Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.
Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Pabrik Manusia
Udara di luar gudang logistik Sektor 7 terasa mati. Tidak ada hembusan angin, hanya keheningan yang menekan dan bau oli mesin yang menguap dari aspal dingin. Arlan berdiri di kegelapan gang, menyesuaikan filter lensa polarisasi pada pelipisnya. Spektrum warna di depannya bergeser; garis-garis laser pengamanan yang tadinya tak kasat mata kini memancar dalam warna ungu predator, bersilangan di depan gerbang besi yang berkarat.
"Hampa Akustik di dalam gedung itu mencapai skala delapan," bisik Mira, jemarinya mencengkeram lengan jaket Arlan. "Suara mesinnya tidak merambat keluar, tapi getarannya membuat gigiku terasa ngilu. Arlan, tempat ini... tempat ini sangat penuh dengan mereka."
"Mereka bukan manusia, Mira. Hanya gumpalan perak cair yang menunggu bentuk," jawab Arlan datar. Suaranya tidak lagi mengandung keraguan yang dulu sering menghantuinya saat masih menjadi kurir rendahan. Barter memori yang ia lakukan dengan Pencatat baru saja merampas rasa hangat pelukan ibunya, meninggalkan ruang hampa yang kini ia isi dengan kalkulasi dingin seorang pemimpin.
"Dante, hulu ledak frekuensinya sudah siap?" Arlan menoleh ke arah mentornya yang sedang memeriksa ransel taktis.
"Sudah diatur ke mode endotermik terbalik," Dante mengangguk, meski matanya menatap Arlan dengan gurat kecemasan. "Begitu pendingin cairnya meledak, suhu di dalam akan naik melampaui titik didih logam mereka. Tapi ingat, kita hanya punya waktu tiga menit sebelum sistem pembersihan Balaikota melakukan sinkronisasi ulang."
"Tiga menit adalah waktu yang mewah bagi orang yang sudah kehilangan segalanya," ucap Arlan pendek. "Kael, jaga titik buta di belakang gerbang. Jika ada patroli Eraser yang mendekat, gunakan pemecah suara. Jangan sampai ada percikan api sebelum kita masuk."
"Siap, Komandan," sahut Kael.
Arlan melangkah maju, tangannya yang terbungkus sarung tangan kulit menyentuh permukaan pintu gudang yang dingin. Ia bisa merasakan resonansi dari koin tahun 2030 di sakunya—koin yang memberinya peringatan tentang masa depan yang hancur jika sabotase ini gagal. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia menyisipkan alat bypass pada panel biometrik.
Lantai Produksi yang Sunyi
Pintu gudang terbuka dengan suara desis udara yang keluar dari ruang hampa. Begitu mereka melangkah masuk, pemandangan di hadapan mereka membuat Mira hampir memekik jika tidak segera menutup mulutnya sendiri. Ruangan itu luasnya melampaui logika bangunan dari luar. Ribuan tangki silinder transparan berjajar rapi, memancarkan cahaya hijau-kebiruan yang pucat. Di dalam cairan kental yang berdenyut itu, tubuh-tubuh tanpa kulit sedang mengambang.
"Lihat itu," Dante menunjuk ke arah rak-rak di sisi kiri. "Itu bukan sekadar cetakan wajah."
Arlan mendekat. Di atas rak-rak logam yang membeku oleh embun, terdapat ribuan topeng yang terbuat dari membran organik. Ia mengenali salah satunya: Pak Budi, tetangganya yang dulu sering menyapa saat ia pulang kerja. Di sampingnya ada wajah satpam apartemen yang pernah ia lumpuhkan karena tidak memiliki panas tubuh. Semua identitas warga Sektor 7 yang pernah menghilang kini tersusun rapi seperti inventaris toko pakaian.
"Mereka mencetak manusia seperti mencetak paket kiriman," desis Arlan. Matanya berkilat penuh amarah yang terkendali. "Semua orang yang kita kenal sedang diantrekan untuk menjadi salinan yang kosong."
"Arlan, tangki nomor empat ratus dua," Mira menunjuk ke arah barisan tengah. "Angkanya... itu nomor apartemenmu."
Arlan berjalan perlahan menuju tangki tersebut. Langkah kakinya terasa berat saat ia melihat apa yang ada di dalamnya. Sesosok tubuh yang hampir sempurna, dengan postur yang sangat familiar, sedang mengambang dalam cairan perak. Wajahnya belum terbentuk utuh, namun Arlan bisa melihat struktur tulang rahang yang identik dengan miliknya sendiri.
"Mereka sedang mempersiapkan penggantiku," Arlan menyentuh kaca tangki yang bergetar. "Agar 'wadah darah murni' ini bisa mereka kendalikan sepenuhnya tanpa perlu repot dengan kesadaran asliku."
"Ini menjijikkan," Dante meludah ke lantai beton. "Mereka bahkan menduplikasi bekas luka di tanganmu."
"Itu martabat yang sedang mereka curi, Dante," Arlan menarik tangannya dari kaca dengan sentakan kasar. "Mereka pikir identitas manusia hanya soal sidik jari dan bentuk wajah. Mereka tidak tahu bahwa setiap luka ini punya cerita yang tidak bisa disalin oleh mesin busuk ini."
Pemasangan Pemutus Frekuensi
Arlan berpaling dari tangki yang berisi bayangan dirinya sendiri. Ia tidak boleh goyah. Trauma tentang ibunya yang menjadi kunci pengaman sistem ini—seperti yang diungkapkan oleh Pencatat sebelumnya—justru menjadi bahan bakar bagi tekadnya sekarang. Jika ibunya adalah pondasi dunia palsu ini, maka ia akan menghancurkan bangunannya terlebih dahulu.
"Cepat, pasang hulu ledaknya di pipa utama pendingin itu," perintah Arlan sambil menunjuk ke arah instalasi pipa besar yang mengalirkan cairan endotermik ke seluruh tangki.
"Ada scanner biometrik tingkat tinggi di konsol pusat," Dante memeriksa panel kontrol yang dilindungi oleh perisai energi perak. "Hanya otoritas tingkat tinggi atau 'darah murni' yang bisa membukanya tanpa memicu alarm ke Balaikota."
Arlan maju, menggeser posisi Dante. Tanpa ragu, ia merobek sedikit telapak tangannya menggunakan ujung kunci tua yang tajam hingga darah merah segar merembes keluar. Bau besi dari darah aslinya langsung menyengat di tengah aroma kimia pabrik.
"Apa yang kau lakukan?" Mira bertanya dengan wajah pucat.
"Memberikan mereka apa yang tidak akan pernah bisa mereka miliki," Arlan menempelkan telapak tangannya yang berdarah ke sensor scanner.
Cahaya merah pada scanner langsung berubah menjadi hijau stabil. Sistem di dalam pabrik itu seolah-olah mengenali "tuan" aslinya, memberikan akses penuh ke jalur distribusi energi. Di layar monitor, grafik frekuensi berdenyut selaras dengan nadi Arlan.
"Sistem terbuka," Arlan berkata dingin, meski tangannya yang terluka mulai gemetar sebagai respon fisiologis terhadap trauma fisik. "Dante, masukkan muatan frekuensinya sekarang. Mira, awasi ambang batas Hampa Akustik. Jika frekuensinya mulai pecah, itu artinya Walikota sedang mencoba meretas balik koneksi kita."
"Aku mendengarnya!" Mira tiba-tiba berteriak kecil. "Ada suara statis yang sangat keras dari arah langit-langit! Arlan, mereka tahu!"
"Dua menit lagi!" Dante berseru sembari memasukkan kode pemicu ke dalam konsol. "Cairannya mulai memuai! Suhu ruangan mulai naik!"
Uap panas mulai menyembur dari sela-sela pipa, mengaburkan pandangan mereka. Cahaya hijau-kebiruan di dalam tangki mulai berkedip liar, dan tubuh-tubuh perak di dalamnya tampak bergetar hebat seolah-olah sedang mengalami kejang kolektif. Arlan berdiri di tengah kabut uap itu, menatap ribuan salinan yang akan segera musnah.
"Maafkan aku," bisik Arlan, entah kepada memori warga asli yang sudah tiada, atau kepada martabat yang sedang ia hancurkan demi masa depan yang lebih nyata.
Ledakan Frekuensi
Suhu di dalam ruangan meningkat secara eksponensial. Cairan pendingin yang tadinya menstabilkan janin-janin perak kini mulai mendidih, menciptakan gelembung-gelembung gas yang meletus di permukaan tangki. Arlan merasakan keringat dingin bercampur darah di telapak tangannya, namun ia tetap berdiri tegak di depan konsol utama, memantau grafik frekuensi yang mulai menunjukkan anomali destruktif.
"Arlan! Pipanya mulai bergetar tidak terkendali!" Dante berteriak di tengah suara gemuruh mesin yang menyerupai raungan binatang logam. "Katup pengamannya sudah terkunci oleh sistem biometrikmu. Jika kita tidak keluar sekarang, kita akan ikut menguap bersama mereka!"
"Satu detik lagi," jawab Arlan, matanya terpaku pada layar yang menampilkan visualisasi aliran energi dari Balaikota. "Aku harus memastikan gelombang kejut ini merambat balik melalui jalur transmisi perak menuju pusat. Aku ingin Walikota merasakan denyut kehancuran ini dari singgasananya."
"Hampa Akustik pecah!" Mira menutup telinganya dengan histeris saat suara lengkingan statis frekuensi tinggi mulai merobek keheningan pabrik. "Mereka mengirimkan sinyal penghapus! Arlan, cepat!"
Arlan menarik tuas terakhir. Seketika, cahaya di dalam tangki-tangki itu berubah dari hijau pucat menjadi merah darah. Cairan perak di dalamnya mulai beresonansi, bergetar begitu hebat hingga kaca-kaca silinder mulai retak. Arlan melihat salinan dirinya di tangki 402 mulai melarut, fitur wajahnya yang belum sempurna kini hancur menjadi bubur logam yang tidak berbentuk.
"Ayo!" Arlan menyambar lengan Mira dan memberi isyarat pada Dante serta Kael.
Mereka berlari melintasi lantai pabrik yang kini mulai digenangi cairan panas. Suara ledakan-ledakan kecil terdengar di belakang mereka saat satu per satu tangki meledak, menumpahkan isinya yang mendidih ke lantai beton. Bau logam busuk yang menyengat memenuhi udara, menusuk indra penciuman hingga membuat mual.
Pelarian Menuju Zona Netral
Mereka berhasil mencapai pintu keluar darurat tepat saat pipa utama meledak secara horizontal. Gelombang panas endotermik terbalik menghantam punggung mereka, namun perisai frekuensi yang dibawa Dante berhasil meredam dampak mematikan itu. Mereka melompat keluar ke dalam gang gelap Sektor 7, tepat sebelum seluruh gudang logistik itu tersedot ke dalam ruang hampa akibat kegagalan dimensi.
Gedung itu tidak hancur oleh api, melainkan perlahan-lahan melipat ke dalam dirinya sendiri, menghilang dalam keheningan yang mengerikan hingga yang tersisa hanyalah lahan kosong berdebu di tengah pemukiman warga.
"Kita berhasil," Kael terengah-engah, menjatuhkan diri ke tumpukan peti kayu di gang. "Pabrik itu... sudah tidak ada lagi di peta."
Arlan berdiri diam, menatap lahan kosong itu dengan napas yang mulai ia atur secara manual untuk menenangkan debar jantungnya. Tangannya yang terluka masih berdenyut perih, sebuah pengingat fisik bahwa ia masih manusia yang bisa merasakan sakit, berbeda dengan janin-janin perak yang baru saja ia musnahkan.
"Kau melihatnya tadi, Arlan?" Dante mendekat, suaranya terdengar parau. "Wajah-wajah di rak itu. Mereka benar-benar berniat mengganti seluruh distrik ini dalam satu malam."
"Mereka sudah melakukannya pada sebagian besar dari kita, Dante," jawab Arlan tanpa emosi. "Apa yang kita lihat di dalam tadi hanyalah proses mekanisnya. Perang yang sesungguhnya adalah bagaimana kita tetap menjadi manusia setelah melihat neraka seperti itu."
"Mira, kau baik-baik saja?" Dante menoleh ke arah gadis itu yang masih tampak terguncang.
"Aku masih bisa mendengar suara mereka," Mira berbisik, matanya menatap kosong ke arah lahan bekas pabrik. "Suara ribuan orang yang seharusnya ada di sana, tapi hanya tersisa sebagai frekuensi yang mati. Arlan, apakah kita benar-benar menyelamatkan mereka dengan menghancurkan tempat itu?"
Bayangan yang Meragukan
Arlan tidak menjawab. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan koin perak tahun 2030 yang kini terasa lebih dingin dari biasanya. Ia teringat pada tangki nomor 402. Sosok yang menyerupainya itu bukan sekadar salinan; itu adalah bukti bahwa para Peniru memiliki data biometriknya secara sempurna.
"Mereka punya dataku," Arlan berkata pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Walikota tahu persis siapa aku. Penyerangan ini bukan lagi soal sabotase logistik. Ini adalah deklarasi perang terbuka antara aku dan dia."
"Kita harus segera kembali ke bunker utama," Dante mengingatkan sambil memadamkan lampu minyaknya. "Eraser akan segera melakukan pemindaian massal di area ini. Kita tidak boleh tertangkap dalam zona radial ledakan frekuensi."
Saat mereka mulai bergerak meninggalkan Sektor 7, Arlan sempat menoleh ke belakang. Di kejauhan, lampu-lampu jalan Lentera Hitam berkedip serentak, seolah-olah seluruh kota sedang mengalami kegagalan sistem akibat hilangnya pabrik produksi tersebut. Namun, di tengah kedipan lampu itu, Arlan melihat sesosok bayangan berdiri di atap apartemen seberang—bayangan yang bergerak dengan lag frekuensi yang sangat halus, identik dengan gerakan yang baru saja ia pelajari dalam latihan Tingkat 2.
"Dante," panggil Arlan tertahan.
"Ada apa?"
Arlan memperhatikan bayangan itu sejenak sebelum bayangan tersebut menghilang ke dalam kegelapan. Ada sesuatu yang aneh. Bayangan itu tidak mengejar mereka; ia hanya mengamati, seolah-olah sedang memvalidasi sesuatu.
"Tidak ada. Kita pergi sekarang," ucap Arlan, menyembunyikan kecurigaan yang mulai tumbuh di benaknya.
Di dalam dadanya, Arlan merasakan martabatnya sebagai Komandan sedang diuji. Ia telah menghancurkan pabrik musuh, namun ia merasa sebuah keraguan baru mulai menyusup—keraguan tentang siapa sebenarnya yang paling diuntungkan dari kehancuran ini, dan apakah Dante benar-benar sebersih yang ia kira. Informasi dari Pencatat tentang pengkhianatan di tingkat tertinggi faksi mulai beresonansi kembali di kepalanya.
"Langkah selanjutnya adalah memastikan tidak ada penyusup di antara kita," batin Arlan saat mereka menghilang ke dalam kegelapan lorong bawah tanah.