NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15. Musuh yang Disebut Teman

"Restoran pribadi ini cukup bagus,” kata Renan sambil menatap sekeliling.

“Aku sebenarnya ingin mengajakmu ke sini sejak lama. Hanya saja, dulu tidak pernah ada kesempatan.” Imbuhnya

Revan terkekeh pelan. “Kamu ingin mengajak adik ipar, kan?”

Renan tidak membantah, juga tidak mengiyakan.

Hanya sudut bibirnya yang terangkat samar.

Ayuna meliriknya sekilas, lalu tersenyum lembut, senyum yang hanya muncul ketika hatinya benar-benar tenang.

“Kak Revan! Kak Renan, ke sini!” Adrian sudah lebih dulu keluar menyambut mereka.

Bahkan sebelum mereka masuk ke ruang privat, suara Adrian sudah terdengar riuh.

“Kakak ipar, semua hidangan sudah dipesan. Ini semua makanan favoritmu, sesuai permintaan Kakak Kak Renan.”

Ayuna sedikit terkejut, lalu tersenyum canggung.

“Kami ini orang biasa saja, makan apa pun juga tidak masalah,” katanya pelan.

“Lagipula aku tidak bisa makan banyak sendirian, jangan repot-repot.”

Namun saat ia benar-benar masuk dan melihat meja makan, langkahnya sempat terhenti.

Semua hidangan di atas meja, tanpa terkecuali adalah makanan kesukaannya.

Bahkan satu pun bawang bombay, yang selalu ia hindari, tidak terlihat.

Dadanya menghangat tanpa sadar.

Selama makan, Renan lebih banyak mengobrol dengan Revan dan Adrian, membahas rencana perusahaan dan langkah ke depan. Namun perhatiannya tak pernah benar-benar lepas dari Ayuna.

Ketika cangkir teh hampir kosong, dialah yang pertama menyadarinya.

Ayuna juga duduk dengan tenang, sikapnya lembut dan sopan, sesekali meminta tambahan teh untuk semua orang.

Revan memperhatikan semua itu dengan seksama.

“Bagus,” katanya akhirnya.

“Prospek yang kamu jelaskan memang menjanjikan. Tapi ingat, jangan setengah-setengah. Konsistensi itu yang paling penting.”

Renan mengangguk.

Revan kemudian melirik Ayuna, dan dalam hati ia sudah yakin, perubahan adiknya bukan kebetulan.

Sebagai kakak, ia bahkan mulai berpikir, apakah masih ada hal lain yang perlu ia berikan pada adik iparnya ini.

“Adrian,” Revan berkata sambil mengangkat cangkir teh, menggantikan anggur.

“Akhir-akhir ini kamu bekerja keras.”

Ia menatap Adrian lurus-lurus. “Di antara teman-teman Renan, hanya kamu yang benar-benar kupercaya.”

Ia tidak menyembunyikan nada seriusnya. “Yang lain terlalu impulsif. Tatapan mereka tidak bersih. Aku bisa melihat, hanya kamu yang benar-benar menganggap Renan sebagai teman.”

Adrian terdiam sejenak, lalu tertawa kecil, agak malu namun jelas tersentuh. “Kak Revan terlalu memujiku. Aku dan Renan memang sudah seperti saudara.”

“Kalau begitu,” kata Revan tenang, “awasi dia baik-baik kalau suatu hari dia bertindak impulsif lagi.”

“Siap,” jawab Adrian sambil menepuk dadanya.

“Serahkan padaku.”

Belakangan ini, Adrian memang jarang dimarahi keluarganya.

Bahkan orang tuanya mulai berkata, dia dan Renan akhirnya benar-benar menjadi dewasa.

Melihat hidangan di atas meja hampir habis, Ayuna sedikit mencondongkan tubuh dan berbisik di telinga Renan, “Aku mau ke kamar mandi sebentar.”

Renan refleks ingin berdiri, tetapi Ayuna menahan lengannya pelan. “Kamu tetap di sini. Aku bisa sendiri.”

Ia memang merasa dadanya agak sesak, perasaan yang akhir-akhir ini sering muncul sejak hamil. Mama Reni sudah mengatakan itu normal, tapi tetap saja membuatnya tidak nyaman.

❀❀❀

Di depan wastafel, Ayuna mencuci tangannya dan mengangkat kepala.

Refleksi di cermin membuatnya terdiam.

“Ayuna?”

Suara itu terdengar ragu, lalu disusul senyum terkejut.

“Benar-benar kamu? Aku kira aku salah lihat.”

Ayuna sedikit menegang.

Ferdi.

Ia teringat kekhawatiran Renan dan memutuskan tidak memberi ruang pada kesalahpahaman apa pun.

“Kebetulan sekali, Kak Ferdi,” katanya sopan namun menjaga jarak.

“Saya sedang buru-buru, saya pergi dulu.”

Namun Ferdi melangkah setengah langkah mendekat.

“Kamu datang sendiri? Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kalau makan malam bersama?”

“Saya datang bersama suami saya,” jawab Ayuna pelan, namun jelas.

Wajah Ferdi langsung berubah kaku. “Kamu menikah dengannya?”

“Ya.”

Nada suara Ayuna tetap tenang. “Permisi.”

Ia hendak melangkah pergi, tetapi Ferdi kembali membuka suara, kali ini lebih tertahan.

“Dia… memperlakukanmu dengan baik sekarang?”

Ia menarik napas, ragu sejenak. “Saya hanya terkejut. Setelah semua yang terjadi dulu. Apalagi kondisimu waktu itu.”

Kalimat itu menggantung.

“Kenapa kamu tetap memilih menikah dengannya?”

“Apakah dia benar-benar—”

“Kamu tidak perlu mempertanyakan itu.” Suara dingin menyela dari belakang.

Ayuna menoleh dan mendapati Renan berdiri di sana, sorot matanya tajam, rahangnya mengeras.

“Istri saya adalah urusan saya,” lanjutnya.

“Saya tidak membutuhkan pendapat orang lain.”

Ia mengulurkan tangan. “Kemarilah.”

Tanpa ragu, Ayuna melangkah mendekat dan menggenggam tangannya. Jari Renan terasa tegang, seolah menahan sesuatu.

Ferdi mengepalkan tangannya. “Kalau kamu benar-benar peduli padanya sejak awal, dia tidak akan sesedih itu dulu,” katanya tertahan.

“Dia begitu lesu, begitu putus asa—”

“Kak Ferdi,” Ayuna memotong lembut, tapi tegas.

Ia bisa merasakan jemari Renan sedikit bergetar.

"Saya dan Renan memang pernah bertengkar,” lanjutnya.

“Tapi kami sudah menyelesaikan kesalahpahaman kami.”

Ia menatap lurus ke depan, suaranya stabil. “Kalau saya tidak ingin bersamanya… saya tidak akan menikah dengannya.”

Lalu, setelah jeda singkat, ia berkata, “Saya akan mengundang Kak Ferdi ke pernikahan kami bulan depan.”

Setelah itu, Ayuna tidak lagi menoleh.

Ia menggenggam tangan Renan erat-erat dan berjalan pergi bersamanya.

Dia tidak ingin Renan mengetahui betapa rapuhnya dirinya di masa lalu.

Yang penting, sekarang mereka telah berdiri di tempat yang sama.

Dan hari ini, kebetulan ia bisa menutup kesalahpahaman itu, sekali dan untuk selamanya.

Saat mereka kembali ke ruang makan, Revan menoleh dan bertanya,

“Kok lama sekali? Ada masalah?”

Renan tidak berkata apa-apa. Namun, genggaman tangannya justru mengencang, seolah takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia pastikan masih ada.

"Tidak,” kata Ayuna cepat, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya.

“Saya hanya bertemu kenalan dan saya mengundangnya ke pernikahan kami bulan depan.” Ada rasa bersalah yang tidak jelas di dadanya saat ia mengatakan itu.

Ia melirik Renan sekilas dan langsung menangkap sesuatu yang tersembunyi di balik tatapannya. Bukan marah, bukan juga dingin. Lebih seperti tertahan.

“Aku pulang bareng Adrian saja,” kata Revan sambil meraih jasnya.

“Kamu antar istrimu pulang dulu.”

Renan menjawab datar, “Aku akan mengantarnya pulang meskipun Kakak tidak bilang apa-apa.”

❀❀❀

Di dalam mobil, suasana sempat hening.

Ayuna menoleh padanya, lalu tersenyum kecil. “Renan.”

Renan hanya melirik sekilas, tidak menjawab.

Pipi Ayuna sedikit memanas. Setelah ragu sejenak, ia memanggil lagi dengan suara lebih pelan, “Suami.”

Renan akhirnya tersenyum tipis. Ketegangan di bahunya mengendur, dan suasana hatinya jelas membaik.

Barulah Ayuna menghembuskan napas lega.

Begitu sampai di rumah, langkah Renan masih tenang seperti biasa. Tapi Ayuna justru berhenti di ruang tamu, perasaannya sangat gelisah.

“Renan,” katanya tiba-tiba.

"Tadi... kamu mendengarnya, ya?”

Renan berhenti sejenak, lalu meletakkan kunci mobil di meja.

“Aku hampir tidak pernah berhubungan dengannya,” lanjut Ayuna, suaranya sedikit gugup.

“Kenapa kamu sampai salah paham tentang aku dan dia?”

Melihat ekspresinya yang serius dan ingin bicara panjang, Renan akhirnya duduk di sofa.

“Dia menyukaimu,” katanya singkat.

Ayuna terdiam sesaat, lalu langsung ke inti masalah.

“Kalina bilang dulu dia pernah meneleponmu. Apa kata-katanya yang membuatmu salah paham?”

Renan menggeleng. Ia meraih jeruk di meja, mengupasnya perlahan. “Bukan Kalina,” katanya datar.

“Dia cuma orang ceroboh yang suka bicara sembarangan. Aku tidak pernah menganggap ucapannya serius.”

Jantung Ayuna berdebar. “Kalau begitu… siapa?”

Renan berhenti mengupas jeruk. Ia meraih ponselnya, mengetuk layar beberapa kali, lalu menyerahkannya pada Ayuna.

“Teman baikmu, Shaila,” katanya pelan. “Dia yang mengirimiku foto-foto itu.”

“Luangkan waktu untuk melihatnya. Riwayat chat-nya masih ada.”

Ayuna menerima ponsel itu dengan tangan sedikit gemetar.

Ia mulai menggulir.

Layar itu penuh dengan pesan dari Shaila.

Ucapan-ucapan seolah perhatian biasa.

[Kak Renan, bagaimana Ayuna akhir-akhir ini?

[Kak Renan, aku beli dua baju tapi bingung pilih yang mana…]

Di bawahnya, dua foto.

Dirinya—dalam pose yang jelas terlalu intim untuk sekadar “minta pendapat”.

Pesan berikutnya membuat dadanya semakin sesak.

[Kak Renan, kamu sibuk ya akhir-akhir ini?

Cari kerja susah banget setelah lulus 😭.

Aku iri sama Ayuna, bisa menikmati hidup bersamamu.

Sayangnya dia gak tahu berterima kasih dan gak ngerti niat baikmu…]

Jari Ayuna terasa dingin.

Ia terus menggulir ke atas.

Pesan-pesan itu ternyata sudah ada sejak masa kuliah.

Sejak lama.

Hari demi hari, tanpa henti, seperti rutinitas.

Ujung jarinya mati rasa terus mengulir layar.

Meskipun Renan sama sekali tidak pernah membalas. Bahkan ketika statusnya jelas “Jangan Ganggu”.

Terutama saat dirinya dan Renan bertengkar dulu.

Pesan Shaila menjadi lebih sering.

Lebih berani.

Foto-foto dirinya sendiri.

Ajakan minum.

Kalimat-kalimat yang tampak “peduli”, tetapi perlahan menyusupkan dirinya ke celah hubungan mereka.

Ayuna menutup mata sejenak.

Dadanya terasa berat.

“Aku…” suaranya serak.

“Aku tidak tahu.”

Renan menatapnya, nada suaranya rendah. “Itulah sebabnya aku tidak ingin kamu terlalu dekat dengannya.”

Ia menggeser piring jeruk ke arahnya. “Bukan karena aku cemburu buta. Tapi karena aku tahu niatnya sejak lama.”

Ayuna menatap layar itu lama. Terlalu lama untuk disebut wajar.

Bukan hanya karena kecewa.

Tapi, karena akhirnya ia mengerti. Kesalahpahaman mereka selama ini ternyata dibangun diam-diam oleh orang yang ia sebut teman.

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Iya, sih. Tapi, kan namanya juga novel. Apa saja bisa terjadi 😅
total 1 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!