Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Eksekusi Sang Direktur
"Jadi, bagaimana keputusan Bapak CEO yang terhormat? Apakah kita akan memotong gaji karyawan bulan ini, atau kita jual saja aset tanah di Sentul untuk menutupi defisit?"
Suara Pak Haryo terdengar berat, penuh wibawa palsu yang sengaja ditebalkan untuk mendominasi ruang rapat direksi yang dingin itu. Pria tua berambut putih itu duduk bersandar nyaman di kursinya, memutar pena mahal di antara jari-jarinya yang gemuk. Wajahnya memasang topeng keprihatinan, namun matanya memancarkan kilat kemenangan yang licik. Ia merasa di atas angin.
Atmosfer di meja oval panjang itu mencekam. Para direktur lain menunduk, tak ada yang berani menatap mata Kairo yang duduk di ujung meja. Semua orang tahu kondisi keuangan perusahaan sedang berdarah-darah, dan Kairo adalah sasaran tembak hari ini.
"Saya dengar perjalanan dinas ke Singapura dibatalkan mendadak kemarin," lanjut Pak Haryo, volumenya sengaja dinaikkan agar menggema ke seluruh ruangan. "Sayang sekali. Padahal kita sangat butuh suntikan dana dari investor sana. Kalau saja Nak Kairo lebih fokus pada bisnis daripada... urusan pribadi, mungkin kita tidak akan tersudut di posisi sulit ini."
Bisik-bisik mulai terdengar di antara para direktur. Rumor tentang Kairo yang memutar balik mobil di jalan tol demi mengejar istrinya sudah menyebar. Citra profesionalismenya sedang dipertaruhkan.
Kairo tetap duduk diam, tak menyentuh gelas air di hadapannya. Tatapannya lurus, terkunci pada Pak Haryo tanpa kedipan, tanpa emosi. Ia membiarkan pria tua itu menari di atas panggungnya sendiri, membiarkannya menggali lubang kuburnya sendiri semakin dalam.
"Kalau boleh saya saran sebagai orang yang lebih tua," tambah Pak Haryo dengan senyum tipis yang meremehkan. "Mungkin sebaiknya posisi CEO diserahkan sementara kepada dewan komisaris. Biar saya yang urus krisis ini. Nak Kairo bisa istirahat dulu di rumah, mengurus istri yang... kabarnya sedang labil itu."
Itu dia. Tujuannya terungkap. Kudeta halus untuk mengambil alih kendali saat Kairo terlihat lemah.
Kairo perlahan menegakkan punggungnya. Ia melirik jam dinding sekilas. Pukul sepuluh tepat. Waktunya habis.
"Sudah selesai bicaranya, Pak Haryo?" tanya Kairo. Suaranya tenang, namun memiliki daya tembus yang membungkam ruangan.
Pak Haryo mengangkat alis, sedikit terganggu dengan ketenangan lawannya. "Saya bicara demi kebaikan perusahaan, Nak Kairo."
"Berhenti memanggil saya 'Nak'. Kita sedang di ruang direksi, bukan di acara arisan keluarga," potong Kairo dingin. Ia memberi isyarat tangan pada Reza yang berdiri siaga di dekat pintu. "Reza, bagikan."
Reza bergerak cepat dan efisien, meletakkan sebuah map tebal berwarna merah di depan setiap direktur. Terakhir, map paling tebal diletakkan tepat di hadapan Pak Haryo.
"Apa ini?" tanya Pak Haryo curiga.
"Sebelum kita bicara soal potong gaji karyawan," kata Kairo sambil membuka map miliknya. "Mari bicara kabar gembira dulu. Tadi pagi, dana segar sebesar lima ratus miliar rupiah sudah masuk ke rekening perusahaan. Cash keras."
Keheningan pecah seketika. Gumam kaget dan tak percaya memenuhi ruangan. "Lima ratus miliar? Dari mana? Bukannya Singapura batal?"
Wajah Pak Haryo berubah kaku. Senyum meremehkannya lenyap tak berbekas. "Da... dana dari siapa? Tidak mungkin ada bank yang mau mencairkan pinjaman secepat itu dengan rating kredit kita yang turun."
"Dari Chen Group," jawab Kairo santai. "Saya makan malam dengan Mr. Chen semalam. Negosiasi lancar. Beliau sangat percaya pada masa depan Diwantara Group. Jadi, Pak Haryo, Anda tidak perlu repot menjual tanah di Sentul. Defisit sudah tertutup."
Keringat dingin mulai merembes di pelipis Pak Haryo. Rencananya berantakan. Ia berharap perusahaan kolaps agar bisa masuk sebagai penyelamat, namun Kairo membalikkan keadaan dalam satu malam.
"Baguslah kalau begitu," kata Pak Haryo dengan suara serak, berusaha menguasai diri. "Saya ikut senang. Berarti masalah selesai, kan? Rapat bisa ditutup?" Ia hendak berdiri, bersiap melarikan diri dari situasi yang tidak nyaman ini.
"Duduk," perintah Kairo. Suaranya tidak keras, namun memiliki bobot tonase besi yang memaksa kaki Pak Haryo terpaku. "Saya belum selesai."
Kairo menatap map merah di depan Pak Haryo. "Masalah dana masuk sudah selesai. Sekarang kita bahas masalah dana keluar."
Jantung Pak Haryo berdegup kencang. "Maksud Anda?"
"Buka map itu, Pak Haryo. Halaman pertama."
Dengan tangan sedikit gemetar, Pak Haryo membuka map tersebut. Di sana terpampang grafik batang yang menunjukkan lonjakan pengeluaran drastis di proyek Cikarang.
"Jelaskan pada kami, Pak Direktur Keuangan," Kairo mencondongkan tubuh, tatapannya menajam. "Kenapa biaya 'keamanan warga' di proyek Cikarang melonjak jadi tiga miliar rupiah bulan ini? Padahal menurut laporan CCTV dan intelijen lapangan, tidak ada satu pun demo warga di sana selama tiga bulan terakhir."
Pak Haryo menelan ludah, tenggorokannya kering kerontang. "I... itu biaya preventif, Pak Kairo. Kita harus bayar ormas supaya tidak demo. Anda kan cuma duduk di kantor ber-AC, mana paham kondisi lapangan."
"Oh, begitu?" Kairo tersenyum miring—senyum yang membuat bulu kuduk berdiri. "Kalau begitu, jelaskan halaman kedua."
Bunyi kertas dibalik terdengar serempak di ruangan itu. Halaman kedua menampilkan salinan invoice dari PT Sinar Abadi Jaya.
"PT Sinar Abadi Jaya, vendor penyedia pasir dan semen," baca Kairo lantang. "Tagihan lima belas miliar rupiah. Harga satuan semen dipatok seratus ribu per sak, padahal harga pasar cuma lima puluh ribu. Itu mark-up seratus persen, Pak Haryo."
"Harga fluktuatif!" sergah Pak Haryo panik, suaranya meninggi. "Pasokan langka! Saya tanda tangan karena kita butuh barang cepat!"
"Pasokan langka?" Kairo tertawa pendek tanpa humor. "Gudang distributor penuh semen bulan lalu. Tidak ada kelangkaan."
Kairo bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mengelilingi meja. Langkah kakinya berbunyi berat, dug... dug... dug... seperti hitung mundur eksekusi mati, hingga ia berhenti tepat di belakang kursi Pak Haryo. Ia meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi, mengurung pria tua itu.
"Saya penasaran. Siapa pemilik PT Sinar Abadi Jaya ini? Kenapa Pak Haryo begitu setia pada vendor mahal ini?" bisik Kairo tajam.
"Saya tidak kenal pemiliknya secara pribadi! Itu murni bisnis!" bantah Pak Haryo, keringat kini membasahi kerah kemejanya.
"Benarkah?"
Kairo mengambil lembar terakhir dari map Pak Haryo dan membantingnya ke meja, tepat di depan wajah pria tua itu. Brak!
Itu adalah fotokopi Kartu Keluarga.
"Budi Hartono," kata Kairo dingin. "Pemilik PT Sinar Abadi Jaya. Lihat alamatnya. Sama persis dengan alamat rumah adik kandung istri Anda. Budi Hartono adalah adik ipar Anda, Pak Haryo."
Pekikan kaget terdengar dari direktur lain. "Gila! Nepotisme! Korupsi gila-gilaan!"
Wajah Pak Haryo pucat pasi seperti mayat. Buktinya telak dan tak terbantahkan. "Kau... Dari mana kau dapat data ini? Data ini tersimpan di server pribadi saya! Tidak ada yang punya akses!"
"Anda meremehkan saya, Pak Haryo. Anda pikir karena saya muda, saya bisa dibodohi? Anda pikir saya tidak tahu Anda menggerogoti warisan ayah saya seperti rayap?"
Pak Haryo mendadak berdiri, mendorong kursinya hingga terjengkang. Topeng sopan santunnya hancur, berganti kemarahan putus asa. "Saya ikut membangun perusahaan ini! Saya bekerja dengan Ayahmu tiga puluh tahun! Saya berhak dapat bagian lebih! Gaji saya kecil dibanding profit kalian! Itu cuma kompensasi!"
"Itu pencurian," koreksi Kairo tajam. Ia menoleh ke pintu. "Silakan masuk, Pak Polisi."
Dua petugas berseragam masuk membawa borgol perak. Pak Haryo lemas seketika. Kakinya tak mampu menopang tubuh saat polisi membacakan tuduhan penggelapan, pemalsuan, dan pencucian uang.
Bunyi klik borgol terdengar nyaring mengakhiri karir Pak Haryo. "Bawa dia," perintah Kairo dingin, kembali duduk tenang seolah baru saja membuang sampah.
Namun, saat diseret mendekati pintu, Pak Haryo menyadari sesuatu. Ia kenal Kairo. Kairo adalah pebisnis agresif, bukan tipe auditor teliti yang punya kesabaran melacak silsilah keluarga vendor. Kairo tidak mungkin menemukan data di server tersembunyi itu sendirian dalam satu malam.
Pak Haryo menahan kusen pintu dengan bahunya, menatap Kairo dengan tatapan liar penuh dendam dan kebingungan.
"Tunggu!" teriaknya, ludah menyembur. "Kau tidak pintar sendirian, Kairo! Otakmu tidak sampai ke sana! Kau tidak mungkin bisa meretas data saya! Siapa?! Siapa yang membantumu?!"
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor