NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Eksekusi Sang Direktur

​"Jadi, bagaimana keputusan Bapak CEO yang terhormat? Apakah kita akan memotong gaji karyawan bulan ini, atau kita jual saja aset tanah di Sentul untuk menutupi defisit?"

​Suara Pak Haryo terdengar berat dan penuh wibawa palsu, memenuhi ruang rapat direksi yang dingin itu. Pria tua berambut putih itu duduk bersandar di kursinya, memutar pena mahal di jari-jarinya yang gemuk. Wajahnya menunjukkan ekspresi prihatin yang dibuat-buat, tapi matanya memancarkan kilat kemenangan yang licik.

​Suasana di meja oval panjang itu mencekam. Para direktur lain menunduk, tidak berani menatap mata Kairo yang duduk di ujung meja. Semua orang tahu kondisi keuangan perusahaan sedang berdarah-darah.

​"Saya dengar perjalanan dinas ke Singapura dibatalkan mendadak kemarin," lanjut Pak Haryo, nadanya semakin menyudutkan. Dia sengaja bicara keras agar semua orang mendengar. "Sayang sekali. Padahal kita sangat butuh suntikan dana dari investor sana. Kalau Nak Kairo lebih fokus pada bisnis daripada... urusan pribadi, mungkin kita tidak akan ada di posisi sulit ini."

​Beberapa direktur berbisik-bisik. Mereka tahu rumor Kairo putar balik di jalan tol demi mengejar istrinya. Citra Kairo sebagai pemimpin profesional sedang dipertanyakan.

​Kairo duduk diam. Dia tidak menyentuh gelas air di depannya. Matanya menatap lurus ke arah Pak Haryo, tanpa berkedip, tanpa emosi. Dia membiarkan pria tua itu bicara. Dia membiarkan Pak Haryo menggali kuburannya sendiri.

​"Kalau boleh saya saran sebagai orang yang lebih tua," tambah Pak Haryo dengan senyum tipis yang meremehkan. "Mungkin sebaiknya posisi CEO diserahkan sementara kepada dewan komisaris. Biar saya yang urus krisis ini. Nak Kairo bisa istirahat dulu di rumah, mengurus istri yang... kabarnya sedang labil itu."

​Itu dia. Kudeta halus. Pak Haryo ingin mengambil alih kendali penuh mumpung Kairo terlihat lemah.

​Kairo perlahan menegakkan punggungnya. Dia melirik jam dinding. Pukul sepuluh tepat.

​"Sudah selesai bicaranya, Pak Haryo?" tanya Kairo. Suaranya tenang, tapi menggema jelas di ruangan yang sunyi itu.

​Pak Haryo mengangkat alis. "Saya bicara demi kebaikan perusahaan, Nak Kairo."

​"Berhenti memanggil saya 'Nak'. Kita sedang di ruang direksi, bukan di acara arisan keluarga," potong Kairo dingin.

​Kairo memberi isyarat tangan pada Reza yang berdiri di dekat pintu.

​"Reza, bagikan."

​Reza bergerak cepat. Dia meletakkan sebuah map tebal berwarna merah di depan setiap direktur yang hadir. Terakhir, dia meletakkan map paling tebal di depan Pak Haryo.

​"Apa ini?" tanya Pak Haryo, menatap map itu dengan curiga.

​"Sebelum kita bicara soal potong gaji karyawan," kata Kairo sambil membuka map miliknya sendiri. "Mari kita bicara soal kabar gembira dulu. Tadi pagi, dana segar sebesar lima ratus miliar rupiah sudah masuk ke rekening perusahaan. Cash keras."

​Keheningan pecah. Suara kaget bergumam di seluruh ruangan.

​"Lima ratus miliar?!"

"Dari mana? Bukannya Singapura batal?"

"Hebat sekali! Cash flow kita selamat!"

​Wajah Pak Haryo berubah kaku. Senyum meremehkannya lenyap seketika. "Da... dana dari siapa? Tidak mungkin ada bank yang mau mencairkan pinjaman secepat itu dengan rating kredit kita yang turun."

​"Dari Chen Group," jawab Kairo santai. "Saya makan malam dengan Mr. Chen semalam. Negosiasi berjalan lancar. Beliau sangat percaya pada masa depan Diwantara Group. Jadi, Pak Haryo, Anda tidak perlu repot-repot menjual tanah di Sentul. Defisit sudah tertutup."

​Keringat dingin mulai muncul di pelipis Pak Haryo. Rencananya gagal. Dia berharap perusahaan kolaps agar dia bisa masuk sebagai penyelamat. Tapi Kairo entah bagaimana berhasil membalikkan keadaan dalam satu malam.

​"Baguslah kalau begitu," kata Pak Haryo dengan suara serak, mencoba tetap terlihat tenang. "Saya ikut senang. Berarti masalah selesai, kan? Rapat bisa ditutup?"

​Pak Haryo hendak berdiri, bersiap kabur dari situasi yang tidak nyaman ini.

​"Duduk," perintah Kairo. Suaranya tidak keras, tapi memiliki bobot tonase besi. "Saya belum selesai."

​Kairo menatap map merah di depan Pak Haryo.

​"Masalah dana masuk sudah selesai. Sekarang kita bahas masalah dana keluar."

​Jantung Pak Haryo berdegup kencang. Dia menatap map itu. "Maksud Anda?"

​"Buka map itu, Pak Haryo. Halaman pertama," perintah Kairo.

​Pak Haryo dengan tangan sedikit gemetar membuka map tersebut. Direktur lain juga ikut membuka map mereka.

​Di halaman pertama, terpampang sebuah grafik batang yang menunjukkan lonjakan pengeluaran di proyek Cikarang.

​"Bisa jelaskan pada kami, Pak Direktur Keuangan," Kairo mencondongkan tubuh ke depan, menatap tajam mata tua itu. "Kenapa biaya 'keamanan warga' di proyek Cikarang melonjak jadi tiga miliar rupiah bulan ini? Padahal menurut laporan CCTV dan intelijen lapangan, tidak ada satu pun demo warga di sana selama tiga bulan terakhir."

​Pak Haryo menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir.

​"I... itu biaya preventif, Pak Kairo. Kita harus bayar ormas supaya mereka tidak demo. Itu biasa di lapangan. Anda kan cuma duduk di kantor ber-AC, mana paham kondisi lapangan," elak Pak Haryo, mencoba menyerang balik.

​"Oh, begitu?" Kairo tersenyum miring. Senyum yang membuat bulu kuduk semua orang berdiri. "Kalau begitu, jelaskan halaman kedua."

​Bunyi kertas dibalik terdengar serempak.

​Di halaman kedua, ada salinan invoice (tagihan) dari PT Sinar Abadi Jaya.

​"PT Sinar Abadi Jaya," baca Kairo lantang. "Vendor penyedia pasir dan semen. Tagihan mereka bulan lalu lima belas miliar rupiah. Harga satuan semen yang mereka patok seratus ribu per sak. Padahal harga pasar saat ini cuma lima puluh ribu. Itu mark-up seratus persen, Pak Haryo."

​"Harga fluktuatif!" sergah Pak Haryo cepat, suaranya meninggi karena panik. "Mungkin waktu itu pasokan langka! Saya tanda tangan karena kita butuh barang cepat!"

​"Pasokan langka?" Kairo tertawa pendek. "Semen menumpuk di gudang distributor bulan lalu. Tidak ada kelangkaan."

​Kairo berdiri dari kursinya. Dia berjalan perlahan mengelilingi meja, menuju tempat duduk Pak Haryo. Langkah kakinya yang berat berbunyi dug...dug...dug... seperti lonceng kematian.

​"Saya penasaran," kata Kairo, berhenti tepat di belakang kursi Pak Haryo. Dia meletakkan kedua tangannya di sandaran kursi pria tua itu, mengurungnya. "Siapa pemilik PT Sinar Abadi Jaya ini? Kenapa Pak Haryo begitu setia pada vendor mahal ini?"

​"Saya tidak kenal pemiliknya secara pribadi! Itu murni bisnis!" bantah Pak Haryo, keringat sudah membasahi kerah kemejanya.

​"Benarkah?" bisik Kairo di telinga Pak Haryo.

​Kairo mengambil lembar terakhir dari map Pak Haryo dan membantingnya ke meja tepat di depan wajah pria tua itu.

​Brak!

​Itu adalah fotokopi Kartu Keluarga.

​"Budi Hartono," kata Kairo dingin. "Pemilik PT Sinar Abadi Jaya. Dan lihat alamatnya. Sama persis dengan alamat rumah adik kandung istri Anda. Budi Hartono adalah adik ipar Anda, Pak Haryo."

​Gasps (pekikan kaget) terdengar dari direktur lain.

​"Gila! Nepotisme!"

"Korupsi gila-gilaan ini namanya!"

"Pantas bonus kita dipotong terus!"

​Wajah Pak Haryo pucat pasi seperti mayat. Mulutnya membuka menutup seperti ikan mas koki yang kehabisan oksigen. Dia tertangkap basah. Buktinya telak. Tidak bisa dibantah.

​"Kau..." Pak Haryo menatap Kairo dengan tatapan tidak percaya. "Dari mana kau dapat data ini? Data ini tersimpan di server pribadi saya! Tidak ada yang punya akses!"

​"Anda meremehkan saya, Pak Haryo," jawab Kairo datar. "Anda pikir karena saya masih muda, saya bisa dibodohi? Anda pikir saya tidak tahu kalau Anda menggerogoti warisan ayah saya pelan-pelan seperti rayap?"

​Pak Haryo mendadak berdiri, mendorong kursinya hingga jatuh terjengkang. Wajah paniknya berubah menjadi wajah marah. Topeng sopan santunnya hancur.

​"Saya ikut membangun perusahaan ini!" teriak Pak Haryo, jarinya menunjuk muka Kairo. "Saya bekerja dengan Ayahmu tiga puluh tahun! Saya berhak dapat bagian lebih! Gaji saya kecil dibandingkan profit yang kalian nikmati! Itu cuma kompensasi!"

​"Itu pencurian," koreksi Kairo tajam. "Dan di perusahaan ini, maling tempatnya bukan di kursi direksi."

​Kairo menoleh ke arah pintu masuk.

​"Silakan masuk, Pak Polisi."

​Pintu ruang rapat terbuka lebar. Dua petugas kepolisian berseragam lengkap masuk dengan langkah tegap, membawa borgol perak yang berkilau di bawah lampu neon. Di belakang mereka, tim legal perusahaan membawa surat pemecatan resmi.

​Kaki Pak Haryo lemas. Dia merosot kembali, tapi tidak ada kursi di belakangnya karena sudah jatuh tadi. Dia hampir terjungkal kalau tidak memegang pinggiran meja.

​"Tidak... ini tidak mungkin..." gumam Pak Haryo saat polisi memegang kedua lengannya.

​"Saudara Haryo, Anda kami tahan atas dugaan penggelapan dana perusahaan, pemalsuan dokumen, dan tindak pidana pencucian uang," ucap salah satu polisi dengan nada formal.

​Bunyi klik dari borgol yang mengunci pergelangan tangan Pak Haryo terdengar sangat nyaring di ruangan yang hening itu.

​"Bawa dia," perintah Kairo tanpa rasa kasihan. Dia kembali ke kursinya, duduk dengan tenang seolah baru saja membuang sampah.

​Pak Haryo meronta saat diseret. Matanya merah, penuh dendam dan kebingungan. Dia menatap Kairo dengan tatapan liar.

​Dia kenal Kairo. Dia melihat Kairo tumbuh besar. Kairo memang cerdas, tapi Kairo itu pebisnis agresif, bukan tipe auditor yang teliti. 

Kairo tidak punya kesabaran untuk melacak hubungan keluarga vendor sampai ke kartu keluarga. Kairo tidak mungkin menemukan data di server tersembunyi itu sendirian dalam waktu satu malam.

​Ada yang aneh.

​"Tunggu!" teriak Pak Haryo saat dia diseret mendekati pintu keluar. Dia menahan kusen pintu dengan bahunya.

​"Kau tidak pintar sendirian, Kairo!" raung Pak Haryo, ludahnya menyembur. "Otakmu tidak sampai ke sana! Kau tidak mungkin bisa meretas data saya! Siapa?! Siapa yang membantumu?!"

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!