NovelToon NovelToon
Halte Takdir

Halte Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Hujan mempertemukan mereka yang putus asa dengan pilihan yang seharusnya tidak pernah ada.

Di satu sore terburuk dalam hidupnya, Viona menemukan sebuah halte tua yang tak pernah ada dan seorang pria misterius yang menawarkan cara untuk mengubah segalanya.

Di Halte Takdir, Viona harus memilih: payung untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki kesalahan fatal, atau pena untuk menulis masa depan sempurna tanpa kegagalan. Namun setiap keajaiban menuntut harga yang kejam, kenangan paling bahagia, atau perasaan yang membuatnya tetap manusia.

Akankah Viona berani mengubah takdirnya? Atau justru memilih menolak keajaiban demi mempertahankan dirinya sendiri?

Penuh emosi, fantasi modern, dan dilema yang menusuk, ikuti kisah tentang pilihan hidup yang tidak semua orang sanggup menanggung akibatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALUR YANG TERFRAGMENTASI

"Vio... pilih salah satu. Ibumu, atau seluruh kota ini?"

Suara itu berat, bergetar dengan gema mekanis yang menyakitkan telinga. Sosok yang menyerupai Nathan Mahendra—dengan wajah yang sesekali berdistorsi menjadi wajah bengis Baskara—berdiri di mulut gang. Kapak besar di tangannya mengeluarkan uap hitam yang mematikan rintik hujan di sekitarnya. Di belakangnya, Elena yang terduduk di kursi roda tampak semakin transparan, memudar seiring dengan setiap detik yang berlalu.

"Jangan dengerin dia, Vio! Itu cuma algoritma buat nahan lo!" Suara Adrian meledak di dalam kepala Viona, disertai bunyi statis yang berisik. "Kalau lo milih salah satu, lo bakal terjebak di dalam loop penyesalan. Itu makanan favorit para Penyapu!"

Viona mengepalkan tangannya. Botol kecil berisi cairan memori itu terasa dingin di telapak kanannya, sementara pena perak di tangan kirinya mulai bergetar hebat. Ia bisa melihat pemandangan di belakang sosok Nathan-Baskara; gedung-gedung pencakar langit Sudirman mulai terlihat seperti susunan balok kayu yang goyah. Orang-orang di trotoar bergerak patah-patah, beberapa dari mereka mendadak hilang dan muncul kembali di posisi yang berbeda.

"Pilihan ini nggak ada di dalam takdir gue," desis Viona. Suaranya serak, namun penuh amarah.

"Oh, ya? Kamu pikir kamu punya kuasa?" sosok itu melangkah maju. Kapaknya terseret di aspal, menimbulkan suara gesekan logam yang memilukan. "Tanpa Ordo, kamu hanyalah kepingan memori yang rusak. Kamu ingin menyelamatkan Elena? Berikan koin itu. Sekarang."

"Vio, cepet! Pena itu! Celupin ke memorinya!" Adrian berteriak panik. "Gue coba buka firewall di Monas, tapi lo harus sampai di sana dalam sepuluh menit atau Jakarta bakal di-delete!"

Viona tidak ragu lagi. Ia mencelupkan ujung pena peraknya ke dalam cairan biru harum melati itu. Seketika, pena itu menyerap cairan tersebut dan memancarkan cahaya biru safir yang begitu terang hingga menerangi gang yang gelap.

Viona tidak mengarahkan penanya pada sosok di depannya. Sebaliknya, ia mengarahkan pena itu ke telapak tangan kirinya, tepat di atas tulisan 'SEKARANG'. Dengan gerakan cepat yang dipandu oleh insting yang tak ia pahami, ia menuliskan sebuah jalur—sebuah koordinat yang bukan berupa angka, melainkan rangkaian garis yang menyerupai rasi bintang.

"Gue nggak pilih siapa-siapa," ucap Viona lantang. "Karena gue arsiteknya sekarang!"

Begitu simbol terakhir selesai ditulis, gelombang energi biru meledak dari tubuh Viona. Sosok Nathan-Baskara dan Elena di kursi roda itu berteriak saat tubuh mereka hancur menjadi partikel cahaya hitam yang tertiup angin. Jebakan proyeksi itu hancur.

Viona segera berlari keluar dari gang. Di jalanan utama, pemandangan semakin mengerikan. Langit Jakarta yang tadinya abu-abu kini terbelah, menyingkapkan ribuan roda gigi raksasa yang berputar di balik awan. Monas terlihat di kejauhan, namun tugu itu tidak lagi berdiri statis. Ia tampak seperti jarum jam raksasa yang berputar cepat, mengeluarkan pendar cahaya keemasan ke langit.

"Gila... kotanya beneran lagi di-reformat," gumam Viona.

Ia melihat sebuah motor yang tergeletak di pinggir jalan—sebuah motor tua yang mesinnya masih menyala secara ajaib. Viona melompat ke atas motor itu. Meskipun ia jarang mengendarai motor, tangannya seolah digerakkan oleh memori orang lain.

"Vio, ikutin jalur biru yang gue buat di aspal!" perintah Adrian. "Jangan keluar dari garis itu! Di luar garis itu, realitasnya sudah nggak ada. Lo bakal jatuh ke ruang hampa!"

Viona memutar gas. Motor itu melesat di atas aspal yang mulai retak. Di depan matanya, sebuah garis biru neon yang hanya bisa dilihatnya berkat kekuatan pena perak itu muncul membelah kemacetan. Mobil-mobil di sekitarnya tampak seperti bayangan yang bergetar. Beberapa pengendara menoleh ke arahnya dengan wajah yang sudah tidak memiliki fitur—hanya permukaan halus tanpa mata dan mulut.

"Julian! Lo masi di sana?" Viona berteriak sambil memacu motornya melewati bunderan HI.

"Gue masi... nahan mereka..." suara Julian terdengar terputus-putus. Viona melirik kaca spion. Jauh di belakangnya, sebuah badai awan hitam yang berisi ribuan burung gagak mekanis sedang mengejarnya. Di tengah badai itu, sosok-sosok Penyapu melayang dengan sabit mereka yang berkilauan.

"Mereka nggak bakal berhenti, Vio!" Adrian memperingatkan. "Gue dapet sinyal dari RS. Ibu lo... dia masi ada di sana, tapi keberadaannya mulai 'berkedip'. Ordo lagi nyoba narik eksistensi dia buat jadi bahan bakar reset ini!"

Air mata Viona menetes, namun ia segera menyekanya. Ia tidak boleh goyah. Jika ia sampai di Monas dan memutar "Gigi Pusat", ia bisa mengunci realitas ibunya selamanya.

Saat ia mendekati area Monas, rintangan semakin berat. Jalanan Medan Merdeka mulai meliuk-liuk seperti pita yang ditarik. Gedung-gedung kementerian di sisi jalan tampak mencair, kolom-kolom betonnya berubah menjadi jarum jam yang mencoba menusuk Viona.

"Awas, kanan!" teriak Adrian.

Viona membanting setir motornya tepat saat sebuah pilar gedung runtuh dan berubah menjadi debu emas di tempat ia berada sedetik lalu. Ia melompat dari motor saat kendaraan itu menabrak gundukan aspal yang mendadak muncul. Viona berguling di tanah, memeluk tasnya erat-erat.

Ia berdiri dan berlari menuju pagar Monas. Di depannya, ratusan gagak mekanis menukik turun. Suara kepakan sayap logam mereka terdengar seperti jutaan gunting yang digerakkan bersamaan.

"Gue butuh bantuan, Adrian! Gue nggak bisa lewat!"

"Gunakan memorinya, Vio! Tulis perlindungan!"

Viona kembali mencelupkan penanya ke botol yang isinya tinggal sedikit. Ia mengayunkan penanya ke udara, menuliskan kata 'DINDING'. Cahaya biru memadat di depannya, membentuk perisai transparan yang menahan terjangan burung-gagak itu. Burung-burung itu hancur saat menghantam perisai, namun jumlah mereka terlalu banyak.

Tiba-tiba, sebuah ledakan cahaya hitam menghantam barisan burung gagak dari arah belakang. Julian muncul, mendarat dengan keras di samping Viona. Jas hujannya sudah hancur, menyingkapkan luka-luka dalam di lengannya yang mengeluarkan cairan perak.

"Jangan berhenti, Arsitek!" geram Julian. Belati peraknya kini menyatu dengan lengannya, membentuk pedang pendek yang berpendar merah gelap. "Buka gerbangnya! Gue bakal tahan mereka di sini sampai tetes darah terakhir gue!"

"Julian, lo bisa mati!"

"Gue sudah mati sepuluh tahun lalu, Vio. Gue cuma sisa kontrak yang nggak mau selesai," Julian tersenyum pahit, lalu berbalik menghadapi ribuan Penyapu yang mulai mendarat di pelataran Monas. "Pergi!"

Viona berlari menaiki anak tangga menuju cawan Monas. Setiap langkahnya terasa berat, seolah gravitasi mencoba menekannya ke bumi. Saat ia mencapai pintu masuk di bawah tugu, ia melihat Alfred berdiri di sana. Pria tua itu tidak lagi menyamar sebagai petugas kebersihan atau sopir taksi. Ia mengenakan jubah hitam panjang yang dipenuhi dengan ukiran jam pasir kecil yang semuanya mengalir ke atas.

"Kamu akhirnya sampai di titik nol, Viona," ucap Alfred. Suaranya tenang, kontras dengan kekacauan yang terjadi di sekelilingnya. "Tapi tugu ini bukan kunci untuk memperbaiki dunia. Tugu ini adalah paku yang mengunci penderitaanmu."

"Gue nggak peduli apa kata lo, Kek," sahut Viona, napasnya tersengal. "Gue cuma mau Ibu balik. Gue mau hidup gue balik!"

"Hidup yang mana? Hidup yang penuh kegagalan dan penyesalan itu?" Alfred melangkah maju, tangannya memegang sebuah kunci besar yang terbuat dari cahaya putih. "Jika kamu memutar Gigi Pusat, kamu akan menyelamatkan kota ini, tapi kamu akan menghapus keberadaan ayahmu dari sejarah selamanya. Dia tidak akan pernah diingat sebagai pahlawan, bahkan olehmu. Dia akan hilang, seolah dia tidak pernah lahir."

Viona terpaku. Langkahnya terhenti di depan pintu besi besar yang dihiasi roda gigi raksasa.

"Vio, jangan dengerin dia!" Suara Adrian terdengar sangat lemah. "Dia bohong! Dia cuma mau lo ragu supaya jam dua belas lewat!"

Viona menatap telapak tangannya. Roda gigi emas di bawah kulitnya berputar semakin pelan, menunjukkan waktu yang tersisa tinggal hitungan detik. Ia menoleh ke arah tugu Monas yang menjulang tinggi. Di puncaknya, "lidah api" emas itu kini berdenyut dengan warna biru safir yang sama dengan penanya.

"Ayah... dia sudah ngorbanin segalanya buat gue," bisik Viona. "Dia nggak akan keberatan kalau gue lupa, asal dunia ini tetep berjalan."

Viona mengangkat penanya, siap menuliskan perintah terakhir pada pintu besi itu. Namun, Alfred tiba-tiba tertawa—sebuah tawa yang penuh dengan kemenangan.

"Kamu pikir sesederhana itu?" Alfred menjentikkan jarinya.

Tiba-tiba, dari balik bayangan tugu, muncul sesosok wanita yang berjalan dengan kaku. Wanita itu adalah Elena. Namun, wajahnya tidak lagi menunjukkan kesedihan. Ia mengenakan mahkota yang terbuat dari jarum jam dan matanya bersinar dengan cahaya Ordo yang dingin.

"Ibu?" Viona terperangah.

"Elena yang kamu selamatkan di dalam memori tadi hanyalah umpan," ucap Arsitek melalui mulut Elena. "Aku adalah sistem ini, Viona. Dan sistem tidak akan membiarkan penciptanya sendiri dihentikan."

Elena mengangkat tangannya, dan tiba-tiba, pena perak di tangan Viona mulai mencair, berubah menjadi cairan biru yang panas dan membakar jemari Viona.

"Vio! Lari!" Teriak Adrian untuk terakhir kalinya sebelum suaranya hilang ditelan statis.

Viona jatuh berlutut, memegangi tangannya yang terbakar. Di depan matanya, Elena mendekat dengan sebuah sabit yang terbuat dari cahaya murni.

"Pilih, Viona," bisik Elena/Arsitek. "Serahkan koin itu sekarang, atau aku akan menghapus detik ini dari hidupmu... dan kamu tidak akan pernah sampai ke Monas."

Viona mendongak, matanya yang basah menatap jarum jam raksasa di puncak Monas yang tepat berada di angka 23:59:55. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam sakunya—sebuah benda yang ia lupakan sejak awal perjalanan ini. Sebuah payung lipat biru kusam yang rangka-rangkanya sudah bengkok.

Viona menyadari sesuatu. Jika pena adalah alat untuk menulis takdir, maka payung... payung adalah alat untuk menahannya.

"Selamat tinggal, Ma," bisik Viona sambil membuka payung biru itu tepat saat sabit Elena mengayun ke lehernya.

Suara dentang jam kedua belas bergema, dan seluruh dunia meledak dalam warna putih. Namun, saat cahaya itu memudar, Viona tidak melihat Jakarta. Ia berdiri di sebuah ruangan yang penuh dengan cermin, dan di setiap cermin itu, ada satu versi dirinya yang sedang memegang pena berbeda.

"Selamat datang di Ruang Keputusan Utama," suara seorang pria terdengar dari belakangnya. "Aku adalah Nathan Mahendra yang asli. Dan kita punya waktu lima detik untuk menyelamatkan segalanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!