NovelToon NovelToon
CINTA Di BALIK 9 M

CINTA Di BALIK 9 M

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Azkyra

Yurie Harielyn Nazeeran kehilangan ibunya di usia lima tahun. Kematian yang disebut karena sakit itu menyimpan kebenaran kelam—diracun oleh Agnesa, wanita yang dua hari kemudian menikahi ayahnya. Tak ada yang percaya pada kesaksian Yurie kecil, bahkan ayahnya sendiri memilih berpihak.

Sejak saat itu, Yurie hidup sebagai bayangan di rumahnya sendiri hingga di usia delapan belas tahun, ia dijodohkan demi uang sembilan miliar dari keluarga Reynard. Pernikahan itu menyeretnya ke dalam rangkaian misteri:

kematian, pengkhianatan, dan rahasia besar yang berpusat pada keluarga Nazeeran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkyra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 12

Hujan turun dengan ritme yang tenang, tidak deras, tidak pula sepenuhnya ramah. Ia jatuh seperti seseorang yang ragu—seolah ingin membasuh dunia, tetapi menahan diri agar tidak meninggalkan jejak terlalu jelas. Dari balik jendela kamar, Yurie memperhatikan garis-garis air yang merayap turun di kaca, saling berlomba untuk sampai ke bawah lebih dulu.

Ia tidak tidur malam sebelumnya.

Bukan karena takut, melainkan karena pikirannya terlalu penuh untuk diistirahatkan. Setiap kata Kayla di kafe terus berputar, membentuk lingkaran yang sulit dipecahkan. Jangan gali masa lalu. Kalimat itu terdengar seperti perintah, sekaligus ancaman.

Yurie tersenyum tipis.

Sejak kapan masa lalu memberinya pilihan untuk tidak digali?

Langkah kaki terdengar di lorong. Tidak tergesa, tidak pula ragu. Yurie mengenali iramanya sebelum pintu diketuk. Kaiden.

“Masuk,” ucapnya pelan.

Kaiden membuka pintu dan berdiri di ambang sejenak, seperti memastikan Yurie benar-benar baik-baik saja. Rambutnya masih sedikit basah—tanda ia baru kembali dari luar. Kemeja hitamnya melekat di bahu, menyisakan aroma hujan dan udara malam.

“Kau belum tidur,” katanya, lebih sebagai

pernyataan daripada pertanyaan.

Yurie menggeleng. “Aku tidak bisa.”

Kaiden masuk dan menutup pintu di belakangnya. “Aku juga.”

Mereka terdiam. Tidak canggung, tapi penuh dengan hal-hal yang belum diucapkan.

Kaiden mendekat ke jendela, berdiri di samping

Yurie. “Kayla tidak datang hanya untuk memperingatkanmu.”

Yurie menoleh. “Aku tahu.”

“Ada sesuatu yang ingin ia pastikan,” lanjut

Kaiden. “Bahwa kita menyadari keberadaan mereka.”

Yurie memeluk lengannya sendiri. “Atau memastikan aku masih hidup.”

Kaiden menatapnya cepat. “Jangan bicara seperti itu.”

Yurie tersenyum samar. “Aku sudah terlalu lama hidup di antara ancaman, Kai. Kata-kata seperti itu tidak lagi menakutkan.”

Kaiden menghela napas, lalu berkata pelan, “Tapi aku takut.”

Yurie terkejut. Ia menatap Kaiden, benar-benar menatapnya, bukan sebagai suaminya, bukan sebagai pewaris Reynard, melainkan sebagai seorang pria yang berdiri di hadapannya dengan kejujuran yang jarang ia tunjukkan.

“Takut kehilanganmu,” lanjut Kaiden.

Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka terasa mengecil.

Yurie tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menggeser langkah sedikit lebih dekat. Bahu mereka bersentuhan. Hangat. Nyata. Seperti penanda bahwa, setidaknya untuk saat ini, mereka masih berdiri di sisi yang sama.

......................

Pagi menjelang dengan cahaya yang tertahan di balik awan. Rumah Reynard tampak lebih sunyi dari biasanya. Beberapa pelayan berjalan dengan langkah hati-hati, seolah merasakan perubahan udara yang tidak kasatmata.

Kaiden duduk di ruang kerja, menelusuri layar laptopnya dengan fokus yang tajam. Beberapa nama tertera di sana—perusahaan, jalur transaksi, tanggal-tanggal yang tampak tidak penting bagi orang lain, tetapi membentuk pola mencurigakan di matanya.

Yurie masuk membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkannya di meja tanpa suara.

“Kau menemukan sesuatu?” tanyanya.

Kaiden mengangguk pelan. “Ada satu jalur yang belum kita periksa.”

Yurie duduk di kursi seberang. “Di mana?”

“Gudang lama di pelabuhan selatan,” jawab Kaiden. “Resmi atas nama perusahaan logistik yang sudah bangkrut lima tahun lalu. Tapi ada transaksi masuk tiga bulan terakhir.”

Yurie menegakkan tubuh. “Itu bertepatan dengan—”

“Dengan saat kau mulai menarik perhatian mereka,” potong Kaiden.

Yurie menghela napas. “Aku ingin ke sana.”

Kaiden menatapnya tajam. “Tidak.”

“Kaiden.”

“Tempat itu bukan tempat yang aman,” katanya tegas. “Jika Devano benar-benar terlibat—”

“Justru karena itu aku harus melihatnya,” sela Yurie. “Aku lelah menjadi objek yang dipindahkan dari satu rencana ke rencana lain.”

Kaiden terdiam lama. Tatapannya melembut, tapi rahangnya mengeras. “Kalau kau pergi, aku ikut.”

“Sudah pasti,” jawab Yurie tanpa ragu.

Pelabuhan selatan tidak pernah benar-benar hidup, bahkan di jam-jam sibuk. Bau asin bercampur oli memenuhi udara. Gudang-gudang tua berdiri seperti saksi bisu dari transaksi yang tidak tercatat di buku mana pun.

Mobil mereka berhenti cukup jauh. Kaiden mematikan mesin dan menoleh pada Yurie. “Jika terjadi sesuatu—”

“Aku tahu,” potong Yurie lembut. “Kita pergi bersama.”

Gudang itu tampak kosong dari luar. Catnya mengelupas, pintunya berkarat. Namun ada satu detail kecil yang membuat Yurie merinding—jejak ban baru di tanah lembap.

“Tidak sepenuhnya kosong,” bisiknya.

Kaiden mengangguk. Mereka masuk perlahan.

Di dalam, udara pengap. Lampu-lampu kecil menyala redup. Beberapa kotak kayu tersusun di sudut, sebagian terbuka, memperlihatkan berkas-berkas yang dibungkus plastik.

Yurie mendekat dan membuka salah satunya.

Dokumen medis.

Nama-nama. Tanggal. Resep obat.

Tangannya bergetar saat membaca salah satu lembar.

Shella Nazeeran.

Napas Yurie tersangkut di tenggorokan. “Kaiden…”

Kaiden berdiri di belakangnya. Wajahnya mengeras saat melihat dokumen itu. “Mereka menyimpannya.”

“Bukan hanya ibuku,” suara Yurie hampir pecah. “Ada nama lain.” Ia membalik halaman.

Jayden Reynard.

Keheningan di antara mereka terasa memekakkan.

“Ini bukan kecelakaan,” gumam Kaiden. “Semua ini… dirancang.”

Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar dari luar gudang.

Kaiden refleks menarik Yurie ke balik tumpukan peti. Lampu senter menyapu ruangan, disusul suara dua orang pria yang berbicara pelan.

“Kita telat,” kata salah satunya. “Seseorang sudah masuk.”

Jantung Yurie berdetak keras. Kaiden menggenggam tangannya, memberi isyarat untuk diam.

“Cari berkas yang hilang,” ujar pria lain. “Kalau sampai bocor—”

Kalimat itu terputus oleh suara ponsel berdering.

“Ya?” katanya kesal. “Tidak, kami akan bereskan.”

Langkah mereka mendekat.

Kaiden berbisik di telinga Yurie, “Saat aku bilang lari, kau lari. Jangan menoleh.”

Yurie menelan ludah dan mengangguk.

Saat pria itu berbalik, Kaiden melempar sebuah kotak kecil ke arah berlawanan. Suara benturan menarik perhatian mereka sesaat.

“Sekarang,” bisik Kaiden.

Mereka berlari.

Udara luar terasa seperti kebebasan. Mereka masuk ke mobil tepat saat suara teriakan terdengar dari belakang.

Kaiden menekan gas tanpa ragu.

Dalam perjalanan pulang, Yurie memeluk map yang berhasil ia ambil. Tangannya masih gemetar, tapi matanya penuh tekad.

“Ini cukup untuk memulai,” katanya.

Kaiden meliriknya. “Dan cukup untuk membuat mereka marah.”

Yurie tersenyum tipis. “Biarlah.”

Mobil melaju menembus jalanan yang basah. Di kejauhan, langit mulai membuka celah cahaya pucat.

Yurie tahu, sejak langkahnya memasuki gudang itu, tidak ada jalan kembali. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin kembali.

1
mus lizar
tokoh utamanya kasian banget, kalau aku jadi dia udh ku cabik cabik ibu tiri yang sok ngatur itu
mus lizar
sangat fantastis, bahasanya dan kata katanya jelas dan bisa dibayangkan apa yang terjadi/Smile//Smile//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!