"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
satu arah
Dunia Andersen seketika runtuh.
Pikirannya pecah berkeping-keping. Rasa bersalah, penyesalan, dan tekanan hebat menghantam jantungnya secara bersamaan.
Genggaman tangannya menguat secara tidak sadar, hingga bunyi "krak" terdengar... layar ponsel di tangannya retak di bawah tekanan jemarinya yang gemetar hebat.
Dengan mata yang memerah dan napas memburu, Andersen bangkit. Ia meraih sebuah tongkat sapu dan mematahkannya dengan satu hentakan kaki yang beringas. Ia ingin kembali. Ia harus kembali ke malam itu dan mengubah segalanya!
Namun, saat ujung kayu yang runcing itu sudah menempel di kulit lehernya, tubuhnya mengkhianati jiwanya.
Meski jiwanya meraung ingin mati, insting bertahan hidup tubuhnya menolak keras. Tangannya kaku. Kayu itu pun terjatuh ke lantai, dan Andersen ambruk dalam depresi yang paling kelam.
Logikanya sudah hilang. Dalam kegilaan yang dipicu rasa sesak, ia mulai memukul dadanya sendiri, tepat di posisi jantungnya.
"Tahan... tahan..." desisnya, berusaha meredam teriakan yang ingin meledak dari tenggorokannya.
Ia terus memukul dadanya dengan kekuatan penuh, berulang kali, hingga rasa berat dan sesak mulai menguasai paru-parunya.
Krek!
Bunyi tulang rusuk yang patah terdengar mengerikan di kamar yang sunyi itu. Andersen tidak berhenti. Ia justru memukul lebih kencang. Lebih beringas!
Cairan hangat mulai memenuhi rongga dadanya. Paru-parunya terasa perih, tenggelam oleh darahnya sendiri. Penglihatannya perlahan menggelap hingga ia kehilangan kesadaran.
...
Andersen tersentak bangun. Ia segera melihat jam.
"Mengapa?! Kenapa aku tidak bisa kembali ke saat itu?!" raungnya dalam hati. Ia kembali di hari Sabtu pukul sembilan pagi. Titik loop tidak berubah.
"Hei, apa maksudnya ini?! Jangan bercanda!" Andersen berteriak dalam diam, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat.
Dengan tangan yang masih gemetar dan rasa sakit yang menjalar dari dadanya yang sudah hancur, ia kembali memukul tulang rusuknya yang patah, mencoba memaksa takdir untuk menariknya lebih jauh ke masa lalu.
Andersen tetap tidak bisa kembali ke hari itu... Tidak bisa mengulangnya, bahkan setelah memukul dirinya sendiri ribuan kali. Tangisan, keputus asaan adalah teman bagi dirinya saat itu. Mungkin terdengar klise bagi mereka yang belum memahaminya...
Senin itu, atmosfer di sekolah berubah drastis. Kabar mengenai kematian tragis Nadia menyebar seperti api liar ke setiap sudut kelas. Bisik-bisik prihatin dan wajah-wajah penuh duka menyelimuti lorong-lorong sekolah. Namun, tak satu pun dari mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Video mengerikan itu tidak pernah Andersen sebarkan. Ia menyerahkannya langsung kepada pihak berwajib siang itu juga. Namun, keadilan seolah membentur tembok baja; pihak kepolisian bersikap dingin, hampir tak peduli, seolah-olah kematian itu hanyalah angka statistik belaka.
Entah kekuatan apa yang membungkam mereka, namun identitas para pembunuh itu tetap terkubur rapat, hanya diketahui oleh Andersen dan beberapa pihak kepolisian yang memilih diam.
Satu Tahun Kemudian...
Waktu berlalu begitu sunyi. Tragedi itu terjadi saat mereka masih di kelas 2 SMP, dan kini, saat mereka sudah menginjak kelas 3, luka itu masih menganga.
Malam itu, Michelle dan sopirnya datang berkunjung. Ini adalah kali pertama mereka berbicara serius sejak empat bulan pasca-kepergian Nadia.
Mereka duduk di ruang tamu rumah Andersen... sebuah hunian minimalis dua lantai yang tergolong baru.
Di luar, sebuah Honda Civic terparkir rapi, sementara satu motor tersimpan di dalam rumah, menciptakan kontras antara kemapanan dan kesepian.
"Jadi... mereka yang membunuh Nadia malam itu adalah pembunuh bayaran?" tanya Andersen, suaranya terdengar datar namun sarat akan kegetiran.
"Benar, Sen," jawab Michelle pelan. "Mereka membunuh Nadia karena ayahnya adalah seorang anggota Parlemen negeri ini."
Michelle menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Ayah Nadia dikenal sangat tegas dan memiliki integritas yang sangat tinggi. Hal itulah yang membuatnya memiliki banyak musuh. Banyak yang membencinya karena cemburu atas status sosialnya, atau karena bisnis ilegal mereka berhasil dihambat olehnya."
Michelle menatap Andersen dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Sejak kepergian Nadia, ayahnya hancur. Ia tak pernah lagi setegas dulu. Jujur saja, ayahku sendiri adalah salah satu orang yang bisnisnya pernah terhambat oleh ayah Nadia...
Hanya karena masalah SOP keselamatan kerja yang tidak lengkap. Karena itulah, wajar jika Nadia dijadikan target untuk membungkam ayahnya dengan cara yang paling keji."
Michelle melirik jam tangannya, raut wajahnya tampak terburu-buru.
"Sebenarnya aku ingin mengobrol lebih lama denganmu, Andersen. Tapi ada urusan mendesak yang mengharuskan aku segera berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta malam ini. Maaf ya, aku tidak bisa menjelaskan lebih detail sekarang."
Andersen masih terpaku di tempatnya duduk, bahkan setelah deru mesin mobil Michelle menghilang dari pendengaran.
Informasi itu menghantamnya sangat keras seperti dihantam palu yang sangat besar. Ternyata keadaannya jauh lebih rumit dari apa yang dibayangkan oleh dirinya...
Batinnya bergejolak.
Saat ia mencoba menenangkan diri dengan membasuh wajahnya di wastafel, sebuah suara yang sudah lama tidak ia dengar kembali bergema di kepalanya.
Kali ini, suara itu tidak hanya membisikkan satu kata "Keberuntungan" seperti biasanya. Kali ini, suara itu memberikan perintah yang jelas dan dingin.
"Selamatkanlah Michelle dari kasus pembunuhan yang akan terjadi... Segera ikuti mereka, Andersen."
Andersen membeku. Air yang mengalir dari keran terasa sangat dingin di kulitnya. Jantungnya berdegup kencang, ini bukan sekadar firasat...
Tanpa berpikir dua kali, ia segera menyambar kunci motornya. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu.
Tunggu... pikirnya. Bagaimana jika mereka dikepung di jalan tol? Apa yang bisa kulakukan dengan motor? Aku tidak akan bisa melindungi siapa pun lagi.
Dengan tangan gemetar namun penuh tekad, ia meletakkan kembali kunci motor Itu dan menyambar kunci mobil milik ayahnya yang tergantung di dinding.
Andersen segera berlari ke garasi dan memasuki mobil sedan tersebut. Secara hukum, ia memang belum cukup umur untuk berada di balik kemudi, namun sejak tahun lalu, ayahnya telah melatihnya menguasai kendaraan ini secara diam-diam.
Mesin menderu saat Andersen memutar kunci kontak. Ia tidak peduli lagi pada aturan atau risiko tertangkap polisi.
Di pikirannya hanya ada satu tujuan: jangan sampai darah kembali berserakan di dinginnya malam dan kejamnya dunia. Jangan sampai ia harus melihat orang lain mati di depan dirinya.
Mobil itu melesat keluar dari halaman rumah, membelah malam menuju arah Bandara Soekarno-Hatta dengan kecepatan tinggi.
Andersen kini terjebak dalam kutukan yang sama, namun dengan target yang berbeda. Perasaan frustrasinya pasti sudah melampaui batas kewarasan manusia biasa.
Tragedi itu terulang kembali dengan presisi yang menyiksa. Di bawah cahaya temaram lampu jalan tol yang kuning pucat dan dingin, momen itu seolah terdistorsi dalam gerak lambat yang menyakitkan.
Tepat saat Andersen membanting pintu mobilnya dan melompat keluar, tangannya terjulur, berusaha menggapai jemari Michelle yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.
Namun, takdir rupanya lebih cepat. Sebuah dentuman kering, suara tembakan yang dingin terdengar dan memecah kesunyian malam yang mencekam.
Tubuh Michelle tersentak hebat, seolah dihantam kekuatan tak kasatmata, sebelum akhirnya ambruk seketika di atas aspal jalan tol yang kasar dan berdebu.
"Michelle! Chell! Tetap sadar, Chell! Lihat aku!" teriak Andersen, suaranya pecah di tengah deru angin malam.
Ia jatuh berlutut, menyangga kepala Michelle dengan tangan yang gemetar hebat.
Cairan hangat mulai merembes di sela-sela jarinya—sensasi yang sangat ia kenali, sensasi yang sama saat ia melihat apa yang diperlihatkan oleh sang pembunuh waktu itu.
Dadanya terasa sesak oleh oksigen yang seolah menghilang, digantikan oleh rasa dejavu yang mengerikan.
Gagal. Lagi-lagi ia terlambat. Lagi-lagi ia hanya menjadi penonton dalam teater kematian yang tak kunjung usai.
Michelle terbatuk, darah mulai menodai sudut bibirnya, namun ia masih sempat menyunggingkan senyum tipis yang menyayat hati.
"Beruntung ya... Nadia bisa mendapatkan pria setampan dirimu," bisiknya lemah. Tangannya yang gemetar terangkat, menyentuh pipi Andersen dengan sisa tenaga yang ada.
"Jika saja kamu..." Kalimat itu menggantung selamanya. Tangan Michelle jatuh, dan cahaya di matanya padam seketika.
Andersen mendekap tubuh itu erat-erat, air matanya jatuh tanpa suara. Di tengah duka yang menghancurkan, instingnya tiba-tiba berteriak. Ia mendongak, menyisir kegelapan di sekelilingnya. Di kejauhan, pada sebuah gedung yang berdiri angkuh di sisi jalan tol, ia melihat sebuah kilatan cahaya—pantulan lensa dari senjata sniper.
Brak!
Andersen jatuh tersungkur sebelum sempat menghindar. Timah panas telah menembus tubuhnya. Saat kesadarannya mulai memudar dan pandangannya kabur ke arah langit malam.
[ KEBERUNTUNGAN... ]
Kesadaran Andersen tersentak kembali. Pandangannya langsung tertuju pada setir di tangannya; ia masih berada di dalam mobil, memacu kendaraan di jalur yang sama. Di depannya, mobil Alphard milik Michelle masih melaju.
Tanpa membuang waktu, Andersen menghentak tuas transmisi dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mesin menderu hebat saat ia melesat, berusaha memangkas jarak dengan Alphard yang tiba-tiba juga ikut menambah kecepatan.
Sementara itu, suasana di dalam mobil Michelle berubah mencekam. "Non... sepertinya kita sedang diikuti oleh seseorang. Bapak akan menaikkan kecepatan mobil ini, ya," ucap Pak Sopir dengan sambil melirik spion tengah.
Namun, tepat setelah kalimat itu selesai diucapkan, sebuah dentuman keras memecah kaca depan. Sebuah peluru melesat dengan presisi mematikan, menembus leher Pak Sopir seketika.
Darah segar menyembur, dan dalam sekejap kendali mobil hilang. Tanpa ada kaki yang menginjak rem, Alphard itu oleng ke arah kiri dan menghantam pembatas jalan tol .
Beton pembatas itu hancur berkeping-keping. Karena hantaman yang begitu keras, bagian depan Alphard tersebut kini menggantung, nyaris terjatuh ke jalan di bawahnya.
Andersen yang melihat kejadian itu dari belakang merasa jantungnya berhenti berdetak.
"TIDAK!" teriaknya. Ia segera menginjak rem hingga bannya menjerit…
Begitu pintu geser otomatisnya berhasil dibuka paksa, Michelle langsung menghambur keluar. Ia sempat terkejut atas siapa yang menghampiri dirinya...
Tanpa memedulikan citranya, ia menyambut Andersen dengan pelukan yang sangat erat, tubuhnya gemetar hebat akibat trauma yang baru saja terjadi.
"Sen... aku takut," bisik Michelle parau. Isakannya tertahan di dada Andersen, tangannya mencengkeram jaket pemuda itu.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sedetik. Mata Andersen menangkap kilatan cahaya dari gedung di kejauhan...
posisi sniper yang sama yang membunuhnya di garis waktu sebelumnya. Tanpa peringatan, Andersen merangkul pinggang Michelle dan menjatuhkan tubuh mereka berdua ke aspal, tepat di balik perlindungan badan mobil yang tebal.
Ting!
Sebuah peluru menghantam bodi mobil, tepat di tempat kepala Michelle berada beberapa detik yang lalu.
Michelle yang terkejut dengan pergerakan tiba-tiba itu sempat berteriak pendek. Dalam posisi terjatuh dan masih berpelukan erat di bawah bayang-bayang mobil, wajah Michelle memanas. Ia tidak sadar akan ancaman peluru yang baru saja lewat.