Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Antara Ambisi Dan Detak Jantung
Bagian 1: Kebenaran di Balik Senyum
Malam itu, Bandung terasa lebih dingin dari biasanya. Di dalam kantor kecil "Langit Arsitektur" yang mulai sepi karena staf sudah pulang, lampu neon putih berkedip-kedip gelisah, mencerminkan isi hati Fatih.
Fatih duduk di kursi kerjanya, menatap paspor dan visa yang baru saja selesai diurus. London sudah di depan mata. Namun, suara bisikan Zalina kepada Nisa sore tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak. “Dokter bilang ada risiko... tekanan udara bisa memicu kontraksi dini.”
Setiap kata itu terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya. Fatih menoleh ke arah Zalina yang sedang tertidur lelap di sofa ruang tunggu kantor. Istrinya itu tampak sangat damai, tangannya secara alami mendekap perutnya yang mulai membuncit.
Fatih mendekat, berlutut di samping sofa. Ia menatap wajah Zalina yang terlihat lebih tirus. Bayangan Zalina yang pingsan di lantai kontrakan kembali muncul.
"Kenapa kamu harus berbohong, Sayang?" bisik Fatih lirih. Air matanya jatuh mengenai tangan Zalina.
Zalina terbangun. Ia mengerjapkan matanya, terkejut melihat Fatih berlutut di depannya dengan wajah sembab.
"Mas? Kenapa? Ada kabar buruk dari kantor IAI?" tanya Zalina panik, langsung duduk tegak.
Fatih menggeleng. Ia menggenggam tangan Zalina, menatap mata istrinya dalam-dalam. "Tadi Mas denger pembicaraan kamu sama Nisa di kedai."
Zalina membeku. Senyum yang tadi coba ia paksakan perlahan luntur. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap sorot mata Fatih yang penuh luka.
"Mas... aku cuma nggak mau Mas ngelepas kesempatan ini. Ini mimpi Mas dari dulu. Kita udah ngelewatin banyak hal buat sampai di sini," suara Zalina bergetar.
"Mimpi Mas nggak ada artinya kalau taruhannya nyawa kamu dan si kembar, Zal!" suara Fatih naik satu oktaf, bukan karena marah, tapi karena takut yang luar biasa. "Kenapa kamu nggak jujur? Kenapa kamu biarin Mas ngerasa seneng di atas risiko kematian kamu?"
"Karena aku percaya kita kuat, Mas! Aku percaya Allah bakal jagain!" tangis Zalina pecah. "Aku cuma mau liat Mas Fatih jadi orang sukses. Aku nggak mau jadi penghambat!"
Fatih memeluk Zalina erat. "Kamu bukan penghambat. Kamu itu kompas Mas. Kalau kompasnya rusak, Mas bakal tersesat di London sendirian. Mas nggak akan bisa belajar dengan tenang kalau tiap detik Mas takut dapet telepon kabar buruk dari Indonesia."
Malam itu, mereka menangis bersama. Fatih menyadari bahwa cinta Zalina begitu besar hingga sanggup menelan ketakutan akan kematian demi ambisinya. Dan di saat itulah, Fatih membuat keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
Bagian 2: Surat dari Masa Lalu
Keesokan paginya, sebelum Fatih pergi ke kantor IAI untuk memberikan keputusan akhir, sebuah amplop cokelat kusam tiba di alamat kedai. Tidak ada nama pengirim, hanya nomor sel tahanan dari Lembaga Pemasyarakatan Kebon Waru.
Fatih membukanya dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang berantakan, namun jelas itu milik seseorang yang pernah ia kenal dengan sangat baik.
Fatih,
Mungkin lu bakal buang surat ini ke tong sampah sebelum selesai baca. Gue nggak nyalahin lu. Gue di sini punya banyak waktu buat mikir, dan setiap detik gue ngerasa jijik sama diri gue sendiri.
Gue denger lu mau ke London. Selamat. Lu pantes dapetin itu. Lu laki-laki sejati, bukan pecundang kayak gue yang cuma bisa sembunyi di balik ketiak Bokap.
Gue mau kasih tahu satu hal. Di proyek "Griya Harapan", ada satu area di pojok timur dekat rawa. Bokap gue dulu beli tanah itu dari warga dengan cara paksa dan nggak bayar lunas. Gue simpen sertifikat aslinya di loker rahasia di apartemen gue yang belum disita polisi (karena pake nama samaran). Kuncinya gue selipin di bawah ubin belakang masjid kampus kita dulu.
Ambil sertifikat itu. Kasihin ke warga. Itu hak mereka. Anggap aja ini cara gue minta maaf sama lu dan Zalina sebelum gue membusuk di sini.
Jaga Zalina. Jangan sampe dia nangis lagi gara-gara orang kayak gue.
- Erlangga
Fatih tertegun. Erlangga yang dulu sombong dan penuh kebencian, kini memberikan kunci untuk menyelesaikan salah satu sengketa tanah terbesar di proyeknya. Ini adalah potongan puzzle terakhir yang bisa membuat proyek "Griya Harapan" bersih secara hukum seratus persen.
"Mas, ada apa?" Zalina mendekat, melihat Fatih melamun memegang surat.
Fatih menyerahkan surat itu. Zalina membacanya, dan matanya berkaca-kaca. "Bahkan di tempat tergelap, seseorang masih bisa nemuin cahaya ya, Mas."
Bagian 3: Keputusan di Gedung Sate
Pukul 14.00 WIB. Fatih tidak pergi ke kantor IAI. Ia justru meminta waktu bertemu kembali dengan Bapak Gubernur di Gedung Sate.
Di ruangan yang sama tempat ia melaporkan Handoko, Fatih kini berdiri dengan tegak namun penuh kerendahan hati.
"Bapak Gubernur, terima kasih atas kesempatannya. Saya datang untuk menyampaikan keputusan saya terkait beasiswa London," ucap Fatih.
Bapak Gubernur melepas kacamata bacanya. "Saya sudah bisa menebak dari wajahmu, Fatih. Kamu tidak akan berangkat, ya?"
Fatih tersenyum tipis. "Kondisi istri saya tidak memungkinkan untuk penerbangan jauh, Pak. Janin kembar kami memiliki risiko tinggi. Saya tidak bisa meninggalkan dia, dan saya tidak bisa membawa dia dalam bahaya."
"Tapi karirmu..."
"Karir bisa dibangun di mana saja selama saya punya integritas, Pak. London mungkin memberikan ilmu, tapi Indonesia—saat ini—memberikan saya ujian nyata untuk menjadi laki-laki. Saya memilih tetap di sini. Mengawal proyek Griya Harapan, memastikan warga mendapatkan hak sertifikat mereka kembali (seperti yang diamanahkan Erlangga), dan menunggu kelahiran anak-anak saya."
Fatih meletakkan dokumen beasiswa itu di meja.
"Saya ingin mengembalikan beasiswa ini agar bisa diberikan kepada mahasiswa lain yang lebih membutuhkan dan lebih siap berangkat tahun ini. Saya akan belajar secara mandiri, dari lapangan langsung."
Bapak Gubernur berdiri, berjalan menghampiri Fatih, dan memeluknya. "Kamu tahu, Fatih? Ilmu arsitektur bisa dipelajari di buku. Tapi karakter laki-laki hanya bisa ditempa di persimpangan antara ambisi dan tanggung jawab. Kamu sudah lulus ujian yang lebih besar dari gelar Master mana pun."
Bagian 4: Pulang ke Rumah yang Sesungguhnya
Sore itu, Fatih pulang ke kontrakan. Ia membawa kabar bahwa beasiswa itu sudah ia lepaskan.
Zalina menangis saat mendengar keputusan Fatih. Kali ini bukan tangis sedih, tapi tangis kelegaan yang luar biasa. Ia merasa sangat dicintai, sangat dilindungi.
"Mas... maafin aku ya, gara-gara aku Mas nggak jadi ke London," isak Zalina.
Fatih merangkul Zalina, menuntunnya duduk di teras sambil melihat matahari terbenam di balik gunung-gunung Bandung.
"Zal, London itu cuma kota. Kamu dan si kembar itu dunia Mas. Mas nggak butuh London untuk jadi arsitek hebat. Mas cuma butuh kalian untuk jadi manusia seutuhnya."
Fatih merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah brosur. Bukan brosur London, tapi brosur sebuah rumah di daerah perbukitan yang udaranya sejuk.
"Mas udah DP rumah kecil di sini. Nggak mewah, tapi ada tamannya buat anak-anak main nanti. Kita pindah dari kontrakan ini bulan depan ya?"
Zalina tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Fatih. Di kejauhan, suara azan Maghrib mulai berkumandang.
Badai besar telah lewat. Handoko di penjara, Erlangga bertaubat, dan ambisi London telah dilepaskan demi cinta yang lebih besar. Fatih menyadari bahwa Jalur Langit tidak selalu membawa kita ke tempat yang jauh, tapi seringkali membawa kita pulang ke tempat di mana hati kita seharusnya berada.
EPILOG (Menuju Arc Persalinan)
Empat bulan kemudian.
Zalina sedang berjuang di ruang persalinan. Fatih menggenggam tangannya, suaranya parau membisikkan doa.
"Ayo, Zal... kamu kuat..."
Dan di pagi yang cerah itu, dua suara tangisan bayi pecah bersamaan, mengguncang langit-langit rumah sakit.
Dua anak laki-laki.
Arshaka Langit Fatih dan Arjuna Bumi Fatih.
Satu mewakili doa yang melangit, satu mewakili perjuangan yang membumi.
Kisah "Mencintaimu Jalur Langit" kini memiliki warna baru. Bukan lagi soal dua insan yang saling mengejar, tapi soal satu keluarga yang berjalan bersama di bawah lindungan Sang Pemilik Takdir.