Gibran Pradikta, anak bungsu dari keluarga konglomerat Pradikta, mengalami kecelakaan misterius dalam perjalanan pulang usai menghadiri acara bisnis. Tanpa ia sadari, kecelakaan itu bukanlah musibah biasa. Kakaknya sendiri, Arya Pradikta, telah merencanakan segalanya demi menyingkirkan Gibran dan merebut kendali penuh atas perusahaan keluarga. Manipulasi sistem keamanan mobil membuat Gibran terperosok ke sungai dan dinyatakan hilang.
Selamat dari maut, Gibran mengalami luka parah dan kehilangan seluruh ingatannya. Ia tak lagi mengenal siapa dirinya, masa lalunya, maupun keluarga yang mencarinya. Dalam kondisi tak berdaya, ia diselamatkan oleh Nadia, seorang gadis sederhana berhati tulus yang menemukannya di tepi sungai. Nadia membawa Gibran ke rumahnya dan merawatnya tanpa mengetahui bahwa pria yang ditolongnya adalah pewaris konglomerasi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Her midda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Malam turun perlahan di rumah besar keluarga Pradikta. Lampu-lampu kristal menyala hangat, menerangi ruang keluarga yang luas dan tertata sempurna. Begitu pintu utama terbuka, Zane melangkah masuk, melepas jasnya dengan santai.
“Zane,” sapa seorang perempuan paruh baya dengan senyum lembut. Istri Arya menghampiri lebih dulu, meraih lengan putranya. “Kamu kelihatan lelah.”
“Perjalanan dari kantor saja, Ma,” jawab Zane singkat, tapi nada suaranya melunak...berbeda dari sikapnya di luar.
Arya bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak tenang, wibawanya kuat seperti biasa. Ia menepuk bahu Zane pelan.
“Kau sudah menyesuaikan diri di cabang satu?”
“Cukup,” jawab Zane. “Tidak ada masalah berarti.”
Mereka duduk bersama. Seorang pelayan menyuguhkan minuman, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga. Hening sesaat tercipta, sebelum Arya kembali bersuara, nada suaranya terkesan santai namun menyimpan rasa ingin tahu.
“Kudengar,” kata Arya perlahan, “kau merekrut seseorang untuk jadi asisten pesuruhmu?”
Zane mengangkat alis, lalu tersenyum tipis.“Berita cepat sekali sampai ke telingamu, Pah."
“Jawab saja,” ucap Arya tenang.
Zane menyandarkan punggungnya.
“Ya,” katanya ringan. “Perempuan itu tak sengaja membuat mobilku lecet. Kerugiannya tidak kecil.”
Istri Arya mengernyit halus.
“Lalu?”
“Dia tidak mampu membayar,” lanjut Zane datar. “Jadi aku menjadikannya asisten pesuruh. Tanpa gaji. Beberapa bulan saja, sampai lunas.”
Arya mengangguk pelan, seolah itu keputusan yang masuk akal.
“Nama?”
“Nadia,” jawab Zane singkat.
Istri Arya terdiam sejenak.“Perempuan itu… latar belakangnya bagaimana?”
“Biasa,” sahut Zane acuh. “Bukan siapa-siapa.”
Arya menatap putranya lebih lama, lalu berkata dingin,“Pastikan dia tahu tempatnya.”
“Tentu,” jawab Zane cepat. “Aku tidak suka orang yang lupa diri.”
Pembicaraan itu terhenti sejenak, hingga Arya menghela napas panjang dan mengalihkan topik.“Oh ya,” katanya sambil meraih gelasnya, “kau pasti sudah dengar kabar itu.”
Zane mengangguk pelan.“Gibran.”
Nama itu menggantung di udara.
“Kau pasti sudah tahu, kan? ” lanjut Arya, suaranya terdengar datar namun ada kilat kepuasan yang samar, “dia mati karena kecelakaan. Mobilnya masuk sungai.”
“Baru-baru ini jasadnya ditemukan,” timpal istri Arya pelan. “Dan sudah dimakamkan.”
Zane tersenyum kecil, tak benar-benar terkejut.“Kasihan,” katanya tanpa empati. “Tapi dunia memang kejam.”
Arya menyandarkan tubuhnya ke kursi, sorot matanya tajam.“Dengan begitu,” ucapnya pelan, “tidak ada lagi yang menghalangi.”
Zane mengangguk, senyumnya semakin jelas.“Perusahaan sepenuhnya di tanganmu sekarang, Pa.”
Arya tersenyum tipis...senyum seorang pemenang.“Dan kelak,” katanya, menatap Zane lurus-lurus, “akan jadi milikmu.”
Di sudut ruangan, jam dinding berdetak pelan, seolah menghitung waktu. Mereka bertiga tak tahu...atau mungkin tak mau tahu...bahwa nama yang baru saja mereka anggap telah berakhir, sejatinya belum benar-benar mati.
Dan sementara mereka merasa aman, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa benang takdir telah kembali saling terkait…
melalui seorang gadis sederhana bernama Nadia.
Arya menyesap minumannya perlahan, lalu mengangkat pandangan ke arah Zane. Tatapannya tajam, penuh perhitungan.“Kau sudah bertemu Rangga?” tanyanya tenang.
Zane mengangguk ringan.“Sudah. Dia yang mengurus kepindahanku ke cabang satu.”
Istri Arya menoleh sekilas, wajahnya sedikit mengeras saat nama itu disebut.
“Rangga masih di sana?”
“Masih,” jawab Zane. “Dan sepertinya dia terlalu ingin tahu."Zane berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada datar namun berbahaya.“Kalau perlu… aku bisa menyingkirkannya.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.Arya meletakkan gelasnya perlahan, lalu menggeleng pelan.
“Tidak perlu,” katanya tegas. “Rangga bukan ancaman.”
Zane mengangkat alis.“Yakin?”
“Tanpa Gibran,” lanjut Arya dingin, “Rangga tidak bisa apa-apa. Dia hanya bayangan.”
Istri Arya terdiam, namun tak membantah.
“Aku sudah lama mengawasinya,” sambung Arya. “Selama dia bergerak di bawah pengawasanku, dia aman… dan tidak berbahaya.”
Zane tersenyum tipis.“Kalau begitu aku biarkan saja.”
“Biarkan,” ulang Arya. “Orang seperti Rangga akan kelelahan sendiri, terjebak rasa bersalah dan ketakutan.”
Zane bersandar santai, matanyamenyipit penuh keyakinan.“Baik, Pah. Aku paham.”
Di balik ketenangan itu, Arya tak menyadari satu hal... bahwa kesalahan terbesarnya justru adalah meremehkan orang-orang yang masih setia pada Gibran.
Dan malam itu, di rumah besar Pradikta, keyakinan akan kemenangan terasa begitu nyata…
padahal bahaya sedang tumbuh pelan, diam-diam, menunggu waktu yang tepat.
********
Pintu itu diketuk pelan, nyaris ragu.
Nadia yang tengah melipat pakaian di ruang tamu terhenti, alisnya berkerut. Jam di dinding baru saja menunjuk sore, tak ada janji dengan siapa pun. Ia melangkah mendekat, membuka pintu tanpa prasangka...hingga dunia seolah berhenti berputar.
Gibran berdiri tepat di hadapannya.
Nadia membeku. Napasnya tercekat, jantungnya berdegup terlalu cepat, seakan ingin melompat keluar dari dadanya. Wajah itu...yang beberapa hari lalu hanya ia dengar lewat sambungan telepon dengan nada dingin dan jarak yang terasa menyakitkan...kini hadir nyata, begitu dekat, begitu asing.
Gibran tampak berbeda. Tubuhnya tegak namun kaku, bahunya sedikit tegang, seolah keberadaannya di sana adalah keputusan yang ia ambil dengan ragu-ragu. Matanya menatap Nadia, lalu berpaling sesaat, canggung. Ada jeda panjang yang menggantung di udara, penuh kata-kata yang tak terucap.
“Gibran…?” suara Nadia nyaris berbisik, lebih sebagai penegasan bahwa ini bukan ilusi pikirannya.
Laki-laki itu mengangguk pelan. Bibirnya bergerak, lalu berhenti, seperti tak yakin harus memulai dari mana. Tatapan dingin yang ia tunjukkan lewat telepon hari itu kini luruh, digantikan ekspresi yang jauh lebih manusiawi...campuran lelah, ragu, dan sesuatu yang sulit Nadia definisikan.
Ia teringat percakapan singkat mereka beberapa hari lalu. Suara Gibran yang datar, jawabannya yang seperlunya, seolah sengaja menjaga jarak. Nadia sempat berpikir, mungkin itu akhir. Mungkin Gibran memang tak ingin lagi berada dalam hidupnya.
Namun kini, laki-laki itu berdiri di ambang pintu rumahnya.
Angin sore berembus pelan, membawa keheningan yang makin menekan. Nadia masih terdiam, terbelah antara kaget dan seribu pertanyaan yang menyesaki kepalanya. Sementara Gibran tetap di sana, tak melangkah masuk, tak pula pergi...seakan menunggu izin, atau mungkin keberanian, untuk benar-benar kembali.
"Ka... kabar kamu, gimana?" tanyanya pelan.
Suaranya terdengar canggung, bahkan sedikit bergetar... sangat berbeda dengan nada dingin yang Nadia dengar beberapa hari lalu lewat telpon.
Gibran menggeser berat badannya, jemarinya saling bertaut tanpa sadar. Ia tak tahu harus menatap kemana. Setiap kali matanya bertatapan dengan Nadia, dadanya tersa sesak.
Nadia mengernyit samar, "Baik," jawabnya singkat. "Kamu sendiri?"
Gibran mengangguk, meski jawabannya terlebat sekian detik. "Baik," katanya lalu terdiam lagi.
Ia merasa aneh... padahal dulu berbicara dengan Nadia terasa begitu mudah. Sekarang, berdiri sedakat ini saja membuatnya gugup, seolah setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Nadia menyandarkan tubuhnya ke kusen pintu, menatap Gibran lebih lama. "Kamu kelihatan...nggak biasa," ucapnya jujur.
Gibran tersenyum tipis, canggung.
"Iya, "katanya lirih. " Entah kenapa... aku jadi susah ngomong jika di dekatmu."
Ia terkekeh pelan, kaku. Tanganya meremas ujung jaket yang ia kenakan.
"Padahal cuma nanya kabar," lanjutnya, sedikit menunduk. "Tapi rasanya kayak... harus mikir dulu sebelum ngomong."
Nadia terdiam, hatinya berdesir mendengar pengakuan itu. Ia tak melewatkancara Gibran menghindari tatapannya, atau bagaimana napas laki-laki itu terdengar sedikit lebih cepat.
"Masuk dulu," kata Nadia, akhirnya membuka pintu lebar-lebar. Kamu sudah berdiri disitu dari tadi."
Gibran menatapnya sekilas, ragu. Lalu ia mengangguk kecil. "Makasih."
Nadia dan Gibran akhirnya duduk di kursi sofa yang berada di ruang tamu.
"Aku kemarin pulang dari rumah sakit di antar Tita," ujar Nadia to the point.
Alis Gibran terangkat sedikit, "Tita?"
"Iya, " Nadia mengangguk. "Dia yang kemarin menemaniku krluar dari rumah sakit, sampai ke rumah juga." Nadia menunduk sebentar, jarinya saling mengait. "Terus... dia juga yang menelponmu lewat ponselku."
Gibran menatapnya, menunggu penjelasan.
Nadia terkekeh kecil, jelas terlihat malu.
"Tita sengaja meminjam ponselku," katanya pelan. "Ku pikir apa? aku sempat kaget, ternyata dia memasukan nomor ponselmu." Pipinya menghangat saat mengingat kejadian itu. Ia mengusap tengkuknya dengan canggung. "Aku harap kamu nggak keberatan," lanjutnya, hampir berbisik. "Soalnya itu benar-benar inisiatif Tita, bukan aku."
Gibran terdiam sejenak, lalu senyum tipis terukir di wajahnya. "Nggak. Aku cuma agak... kaget waktu itu."
Gibran menatap Nadia sekilas, sebelum akhirnya berucap, "Kudengar... kamu sudah tidak bekerja lagi sebagai kurir pengantar makanan," ucapnya hati-hati.
Nadia sontak menoleh. Alisnya berkerut, jelas heran. "Hah?" Ia menatap Gibran lekat-lekat. "Kamu tahu dari mana?"
Gibran refleks mengangkat bahu, Pura-pura acuh. "Dengar-dengar saja," jawabnya singkat.
"Dengar dari siapa?" Nadia tak langsung puas dengan jawaban Gibran. "Aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun, apalagi kamu."
Ada jeda kecil. Gibran mengalihkan pandangan, melangkah ke arah jendela seolah tertarik pada sesuatu di luar.
"Ya... kadang kabar itu nyampe sendiri," katanya ringan. "Lagi pula, dunia nggak segede itu."
Nadia semakin bingung. "Tapi kamu seting tahu tentangku," ucapnya jujur. "Hal-hal yang bahkan nggak pernah aku ceritakan."
Gibran tersenyum tipis, senyum aman yang sengaja ia pakai untuk menutupi sesuatu. "Kebetulan aja," katanya cepat. Atau mungkin, kamu lupa pernah bercerita."
"Aku nggak lupa," sahut Nadia pelan, tapi yakin.
Gibran berbalik, menatapnya datar nakun tenang. "Yang penting sekarang, kamu baik-baik saja, kan?" Ia sengaja mengalihkan arah pembicaraan. "Mungkin karna kondisimu tidak memungkinkan bekerja."
"Ya... itu juga alasan aku berhenti," jawab Nadia, suaranya sedikit bergetar seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
Gibran mengangguk-angguk kecil, seolah paham. "Oh... gitu," katanya ringan. "Kukira kamu pindah kerja ke tempat lain."
Nada suaranya terdengar biasa saja, bahkan sedikit ber-oh ria, seakan topik itu tak terlalu penting. Padahal di dalam kepalanya, ada harapan yang tak ia ucapkan...ia menunggu Nadia menyebut satu nama, satu tempat yang sudah ia ketahui dengan sangat baik.
Pradikta Group.
Ia melirik Nadia sekilas, menunggu. Detik berlalu, lalu detik berikutnya. Namun Nadia hanya tersenyum tipis, memilih diam. Tak ada cerita lanjutan, tak ada penjelasan tentang pekerjaan barunya.
Gibran menelan kekecewaan kecil yang menyelip di dadanya.
“Sekarang… kamu sibuk apa?” tanyanya lagi, masih berpura-pura santai.
Nadia mengangkat bahu. “Ya gitu-gitu aja,” jawabnya singkat. “Mengurus diri sendiri dulu.”
Jawaban itu membuat Gibran makin yakin. Bukan karena ia tak tahu...justru sebaliknya.
Ia tahu terlalu banyak. Dan sikap Nadia yang menutup diri seperti itu terasa ganjil, seolah gadis itu sengaja menyimpan sesuatu darinya.
Atau mungkin… Nadia belum siap bercerita.
Gibran tersenyum kecil, senyum yang kali ini terasa pahit. Ia memilih tak memaksa, meski rasa penasaran dan kekhawatiran berkelindan di dadanya. Jika Nadia benar-benar bekerja di Pradikta Group, berarti jarak di antara mereka bukan hanya soal perasaan, tapi juga rahasia...dan itu adalah hal yang paling ia takutkan.