Zivara Amaira adalah gadis yatim piatu yang tinggal bersama paman dan bibinya. Tempat yang seharusnya menjadi perlindungan justru berubah menjadi luka. Sebuah fitnah yang direncanakan oleh sepupunya membuat Zivara harus pergi. Tanpa diberi kesempatan membela diri, Zivara diusir dan dipaksa menelan hinaan atas kesalahan yang tak pernah ia lakukan.
Di sisi lain, Arga Aksara Wisesa adalah pria dingin dan misterius, yang tak memikirkan cinta. Ia hanya fokus pada pekerjaan dan keponakan kecilnya yang harus kehilangan kedua orang tuanya akibat kecelakaan setahun yang lalu.
Dua jiwa yang berbeda dipertemukan oleh takdir. Namun masa lalu, ambisi orang-orang di sekitar mereka, dan rahasia yang perlahan terkuak mengancam kebahagiaan yang baru saja tumbuh.
Akankah cinta mampu menyembuhkan luka yang terlalu dalam, atau justru membuka pintu bagi pengkhianatan yang lebih menyakitkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra za, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Jangan Bersedih lagi
Akhirnya hari yang dinanti pun tiba, hari pernikahan Arga dan Vara.
Acara diselenggarakan di kediaman Arga, tepatnya di taman belakang rumah yang telah didekorasi sedemikian rupa. Hamparan rumput hijau kini berubah menjadi tempat sakral penyatuan dua hati. Rangkaian bunga putih dan pastel menghiasi sisi kanan dan kiri lorong menuju altar. Kursi-kursi tamu tertata rapi, sementara kain-kain tipis yang menjuntai lembut tertiup angin pagi, menambah kesan hangat dan elegan.
Tepat pukul sembilan pagi, para tamu yang terdiri dari kerabat dekat keluarga Arga mulai berdatangan. Suasana terasa khidmat namun penuh kebahagiaan.
Di dalam kamar, Vara telah selesai bersiap. Ia tampak begitu anggun dalam balutan gaun yang dipilihnya saat fitting. Gaun itu tertutup dan elegan, dengan detail renda halus di bagian lengan serta rok mengembang lembut bak gaun dalam dongeng. Rambutnya ditata sederhana, memperlihatkan kecantikan alaminya yang semakin terpancar hari ini.
Sementara itu, Luna terlihat hilir mudik dengan wajah berbinar, tak sabar menanti acara dimulai.
Semua telah berkumpul. Tinggal menunggu kehadiran mempelai wanita.
Karena kedua orang tua Vara telah tiada dan keluarganya tidak hadir, maka yang mendampinginya menuju altar adalah Nicholas dan Melani. Luna berjalan di belakang mereka dengan langkah kecil penuh semangat.
Arga telah berdiri di altar. Mengenakan Setelan jas senada dengan gaun mempelai wanita, menambah ketampanan dan ketegasan nya. wajahnya tetap terlihat tenang seperti biasa, meski sebenarnya Arga menahan debar jantungnya yang semakin terasa.
Saat Vara berjalan perlahan diiringi Nicholas dan Melani, perasaan haru menyelimuti hatinya. Di hari paling bersejarah dalam hidupnya, kedua orang tuanya tidak ada di sisinya. Ada ruang kosong di dalam hatinya yang tak bisa diisi siapa pun.
Namun ia menahan diri. Hari ini bukan hari untuk bersedih.
Arga melangkah maju, menyambut uluran tangan Vara dari Nicholas. Tangan mereka bersentuhan, terasa dingin dan sedikit gemetar.
Keduanya berdiri saling berhadapan.
Pendeta yang memimpin upacara tersenyum lembut sebelum mulai berbicara.
“Hari ini kita berkumpul untuk menyaksikan penyatuan dua insan dalam ikatan pernikahan yang suci. Arga, apakah engkau bersedia menerima Vara sebagai istrimu, mencintainya dalam suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit, dan setia hingga akhir hayat?”
Arga menatap Vara dalam. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak sedingin biasanya.
“Saya bersedia.”
Pendeta lalu beralih pada Vara.
“Vara, apakah engkau bersedia menerima Arga sebagai suamimu, menghormatinya, mendampinginya dalam segala keadaan, dan setia hingga akhir hayat?”
Air mata tipis menggenang di pelupuk mata Vara, tetapi ia tersenyum.
“Saya bersedia.”
Pendeta mengangguk puas.
“Silakan ucapkan janji kalian.”
Arga menggenggam kedua tangan Vara.
“Aku, Arga Aksara Wisesa, berjanji akan menjagamu, melindungimu, dan menjadi tempat pulangmu. Apa pun yang terjadi, kamu tidak akan pernah sendirian lagi.”
Suara Arga tenang, tetapi penuh ketegasan.
Vara menarik napas perlahan.
“Aku, Zivara Amaira, berjanji akan mendampingimu dengan tulus. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik, mendukungmu, dan tetap setia di sisimu, dalam keadaan apa pun.”
Suasana hening sejenak.
“Dengan ini, saya nyatakan kalian resmi menjadi suami dan istri. Arga, Anda boleh mencium istri Anda.”
Arga mengangkat veil tipis yang menutupi wajah Vara, lalu mencium keningnya dengan lembut.
Ada rasa hangat yang menjalar di hati keduanya. Rasa tidak pernah mereka rasakan sebelumnya.
Tepuk tangan para tamu terdengar meriah.
“Selamat ya, Arga!”
“Semoga tetap bersama sampai akhir hayat!”
Melani memeluk Vara lebih dulu. “Selamat datang di keluarga ini, Nak.”
Nicholas menepuk bahu Arga bangga. “Jaga istrimu baik-baik.”
“Tentu pa,” jawab Arga singkat.
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Tawa dan obrolan hangat mengisi taman.
“Tante!” panggil Luna tiba-tiba.
Vara menoleh. “Ya, Luna? Ada apa?”
Luna mendekat, wajahnya terlihat serius namun manis. “Terima kasih sudah menikah dengan Om Arga. Luna janji akan jadi anak yang baik.”
Vara terharu. “Luna…”
Arga tersenyum lalu merentangkan tangan. “Sini, Sayang.”
Ia menggendong Luna.
“Kamu bahagia?” tanya Arga lembut.
“Iya! Luna sangat bahagia. Sekarang kalau ada acara sekolah dan orang tua harus datang, Luna tidak akan sendirian lagi. Sudah ada Tante Vara yang akan menemani Luna,” ucapnya polos dengan mata berbinar.
Hati Vara menghangat mendengarnya.
“Tante janji, mulai sekarang Tante akan selalu ada untuk Luna,” ucap Vara tulus.
“Untuk Luna saja?” sela Arga sambil menatap Vara dengan tatapan yang sulit diartikan.
Vara tersipu. “Ah… Tuan”
“Kok Tante masih panggil Tuan?” potong Luna heran.
Vara tertawa canggung. “Maaf, Sayang. Tante lupa. Belum terbiasa.”
“Jangan lupa lagi nanti Tante dihukum Om, loh!” ujar Luna polos.
Arga dan Vara tertawa bersamaan. Mendengar ocehan Luna.
Pemandangan itu tak luput dari perhatian Melani dan Nicholas. Mereka saling berpandangan dengan senyum bahagia.
Acara telah selesai. Para tamu satu per satu berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing. Taman yang tadi dipenuhi tawa dan ucapan selamat kini kembali tenang, hanya menyisakan sisa bunga dan kursi yang belum dirapikan sepenuhnya.
Arga menggenggam tangan Vara dan membawanya masuk ke dalam rumah, lalu langsung menuju kamar utamanya.
“Mulai sekarang kamar ini menjadi milik kita,” ucap Arga sambil melepaskan jasnya dan meletakkannya di kursi.
Vara berdiri di ambang pintu, memerhatikan kamar yang luas dan rapi itu. Nuansanya hangat dengan dominasi warna netral.
“Jadi… kita tidur bersama?” tanya Vara pelan, masih canggung.
Arga menoleh. “Tentu saja. Kita sudah menikah.”
Vara terdiam.
“Mulai sekarang kamu sudah bisa melaksanakan kewajibanmu sebagai istri,” lanjut Arga tenang sebelum melangkah ke kamar mandi.
Kata-kata itu membuat Vara susah payah menelan ludahnya. Jantungnya berdebar tak teratur.
Namun ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mempertahankan dan memperjuangkan pernikahan ini. Ia akan belajar menjadi istri yang baik.
Di luar kamar, Luna tampak hendak menaiki tangga.
“Luna, mau ke mana?” panggil Melani cepat saat melihat cucunya.
“Mau ke kamar Om,” jawab Luna polos.
Melani segera mendekat dan berlutut agar sejajar dengan Luna. “Sayang, nanti saja ya. Om dan Tante pasti sedang istirahat. Kalau Luna ke sana sekarang, mereka tidak bisa istirahat.”
“Begitu ya, Nek? Tapi Luna mau sama Tante,” ucapnya lagi dengan wajah memelas.
“Nantikan bisa. Sekarang biarkan dulu Om dan Tante berdua supaya Tante bisa lebih dekat dengan Om. Luna mau cepat-cepat punya adik, kan?” bisik Melani lembut.
Luna mengangguk, meski tidak sepenuhnya memahami maksud neneknya.
“Sekarang Luna sama Nenek dulu, ya.”
“Iya, Nek,” jawab Luna patuh.
Nicholas yang menyaksikan hanya tersenyum sambil menggeleng kecil melihat tingkah istri dan cucunya.
Di dalam kamar, suara pintu kamar mandi terbuka.
“Vara, aku sudah selesai. Sana mandi, air hangatnya sudah aku siapkan,” ucap Arga.
Vara tertegun. Bukan dia yang menyiapkan sesuatu untuk suaminya, justru suaminya yang menyiapkan untuknya.
Ia merasa sedikit tidak enak.
“Iya… Tuan. Terimakasih,” ucap Vara pelan sebelum masuk ke kamar mandi.
Air hangat menyentuh kulitnya, membantu meredakan lelah setelah hari panjang yang penuh emosi.
Setelah selesai, Vara keluar dari kamar mandi. Namun ia tidak mendapati Arga di kamar.
Ia duduk di sisi ranjang. Suasana terasa hening.
Pikirannya perlahan kembali pada kedua orang tuanya.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel dan membuka galeri. Sebuah foto lama terpampang, ayah, ibu, dan dirinya yang masih kecil berdiri berdampingan dengan senyum bahagia.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga.
“Mama… Papa… sekarang Vara sudah menikah. Vara harap Mama dan Papa bahagia di sana,” ucapnya lirih.
Pintu kamar terbuka pelan. Arga baru saja keluar dari ruang kerjanya dan langsung menyadari perubahan wajah istrinya.
“Kamu kenapa?” tanya Arga.
Vara terkejut. Ia tidak menyadari Arga sudah kembali.
Arga melirik layar ponsel yang masih menyala. Ia melihat foto keluarga kecil itu.
“Saya… hanya teringat kedua orang tua saya, Tuan,” jawab Vara dengan suara bergetar. Air matanya masih membasahi pipinya meski sudah berusaha ia tahan.
Arga menarik napas pelan. Ia turut merasakan kesedihan yang dipendam istrinya.
Arga duduk di sisi Vara.
“Jangan bersedih lagi,” ucapnya lembut.
Kedua tangannya terangkat, memegang pipi Vara dengan hati-hati. Ibu jarinya menghapus sisa air mata yang jatuh.
“Ingat, kamu tidak sendirian lagi. Ada aku yang sekarang telah menjadi suamimu. Ada Mama, Papa… dan juga Luna. Kami akan selalu bersamamu.”
Vara memberanikan diri menatap Arga. Ada ketulusan yang terpancar dari mata itu.
Bukannya berhenti, tangis Vara justru semakin pecah.
Arga tidak tega. Ia menarik lembut tengkuk Vara dan menyandarkan kepala istrinya itu ke dadanya. Tangannya mengelus punggung Vara perlahan, membiarkannya meluapkan kesedihan yang selama ini dipendam sendirian.
Vara melingkarkan tangannya pada tubuh Arga. Dalam pelukan itu, ia merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Beberapa saat kemudian, tangisnya mereda.
“Kamu jangan bersedih lagi,” lanjut Arga pelan. “Aku janji tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu. Dan orang-orang yang pernah menyakitimu… akan menerima balasannya.”
Vara yang masih berada dalam pelukan Arga hanya mengangguk, lalu perlahan menegakkan tubuhnya.
“Terima kasih, Tuan. Saya berjanji akan berusaha menjadi istri yang baik.”
Arga tersenyum, senyum yang belum pernah Vara lihat sebelumnya. Bukan senyum tipis penuh formalitas, melainkan senyum hangat.
“Kita akan berusaha dan belajar bersama,” ucap Arga.
Ia lalu berdiri dan menarik selimut.
“Ayo istirahat dulu. Kamu pasti lelah.”
Vara mengangguk. Ia naik ke ranjang dan berbaring di sisi yang masih terasa asing baginya.
Kini mereka berdua berbaring di ranjang yang sama.
Meskipun masih terasa canggung di antara keduanya, tetapi tidak lagi terasa asing seperti sebelumnya.