Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Selalu Kalah
Baskara tiba-tiba nongkrong di kafe milik Iqbal. Iqbal yang sedang sibuk menyiapkan kopi menoleh, sedikit terkejut.
“Tumben bos mau ngopi di tempat gue,” sahut Iqbal sambil tersenyum.
Baskara menatap Iqbal dengan tatapan menusuk wajahnya mengisyaratkan permusuhan.
“Gue cuma mau bilang… jauhin karyawan gue.”
Iqbal terkekeh menatap seniornya itu, Iqbal sudah bisa menebak maksud Baskara.
“Ririn maksudnya, ya?”
Baskara mengangguk tipis, raut wajahnya kaku dan terlihat tidak bersahabat.
“Hmm… kenapa? Kalau boleh tau,” tanya Iqbal, penasaran menanggapi pernyataan Baskara dengan santai.
Baskara menatap Iqbal tajam dia terlihat sangat percaya diri.
“Ganggu kinerja.” kata Baskara singkat
Iqbal tertawa mendengar jawaban itu.
“Oh… kinerja karyawan yang lu suruh bawa 10 cup kopi, suruh laundry baju lu, suruh beliin makan siang, bawa setumpuk belanjaan?” Iqbal masih terkekeh, setengah tak percaya.
Baskara terkejut mendengar ucapan Iqbal, dia mencoba bersikap berwibawa.
“Dia nggak keberatan kok… selama gue bayar gajinya.” kata Baskara lagi merasa tidak ada masalah dengan itu.
Iqbal menatapnya Baskara heran.
“Termasuk ikut campur urusan pribadi dia juga, ya?”
Baskara mengangguk santai tak membantah pernyataan Iqbal.
“Gue udah peringatkan lu…tapi terserah kalau mau patah hati lagi kaya dulu.” Baskara tampak percaya diri mengatakan hal itu.
Iqbal tersenyum mendengar ucapan Baskara itu.
“Kali ini pasti beda ceritanya, Mas,” kata Iqbal yakin. Baskara tersenyum tipis, matanya tetap tajam.
“Kita lihat aja,” katanya sambil beranjak pergi.
Sabotase pertama Baskara dimulai ketika Iqbal seperti biasa menjemput Ririn pulang kerja. Tiba-tiba, dari dalam mobil mewahnya, Baskara membuka kaca dan membunyikan klakson.
“Tin-tin!”
Ririn menoleh, matanya tertuju pada tangan Baskara yang melambai memanggilnya. Dia menatap Iqbal sebentar, lalu tersenyum.
“Maaf, yah… bos manggil,” ucap Ririn sambil melangkah mendekat.
"Ada apa pak?"
“Rin… ayo naik, temenin saya. Ada yang mau saya omongin,” kata Baskara santai tapi tegas.
Ririn menarik napas panjang.
“Tapi… kan jam kerja saya sudah…”
Ucapan Ririn terhenti matanya mulai ciut melihat wajah Baskara yang mengeras.
“Baik, pak… saya pamit dulu, ya,” kata Ririn.
Baskara langsung memotong, suaranya tegas:
“Ngak usah pamit segala, ayo naik!”
“Eh… tapi pak…” Ririn mulai ragu lagi.
Baskara memasang wajah galak, tatapannya menegaskan tidak ada kompromi.
“Iya, pak… baik,” ucap Ririn akhirnya, pasrah, lalu membuka pintu dan masuk ke mobil.
Baskara tersenyum tipis, menatap Iqbal merasa menang, tak lupa dia melambai kearah Iqbal yang masih berdiri di trotoar, Iqbal tersenyum getir, hampir menelan amarahnya.
“Sialan…” gumamnya pelan, menahan rasa kesal.
Malam itu, Baskara meminta Ririn menemaninya makan malam. Tidak ada pembahasan pekerjaan sama sekali, percakapan mereka sepenuhnya tentang menu yang ada di meja.
“Rin, ambil steak ini saja. Kamu harus banyak makan. kamu kurus banget,” kata Baskara sambil menatap Ririn serius.
Ririn hanya tersenyum pasrah, menunduk sambil mendengar ucapan bosnya.
“Pak… saya… baik baik saja kok,” jawabnya pelan, tapi Baskara hanya menggeleng.
“Jangan pelit sama diri sendiri makan yang cukup, biar tenaga kamu nggak habis buat aku suruh ini-itu nanti,” kata Baskara, setengah bercanda tapi penuh perhatian.
Ririn tersenyum getir, tidak bisa membantah, hanya menuruti perintah dan nasehatnya.
Setelah selesai makan, Baskara mengantar Ririn pulang saat mobil berhenti, Baskara terkejut. Tempat tinggal Ririn sebuah apartemen kecil, sederhana, jauh dari bayangan mewah hal itu membuatnya sedikit tak nyaman.
“Rin… ini tempat tinggalmu?” tanya Baskara, matanya menatap tajam tapi mencoba tetap tenang.
Ririn mengangguk pelan.
“Iya,pak saya numpang di apartemen temen,” jawabnya sambil tersenyum canggung.
Baskara menelan ludah, melihat keadaan tempat itu. Dia tidak menyangka mantan pacarnya yang yang kaya raya, harus tinggal di tempat seperti ini. Dalam hatinya, Baskara merasa ada sesuatu yang tidak dia ketahui tentang Ririn.