatapnya. "Kamu kedengaran santai banget."

Ia mengangkat bahu kecil. "Soalnya kamu masih kamu. Ingatan boleh ilang, tapi orangnya nggak."

Jawaban itu terasa ringan. Dia tidak berusaha meyakinkan aku.

Aku menghela napas pelan.

"Nanti… aku pulang ke mana?"

"Ke apartemen," jawabnya. "Tempat kita tinggal."

Aku tidak langsung menanggapi kata kita.

"Di mana?"

"Jakarta Selatan. Nggak jauh dari tempat kamu kerja dulu."

"Kerja apa aku?"

Ia tersenyum kecil. "Nanti aku ceritain. Pelan-pelan aja."

Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak bangun, aku tidak merasa perlu tahu semuanya sekarang juga.

"Apartemennya nyaman?" tanyaku.

"Menurutku, iya," jawabnya. "Menurut kamu dulu juga iya."

Aku tertawa kecil, refleks. "Versi aku yang itu terdengar asing."

"Kamu harus terbiasa," katanya sambil ikut tertawa pelan.

Malam turun tanpa terasa. Lampu-lampu mulai diredupkan. Suara rumah sakit berubah jadi lebih sunyi. Arven masih di sana, duduk sambil memainkan ponselnya, sesekali melirik ke arahku.

"Aku mau ke toilet," kataku.

Ia langsung berdiri. "Aku-"

"Aku bisa sendiri," potongku cepat, lalu tersenyum supaya tidak terdengar ketus.

"Oh. Iya," katanya. "Aku tunggu di sini."

Di depan cermin, aku menatap wajahku. Tidak asing. Tidak juga familiar. Tapi aku tidak membencinya. Aku menganggapnya sebagai permulaan.

Saat kembali, Arven tersenyum lega seolah aku baru pergi lama.

"Kamu oke?" tanyanya.

"Oke," jawabku.

Aku berbaring lagi.

"Arven," panggilku pelan.

"Iya?"

"Kalau nanti aku banyak nanya… atau lupa lagi… kamu nggak capek, kan?"

Ia menggeleng. "Enggak. Kita jalanin aja satu-satu."

'Kita'

Kali ini aku tidak keberatan.

Aku menutup mata. Mesin di sampingku tetap berbunyi, stabil. Untuk pertama kalinya sejak bangun, dadaku terasa lebih ringan.

Aku memang kehilangan sebagian ingatan dari hidupku.

Tapi untuk sekarang, aku memilih percaya pada satu hal sederhana.

Aku tidak sendirian.

Tanpa terasa waktu berlalu. Keluar dari rumah sakit terasa seperti berpindah dunia tanpa aba-aba.

Pintu otomatis terbuka, dan udara Jakarta menyambut dengan panas lembap yang langsung menempel di kulit. Bau antiseptik masih tertinggal di hidungku, bercampur dengan asap kendaraan dan debu yang khas.

Arven berjalan di sampingku, setengah langkah di depan. Dia tidak menarik, dan tidak juga mendorong ku. Cukup dekat untuk membuatku tahu ke mana harus melangkah.

Di parkiran, ia membukakan pintu mobil. Aku duduk, mengencangkan sabuk pengaman, dan menatap lurus ke depan. Mesin menyala dengan dengung halus.

Di dalam mobil, suasananya tenang. Musik diputar pelan lagu yang nadanya terasa familiar, meski judulnya tidak muncul di kepalaku. AC dingin membuat kulitku sedikit merinding.

"Kamu nggak pusing?"

"Nggak."

Itu saja. Sunyi kembali mengambil alih, tapi bukan sunyi yang canggung.

Jakarta mengalir di balik kaca. Motor menyalip dari kanan dan kiri, lampu lalu lintas berganti warna, papan iklan bergantian menampilkan wajah-wajah asing. Aku mencoba menangkap sesuatu persimpangan, gedung, nama jalan apa pun yang bisa memicu ingatan. Tidak ada yang membuka pintu di kepalaku.

Anehya, aku tidak panik.

"Kalau capek, kamu harus bilang," katanya tanpa menoleh.

"Iya." balasku singkat.

Lampu merah menghentikan kami. Aku memperhatikan pantulan wajahku di kaca jendela dengan samar, tertimpa bayangan kota. Wajah itu milikku, tapi rasanya seperti baru berkenalan.

"Aku dulu suka jalan sore gini?" tanyaku pelan.

Ia tersenyum kecil. "Kamu suka lihat kota dari mobil. Katanya bikin pikiran tenang."

Kalimat itu mendarat dengan pas. Dadaku menghangat, seperti tubuhku mengangguk lebih dulu sebelum pikiranku sempat menimbang.

Mobil kembali melaju. Aku menghela napas panjang, lalu membiarkannya keluar pelan. Untuk pertama kalinya sejak bangun, pikiranku berhenti bertanya. Aku membiarkan mobil itu membawaku pulang ke tempat yang katanya milikku, bersama seseorang yang mengaku mengenalku.

Apartemen berada di lantai tinggi. Lift naik dengan dengung lembut. Angka-angka menyala satu per satu, seolah menghitung langkah menuju versi diriku yang baru.

Begitu pintu terbuka, ketenangan menyambutku. Ruangan itu tidak besar, tapi hidup. Sofa abu-abu menghadap rak buku yang tidak penuh. Tanaman kecil di sudut jendela tampak segar. Cahaya sore masuk dari jendela besar, memantul di lantai.

Aku berdiri di tengah ruangan, anehnya ada rasa asing yang menolak.

"Kalau capek, duduk dulu," katanya.

Aku mengangguk, tapi kakiku bergerak sendiri ke rak buku. Jari-jariku menyentuh punggung buku, menarik satu secara acak. Di dalamnya ada coretan tulisan tanganku kata Arven. Lengkung hurufnya terasa akrab, meski aku tak ingat kapan menuliskannya. Aku menutup buku itu pelan.

Di kulkas, foto-foto tertempel dengan magnet warna-warni. Aku tersenyum di sana di bawah payung, rambut sedikit basah. Aku tidak ingat hari itu, tapi senyum itu terasa jujur.

"Itu kamu," katanya dari belakang.

Aku mengangguk.

Kami makan bubur ayam di meja kecil dekat jendela. Uap hangat naik pelan. Tubuhku lapar dengan cara yang wajar.

"Aku sering lapar?"

"Iya," jawabnya ringan. "Kamu suka lupa makan kalau lagi fokus."

Aku tersenyum kecil. Tubuhku menerima kalimat itu tanpa perlawanan.

Malam datang perlahan. Lampu kota menyala satu per satu. Aku mandi dengan sabun beraroma lembut.

Didepan cermin, aku menatap wajahku sendiri. Ada lingkaran tipis di bawah mata, bekas infus samar di tangan. Tapi aku masih aku. Setidaknya, wajah ini milikku.

Di kamar, sprai terasa dingin dan bersih. Aku duduk di tepi ranjang. Dari ruang depan terdengar langkah Arven, lalu ketukan pelan. Ia masuk membawa teh.

"Kepalanya gimana?"

"Lebih ringan," Jawabku dengan halus.

Ia tidak duduk di ranjang. Hanya berdiri sebentar, memastikan aku baik-baik saja, lalu mundur. Dia memikirkan kenyamanan ku.

Lampu kamar dimatikan. Aku berbaring, menatap gelap. Tubuhku lelah, lelah setelah hidup kembali.

Aku menutup mata.

Aku tidak tahu apa yang terjadi setahun lalu. Aku tidak tahu siapa yang kucintai, atau kesalahan apa yang mungkin kubuat. Tapi malam ini, aku berada di tempat yang aman, dengan seseorang yang tidak memaksaku menjadi versi lama dari diriku.

Aku memilih percaya. Karena aku ingin hidup lagi.

1
humei
coba cari tau seren , jgn terlalu percaya arven
humei
iya . kemana arven 🙃
SarSari_
Semoga Arven jadi alasan kamu sembuh, bukan cuma ingatan yang kembali tapi juga bahagianya.💪
Kim Umai
sebenarnya dia perhatian kali sih, tapi kek penasaran woy kejadian selama setahun lalu itu
❀ ⃟⃟ˢᵏkasychan
kebanyakan nanya🤭
Ria Irawati
Mulai mencurigakan nihh
Ria Irawati
waduhh kenapa di batasi?? gk bisa toktokan dong🤣
Ria Irawati
perhatian sekali🤭
Tulisan_nic
Jangan² dia punya 1000 lot di Astra🤣🤣🤣
Tulisan_nic
Apa di kamar ini, semuanya akan terungkap?
j_ryuka
nanya mulu bisa diem dulu gak sih 🤣
ininellya
nah kan bau" mencurigakan nih arven
Panda%Sya🐼
Mau curiga sama Arven. Tapi dia terlalu baik juga, jadi confuse
Suo: Hayolohhh
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Uhh apakah dulu Seren kabur kerana stress sama sikap Arven? Jangan-jangan mereka ini udah pisah cuma Arven belum rela /Yawn/
Suo: Liat aja nanti kelanjutannya kak/Chuckle/
total 1 replies
Panda%Sya🐼
Kerana itu kasih tau semuanya aja. Masa harus kurung Seren di rumah terus. Kasian diaa 🤧
Panda%Sya🐼
Positive thinking aja. Mungkin Arven sebenarnya baik. 😌
only siskaa
ortunya kemanaa sii😤
Suo: Nanti dijelasin kok/Chuckle/
total 1 replies
Blueberry Solenne
Kok bisa kenapa tu?
Blueberry Solenne
Ada yang kelaparan malam-malam ceritanya?
Suo: btul bgt/Proud/
total 1 replies
Suo
dia di temenin kok nantinya 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!